Bagaimana Orhan Pamuk Menulis Kotanya

istanbul orhan pamuk

Orhan Pamuk enggak perlu melakukan perjalanan jauh keluar Istanbul untuk memperluas imajinasinya. Semarak melankolia dan kompleksitas keagamaan di tempat kelahirannya, Istanbul, memperkaya masa kecilnya dan terus menginspirasi dirinya. Novel-novelnya, yang hampir semua berlatar di Istanbul, telah membuatnya dirayakan di seluruh dunia, tetapi mungkin dia akan paling lama diingat berkat memoarnya yang sayu tentang kotanya, Istanbul.

Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, V.S. Naipul – mereka adalah penulis-penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antar bahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaan akar; tetapi imajinasiku menuntutku untuk tetap tinggal di kota yang sama, di jalan yang sama, di rumah yang sama, menatap pemandangan yang sama. Takdir Istanbul adalah takdirku: aku terikat pada kota ini sebab ia telah menjadikanku seperti diriku sekarang ini.

Pamuk, seorang pendongeng dengan kekuatan Kisah Seribu Satu Malam, menceritakan kisah kota secara personal, berbagi pengetahuan sejarahnya, kisah keluarganya, dan hubungan pribadinya. Bayangkan berjalan dan mengenali setiap sudut yang Pamuk sebutkan. Bayangkan pergi ke pasar dan menikmati warna dan rasa rempah-rempah yang ia gambarkan, mendengarkan suara-suara penjual dan pembeli yang ramai, terlibat dalam dialog sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami, tetapi terasa dekat, karena kita memiliki suara Pamuk di kepala kita. Bayangkan perasaan terhubung ke dunia yang benar-benar asing melalui karya seorang penulis yang tahu bagaimana melintasi jembatan antara Asia dan Eropa.

Buku ini adalah campuran dari otobiografi, sejarah, sastra dan melankoli, atau lebih tepatnya belas kasihan diri, yang tak ada habisnya. Sebagai memoar, tak disusun secara kronologis, dan tak cukup biografis. Memoar yang ditulis para pemurung, semisal The Unabridged Journals of Sylvia Plath dan Di Bawah Langit Tak Berbintang-nya Utuy Sontani, layaknya lubang hitam yang selalu berhasil menyedot saya. Pamuk menulis buku ini ketika dia berada di ambang depresi. Dalam sebuah wawancara ia mengenang: “Hidupku, karena begitu banyak hal, berada dalam krisis; Aku tidak ingin membahas detailnya: perceraian, ayah sekarat, masalah profesional, masalah dengan ini, masalah dengan itu, masalah dengan semuanya, semuanya gawat. Aku pikir jika aku menjadi lemah aku akan mengalami depresi. Tetapi setiap hari aku akan bangun dan mandi air dingin dan duduk dan mengingat dan menulis, selalu memperhatikan keindahan buku itu.”

Kemurungan Pamuk ditunjang pula oleh sebuah melankolia kolektif bernama Huzun, yang sering ia bahas di buku ini. Setiap kali sebuah kerajaan jatuh; yang baru lahir dari puing-puingnya memberi orang kesempatan lagi untuk hidup, dan siklus ini berlanjut dan masih berlanjut. Pergulatan terus-menerus ini membawa kesedihan; kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai, kesedihan karena kehilangan budaya dan adanya harapan akan kehidupan baru, untuk memulai kembali. Perasaan ini tidak seperti yang lain, dan setiap warga kota Istanbul, baru atau lama menderita olehnya, tidak peduli dari distrik mana mereka berasal, dan amat jelas Pamuk begitu menginsafi Huzun, bahkan mungkin meromantisasinya.

Kekaisaran Istanbul sudah runtuh, dan beragam peninggalan yang tersisa terus lenyap oleh para pengembang, kebakaran, dan penelantaran. Hari ini adalah Republik Turki, negara bangsa sekuler ciptaan Ataturk, berorientasi Barat, yang dihomogenisasi. Istanbul bukan lagi kota konsekuensi, apalagi ibu kota dunia. Ini adalah tempat terpencil yang tenggelam dalam reruntuhannya sendiri. “Secara umum, aku tidak suka mengeluh,” tulis Pamuk, “aku telah menerima kota tempatku dilahirkan dengan cara yang sama sepertiku menerima tubuhku”. Pamuk sendiri adalah produk dari revolusi Ataturk. Dilahirkan pada tahun 1952 di sebuah keluarga yang suka bertengkar dan tak beragama, dikelilingi oleh “orang-orang positivis yang menyukai matematika”, ia tumbuh dewasa di sebuah gedung apartemen milik keluarga di distrik kelas atas Nisantasi, bebas membaca Freud dan Sartre dan Faulkner, minum alkohol, dan berhubungan dengan seorang siswi sekolahan.

Sebagai seorang pelukis muda, ia melihat kotanya melalui tulisan-tulisan bergambar dan tertulis yang ditinggalkan oleh orang-orang Eropa yang berkunjung, dan juga melalui empat penulis Turki terdahulu. Pamuk berhutang pada Barat – pada ketepatan arsitektural dari novel-novelnya, pada lompatannya yang meyakinkan dari introspeksi Proustian ke sihir naratif yang mengingatkan pada Borges dan Gabriel García Márquez.

Ingatan pribadi penulis jalin-menjalin dengan esai sastra tentang penulis dan seniman yang terhubung dengan cara tertentu ke Istanbul. Satu bab didedikasikan untuk Antoine Ignace Melling, seorang seniman Barat abad ke-19 yang membuat ukiran tentang Konstantinopel. Penulis Istanbul favorit Pamuk, yang berarti inspirasi baginya dan juga menjadi tokoh bukunya, adalah Yahya Kemal Beyatlı, Reşat Ekrem Koçu, Abdülhak Şinasi Hisar, Ahmet Rasim dan Ahmet Hamdi Tanpınar. Penulis perjalanan Barat favoritnya memainkan peran yang sama seperti Gérard de Nerval, Théophile Gautier dan Gustave Flaubert.

Untuk menikmati jalan-jalan kecil di Istanbul, untuk menghargai tanaman anggur dan pepohonan yang memberkati puing-puing ini dengan keindahan tak terduga, pertama-tama kita harus menjadi “orang asing” bagi semua itu.

“Istanbul” berhenti ketika Pamuk masih seorang pemuda, yang galau. Ditekan oleh rasa bersalah tetapi dipicu oleh kehidupan borjuis yang dipetakan oleh ibunya, Pamuk melangkah keluar ke jalan-jalan Istanbul yang memberi penghiburan. Untuk kemudian mengalami konklusi dramatis. Dalam baris perpisahan kepada ibunya, dan juga kepada pembaca, karena ini adalah kata-kata terakhir buku itu, Pamuk berkata: “Aku tidak ingin menjadi seorang seniman … aku akan menjadi seorang penulis.”

 

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s