Zeitgeist, Kurt Vonnegut

“De mortuis nil nisi bonum!” Kata pria di bangku bar di sebelahku. Saat itu hampir mendekati waktu tutup, si bartender pamit pergi sebentar, dan hanya ada kami berdua. Kami duduk berdampingan selama hampir dua jam tanpa bicara. Aku sesekali mempelajari bayangannya di cermin biru di belakang bar, tapi aku tidak menatap matanya sampai dia berbicara—dan … More Zeitgeist, Kurt Vonnegut

Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]

Selama kurang lebih dua puluh menit, kami duduk di gondola itu, mengapung berputar-putar, sementara Tuan Gardner bercerita. Terkadang suaranya bergumam, seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri. Di lain waktu, ketika sebuah lampu atau jendela yang lewat menyoroti kapal kami, dia akan kembali mengingatku, meninggikan suaranya, dan mengatakan sesuatu seperti: “Kau mengerti apa yang kukatakan, kawan?” … More Penyenandung, Kazuo Ishiguro [2/2]

Penyenandung, Kazuo Ishiguro [1/2]

Pagi saat aku melihat Tony Gardner duduk di antara para turis, musim semi baru saja tiba di Venesia. Kami pertama kalinya menghabiskan minggu ini di luar ruangan, di piazza—betapa leganya, biar kuberitahu, setelah berjam-jam yang melelahkan tampil di belakang kafe, yang hanya jadi penghalang pelanggan yang ingin menggunakan tangga. Ada angin sepoi-sepoi pagi itu, dan … More Penyenandung, Kazuo Ishiguro [1/2]

Nestapa, Han Yujoo

Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran masih sehat dan tubuh yang membusuk. Dia meninggal. Dia tidak cukup muda untuk punya sebab kematian tertentu, atau cukup muda untuk mati karena kesedihan luar biasa mendalam. Hanya ada kesedihan yang samar seputar kematian itu sendiri. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan dia tidak … More Nestapa, Han Yujoo