Why Taeyeon On the Road?

Entah kenapa MV terbaru yang aestheticaly-hipsterist-instagramish-pathdaily dan sangat Amerika ini mengingatkan saya pada On the Road-nya Jack Kerouac dan romantisme kebebasan anak muda. Dengan rambut pirang seperti bulu jagung mentah, kemeja flanel merah-biru bertuliskan Queen of Beers (awalnya saya kira Queen of Queers), celana mini gemes, gadis Korea bernama Taeyeon itu ditampilkan berjalan menuju mobil … More Why Taeyeon On the Road?

Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Kau enggak perlu kuasa, kami para perompak punya sebuah mimpi, sebut Monkey D. Luffy. Ketimbang lewat pendidikan formal yang membuang-buang uang dan waktu selama bertahun-tahun, kalau boleh jujur, saya lebih banyak mendapat kearifan hidup justru dari One Piece. Bahkan, boleh dibilang, minat membaca saya lahir akibat berawal dari kegemaran membaca manga ini. Dan saya yang pesimistis-pragmatis-plegmatis … More Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Gadis-Gadis Pabrikan [2/2]

Neil Jacobson adalah seorang eksekutif berusia tiga puluh lima tahun di departemen A. & R. di Interscope Records, salah satu label Universal Music Group, yang bertugas membuat album debut Girls’ Generation di Amerika. Ketika saya bertemu dengannya, di sudut ruang kerjanya yang besar di kantor pusat Interscope, di Santa Monica, ia mengenakan celana jins dan jaket … More Gadis-Gadis Pabrikan [2/2]

Gadis-Gadis Pabrikan [1/2]

Saat itu pukul lima tepat di suatu Minggu pada bulan Mei, dua jam sebelum waktu pertunjukan, tapi sudah bergumul ribuan fans K-Pop membanjiri lapang terbuka di luar Honda Center, gelanggang besar di Anaheim, California. Penampil malam ini adalah beberapa grup pop terbesar di Korea Selatan—SHINee, f(x), Super Junior, EXO, TVXQ!, dan Girls’ Generation. Di Amerika … More Gadis-Gadis Pabrikan [1/2]

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan … More Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0