Dua Puisi Kim Yideum

yideum

Penyair kelahiran Jinju ini membuat debut sastrawinya pada 2001 lewat ‘Poesie’. Buku-buku kumpulan puisinya, ‘A Stain in the Shape of a Star’ (2005), ‘Cheer up, Femme Fatale’ (2007), ‘Inexpressible Love’ (2011), dan sebuah novel, ‘Blood Sisters’ (2011). Dia diganjar Poetry and the World Literary Award (2010) dan Kim Daljin Changwon Literary Award (2011). Menerima PhD berkat tesis berjudul “Feminist Poems in Korea,” dan mengajar di Universitas Kyungsang.

젖은 책

물이 차오르는 거리를 걷는다 저녁은 암청색 방수포를 씌운 트럭처럼 나를 앞지른다 어두컴컴하고 좁은 골목 이 길이 맞나 저지대의 내 방은 만조가 아니어도 미온의 물에 잠겨 버리고 새로이 나는 집을 찾아 헤매곤 한다

외투는 문턱에서 벗을 것 가슴에 금을 그으며 오늘의 수위를 확인한다 사람은 누수한다 동시에 모두가 눈을 깜빡였다면 내 침대는 눈물에 떠내려가지 욕조 안에 넣어둔 책들은 젖지 않았다

물에 뜬 책상 앞에서 물에 뜬 의자에 앉아 나는 장화에 담긴 물을 마시듯이 글자를 적는다 묶어놓은 편지 다발은 눈물로 가득 찬 얼굴 진정하지 않는 너의 고양이가 젖은 책의 젖가슴 위에서 떤다

Buku Basah

Aku berjalan sepanjang jalan yang dipenuhi air. Malam meliputiku seperti truk yang ditutup terpal biru gelap. Gang gelap dan sempit – apakah ini jalan yang benar? Kamarku di tempat rendah dengan mudah tenggelam di bawah air suam-suam, bahkan ketika belum pasang. Aku mulai mencari rumahku.

Ingat untuk lepas mantel di dekat pintu. Aku menarik garis di dadaku untuk mengukur permukaan air hari ini. Manusia dibikin untuk merembes. Ketika semua orang berkedip sekaligus, tempat tidurku mengambang dalam air mata mereka. Buku-buku yang kusimpan di bak mandi tak ikut basah.

Aku duduk di kursi yang mengambang di atas air, dan aku duduk di meja yang mengambang di atas air, dan aku menulis aksara seperti ketika aku minum air dengan sepatu bot. Bundelan surat-surat yang terikat adalah wajah penuh air mata. Kucingmu tidak akan tenang. Dia menggigil di buku yang basah itu.

*

밤의 거리에서 혼자

밤을 향해 가고 있었다 길고 좁고 어두운 길에 사람이 엉켜 있었다 포옹인지 클린치인지 알 수 없었다 둘러 갈 길 없었다 나는 이어폰 빼고 발소리를 죽였다 팔꿈치를 벽에 대고 한 사람이 울기 시작했다 야 너무하잖아 지나가는 사람 붙잡고 물어보자 누구 말이 맞는지 가려보자며 다른 사람이 소리쳤다 멈칫 둘러보니 행인이라곤 나밖에 없었다 난 긴장하며 고개 숙여 기다렸다 이 순간 내가 저들의 생에 중대한 판단을 내려야 하나 보다 원투 스트레이트 촌각의 글러브가 심장을 쳤다 가로등 밑에서 편지를 읽던 밤이 떠올랐다 달은 바다와 멀리 떨어져 있지만 그렇게 씌여 있던 우린 이어지지 않았다 그 젊은 연인들은 나에게 접근하다가 둘의 그림자만 거죽처럼 흘리고 갔다 얘들아 나도 불가피하게 사람인데 너무한 거 아니니 그들이 사라져 간 골목 끝에서 나는 신보다 고독했다

Sendirian di Lorong Malam

Aku sedang berjalan menuju malam. Di lorong yang panjang, sempit dan gelap, ada dua orang berbelit. Aku tak bisa mengatakan apakah itu pelukan atau pitingan. Tak ada jalan lain di sekitar mereka. Aku melepas earphone dan membunuh langkah kakiku. Satu orang mulai menangis, sikunya bersandar ke dinding. Apa kau tidak berpikir kau sudah melewati batas? Ayo pikir siapa yang paling masuk akal, kau atau aku, teriak orang satunya. Ketika mereka melihat sekeliling, aku adalah satu-satunya orang yang lewat. Aku merasa gugup. Aku menunduk dan menunggu. Aku kira aku akan menjadi orang yang membuat keputusan besar untuk hidup mereka di sini, tepat pada saat ini. Pukulan satu-dua, tinjuan per detik menghantam jantungku. Aku teringat malam itu ketika aku membaca suratmu di bawah lampu jalan. Bulan dan laut sangat berjauhan, namun … kau menyuratiku. Kami tidak pernah terhubung kembali. Sepasang kekasih muda itu mendekatiku, dan berjalan melewati, sementara bayangan mereka mengikuti di belakang. Halo, aku juga manusia betulan, kalian telah melewati batas. Melihat mereka menghilang di ujung gang, aku merasa sepi, kesepian seperti tuhan.

***

Diterjemahkan dari Two Translated Kim Yideum Poems di Cordite Poetry Review.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s