Cara Ngomong Sama Cewek di Pesta, Neil Gaiman

“Ayo,” kata Vic. “Pasti rame.” “Enggak, gak bakal,” kataku, meski aku telah kalah dalam perdebatan ini beberapa jam yang lalu, dan aku tahu itu. “Bakal seru banget,” kata Vic, untuk keseratus kalinya. “Cewek-cewek, bro!” Dia menyeringai dengan gigi putih. Kami berdua masuk sekolah khusus pria di London selatan. Meski suatu kebohongan mengatakan bahwa kami tidak … More Cara Ngomong Sama Cewek di Pesta, Neil Gaiman

Kelanjutan Neraka, Andrés Neuman

Sewaktu ayahku berada di rumah sakit, sangat biasa meninggalkan mobil di tempat parkir lantai bawah rumah sakit. Aku akan berhenti di atas lorong kecil jalan masuk dan membiarkan Opel putihku meluncur di landaian. Aku berhenti menekan tombolnya, melewati palang pembatas, dan mulai mencari tempat. Aku selalu dapat. Aku benci pergi ke rumah sakit, berpura-pura bersikap … More Kelanjutan Neraka, Andrés Neuman

Zeitgeist, Kurt Vonnegut

“De mortuis nil nisi bonum!” Kata pria di bangku bar di sebelahku. Saat itu hampir mendekati waktu tutup, si bartender pamit pergi sebentar, dan hanya ada kami berdua. Kami duduk berdampingan selama hampir dua jam tanpa bicara. Aku sesekali mempelajari bayangannya di cermin biru di belakang bar, tapi aku tidak menatap matanya sampai dia berbicara—dan … More Zeitgeist, Kurt Vonnegut

Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]

Selama kurang lebih dua puluh menit, kami duduk di gondola itu, mengapung berputar-putar, sementara Tuan Gardner bercerita. Terkadang suaranya bergumam, seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri. Di lain waktu, ketika sebuah lampu atau jendela yang lewat menyoroti kapal kami, dia akan kembali mengingatku, meninggikan suaranya, dan mengatakan sesuatu seperti: “Kau mengerti apa yang kukatakan, kawan?” … More Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]