Sejarah Singkat Kiamat

wanderer above the sea of end of the world

Menyebut bahwa kiamat adalah obsesi modern seperti membongkar skandal mengejutkan tentang agama sang Paus. Melihat berjilid-jilid seri, tidak pernah ada era ketika kisah apokaliptik dan pasca-apokaliptik diproduksi berlimpah dan variasi yang lebih luas daripada yang kita lihat hari ini. Saya tak mengeluh, hanya menyelaraskan dengan zeitgeist hari ini. Saya hanya ingin mengajukan sebuah poin.

Sebagiannya, tentu saja, ini adalah kasus selera yang tercipta karena tren. Anda membaca buku, menikmatinya, dan mencari sesuatu dengan nada yang sama. Dan sebagian penerbit menanggapi dan mengakomodasi selera tersebut. Tetapi saya berpendapat bahwa ini adalah proses reaktif. Mereka baru memulai setelah sesuatu sudah mulai terjadi. Dan dalam kasus ini, ada sesuatu itu yang membuat penulis melirik kiamat sebagai tema yang perlu dijelajahi.

Kita sudah pernah di sini sebelumnya, tentu saja. Kiamat memegang daya tarik abadi bagi kita, dan kita tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatinya, dari waktu ke waktu. Tetapi era modern berbeda dalam banyak hal. Sampai saat ini, narasi kiamat kebanyakan adalah masih di area teks-teks keagamaan, yang telah memberi tahu kita bagaimana hal-hal yang terjadi di tempat mula berkewajiban untuk menyelesaikan semua alur cerita pada akhirnya. Tapi setelah kita menemukan novel (awal abad kedelapan belas) dan keaksaraan universal (masih terus berlangsung) pergeseran yang tak dapat ditawar-tawar dimulai. Awalnya lambat, namun secara bertahap tema dan gagasan tersebut menjadi topik fiksi populer yang dikonsumsi oleh sejumlah besar orang.

Pada saat itu mereka bebas berevolusi. Kitab suci tidak, tidak terlalu banyak, kecuali melalui liku-liku tafsir terjemahan. Selalu ada fundamentalis yang siap untuk marah jika Anda mengubah koma. Novel, di sisi lain, karena cara mereka diproduksi dan dikonsumsi, berkembang biak seperti kelinci, menggerogoti DNA seperti virus dan berubah lebih cepat dan tak terduga ketimbang burung kutilangnya Darwin.

Itu juga berlaku untuk genre, bukan cuma novel apokaliptik. Setiap gelombang perangkat plot kiamat berbeda dari yang sebelumnya, dan saya pikir perubahan tersebut memberi tahu kita sesuatu tentang diri kita sendiri. Atau setidaknya, sesuatu tentang mimpi buruk dan neurosis kita, yang dengannya novel apokaliptik bermain-main dan sebagiannya untuk menenangkan kita.

Setiap generasi melihat akhir dunia melalui prisma realitasnya sehari-hari. Dan popularitas fiksi apokaliptik nampaknya naik dan turun seiring dengan ketakutan dan ketegangan dunia nyata dan ketidakamanan. Taksonomi hanya membawa kita sejauh ini. Apa yang luar biasa tentang narasi pasca-apokaliptik terbaik adalah apa yang mereka lakukan dengan premis awal mereka – jenis cerita apa yang mereka angkat dari batu loncatan malapetaka global.

1960-an: Eko-Apokalips

Membatasi beberapa penggagas abad ke-19 (Mary Shelly yang pertama, seperti biasa, dengan The Last Man pada tahun 1826) fiksi ilmiah tidak mulai menyoal dirinya secara gamblang tentaang kiamat sampai tahun 1960an. Kisah-kisah picisan bermain dengannya, tapi beberapa skenario kiamat jauh lebih ketimbang visi-visi milenium yang cerah. Kebanyakan Bumi masa depan dari tahun 30an sampai era 50an digambarkan punya kerajaan galaksi mungil yang rapi dengan halaman yang terawat baik. Para alien akan sedikit lincah dari waktu ke waktu, tapi hampir selalu ada Buck Rogers atau Kimball Kinnison untuk menempatkan mereka dengan kuat di posisi mereka.

Para penulis yang berada di garda depan pada tahun 60-an telah mengalami Perang Dunia II secara langsung; mereka telah melihat bagaimana suatu tatanan dunia yang tampak stabil bisa merobek dirinya sendiri dalam serangan tiba-tiba. Tetapi jika ketidakpastian mereka tentang masa depan berakar di masa lalu, titik referensi utama mereka masih tetap kontemporer. Mimpi terburuk mereka, dari waktu ke waktu, adalah bencana lingkungan.

Sangat mudah untuk melihat alasannya. Silent Spring-nya Rachel Carson, dirilis pada tahun 1962, menutup industri pestisida dan membawa istilah rantai makanan ke dalam pemakaian sehari-hari. Mengungkap bagaimana bahan kimia seperti DDT terus berkonsentrasi dengan cara naik dari tumbuh-tumbuhan ke hewan herbivora hingga predator, Carson mengubah cara kebanyakan orang memandang dunia alami. Satu dekade sebelum James Lovelock mengajukan Hipotesis Gaia, namun gagasan tentang lingkungan sebagai sistem interdependensi kompleks yang kemampuannya memperbaiki diri mungkin memiliki batasan yang bisa dibilang dimulai dengan panggilan pengingat Carson yang penuh gairah.

Para penulis fiksi ilmiah pada hari itu menjawab dan memperkuat panggilan itu. The Drowned World-nya J.G. Ballard adalah yang pertama dari banyak novel waktu itu yang mengambil tema katastrofi ekologi dan mendedahnya. Dalam novel Ballard, pemanasan global telah menyebabkan lapisan es mencair, mengecilkan daratan yang bisa dihuni dan membanjiri berbagai negara. Pada tahun yang sama, The World In Winter-nya John Christopher mendorong ke arah yang berlawanan untuk membayangkan zaman es baru, sementara Ballard melanjutkan untuk membuat tema eko-apokalips yang berulang dengan cerita-cerita seperti The Wind From Nowhere (badai super), The Crystal World (fenomena misterius mengkristal setiap jaringan hidup) dan The Drought (kemarau, sudah bisa ditebak).

Jelas karya Carson mengidentifikasi dampak manusia terhadap alam sebagai masalah nyata yang perlu ditangani. Fiksi ilmiah enampuluhan mengambil ide itu juga, membayangkan dunia di mana kelebihan penduduk, polusi, dan penipisan sumber daya adalah katalis untuk kehancuran global. Karya John Brunner menonjol di sini, terutama Stand On Zanzibar, The Jagged Orbit, dan The Sheep Look Up.

1970-an dan 1980-an: Ketika Dua Suku Pergi Berperang

Bencana yang tercipta berkat ulah manusia terus menjadi tema dominan dalam fiksi ilmiah tahun 70-an dan 80-an. Bahkan, sinema pada hari itu, bermain mengejar fiksi prosa dekade sebelumnya, mengimbangi waktu yang hilang dengan film seperti Silent Running, Soylent Green, dan Zardoz.

Namun tema-tema seperti penggundulan hutan dan kelaparan global secara berangsur-angsur dikalahkan oleh jenis baru McGuffin, yang bergantung pada skenario perang nuklir global yang semakin masuk akal. Nevil Shute memimpin jalan dengan On the Beach, jauh sebelumnya, dan kiamat nuklir tidak pernah benar-benar ketinggalan zaman, tetapi akhir 70-an dan 80-an terlihat lonjakan yang belum pernah terjadi dalam cerita-cerita seperti itu. Damnation Alley dari Roger Zelazny berasal dari waktu ini, sama seperti Down To a Sunless Sea karya David Graham, The Postman karya David Brin, dan Riddley Walker-nya Russell Hoban.

Saya ingat dengan sangat jelas bagaimana rasa takut yang ada di mana-mana. Ini menjadi budaya yang begitu dominan sehingga tidak lagi menjadi area fiksi ilmiah. Musik pop memberi penghormatan pada lagu-lagu seperti “Dancing With Tears In My Eyes,” “99 Red Balloons,” dan “Let’s All Make a Bomb.” Seada-adanya, drama TV realistis seperti Threads dan The Day After membawa ide itu ke pasca keriuhan arus utama, dan Raymond Briggs menguranginya menjadi dasar yang memilukan dengan When the Wind Blows. Apapun media yang Anda gunakan, apakah itu film, TV, prosa, atau komik, jika Anda ingin membayangkan masa depan yang terkilir dari saat ini maka perang nuklir adalah satu-satunya tiket masuk yang Anda butuhkan.

Di sinilah model generasional mulai terurai sedikit, dengan alasan yang menarik. Volume teks yang diproduksi dalam prosa dan media lainnya telah meningkat secara eksponensial sejak awal abad ke-20. Sebagai efek samping, pengaruh menjadi makin cepat dan makin cepat dan siklus menjadi lebih pendek. Ide-ide yang segar dan baru menjadi steno budaya yang akrab, kemudian klise, dalam waktu beberapa tahun.

Mutasi manusia adalah salah satu dari banyak ide yang tiba-tiba menjadi di mana-mana – sebuah trofi yang tersedia secara universal yang tidak membutuhkan penjelasan. Novel-novel sebelumnya seperti The Chrysalids karya John Wyndham untuk sebagian besar tetap lebih dekat dengan fakta-fakta ilmiah yang diketahui, menggambarkan mutasi sebagai sesuatu yang acak dan sebagian besar tidak disukai. Tapi mutan super-bertenaga sekarang menjadi pokok dalam fiksi populer. Tautan ke radiasi atom sebagai agen mutagenik sering terlupakan, tetapi tetap bertahan misalnya dalam tagline abadi untuk X-Men mutan Marvel, “anak-anak atom,” dan dalam Strontium Dog-nya 2000 AD.

Dengan berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1991, rasa takut bahwa hal itu akan tiba-tiba memanas justru padam. Tanpa Uni Soviet untuk menggantung kegelisahan kita, kita menemukan yang baru. Sekitar saat inilah zombie mulai tampak.

1980s – 2000an: Mayat Hidup

Kiamat zombie menyajikan kasus khusus. Untuk satu hal, itu ada di perbatasan yang diperebutkan antara horor dengan fiksi ilmiah. Dan untuk yang lain, itu telah terbukti sangat serbaguna, membelah menjadi sub-genre tersendiri dan (boleh dibilang) menjadi lebih intens referensial pada diri daripada jenis teks genre lainnya.

Bayangan dari zombie horor klasik ke zombie yang lebih bernuansa saat ini berlangsung secara bertahap dan halus, dan dengan sedikit rewel. Di mana Dawn Of the Dead pada 1978 meyakinkan kita bahwa “ketika tidak ada lagi ruang yang tersisa di Neraka, orang mati akan berjalan di Bumi,” para zombie dalam Re-Animator tahun 1985 diciptakan oleh serum yang dibuat dan dikelola oleh seorang ilmuwan, dan Cadillac Desert (1989) dari Joe R. Lansdale punya zombie yang ditelurkan oleh bakteri – sebuah inovasi yang mengubah keseluruhan lanskap fiktif. 28 Days Later, pada tahun 2002, mengunci gagasan wabah zombie ini dengan citra yang jelas dan plot yang terinspirasi oleh plot Wyndham, dan kebanyakan teks zombie yang kemudian (termasuk karya saya The Girl With All the Gifts, 2014) telah sangat dipengaruhi oleh pola ini.

Tapi apa yang film zombie ceritakan tentang ketakutan kita? Tentunya kiamat zombie – tak seperti kolaps ekologi atau perang nuklir – bukan hal rasional yang harus ditakuti? Yah, Anda berpikir begitu, tetapi banyak orang yang tampaknya takut akan hal itu. Di sini, di Inggris, Daily Mail merilis sebuah cerita pada bulan Januari yang lalu dengan judul utama A ZOMBIE OUTBREAK COULD COME CLOSE TO WIPING OUT HUMANITY IN 100 DAYS. Artikel serupa di Huffington Post menawarkan tips-tips untuk bertahan hidup dengan sisipan jargon “Ini bukan masalah jika, ini masalah kapan.”

Jadi, zombie bekerja dengan sangat baik pada tingkat literal, tapi juga merupakan kendaraan yang hebat untuk ketakutan lainnya. Dalam lingkungan yang menakutkan, mereka sering menjadi kendaraan bagi jerigen yang belum terselubung melawan penyakit masyarakat modern, menghadapi kita dengan cermin terdistorsi dari naluri dan dorongan kita sendiri. Pusat perbelanjaan di Day Of the Dead, untuk dijadikan contoh favorit setiap orang, terus mendominasi lanskap pinggiran kota yang hancur saat dunia berantakan. Ini adalah tempat berlindung bagi orang yang bertahan dan iming-iming aneh untuk mayat hidup, yang dengan samar-samar ingat bahwa semua yang mereka inginkan pernah terkandung di dalam dinding itu. Sutradara George Romero mengikuti visi gelap di Land of the Dead tahun 2005 dengan dongeng alegoris tentang perjuangan kelas di Amerika modern dan kesenjangan kekayaan yang berkembang.

Dalam fiksi ilmiah, saya pikir kiamat zombie menyajikan secara berbeda dan membawa makna penyampaian yang berbeda. Untuk membuat titik yang jelas, alasan keberadaan zombie di tempat pertama biasanya berhubungan dengan kurangnya ruang penyimpanan yang tersedia di Neraka, namun karena wabah – ulah dari basil penyakit, virus, jamur atau cacing pikiran alien. Ketakutan modern dari pandemi, yang dipicu oleh SARS dan H1N1 jelas sangat relevan di sini.

Tapi ada juga aspek eksistensial terhadap ancaman zombie yang terangkat. Zombie adalah orang-orang dalam bentuk saja; mereka terlihat seperti kita tetapi mereka tidak memiliki kesadaran. Mereka mengingatkan kita bahwa kepribadian kita sendiri dapat dibatalkan. Menjadi zombie adalah kehilangan apa yang membuat Anda menjadi manusia – jadi apokalips ini menghancurkan kita dari dalam, menggantikan kerusakan properti heroik dari (katakanlah) film Roland Emmerich dengan sesuatu yang lebih tajam namun jauh lebih menghancurkan, kehancuran kedewasaan Anda yang tak terhindarkan, jiwa Anda. Oleh karena itu, terdapat pengimbangan dalam novel seperti Warm Bodies milik Isaac Marion antara furnitur bergenre yang sudah dikenal dari lanskap kota yang hancur dan kantong-kantong penyintas, dan kasih sayang yang berbahaya yang terbentuk antara R dan Julie. Neraka, di sini, sepenuhnya internal.

Tahun 2000 dan 2010: Membungkuk Menuju Bethlehem

Kiamat-kiamat di atas tampaknya telah membawa kita melewati fajar milenium baru, di mana apokaliptik datang dalam setiap rasa yang sesuai dengan kantong Anda dan selera Anda.

Kiamat berbasis wabah tidak terbatas pada zombie. Novel seperti The Space Between the Stars dan trilogi Plague Times-nya Louise Welsh mendramatisir dengan sangat jelas keruntuhan masyarakat yang meluas yang dapat dibawa pandemi.

Bencana ekologis telah kembali – namun dengan lebih banyak taji, diinformasikan oleh konsensus ilmiah yang luar biasa mengenai pemanasan global dan serangkaian bukti tak terbantahkan. The White Knife oleh Paolo Bacigalupi memberi kita masa depan yang dekat dimana kelangkaan air membuat Amerika Serikat sebuah serikat hanya dalam nama, mengadu negara-negara Barat satu sama lain lewat kebijakan licik dan pertempuran paramiliter. Di dalam The Stone Gods, Jeanette Winterson dengan sungguh-sungguh menciptakan migrasi ke masa lampau untuk umat manusia, menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya kita melahap seluruh sumber daya planet dari bawah diri kita sendiri. Dan jangan lupakan Wall-E, yang kota-kotanya penuh sampah adalah salah satu visi yang paling menghebohkan yang pernah dihasilkan oleh animator brilian Pixar.

Perang global (nuklir atau lainnya) masih sangat kuat, meski belakangan ini tampaknya banyak mengekspresikan dirinya melalui waralaba besar seperti The Hunger Games, Mad Max, dan Planet Of the Apes. Sebenarnya, dengan mengatakan bahwa, saya mengabaikan The Road-nya Cormac McCarthy, salah satu novel pasca-apokaliptik paling kuat dan berpengaruh yang pernah ditulis. Dan saya rasa ada The Book Of Eli juga, betapapun kita berharap tidak ada. Dalam film itu, jika Anda tidak ingat, kekuatan tangan pemandu Tuhan memungkinkan orang buta untuk melawannya (dengan tingkat keterampilan prajurit ninja) melintasi Amerika yang rusak untuk membawa salinan Alkitab ke penerbitan di West Coast. Yang Maha Kuasa mungkin telah membiarkan ras manusia untuk turun kembali ke barbarisme, dengan kehilangan nyawa yang tak terhitung, tetapi setidaknya Dia masih harus menceritakan sisi cerita-Nya. Yey.

Kita juga memiliki tren yang berkembang untuk cerita di mana umat manusia dihancurkan atau digantikan oleh teknologinya sendiri, dengan munculnya penelitian kecerdasan buatan membuktikan tanah yang sangat subur untuk paranoia. Film Terminator telah memberikan dukungan penuh pada konsep-konsep ini di tahun 80-an, tetapi Sea Of Rust dari Robert Cargill berjalan lebih baik dengan menetapkan narasinya setelah peristiwa kepunahan manusia telah terjadi. Dalam menggeser perjuangan tanpa akhir untuk bertahan hidup dari kita kepada makhluk-makhluk yang memusnahkan dan menggantikan kita, Cargill menawarkan beberapa wawasan mengejutkan tentang cara kerja ekosistem dan tempat kita di biosfer Bumi yang begitu rapuh namun begitu tangguh.

Apa Poin Utamanya?

Melihat banyaknya bencana alam ini, Anda dapat dimaafkan jika berpikir bahwa di era modern kita takut akan segala hal – atau setidaknya bahwa kekinian kiamat kita mencapai kelebihan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saya tidak akan menentang salah satu dari hal-hal itu. Di tengah keruntuhan ekonomi satu dekade yang lalu, prospek kehidupan Anda yang tiba-tiba dan spektakuler menjadi tidak hidup telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi banyak orang – dan sistem politik dunia sebagian besar telah dimasukkan ke tangan para penyamun dan orang-orang dungu (saya tidak bermaksud membedakan para penyamun atau orang dungu, maksud saya orang-orang yang gabungan keduanya), jadi tidak mengherankan jika kita terus menyelidiki tempat yang sakit untuk melihat betapa sakitnya hal itu.

Tapi fiksi apokaliptik jauh lebih daripada semacam program imunisasi psikis, yang memberi kita sedikit bencana sehingga yang besar tidak akan terlalu menyakitkan saat hal itu terjadi. Untuk satu hal, apokalips adalah tempat yang baik untuk melakukan eksperimen pemikiran. Dengan menyingkirkan ketidakmampuan mereka, mereka memberi ruang untuk mencari pertanyaan tentang siapa kita dan untuk apa kita. Begitu banyak perilaku kita dan pemikiran kita didikte oleh peran sosial yang kita mainkan. Kita bergerak melewati hari-hari kita seperti aktor yang melintasi panggung, semua gerakan kita terhambat dan semua kata-kata kita bisa kita dapatkan sebelumnya. Jika masyarakat rusak, tidak ada yang tersisa untuk meminta kami. Kita tiba-tiba harus berimprovisasi, dan dalam prosesnya kita menemukan diri kita, seperti yang dikatakan oleh penyair Amerika, Wallace Stevens, “lebih benar dan lebih aneh lagi.”

Sungguh-sungguh benar The Road karya Cormac McCarthy, di mana seorang ayah dan putranya melakukan perjalanan melalui bentang alam yang begitu terkuras oleh malapetaka sehingga makanan hampir seluruhnya habis. Kemanusiaan mereka dan cinta mereka untuk satu sama lain diuji di luar batas yang dapat dibayangkan, tetapi tetap ada. “Jika dia bukan firman Tuhan,” sang ayah berpikir saat dia melihat ke bawah pada anak tidurnya, “maka Tuhan tidak pernah berbicara.” Dalam Broken Earth-nya N.K. Jemisin, sebaliknya, fokusnya adalah pada ketegangan dan perpecahan rasial yang dilihat melalui lensa masyarakat yang dikeraskan dan dikotori oleh peristiwa-peristiwa kiasan biasa. Jemisin dengan cemerlang membedah cara ketidakpercayaan antara kelompok-kelompok dapat didorong untuk melayani agenda politik yang tidak ada hubungannya dengan kelangsungan hidup dan semua yang berkaitan dengan kekuasaan dan keuntungan.

Dalam beberapa cerita, akhir dunia berfungsi sebagai metafora. Karya awal Kurt Vonnegut, Cat’s Cradle, adalah dongeng yang lucu tentang perlombaan senjata dan titik akhir logisnya, tapi ada banyak hal lain selain dan salah satunya adalah meditasi tentang kematian manusia. Buku ini penuh dengan kematian yang tragis, tidak masuk akal atau keduanya, dan meskipun pada waktunya akan berkembang ke saat yang paling akhir (“the great ah-whoom“), hal itu juga mengingatkan kita bahwa setiap kematian adalah akhir dunia. Itu benar-benar salah satu ajaran dari agama penemuan baru, Bokononisme, yang juga memberi kita garis penutup novel dan respon menantang manusia terhadap kesewenang-wenangan alam semesta.

Naratif pasca-apokaliptik juga beragam, di mana mereka memposisikan diri relatif terhadap akhir dunia. Banyak yang menunjukkan itu terjadi di naratif hari ini (yang berarti mereka sama sekali bukan pasca-apokaliptik). Sebagian besar meluncur maju satu generasi untuk menunjukkan tatanan dunia baru yang terbentuk, dan menjadikannya fokus utama. Itu menjadi bahan pokok fiksi Young Adul dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak penulis mengikuti jejak Suzanne Collins yang berkobar dalam trilogi Hunger Games.

Tetapi beberapa penulis menempuh jalan lain. Karya Jasper Fforde yang brilian Shades Of Grey (sebutan yang harus disesali setiap hari dalam hidupnya) terjadi berabad-abad setelah kiamat, yang hanya disebut sebagai “sesuatu yang terjadi.” Masyarakat baru yang telah bangkit adalah sangat masa bodoh pada masa lalu, dan begitu juga pembaca. Kita melihat produk akhir, tapi kita tidak melihat prosesnya, jadi kita melangkah salah lagi dan lagi seperti digambarkan oleh novel yang brilian ini.

Dan beberapa novel tidak mengumumkan diri mereka sebagai apokaliptik sama sekali, tetapi masih diliputi oleh perasaan elegiak dari sebuah era, cara hidup, peradaban yang berliku sampai akhir. Yang paling utama di antara apokalips ini adalah Wonderful The End Of the Day-nya Claire North, yang karakter utamanya, Charlie, bertindak sebagai pertanda kematian. Saat kematian akan datang, Charlie dikirim sebelumnya, kadang-kadang sebagai sopan santun dan terkadang sebagai peringatan. Tetapi kematian yang dia kirim untuk menandai tidak selalu kematian individu, dan seiring dengan berlanjutnya buku kita mulai melihat pola dan korespondensi yang menggambarkan kematian yang lebih besar dan lebih mendalam. Tumpang tindih pribadi, global dan kosmik dan saling bertautan, seperti yang terjadi dalam Cat’s Cradle.

Mungkin, jika ada benang merah yang berjalan melalui fiksi apokaliptik (dan saya akui itu besar) maka itu adalah novel seperti Cat’s Cradle dan The End Of the Day yang memberikan ekspresi yang paling jelas. Ada adegan di buku terakhir tempat Charlie menghadiri pemakaman untuk seseorang yang harus dia ketahui selama bekerja.

Sang Pengantar Kematian duduk diam dan mengangguk pada kata-kata yang datang … dan menangis bersama seisi ruangan, bukan kesedihan dalam teriakan dan jeritan, tetapi pada lubang kosong yang ditinggalkan, yang sekarang tidak ada yang bisa mengisinya.

Dan di luar gereja …

Kematian menunggu, tetapi tidak masuk. Pekerjaannya dilakukan, untuk hari ini, dan pemakaman yang dia rasakan adalah upacara untuk yang hidup, bukan yang mati. Dia tidak tertarik dengan mayat.

Ketegangan indah itu mendefinisikan fiksi apokaliptik untuk saya. Itu selalu memberi kita fokus yang terbagi, pada “lubang kosong yang ditinggalkan” dan pada yang hidup yang sekarang harus mencapai akomodasi baru dengan realitas baru. Itu adalah bagian penting dan rumit untuk menjadi manusia, dan kita membutuhkan semua bantuan yang bisa kita dapatkan. Mungkin karena itulah kita sering berpaling ke cerita yang membawa kita ke tepi jurang maut dan memegang tangan kita saat kita melihat ke bawah.

***

Diterjemahkan dari A Brief History of the End of the World dalam Electric Literature.

Di bawah nama Mike Carey, ia telah menulis untuk DC dan Marvel, termasuk game X-Men dan Fantastic Four. Novelnya The Girl With All the Gifts adalah buku terlaris USA Today dan merupakan film utama berdasarkan pada skenario penulisan nominasi BAFTA.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s