Tarawangsa Rancakalong dan Yang Berbeda di Seren Taun Cigugur

IMG-20180901-WA0016

Gudang Garam Merah batal saya sundut, terpacak papan larangan merokok di dalam Paseban Tri Panca Tunggal. Gesekan sebuah dawai dan petikan dawai lainnya sedang melantun, diperkeras lewat speaker. Saya memilih duduk di area sudut kiri aula besar itu. Malam itu, di Cigugur, Kuningan, dalam rangkaian acara Seren Taun, ditanggap kesenian rakyat bernama Tarawangsa. Namun ada yang berbeda. Saya cuma sekali menonton Tarawangsa di Rancakalong, Sumedang, memang, tapi perbedaannya terasa jelas.

Na(ng)gapan
sada canang
sada gangsa
tumpang kembang
sada kumbang tarawangsa ngeui(k)
sada titilar
ri(ng) bumi
sada tatabeuhan Jawa
sada gobeng direka cali(n)tuh di a(n)jung
sada handaru kacapi la/ng/nga
sada keruk sagunga

Terdengar bunyi-bunyian
suara canang
suara gamelan tumpang kembang
suara kumbang dan tarawangsa menyayat
suara peninggalan bumi
suara gamelan Jawa
suara baling-baling ditingkahi calintuh di dangau
suara deru kecapi penuh khawatir
suara sedih semua

  • Naskah Sang Sewaka Darma, 1021 Saka/1099 M

Dalam naskah di atas, tarawangsa merupakan sebutan buat sebuah alat musik. Seperti gitar, banjo, biola, kecapi, harpa, dan ukulele, jika merujuk klasifikasi Curt Sachs, tarawangsa ini masuk kordofon. Alat musik yang membuat suara lewat string atau senar yang bergetar. Tarawangsa jika klasifikasinya dipersempit, masuk dalam spesies “lute”. Sachs mendefinisikan terminologi ini dalam The History of Musical Instruments sebagai alat musik yang “terdiri dari bagian badan, dan leher yang fungsinya baik sebagai pegangan dan sebagai sarana peregangan senar dari bagian badan.”

Tarawangsa dari segi bentuk dan cara memainkan mirip rebab. Ukuran tarawangsa lebih jangkung daripada rebab. Rebab sendiri baru muncul di tanah Jawa sekitar abad 15-16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam. Jika kembali merujuk titimangsa naskah di atas, tarawangsa lebih tua ketimbang kehadiran rebab.

Tarawangsa di Rancakalong, Sumedang. (28/07/18)

Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi atau memainkan lagu, dan ada satu kordofon lain bernama jentreng sebagai pengiring. Jentreng mirip kecapi. Sehingga pemain tarawangsa terdiri dari dua orang: pemain tarawangsa dan pemain jentreng. Kedua pemain Tarawangsa terdiri dari lelaki, dengan usia rata-rata 50–60 tahunan, atau mudahnya aki-aki. Melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula Saehu, sebutan untuk seorang saman, disusul para penari laki, setelah beres satu lagu, dilanjut penari perempuan. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan bisa ikut menari.

Kesenian Tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu, yaitu di daerah Rancakalong, Cibalong, Cipatujah, Banjaran, dan Kanekes. Tarawangsa biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Sering dikaitkan pula pada budaya penghormatan untuk Dewi Sri dan para leluhur. Tarian tarawangsa tak terikat oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan-gerakan khusus yang dilakukan Saehu, sehingga orang biasa bisa ikut menari.

Menari dalam kesenian Tarawangsa bukan hanya merupakan gerak fisik semata, melainkan berkaitan dengan hal-hal metafisik sesuai dengan kepercayaan si penari. Oleh karena itu tak heran apabila para penari sering mengalami kondisi tak sadarkan diri atau trance, baik secara mistik atau psikologis, atau keduanya secara bersamaan. Trance dan musik dalam tradisi shamanistik memang suatu hal yang lumrah. Meski memang, ritual shamanistik merupakan sebuah pertunjukan ritual alih-alih sekadar pertunjukan musik. Seorang shaman yang aktif bakal memasuki dunia roh, bernegosiasi dengan mereka. Begitu yang diperbuat Saehu dalam Tarawangsa. Di sisi lain, ada medium, yang menjadi penerima pasif dari roh atau dewa-dewa atau Tuhan. Musik dalam tradisi shamanistik biasanya berdurasi panjang, mesmerik, nyaring dan intens, dengan klimaks dari intensitas dan volume yang begitu ritmik agar sang medium dapat merespon dengan masuk ke keadaan trance. Medium dalam Tarawangsa berarti para penari tadi.

Dalam perkembangan modern, jejak tradisi shamanistik ini ikut terwarisi, apalagi medio 60an. Oleh barudak psychedelia, subkultur yang menggunakan obat-obatan seperti LSD, jamur-jamuran, DMT dan candu lainnya (baca novel dari Jack Kerouac atau William Burroughs) untuk mencapai ketaksadaran. Upaya untuk mendapat kondisi psikedelik ini erat kaitannya dengan tradisi shamanistik, apalagi era tersebut sedang tren gaya hidup yang mengadopsi ajaran zaman baheula dan budaya Timur. Dalam musik, untuk mengakomodasi kondisi trance, setiap genre sering dipermak dan kemudian dibumbui label “psychedelic” atau “acid”.

Ini mungkin analogi super ngaco untuk Tarawangsa: Pemain tarawangsa dan jentreng merupakan band The Byrds (memainkan Eight Miles High, misalnya) dan Saehu sebagai Benzedrine, sehingga para penari atau audiens bisa enjoy menikmati ketaksadarannya. Tentu saja, saya menulis ini bukan dalam kondisi trance. Saya hanya berusaha menunjukkan kalau pola atau ritual manusia akan selalu sama, yang berubah hanya detailnya.

Tapi enggak ada trance saat penanggapan Tarawangsa di Seren Taun Cigugur. Begitu yang saya lihat. Salah siapa, atau apa? Jika menilik naskah Sang Sewaka Darma, kita bisa tahu kalau musik yang dimainkan dalam Tarawangsa itu “ngeuik”, atau menyayat. Musik yang “penuh khawatir” dan “suara sedih semua”. Tarawangsa di Seren Taun Cigugur kemarin kurang menyayat. Ada semacam pilu yang menekan saya ketika mendengar tarawangsa di Rancakalong, seperti kekasih tercintamu yang justru menikammu dari belakang dan mematahkan hatimu. Meski speaker di Rancakalong rombeng, justru makin memberi nuansa sendu, ketimbang speaker di Cigugur yang kelewat bagus. Di Cigugur, hanya mendayu, tak sampai menyayat.

Tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/pangambat, Pangapungan, Pamapag, Panganginan, Panimang, Lalayaan dan Bangbalikan. Pilihan lagu di Rancakalong memang lebih beragam ketimbang daerah lain. Di Cigugur, yang saya dengar cuma dua lagu yang dimainkan. Itu pun, durasinya dipangkas, dan klimaksnya kurang, seperti seorang pemurung yang kecepetan ejakulasi saat masturbasi sehingga enggak dapat nikmatnya orgasme.

Enggak ada yang menari sampai trance, hanya ada kepura-puraan. Bahkan tak sedikit yang menunjukkan ekspresi bosan. Seren Taun Cigugur memang difungsikan sebagai gelaran festival, sehingga Tarawangsa yang ada murni sebagai tontonan.

Satu lagi yang bikin Tarawangsa di Cigugur enggak terasa masyuk adalah kondisi yang kurang berasap. Dalam tradisi shamanistik, asap juga jadi elemen penting untuk menggiring trance. Apalagi di psychedelia, ganja kudu ngebul. Saat di Rancakalong, para tetua duduk melingkar dan mulutnya bagai corong lokomotif, tak henti terus meloloskan rokok. Kaleng-kaleng cat Pylox yang disulap jadi asbak begitu penuh. Memang, Tarawangsa sering pula diadakan langsung di dalam rumah, dan asapnya, campuran dari menyan dan rokok, begitu pekat.  Malam itu, di Seren Taun Cigugur, dalam Paseban Tri Panca Tunggal, setelah menonton dua lagu, saya memutuskan keluar. Gudang Garam Merah dalam saku meminta untuk dibakar. Apalagi yang paling menyayat selain Tarawangsa Rancakalong dan kesunyian masing-masing?

 

 

Advertisements

One thought on “Tarawangsa Rancakalong dan Yang Berbeda di Seren Taun Cigugur

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s