Ketika Berharap Lebih, Ingat Spurs

Sebagai pendukung Tottenham Hotspur, saya gagal belajar dari pengalaman, bahwa harapan hanya akan memperpanjang penderitaan. Jika saja gugur setelah berhadapan dengan City atau Ajax, mungkin rasa sakitnya enggak terlalu terasa. Tapi mereka bisa melangkah jauh sampai final, meninggikan harapan, dan makin sakit pula kalau jatuh. Harapan adalah sumber kemurungan. Menonton Spurs bisa terus melaju, menyingkirkan … More Ketika Berharap Lebih, Ingat Spurs

Son Heung-min Sang Idol Sepak Bola

Son Heung-min menceritakannya, saat dia berusia 10 tahun dan bertengkar dengan kakak laki-lakinya, Heung-yun. Kemudian terjadi sesuatu yang bakal terus membekas dengannya. Ayah dari sang pemain garda depan Tottenham itu, Son Woong-jung, adalah mantan pemain sepak bola profesional di Korea Selatan, dan ia mulai melatih putra-putranya, menjadikan itu sebagai misinya untuk membimbing mereka ke puncak, … More Son Heung-min Sang Idol Sepak Bola

Melacak Akar Tribal Sepakbola

Bendera-bendera sudah berkibar, dari Belanda ke Argentina, dari Kamerun ke Jepang. Segera drum-drum bertalu, trompet-trompet ditiup. Warna-warna terbentang, dan nyanyian perang akan terdengar. Inilah saatnya: Piala Dunia. Mendiang Rinus Michels, juga dikenal sebagai “Sang Jendral,” pelatih tim Belanda yang kalah tipis dengan Jerman pada final 1974, mengatakan: “Sepak bola adalah perang.” Ketika Belanda membalas dendam … More Melacak Akar Tribal Sepakbola

Julian Barnes dan Leicester City

Jika Salman Rushdie pendukung Tottenham Hotspur, maka Julian Barnes adalah fans Leicester City. Saat Chelsea menahan imbang Spurs, sehingga memantapkan Leicester jadi jawara Liga Inggris musim 2015-16, Rushdie dan saya sudah pasti senewen, sementara Barnes berbinar-binar. Ketika Persib juara, saya sampai berani buka kaus, bertelanjang dada dan lari ke jalan, lalu menari kayak orang gila, … More Julian Barnes dan Leicester City