Di Pantai Saat Malam Sendirian

on-the-beach-at-night-alone-1600x900-c-default

Bersama harum asin laut yang pekat, beragam memori datang menyesak diangkut angin muson barat. Lanskap pertama yang dilihat saat membuka mata; entah Adam-Hawa yang ditendang dari nirwana, atau nenek moyang purba kita yang berenang-renang memutuskan keluar dari samudera dan berevolusi merangkak dan jadi kera berjalan di Afrika yang berakhir tumbuh kesadaran akal budinya, atau kemungkinan lainnya; kerinduan kita pada laut adalah ingatan paling primitif, pada momen pertama manusia berkaca tentang kepayahannya melawan keluasan dan ketakpastian.

Setelah soto ayam dengan kucuran dua sendok sambal, senja kelabu adalah favorit saya.

Air laut menggelitik kaki saya. Sepanjang sejarah, terlihat hubungan mendalam antara kita dengan air yang sering dijelaskan, atau diglorifikasi, dalam seni, sastra, dan puisi. Terekam dalam beragam kutipan-kutipan centil, yang mudah saja dicari lewat peramban Google. Aku membutuhkan laut karena dia mengajariku, gombal Pablo Neruda. Air bisa memberi kita energi, entah itu hidrolik, hidrasi, efek tonik air dingin yang disemprot ke muka, atau ketentraman yang berasal dari sensasi lembut deburan ombak yang menjilat pantai.

Teknologi telah memungkinkan kita untuk menyelidiki kedalaman otak manusia dan menyelam ke kedalaman lautan. Dengan kemajuan tersebut, kemampuan kita untuk belajar dan memahami pikiran manusia telah berkembang, soal persepsi, emosi, empati, kreativitas, kesehatan dan hubungan kita dengan air. Fetus manusia masih memiliki struktur semacam insang pada tahap awal perkembangannya, dan kita menghabiskan sembilan bulan pertama kehidupan kita terbenam dalam lingkungan berair dalam rahim ibu kita. Saat kita lahir, tubuh kita berisi sekitar 78 persen air. Seiring bertambahnya usia, jumlah tersebut turun hingga di bawah 60 persen, namun otak terus dalam keadaan 80 persen air. Tubuh manusia secara keseluruhan hampir sama densitasnya seperti air, yang memungkinkan kita untuk mengapung. Dalam komposisi mineralnya, air di sel kita sebanding dengan yang ditemukan di laut. Tentu, di zaman internet kamu bisa berlaga sok tahu dan memberi kuliah biologi macam begini.

Senja kelabu di Ujung Genteng. Berangin. Rumah bilik tempat pondokan kami terus berderak. Rintik.

Malam turun.

Listrik putus. Ketakutan paling mula, dedemit paling mengerikan datang mendekat: kegelapan.

Mirip dalam film-film Hong Sang-soo: Adegan hujan dan angin berhembus kencang, merokok, makan sambil minum soju, berbincang tak karuan, selingkuh, mengemong sambil gombal-gombal lucu, melamun, merokok lagi, ngobrol lagi, makan lagi, merokok lagi. Sayang, tak ada soju dan tak ada yang sedang selingkuh.

Listrik masih putus. Menyala kemudian ketika semua sudah berselimut kantuk.

Sunyi adalah suara yang paling bising. Waktu bergerak dengan caranya sendiri di tengah malam. Kau tak bisa melawannya. Di puncak malam, pikiran terburuk biasanya menyerang. Beragam kegagalan dan harapan manis yang harus dikubur paksa. Kemungkinan-kemungkinan yang lenyap, perasaan-perasaan yang tak pernah bisa kembali. Keharusan untuk memilih beragam pintu yang ujung-ujungnya memenjarakan. Tak ada rute memutar. Semakin bertambah umur, semakin menyadari bahwa sekeliling kita adalah neraka, sampai akhirnya sadar kalau neraka sesungguhnya adalah diri kita sendiri, lautan dalam kepala kita. Menutup mata tak akan mengubah apapun.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

w

Connecting to %s