Slavoj Žižek si Filsuf Viral

1498761880_833852_1498762174_noticia_normal_recorte1

Untuk bisa menyampaikan ceramah logis yang mengawinkan porno dengan subyektivisme, kecabulan dengan penegakan ulang politik kiri, atau psikoanalisis Jacques Lacan dengan sutradara film Jerman-Amerika Ernst Lubitsch, dan kemudian melemparkan banyolan-banyolan udik dan referensi semacam Taylor Swift – ini sesuatu yang tidak bisa dilakukan setiap orang. Tapi pemikir dari Slovenia Slavoj Žižek, 68, telah menjadikannya bentuk seni. Atau menjadi sebuah pertunjukan, seperti yang sering disebutnya.

Žižek adalah filsuf kontroversial, seorang penghasut menuju political incorrectness. Pengetahuannya, penguasaan teori dan wawasan kulturalnya yang luas telah membuatnya jadi seorang Sartre masa kini, setidaknya dalam kemampuannya untuk memasuki khalayak umum, kata para pendukungnya.

Bersamaan dengannya, kemampuan komunikasinya yang luar biasa, penggunaan bahasa (tidak seperti gambaran umum pada seorang akademisi) dan keakrabannya dengan budaya pop membantu Žižek menyampaikan pesannya pada usia duapuluhan dan tigapuluhan yang geram terhadap keadaan kiwari dan terhadap paradigma neoliberal. Dia bisa menyentuh mereka karena apa yang dia bela.

Oh, dan karena video-video YouTube-nya.

Beberapa orang berpikir bahwa karakter yang diciptakan Žižek dan pembawaan viralnya telah mengambilalih Žižek sang pemikir.

Ceramah-ceramah viralnya, termasuk satu yang paling lucu saat dia menjelaskan perbedaan antara pemikiran Prancis, Inggris dan Jerman dengan menganalisa desain toilet di tiap negara itu, sebagian besar membantu penjabaran-penjabaran panjang pada Kamis di luar Círculo de Bellas Artes, pusat kultural di Madrid, untuk mendengar A Plea for Bureaucratic Socialism-nya Žižek. Tempat itu penuh dan sekitar 500 orang harus di luar, menurut penyelenggara.

Carlos Fulgado, mahasiswa fisika 18 tahun, membantu menjelaskan fenomena ini. Dia datang sebelum pukul 5 sore untuk memastikan dia mendapat kursi yang tepat saat acara yang baru akan dimulai pukul 7.30 malam. Fulgado menyebutkan dia menemukan Žižek dengan cara yang “mainstream”: dari desas-desus dan karena menonton video-video YouTube, yang kebanyakan cuplikan dari The Pervert’s Guide to Cinema dan The Pervert’s Guide to Ideology, dua film dokumenter yang dia pandu dan tulis skripnya. Fulgado menyebutkan kalau dia hendak membaca In Defense of Lost Causes, tapi buku ini terlalu berat untuk seorang pembaca yang masih berusia 15 saat itu. Sejak saat itu, bagaimanapun, dia sudah menyelesaikan delapan sampai 10 jilid karya pemikir favoritnya ini.

1498820162_263713_1498820420_sumario_normal_recorte1

“Dia telah menggulingkan jalan klasik untuk mengakses filsafat,” sebut pemuda 18 tahun. “Ketimbang berbicara dari menara gading, dia menjangkau hipster. Dia tahu bagaimana berempati dengan anak muda, dengan referensi ke David Lynch dan Starbucks.”

Pada Kamis itu, Fulgado adalah peserta pertama yang buru-buru bersalaman dengan Žižek ketika si penceramah tiba di Círculo de Bellas Artes.

Tapi ada seseorang yang datang lebih dulu sebelum dia. Pablo Castellano, mahasiswa filsafat berusia 24 tahun, telah mengantri sejak 03:45 sore. Dia mengaku belum membaca karya-karya utama Žižek, tapi dia betul-betul familiar dengan materi-materi YouTube.

“Dia begitu populer di mahasiswa filsafat, tapi secara akademis dia tidak ada; dia tidak dikaji,” catatnya.

Pergolakan kematian kapitalisme

Tak perlu ditanya bahwa Žižek bisa mendatangkan massa. Sekitar 500 orang telah menyesaki ruangan untuk mendengarnya digresinya tentang kebaikan sebuah birokrasi sosialis. Ide utamanya: mengikuti pemberontakan di lapangan publik, kita sekarang butuh mesin tak kasat mata untuk mengatasi hal-hal penting di kehidupan keseharian kita, seperti kesehatan dan pendidikan.

Žižek memproklamirkan bahwa kita sedang menyaksikan pergolakan kematian kapitalisme, menyerang kekosongan presiden terpilih anyar Emmanuel Macron, membidik globalisasi, dan menyeru kaum kiri untuk bertarung merebut sebuah mayoritas moral.

Semuanya dibumbui dengan referensi ke tokoh semacam Malcolm X, dan disampaikan dengan gaya yang mengingatkan pada aktor komedi Italia Roberto Benigni dalam aksen, bujukan, dan kemampuan untuk membuat orang-orang tertawa.

Para peserta menonton monologis brilian, semrawut, tajam yang menampilkan sebuah pertunjukan penuh dengan gerenyet kegugupan yang membuatnya seorang Karakter dengan kapital K: dia memegang dengan kasar hidungnya, menjulurkan lidahnya di luar mulutnya, menarik kaosnya dan mendorong rambutnya ke belakang secara terus-menerus sembari dia memperkuat pikiran-pikiran arus baliknya.

Dalam pertemuan dengan media di Reina Sofia Museum, Žižek menyebutkan kalau dia menyadari begitu susah untuk berbicara di depan lebih dari 40 orang, tapi itu sesuatu yg penting untuk memperluas filsafat yang penuh keterbatasan. “Waktunya telah tiba untuk menyambangi lagi pertanyaan-pertanyaan besar metafisik. Kita tidak hidup di era superfisialitas. Ada pendengar-pendengar untuk karya teoritis serius dan besar.”

Beberapa orang berpikir bahwa dia karakter yang diciptakan Žižek dan pembawaan viralnya telah mengambilalih Žižek sang pemikir. Tapi faktanya tetap ada seorang pemikir di balik si karakter.

*

Diterjemahkan dari artikel El Pais berjudul Slavoj Žižek, the viral philosopher.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

w

Connecting to %s