Beratus Tahun Kesunyian Tatar Sunda

Hana ngunihana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya nu beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna


Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Amanat Galunggung, Kropak 631 dari Kabuyutan Ciburuy

Masyarakat dan segala masalahnya adalah dua hal yang membentuk sejarah. Mengetahui sepertiapa masyarakat di masa lalu dan evolusi mereka akan memberi petunjuk perihal faktor-faktoryang mengendalikan mereka, motif dan konflik, baik umum maupun personal, yangmembentuk berbagai peristiwa. Sejarah adalah tentang kelompok masyarakat,ceritanya, dan proses bagaimana ia menjadi seperti itu.

Jika kita tidak memahami dunia tempat kita tinggal, kita hanya akan jadi lelucon dan mungkin jadi korban. Memahami sejarah menjadi satu-satunya emansipasi kita. Ketimbang mengulang-ulang semua kebodohan, sejarah menawarkan bekal pengalaman yang tak ada habisnya terhadap apa yang bisa kita dapatkan. Sejarah merupakan kajian yang terkait dengan sifat manusia sepanjang waktu, dan itulah sebabnya mengapa mesti mempelajari sejarah.

Memang tak ada satu ritme atau plot dalam sejarah, tapi ada lebih dari satu ritme, plot, pola, bahkan pengulangan. Oleh karenanya, membuat generalisasi dan mengambil pelajaran dari sejarah dapat dilakukan. Orang-orang besar, baik dalam tindakan maupun kecerdasan, selalu berpikir demikian. Itulah mengapa sejarah menjadi bacaan favorit Napoleon, seperti halnya Winston Churchill, atau bahkan Hitler—meski harus dikecualikan. Semua yang hidup di zaman dahulu, baik orang Yunani maupun Romawi, membaca sejarah tidak hanya untuk kesenangan, tetapi juga mengambil pelajaran darinya.

Seorang individu bisa menjadi terpelajar tanpa mengetahui matematika, kimia, atau teknik karena semua itu merupakan bidang khusus. Namun, pengetahuan sejarah, atau bahkan pemahaman sejarah yang lebih mendalam, adalah bagian penting dari kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar.

Inilah yang coba disampaikan lembar kelima kropak 632: kesadaran sejarah. Kropak 632, sebuah naskah yang terdiri dari enam lembar lontar yang ditulis dengan tinta hitam dengan perkiraan pembuatan pada abad ke-15. Naskah yang ditemukan di Kampung Ciburuy, terletak di lereng Gunung Cikuray. Atja dan Saleh Danasasmita melakukan penelitian ulang pada tahun 1987 akan naskah ini, dan memberi judul “Amanat Galunggung”. Inti naskahnya berupa nasihat-nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada putranya, Sang Lumahing Taman. Lewat baris hana nguni hana mangke (ada dulu ada sekarang), menegaskan bahwa sejarah harus menjadi semacam kesadaran.

*

Seni narasi sejatinya mendapat posisi utama dalam penulisan sejarah. Karena bagaimanapun juga, kata “history” pada dasarnya berhubungan dengan “story”. Sejarah adalah cerita. Ini menunjukkan bahwa narasi merupakan penyokong utama sejarah.

Di masa kanak-kanak, sebuah cerita, seperti dongeng atau kisah petualangan, punya daya tarik bagi kita. Di tahap kehidupan selanjutnya, cerita itu kemudian menjadi punya makna filosofis. Di sana terletak sebagian besar kepuasan dalam kajian sejarah. Sejarah adalah ilmu yang berkembang bersama kita, materi yang bisa memikat kita saat kecil dan tidak pernah membuat kecewa, tetapi kemudian punya daya tarik lebih dalam bagi orang dewasa. Sebab refleksi akan masa lalu adalah tanda kedewasaan.

Pelajaran sejarah di institusi formal selama bertahun-tahun hanya menawarkan pertanyaan kapan atau di mana, jarang sampai pada pertanyaan bagaimana dan kenapa. Sejarah hanya jadi wawasan, bahkan cuma hafalan, tak sampai jadi kesadaran.

Adapun sejarah bukanlah latar belakang, melainkan cerita itu sendiri, cerita mengenai sekelompok manusia, ataupun kumpulan cerita tentang berbagai kelompok manusia. Dari dasar tersebut, muncul segala keragaman dan detail sejarah. Seorang individu merupakan produk sosial, seorang anak dari orang tua dengan kondisi kehidupan tertentu, anggota dari komunitas tertentu dengan berbagai karakteristiknya; ia menjadi bagian dari suatu kelas masyarakat tertentu, dibentuk dan diciptakan melalui sekolah, teman-teman dan lingkungan saat itu. Demikian pula sebaliknya. Masyarakat terdiri dari individu, dan sejarah tersusun dari berjuta-juta kejadian tertentu.

Selalu ada cara untuk memahami kehidupan, dan sejarah merekam kehidupan yang telah dijalani oleh manusia lain untuk kita. Oleh sebab itu, esensinya terdapat pada fakta yang konkret, berbagai jenis peristiwa dan kejadian yang pernah terjadi di dunia nyata. Tugas sejarawan adalah menarasikannya, menciptakannya kembali. Untuk melakukannya, ia harus menjadi seorang seniman.

Pada pergantian abad 20, terdapat banyak perdebatan mengenai sejarah, apakah termasuk sains atau seni. Sejarah pada awalnya adalah sastra. Namun, ketika menjadi disiplin ilmu tersendiri, dalam penelitian sejarah memerlukan penelitian ilmiah, ada metodologi yang harus ditempuh. Seni berkisah seakan ditanggalkan. Sebagai jalan tengah, sejarah mestinya dipandang sebagai sains sekaligus seni. Svetlana Alexievich, penulis Belarusia yang merekam ribuan suara individu untuk memetakan ledakan Uni Soviet, pada 2015 memenangkan Nobel Sastra.

*

Sejarah menunjukan bahwa tidak ada jeda antara masa lalu dan masa depan. Ketika saya menulis ini masa depan sudah menjadi masa lalu. Semua terjadi terus menerus.

Jawa Barat dapat dikatakan sebagai wilayah yang sarat peristiwa sejarah, bahkan sejak prasejarah. Edi S. Ekadjati dalam Dari Pentas Sejarah Sunda: Sangkuriang hingga Juanda (Kiblat, 2014) memaparkan kiprah sejumlah tokoh Sunda dan Lembaga yang didirikan oleh orang Sunda. Latar belakang waktunya mencakup zaman prasejarah, kolonialisme, dan pascakolonialisme. Untuk memaparkan alam prasejarah masyarakat Sunda, Edi menelisik tokoh mitologis Sangkuriang. Konflik antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi ibarat saling berhadapannya konvensi (tradisi) dan inovasi (modern) dalam konsep kebudayaan.

Selanjutnya, ada satu peninggalan budaya yang jadi ciri utama perubahan kehidupan budaya Sunda dari budaya prasejarah ke budaya sejarah. Peninggalan budaya tersebut adalah prasasti. Di Tatar Sunda, prasasti generasi awal ditulis di atas batu menggunakan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti yang berasal dari zaman itu yang sudah ditemukan berjumlah tujuh. Dengan adanya pengetahuan tentang huruf dan kegiatan baca-tulis, masyarakat Tatar Sunda zaman Tarumanagara sudah mulai paham mengenai konsep negara, agama dan kemasyarakatan yang lebih luas struktur, wawasan dan jangkauannya. Dalam ketujuh prasati tersebut disebut nama rajanya Purnawarman, yang berkuasa di kerajaan Tarumanagara dan memeluk agama Hindu.

Selama lebih kurang enam belas abad sejak Tarumanagara hingga sekarang, ke Tanah Sunda telah datang silih berganti berbagai pengaruh. Selama itu silih berganti berbagai kerajaan berdiri di Tatar Sunda, di antaranya Galuh, Pajajaran (Sunda), Talaga, Cirebon dan lain-lain. Berlainan dengan di Jawa Tengah dan Timur, kerajaan-kerajaan di Jawa Barat tidak meninggalkan candi-candi atau istana-istana yang megah. Tinggalan sejarah kerajaan di Jawa Tengah dan Timur memberi petunjuk soal apa agama yang dipeluk dan dari sana bisa diketahui corak budaya masyarakat tadi.

Membaca sejarah Nusantara sama menariknya dan tak kalah dramatis dari Game of Throne. Pulau Jawa bagai Westeros, diisi dengan perebutan kuasa tak kenal henti. Setelah Kerajaan Sunda runtuh pada 1579, wilayah kekuasaannya yang meliputi sebagian Pulau Jawa sebelah barat, terpecah ke dalam empat pusat kekuasaan: Banten, Cirebon, Sumedang Larang, dan Galuh. Selanjutnya, ketika Mataram masuk, corak budaya terkait Jawa dan Islam menguat.

Kelompok sosial besar, perkumpulan massa, kelas, komunitas, dan bangsa cenderung bersikap dengan cara serupa pada situasi serupa pula. Bisa dikatakan berbagai hal tersebut memberikan dasar sejarah. Pengetahuan inilah yang digunakan para kolonialis untuk mengokupasi suatu komunitas masyarakat, dan merekacipta sistem sosial yang berfungsi memudahkan kerja mereka. Dari zaman VOC sampai Hindia Belanda, Priangan menjadi titik eksploitasi paling menggiurkan. Namun dari titik ini pula, perlawanan atas kolonialisme menakik.

Seiring dengan perkembangannya menjadi pusat perkebunan di akhir abad ke-19, dibukanya jalur kereta api, dan setelah diresmikannya menjadi gemeente (kotapraja) pada tahun 1906, Bandung makin menggeliat. Namun bagi mereka, Bandung bukan soal pelesiran. Gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, berbagai bangunan Art-Deco tak menarik minat mereka. Bagi mereka, Bandung adalah sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme yang harus dibangunkan dan digerakkan. Banyak tokoh pergerakan nasional ditempa di sini.

Untuk mempersingkat, Tatar Sunda jelas menyimpan kisah seribu satu malam. Yang sayangnya luput digali, dan karenanya masih minim akan kesadaran sejarah.

Untuk menghargai dan memahami sejarah diperlukan terutama akal sehat, simpati dan imajinasi. A.L Rowse dalam buku Apa Guna Sejarah? (Komunitas Bambu, 2014), menyebutkan: “Anda mungkin berpikir bahwa dibutuhkan buku-buku sebanyak satu perpustakaan untuk mulai mempelajari sejarah. Tidak sama sekali. Yang Anda butuhkan hanyalah sepasang sepatu yang kuat, sebuah pensil, dan buku catatan.”

Sejarah adalah ilmu pengetahuan sosial. Di dalamnya terdapat fleksibilitas, keragaman, dan kegembiraanya. Dibanding ilmu fisika, ilmu pengetahuan sosial tidak kaku, lebih rumit, dan menuntut imajinasi karena berhubungan dengan manusia dengan segala kerumitan dan kejutannya.

Hanya melalui sejarah kita mengetahui apa pun yang telah dicatat dan dapat membaginya. Kehidupan manusia menghilangkan batasan dengan sejarah dan menjadi bersinggungan dengan kemanusiaan. Kita tahu bahwa kehidupan seseorang sangat terbatas dan terkekang oleh waktu: mungkin sekitar enam puluh tahun, seringkali tak sampai segitu. Kehidupan manusia dibatasi oleh kesewenang-wenangan waktu, melalui apa yang kita ketahui dari sejarah kita dibebaskan dari ikatan dan melarikan diri—ke dalam waktu.

Pada akhirnya, selalu dalam sejarah, kita kembali kepada semacam momen pencerahan. Sejarah Tatar Sunda dari seorang sejarawan bernama Nina Lubis, yang dilabelinya sejarah paling otoritatif—meski dengan banyak cacat, tentu saja belum mampu mendekatkan kita pada kesadaran sejarah. Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 menganugerahkan Kura-Kura Berjanggut-nya Azhari Aiyub sebagai prosa terbaik, sebuah novel tebal tentang sejarah Aceh. Tatar Sunda selalu menanti untuk dinarasikan.

*

Esai pengatar saya sebagai pembicara di diskusi sastra “Sastra dan Sejarah” yang diselenggarakan Disparbud Jawa Barat, pada Kamis, 15 November 2018.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s