Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah. Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari … More Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Si Lalat Pengganggu

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 3 Oktober 1981 “Aku pusing,” begitulah kata seorang Yunani kuno bernama Theaetetus, pada suatu hari. “Itu permulaan filsafat,” komentar seorang Yunani kuno lain yang bernama Socrates. Filsafat, seperti masuk angin, dimulai dengan pusing. Tapi berbeda dengan masuk angin, ia tak bisa stop. Setidaknya jika kita mengikuti Socrates – seorang tua … More Si Lalat Pengganggu

Gambaran Si Miskin

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 17 Desember 1983 Tubuh wanita itu meregang, putih, kaku. Mati. Suaminya memeluknyya dengan kedua tangan – dengan kepala yang ia lekatkan ke dada Almarhumah. Seolah ia ingin menahannya jangan pergi. Kita tak tahu apakah lelaki itu menangis. Tapi kita tahu -dari genggaman jari-jarinya, dari lekuk matanya yang dalam, dari … More Gambaran Si Miskin

Lokalisme

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 2 November 1985 Tuhan hanya menciptakan satu bumi, tapi kemudian lahirlah bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa itu pun membentuk negara masing-masing. Tembok-tembok pun tegak, dan sejak itu manusia tak tahu persis hendak bagaimana lagi. Sebab, yang terjadi adalah semacam kekacauan, meskipun kadang-kadang tanpa darah. “Jelaslah,” kata Voltaire di abad ke-18, “bahwa sebuah negeri hanya … More Lokalisme

Kota

oleh Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir 23 Juni 1984 Saya punya teman yang seperti teman Anda: ia hidup di kota ini, mencari nafkah di kota ini, dan ia memaki kota ini. Dengan bersemangat. Pada suatu malam saya bertemu dengannya di luar sebuah restoran di Pecenongan. Ia tampak kenyang, tapi bersungut-sungut. “Jakarta,” semburnya, “ini rantau tanpa … More Kota