New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

80 8th Avenue, New York. Di dalam, ada ruang kerja kecil, sepi, lawas, untuk per orangnya. Ada, dan hanya akan ada, sembilan karyawan. Sebuah pohon ceri tumbuh dalam pot di balkon mungil di luar. Karpet kumal, lorong sempit, sistem pengarsipan yang ketinggalan jaman. Di dinding, tergantung beragam artefak: emblem asli perusahaan itu, bikinan Rockwell Kent; … More New Directions: Tetap Kecil dan Berani Menerbitkan

Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

1 “Hei! Apa semua orang di sini melakukan masturbasi?” Midori bertanya sambil menengadah memandang gedung asrama. “Mungkin ya.” “Apa semua laki-laki melakukan masturbasi sambil membayangkan perempuan?” “Ya, tentu begitu,” kataku. “Aku kira tak ada laki-laki yang melakukan masturbasi sambil memikirkan pasar saham, konjugasi verba, atau Terusan Suez, tentu mereka melakukannya sambil membayangkan perempuan.” — Haruki … More Ereksi, Ejakulasi, Eksebisi dan Cara Mengeleminasi Hama

The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

Mas mau tanya dong, kalo karya sastra korea itu masuk ke world literature work ga? Aku dapat tugas nih dari dosen buat analisis world short story, korsel itu masuk ga? Kang, kalau di Unpad ada jurusan Sastra Korea ga? Salah saya sendiri sih, karena rajin mengkaji budaya pop Korea, dan meski bukan anak sastra, berani-beraninya menulis … More The Metamorphosis + The Bell Jar = The Vegetarian

Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Kau enggak perlu kuasa, kami para perompak punya sebuah mimpi, sebut Monkey D. Luffy. Ketimbang lewat pendidikan formal yang membuang-buang uang dan waktu selama bertahun-tahun, kalau boleh jujur, saya lebih banyak mendapat kearifan hidup justru dari One Piece. Bahkan, boleh dibilang, minat membaca saya lahir akibat berawal dari kegemaran membaca manga ini. Dan saya yang pesimistis-pragmatis-plegmatis … More Mari Membaca Ebook (Bajakan)!

Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan … More Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0