Spursy

d1nf0glwkaepbo4

Tottenham Hotspur mengajari saya bahwa harapan muncul hanya untuk memperpanjang derita manusia (bacotan Nietzsche di Human, All Too Human?), dan darinya memantik pertanyaan soal kesetiaan.

Seseorang bisa mencari pasangan baru, meninggalkan pekerjaannya untuk merintis karier baru di bidang lain, atau mengubah pilihan politiknya, atau bahkan agamanya, jadi mengapa kita kudu setia pada klub sepak bola yang kita dukung? Jika klub bola yang kita dukung membosankan, atau malah bikin kita kecewa serta sengsara, kenapa sih enggak pindah mendukung klub lain? Apakah kesetiaan merupakan sinonim dari sadomasokis? Padahal para pemain, pelatih atau manajer, atau bahkan sang pemilik dapat berganti klub secara teratur, dengan mudahnya.

Padahal enggak ada larangan, dan enggak pula ada yang dirugikan. Namun sangat jarang mendengar seseorang mengumumkan bahwa dirinya telah meninggalkan tim yang dia dukung, dan beralih hati ke tim lain. Yang mengaku penggemar sejati enggak akan pernah punya pemikiran begitu. Mengakui bahwa kita telah menanggalkan klub favorit kita untuk mendukung yang lain tampaknya lebih memalukan ketimbang mengaku punya koleksi bokep bergiga-giga. Lebih sering kita mendapati seseorang yang mengakui bahwa dirinya sudah pensiun sebagai fans sepak bola, tetapi mengapa sangat jarang seseorang mengubah tim yang mereka dukung?

Untuk alasan primordial, bisa dimaklumi. Misalnya saya yang kelahiran Bandung, tentu bakal mendukung Persib, dan bakal aneh kalau mendukung klub lokal Indonesia lain. Tapi untuk klub yang jauhnya minta ampun di Eropa sana, kenapa kita harus setia? Lebih-lebih saya menyoroti Liga Primer Inggris, yang olehnya permainan indah ini telah diubah dari olahraga paternalistik yang relatif egaliter menjadi industri hiburan global yang didominasi oleh mega-brand yang rakus. Simon Kuper, co-penulis Soccernomics, mengatakan: “Kisah nyata Liga Premier hampir semua tentang uang.” Lalu, kenapa kita harus setia coba?

Kenapa pula saya tetap mendukung Tottenham Hotspurs? Untuk alasan masokis, saya bisa mengiyakan. Spurs bagi saya seperti film-film melankolis, sendu, dan murung, sesuatu yang selalu menarik saya. Ejekan yang sering disematkan padanya belakangan ini, Spursy, seakan-akan mencerminkan diri saya.

Berbakat tetapi rapuh secara mental, Spurs unggul 3-0 di babak pertama melawan Manchester United-nya Alex Ferguson pada 2001. Mereka kalah 5-3. Berbakat dan kuat secara mental, Spurs unggul 3-0 melawan Manchester United-nya Jose Mourinho pada 2018. Mereka menang 3-0. (Meski kemudian, harus kalah 0-1 dari Manchester United-nya Ole Gunnar Solskjær).

Ejekan Spursy makin menjadi-jadi, karena di tahun ini, setelah di awal musim terlibat persaingan perebutan tempat pertama klasemen, sekarang malah terseok-seok untuk mempertahankan tempat ketiga. Harapan muncul hanya untuk mengecewakan dan memperpanjang derita manusia

Pada 2006, Rushdie diwawancarai TimeOut London. “Mengapa ada orang yang mengikuti Tottenham Hotspur?” Rushdie tertawa. “Anda harus sangat percaya. Saya datang ke Inggris pada 1961 dan itulah tahun terbaik Spurs. Jika Anda mendukung tim yang gagal memenangi liga selama 44 tahun, itu memang terasa seperti semacam kultus.” Ini sudah 2019, dan gelar juara bagi Spurs seakan-akan hanya ilusi utopis.

Gagasan bahwa Spurs selamanya Spursy mengabaikan fakta bahwa identitas dapat berkembang. Kadang-kadang klub ini sangat kontras dengan masa lalu, terus mendefinisikan ulang dirinya. Masalahnya, untuk saat ini, Spursy adalah sebuah ejekan mengesalkan.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s