Si Miskin dan Si Proletar

1476815634-charlie_chaplin_moderntimes_tickets

Lelucon teranyar Charlie Chaplin adalah mentransfer setengah dari hadiah Soviet untuk mengongkosi Abbé Pierre. Pada dasarnya, ini berarti membangun identitas antara sifat orang miskin dan proletar. Chaplin selalu melihat proletar dalam kedok orang miskin: bukan hanya representasi memaksa manusianya tetapi juga ambiguitas politik mereka. Hal ini cukup jelas dalam film mengagumkan Modern Times, dia berulang kali mendekati tema proletar, tetapi tidak pernah menguasakannya secara politik. Apa yang dia berikan kepada kita adalah kaum proletar yang masih buta dan bingung, yang didefinisikan oleh karakter yang tak sadar atas kebutuhannya, dan keterasingan totalnya di tangan para majikannya (para pemilik modal dan polisi).

Bagi Chaplin, kaum proletar masih merupakan orang yang lapar; representasi rasa lapar selalu epik dengan dia: ukuran sandwich yang kelewat raksasa, sungai-sungai susu, buah yang dikesampingkan dan tak pernah disentuh. Ironisnya, mesin penyalur makanan (yang merupakan bagian dari dunia majikan) hanya memberikan makanan bergizi yang terfragmentasi dan tak berasa. Terjebak dalam kelaparan, Chaplin selalu tanpa kesadaran politik. Pemogokan adalah malapetaka baginya karena itu bakal mengancam seseorang yang benar-benar dibutakan oleh rasa laparnya; orang ini mencapai kesadaran tentang kondisi kelas pekerja hanya ketika si miskin dan proletar itu berada di bawah tatapan (dan pukulan) dari polisi. Secara historis, Manusia menurut Chaplin kira-kira sesuai dengan pekerja saat Restorasi Perancis, memberontak terhadap mesin, bingung sebelum pemogokan, terpesona oleh peremajaan (dalam arti harfiah), tetapi belum dapat mencapai pengetahuan soal perkara politik dan desakan pada strategi kolektif.

Tetapi justru karena Chaplin menggambarkan semacam proletar primitif, masih di luar Revolusi, bahwa paksaan representasi dari yang terakhir itu sangat besar. Tidak ada karya sosialis yang berhasil mengekspresikan kondisi buruh yang direndahkan dengan begitu banyak kekerasan dan kemurahan hati. Brecht sendiri, barangkali, melirik kebutuhan, untuk seni sosialis, selalu membawa Manusia dalam malam Revolusi, yang berarti, sendirian, masih buta, pada titik dimana matanya mulai terbuka terhadap cahaya revolusioner dari ekses kemalangan ‘kodrati’ dirinya. Karya-karya lain, dalam menunjukkan pekerja yang sudah terlibat dalam pertarungan yang disengaja, dimasukkan ke dalam Perkara dan Partai, memberikan penjelasan tentang realitas politik yang diperlukan, tetapi tidak memiliki kekuatan estetika.

Sekarang Chaplin, sesuai dengan gagasan Brecht, menunjukkan kepada publik kebutaannya dengan menampilkan pada saat yang sama seorang lelaki yang buta dan apa yang ada di depannya. Untuk menonton seseorang yang tidak melihat adalah cara terbaik untuk secara intens menyadari apa yang tidak dia lihat: dengan demikian, pada acara Punch and Judy, adalah anak-anak yang mengumumkan untuk Punch apa yang dia pura-pura tidak lihat. Misalnya, Charlie Chaplin ada di dalam sel, dimanjakan oleh para sipir, dan tinggal di sana sesuai dengan ideal petit-borjuis Amerika: dengan kaki disilangkan, dia membaca koran di bawah potret Lincoln; tapi postur tubuhnya yang menyenang-nyenangkan diri mendiskreditkan ideal sepenuhnya, sehingga tidak mungkin lagi bagi siapa saja untuk berlindung di dalamnya tanpa memperhatikan keterasingan baru yang dikandungnya. Sedikit keterikatan adalah yang membuatnya tak berbahaya, dan orang yang miskin berulang kali terputus dari godaan. Bisa dikatakan, mungkin karena inilah Chaplin menang atas segalanya: karena dia melarikan diri dari segalanya, menjauhkan diri dari segala jenis rekan tidurnya, dan tidak pernah berinvestasi pada manusia apa pun kecuali manusia sendiri. Anarkis dirinya, secara politik terbuka untuk didiskusikan, mungkin mewakili bentuk paling efisien revolusi dalam bidang seni.

*

Diterjemahkan dari The Poor and the Proletariat dalam buku Mythologies.

Roland Barthes adalah filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang paling eksplisit mempraktikkan semiologi Ferdinand de Saussure, bahkan mengembangkan semiologi itu menjadi metode untuk menganalisa kebudayaan.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s