Kebenaran, Kebohongan dan Sastra

“Apa, kamu gila? Kamu gila?” Falstaff menuntut Pangeran Hal, dalam karya Shakespeare “Henry IV, Bagian 1.” “Bukankah kebenaran itu kebenaran?” Lelucon itu, tentu saja, adalah bahwa dia telah menundukkan kepalanya, dan sang pangeran sedang dalam proses menelanjanginya sebagai seorang pembohong. Di masa seperti saat ini, ketika realitas itu sendiri di mana-mana tampak diserang, pandangan Falstaff … More Kebenaran, Kebohongan dan Sastra

Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

Aku pikir video game lebih dekat dengan fiksi ketimbang apa pun hari ini, sebut Haruki Murakami. Video game? tanya pewawancara dari The Paris Review. Iya, jawab Murakami. Aku sendiri enggak suka main video game, tapi aku menemukan kesamaan. Kadang-kadang ketika aku menulis aku merasa aku perancang video game, dan pada saat yang sama, sang pemainnya. Aku membuat program, … More Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

Julian Barnes dan Leicester City

Jika Salman Rushdie pendukung Tottenham Hotspur, maka Julian Barnes adalah fans Leicester City. Saat Chelsea menahan imbang Spurs, sehingga memantapkan Leicester jadi jawara Liga Inggris musim 2015-16, Rushdie dan saya sudah pasti senewen, sementara Barnes berbinar-binar. Ketika Persib juara, saya sampai berani buka kaus, bertelanjang dada dan lari ke jalan, lalu menari kayak orang gila, … More Julian Barnes dan Leicester City

Esai Salman Rushdie: Musik Rock

Saya baru saja menanyakan Vaclav Havel soal kekagumannya pada ikon rock Amerika Lou Reed. Dia menjawab bahwa sangat mustahil untuk melebih-lebihkan pentingnya musik rock dalam perlawanan rakyat Ceko pada masa-masa gelap antara Prague Spring sampai tumbangnya Komunisme. Saya hanya menikmati gambaran kejiwaan gerakan bawah tanah rakyat Ceko yang mendengar Velvet Underground memainkan “Waiting for the … More Esai Salman Rushdie: Musik Rock

Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs

Aku pindah ke London pada Januari 1961, sebagai bocah berusia tiga belas setengah tahun, dalam perjalanan ke sekolah asrama, dan didampingi ayahku. Itu bulan yang dingin, dengan langit biru di siang hari dan halimun hijau saat malam. Kami menginap di Cumberland, di Marble Arch, dan setelah kami berkemas, ayahku bertanya apakah aku ingin melihat pertandingan … More Salman Rushdie dan Tottenham Hotspurs