Pulau Keabadian, Ursula K. Le Guin

ursula k le guin

Seseorang bertanya padaku apakah aku pernah mendengar ada manusia yang hidup abadi di Dataran Yendian, dan ada orang lain yang bilang padaku bahwa memang ada, jadi ketika sampai di sana, aku bertanya tentang ini. Agen perjalanan agak enggan menunjukkan tempat bernama Pulau Keabadian di petanya. “Anda sebaiknya tidak pergi ke sana,” katanya.

“Kenapa tidak?”

“Yah, ini berbahaya,” katanya, menatapku seolah dia mengira aku bukan tipe orang yang mencintai bahaya, memang dia sepenuhnya benar. Dia adalah agen lokal yang agak kasar, bukan seorang pegawai Layanan Antarplanet. Yendi bukanlah tujuan yang populer. Dalam banyak hal sangat mirip dengan dataran kita sehingga tampaknya tidak terlalu menarik. Ada perbedaan, tapi tidak jelas.

“Mengapa disebut Pulau Keabadian?”

“Karena beberapa orang ada yang abadi.”

“Mereka tidak mati?” Tanyaku, tidak pernah yakin dengan akurasi translatomat, mesin penerjemahanku.

“Mereka tidak mati,” katanya acuh tak acuh. “Ini saja, Kepulauan Prinjo adalah tempat yang indah untuk dua minggu yang tenang.” Potlotnya diarahkan ke selatan melintasi peta Laut Besar Yendi. Tatapanku tetap mengarah ke Pulau Keabadiaan yang besar dan sepi. Aku menunjuknya.

“Ada hotel di sana?”

“Tidak ada fasilitas wisata. Hanya kabin untuk para pemburu berlian.”

“Ada tambang berlian?”

“Mungkin,” katanya. Dia bersikap meremehkan.

“Apa yang membuatnya berbahaya?”

“Lalat.”

“Lalatnya menggigit? Apa lalatnya membawa penyakit? ”

“Tidak.” Dia benar-benar cemberut sekarang.

“Aku ingin mencobanya selama beberapa hari,” kataku, setenang mungkin. “Hanya untuk mencari tahu apakah aku berani. Jika aku merasa takut, aku akan segera kembali. Beri aku tiket penerbangan balik.”

“Tidak ada bandara.”

“Ah,” kataku, lebih unggul dari sebelumnya. “Jadi bagaimana aku bisa sampai di sana?”

“Kapal,” katanya, tidak sadar. “Sekali seminggu.”

Tidak ada yang membangkitkan sebuah gelagat selain sebuah gelagat. “Baiklah!” kataku.

Paling tidak, pikirku saat meninggalkan agen perjalanan, tak akan seperti Laputa. Aku pernah membaca Gulliver’s Travels saat masih kecil, dengan versi yang sedikit ringkas dan mungkin hasil saduran. Ingatanku akan buku itu seperti semua ingatan masa kecilku, sekelebat, putus-putus, dan terang — sedikit bercahaya dalam keluasan yang terlupakan. Aku ingat Laputa mengapung di udara, jadi kau harus menggunakan pesawat terbang untuk sampai ke sana. Dan aku benar-benar ingat sedikit hal lain, kecuali bahwa orang-orang Laputa abadi, dan bahwa aku paling tidak menyukai kisah itu ketimbang empat perjalanan Gulliver lainnya, yang justru ditujukan untuk orang dewasa, sesuatu yang sangat memberatkan saat itu. Apakah para Laputa memiliki bintik-bintik, tahi lalat, atau sesuatu seperti itu, yang membedakannya? Dan apakah mereka ilmuwan? Tapi mereka menjadi pikun, dan hidup terus dan terus dalam kebodohan yang tidak beralasan — atau apakah aku mereka-rekanya? Ada sesuatu yang buruk tentang mereka, sesuatu macam itu, sesuatu untuk orang dewasa.

Tapi aku berada di Yendi, tempat karya-karya Swift tidak ada di perpustakaan. Aku tidak bisa mencarinya. Sebagai gantinya, karena aku punya satu hari sebelum kapal itu berlayar, aku pergi ke perpustakaan dan meneliti soal Pulau Keabadiaan.

Perpustakaan Pusat Undund adalah bangunan tua yang megah yang penuh dengan kenyamanan modern, termasuk buku bertranslatomat. Aku meminta bantuan seorang pustakawan dan dia membawakanku Explorations-nya Postwand, yang ditulis sekitar seratus enam puluh tahun yang lalu, yang kemudian aku salin sebagai berikut. Pada saat Postwand menulis, kota pelabuhan tempatku tinggal, An Ria, belum dibangun; gelombang besar pemukim dari timur belum dimulai; Orang-orang di pesisir itu sebagian besar merupakan suku para gembala dan petani. Postwand menulis dengan agak menggurui tapi cerdas dalam penceritaannya.

“Di antara legenda orang-orang di Pantai Barat,” tulisnya, “salah satunya sebuah pulau besar dua atau tiga hari di sebelah barat dari Teluk Undund, tempat tinggal orang-orang yang tidak pernah mati. Semua orang yang saya tanya tentang hal itu mengenal baik reputasi Pulau Keabadian, dan beberapa bahkan mengatakan kepada saya bahwa anggota suku mereka telah mengunjungi tempat itu. Terkesan dengan kebulatan suara atas cerita ini, saya bertekad untuk menguji kebenarannya. Setelah menunggu lama Vong selesai melakukan perbaikan pada perahu saya, saya berlayar keluar dari Teluk dan menuju ke barat melewati Laut Besar. Angin membantu ekspedisi saya.

“Saat siang pada hari kelima, saya sampai di pulau. Daratannya rendah, panjangnya setidaknya lima puluh mil dari utara ke selatan.

“Di wilayah di mana saya pertama kali membawa kapal mendekati daratan, tepiannya seluruhnya adalah rawa garam. Saat surut, dan cuaca yang tak tertahankan lagi, bau busuk lumpur membuat kami tak mau mendekat, sampai di pantai berpasir yang panjang, saya berlayar ke sebuah teluk dangkal dan segera melihat atap sebuah kota kecil di muara sungai. Kami berlabuh di dermaga yang sederhana dan reyot dan dengan emosi yang tak terlukiskan, paling tidak bagi saya, saat menginjakkan kaki di pulau yang dianggap menyimpan rahasia KEHIDUPAN ABADI ini.”

Aku pikir aku akan menyingkat Postwand; Dia bertele-tele, selain itu, dia selalu mencibir pada Vong, yang tampaknya melakukan sebagian besar pekerjaan dan tidak memiliki emosi yang tak terlukiskan. Jadi dia dan Vong berjalan dengan susah payah di sekitar kota, menemukan segalanya sangat lusuh dan tidak ada yang menyimpang, kecuali bahwa ada banyak lalat yang mengerikan. Semua orang mengenakan pakaian kasa dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan semua pintu dan jendela memiliki tabir. Postwand menduga lalat akan menggigit dengan kejam, tapi ternyata tidak; Mereka menyebalkan, katanya, tapi seseorang hampir merasakan gigitannya, yang tidak membengkak atau gatal. Dia bertanya-tanya apakah mereka membawa penyakit. Dia bertanya kepada penduduk pulau, yang menampik bahwa ada penyakit, mengatakan bahwa tidak ada yang pernah sakit kecuali orang-orang daratan.

Pada saat ini, Postwand menjadi bersemangat, tentu saja, dan bertanya apakah mereka pernah meninggal. “Tentu saja,” kata mereka.

Dia tidak mengatakan apa lagi yang mereka katakan, tapi mereka semua berkumpul dan memperlakukannya sebagai orang tolol lain dari daratan utama yang sering mengajukan pertanyaan bodoh. Dia menjadi sangat gelisah, dan memberi komentar tentang keterbelakangan, perilaku buruk, dan masakan yang menjijikan. Setelah malam yang menyenangkan di sebuah gubuk, dia menjelajahi pedalaman beberapa mil, berjalan kaki karena tidak ada jalan lain. Di sebuah desa kecil yang dekat dengan sebuah rawa, dia melihat sebuah pemandangan yang, menurut kata-katanya, “bukti positif bahwa klaim penduduk pulau ‘terbebas dari penyakit hanyalah keangkuhan, atau sesuatu yang lebih menyeramkan lagi: untuk contoh yang lebih mengerikan tentang kerusakan akibat udreba yang belum pernah saya lihat, bahkan di alam liar Rotogo. Alat kelamin korban yang malang itu tidak bisa dibedakan; dari kaki, tidak ada yang tersisa kecuali rambut-rambutnya; Seluruh tubuh seolah-olah telah dilelehkan dalam api; Hanya rambutnya, yang cukup putih, tumbuh lebat, panjang, kusut, dan kotor — sebuah kengerian yang sangat bagus untuk tontonan yang menyedihkan ini.”

Aku menelusuri arti udreba. Ini adalah penyakit yang menakutkan orang-orang Yendia seperti kita takut akan kusta, yang serupa, meski jauh lebih berbahaya; satu kontak dengan air liur atau cairan tubuh dapat menyebabkan infeksi. Tidak ada vaksin dan tidak ada obatnya. Postwand sangat ngeri melihat anak-anak bermain dekat dengan udreb. Dia rupanya menguliahi seorang wanita desa tentang kebersihan, di mana si wanita tersinggung dan balik menguliahi Postwand, menyuruhnya untuk tidak menatap orang-orang. Dia mengangkat udreb yang malang itu “seolah-olah itu adalah bocah berusia lima tahun,” katanya, dan membawanya ke gubuknya. Si wanita keluar dengan mangkuk penuh dengan sesuatu, bergumam keras. Pada saat ini Vong, yang dengannya aku bersimpati, menyarankan bahwa sudah waktunya untuk pergi. “Saya menyetujui kekhawatiran teman saya yang tidak beralasan,” kata Postwand. Bahkan, mereka berlayar menjauh malam itu.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa catatan ini membangkitkan antusiasmeku untuk mengunjungi pulau ini. Aku mencari beberapa informasi yang lebih modern. Pustakawanku telah membias, seperti yang selalu dilakukan orang-orang Yendian. Aku tidak tahu bagaimana menggunakan katalog subjek, atau bahkan lebih rumit daripada katalog subjek elektronik kita, atau hanya ada sedikit informasi mengenai Pulau Keabadian di perpustakaan. Yang kutemukan hanyalah sebuah risalah dalam Diamonds of Aya — sebuah nama yang terkadang diberikan untuk pulau itu. Artikel itu terlalu teknis untuk translatomat. Aku tidak bisa mengerti banyak kecuali bahwa ternyata tidak ada tambang; berlian tidak terletak jauh di dalam bumi namun ditemukan tergeletak di permukaannya, seperti yang aku kira terjadi di gurun selatan Afrika. Karena pulau Aya adalah hutan dan rawa, berliannya terkena hujan lebat atau tanah longsor di musim hujan. Orang-orang pergi dan berkeliaran mencarinya. Yang besar muncul cukup sering sehingga membuat orang-orang selalu datang. Penduduk pulau itu tampaknya tidak pernah bergabung dalam pencarian. Sebenarnya, beberapa pemburu berlian yang bingung mengklaim bahwa penduduk asli mengubur berlian saat mereka menemukannya. Jika aku mengerti risalahnya, beberapa yang telah ditemukan sangat besar menurut standar kita: mereka digambarkan sebagai benjolan tak berbentuk, biasanya hitam atau gelap, kadang-kadang bening, dan beratnya mencapai lima kilogram. Tidak ada yang dikatakan tentang pemotongan batu-batu besar ini, digunakan untuk apa, atau berapa harga pasarnya. Ternyata Yendi tidak menghargai berlian seperti kita. Ada nada tak bernyawa, hampir samar untuk risalah, seolah-olah itu menyangkut sesuatu yang secara samar memalukan.

Bukankah jika penduduk pulau itu benar-benar tahu tentang “rahasia KEHIDUPAN ABADI,” akan ada sedikit lebih banyak tentangnya, dan soal berlian tadi, di perpustakaan ini?

Itu hanya sikap keras kepala, atau keengganan untuk kembali ke agen perjalanan yang cemberut dan mengakui kesalahanku, yang mendesakku ke dermaga keesokan harinya.

Aku bersorak sampai melihat kapalku, miniliner yang menawan dengan sekitar tiga puluh kabin yang menyenangkan. Selama dua minggu sekali memutari ke beberapa pulau terjauh ke barat Aya. Kapal pendampingnya, yang bertengger di tungkai kapal, akan membawaku kembali ke daratan pada akhir minggu. Atau mungkin aku hanya akan tinggal di kapal dan berlayar selama dua minggu? Itu tak menjadi masalah untuk staf kapal. Mereka informal, bahkan acuh, tentang pengaturan. Aku mendapat kesan bahwa energi rendah dan rentang perhatian yang pendek cukup umum di kalangan orang Yendia. Tapi teman-temanku di kapal itu tidak sabaran, dan salad ikan dinginnya sangat enak. Aku menghabiskan dua hari di dek atas menyaksikan burung laut, lompatan ikan merah besar, dan sayap baling-baling tembus pandang di atas laut. Kami melihat Aya pagi-pagi sekali pada hari ketiga. Di mulut teluk, bau rawa-rawa itu benar-benar bikin nyali ciut; Tapi percakapan dengan kapten kapal telah memutuskan untuk mengunjungi Aya, dan aku turun.

Kapten, pria berusia enam puluh tahun, telah meyakinkanku bahwa memang ada keabadian di pulau ini. Mereka tidak terlahir abadi, tapi mendapat keabadian dari gigitan lalat pulau. Itu, pikirnya, adalah sebuah virus. “Anda pasti ingin mengambil tindakan pencegahan,” katanya. “Ini jarang terjadi. Kurasa tidak ada kasus baru dalam seratus tahun terakhir — mungkin lebih lama lagi. Tapi Anda tidak ingin mengambil risiko.”

Setelah merenung beberapa saat, aku bertanya, secermat mungkin, meskipun kecermatan sulit didapat translatomat, apakah tidak ada orang yang ingin melarikan diri dari kematian — orang-orang yang datang ke pulau itu berharap bisa digigit oleh salah satu lalat yang hidup ini. Apakah ada kekurangan yang tidak aku ketahui, berapa harga yang terlalu tinggi untuk membayar bahkan untuk keabadian?

Kapten mempertimbangkan pertanyaanku untuk sementara waktu. Dia bicara lambat, tidak bergairah, serupa orang yang sedang bersedih. “Kurasa begitu,” katanya. Dia melihat ke arahku. “Anda bisa menilai,” katanya. “Setelah Anda ke sana.”

Dia tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Kapten kapal adalah orang yang memiliki hak istimewa itu.

Kapal itu tidak dilabuhkan ke teluk, tapi disambut di luar bar dengan kapal sekoci yang membawa penumpang ke darat. Penumpang lainnya masih berada di kabin mereka. Tak seorang pun kecuali kapten dan beberapa pelaut yang mengawasi diriku (yang dari kepala sampai kaki dipakaikan setelan yang ketat tapi kusam yang aku sewa dari kapal) naik ke kapal dan berpamitan. Kapten mengangguk. Salah satu pelaut melambai. Aku sangat ketakutan. Tidak ada gunanya sama sekali bahwa aku tidak tahu apa yang aku takutkan.

Menyimpulkan kapten dan Postwand bersama, terdengar seolah harga keabadian adalah penyakit mengerikan, udreba. Tapi aku benar-benar memiliki sedikit bukti, dan keingintahuanku sangat kuat. Jika virus yang membuatmu abadi muncul di negaraku, sejumlah besar uang akan dikucurkan untuk mempelajarinya, dan jika itu berdampak buruk, mereka akan mengubahnya secara genetis untuk menyingkirkan efek buruknya, dan acara bincang-bincang akan membahasnya terus, dan pembawa berita akan membahasnya, dan Paus juga akan membahasnya, dan pastilah semua orang suci lainnya, sementara orang kaya hanya menimbang-nimbang bukan hanya pasarnya, tapi juga persediaannya. Dan kemudian orang kaya akan lebih berbeda darimu dan aku.

Yang benar-benar membuatku penasaran adalah kenyataan bahwa semua ini tidak terjadi. Kaum Yendia tampaknya sangat tidak tertarik pada kesempatan mereka untuk menjadi abadi karena hampir tidak ada sesuatu di perpustakaan.

Tapi aku bisa melihat, saat perahu mendekati kota, agen perjalanannya agak tidak jujur. Ada hotel di sini — yang besar, enam atau delapan lantai. Semua terlihat diterlantarkan, papan penanda miring, jendela ditutup atau kosong.

Tukang perahu, seorang pemuda pemalu yang agak tampan, berkata, “Pemburu ya, nyonya?” ke translatomatku. Aku mengangguk dan dia berlayar dengan pelan ke dermaga kecil di ujung utara pelabuhan. Sekarang sudah kendur dan menyedihkan, tidak ada kapal, hanya beberapa kapal pukat atau kapal pemancing. Aku melangkah ke dermaga, melihat dengan gugup kalau-kalau ada lalat; Tapi saat ini tidak ada. Aku memberi tip kepada tukang perahu beberapa radlo, dan dia sangat bersyukur dia mengantarku ke jalan, jalan kecil yang menyedihkan, ke pondok pemburu berlian. Terdiri dari delapan atau sembilan kabin reyot yang dikelola oleh seorang wanita putus asa, yang berbicara perlahan tapi tanpa koma atau titik, mengatakan untuk menuju Nomor Empat karena pemandangannya bagus sarapan pukul delapan makan malam pukul tujuh delapan belas radlo dan apakah saya ingin makan siang yang dikemas dengan ekstra lima puluh radlo.

Semua kabin lainnya kosong. Toiletnya punya sedikit kebocoran, tink … tink, yang tidak dapat aku temukan dari mana sumbernya. Makan malam dan sarapan tiba di atas nampan, dan bisa langsung dimakan. Lalat-lalat itu tiba dengan semakin panasnya hari itu, banyak sekali, tapi bukan kawanan besar yang kuharapkan. Tabir membuat mereka tetap di luar, dan setelan kasa membuat mereka tidak menggigit. Mereka adalah lalat kecoklatan kecil yang tampak lemah.

Hari itu dan keesokan paginya, berjalan di sekitar kota, nama yang tidak dapat aku temukan ditulis di manapun, aku merasa bahwa kecenderungan Yendian terhadap depresi telah mencapai titik terendah di sini, mencapai titik nadir. Penduduk pulau adalah orang yang sedih. Mereka lesu. Mereka tidak bernyawa. Pikiranku menunjukkan kata itu dan menatapnya.

Aku menyadari bahwa aku akan menyia-nyiakan seluruh mingguku untuk merasa tertekan jika aku tidak membangkitkan keberanian dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku melihat tukang perahuku memancing dari dermaga dan pergi untuk berbicara dengannya.

“Maukah kamu memberi tahuku tentang keabadian?” Tanyaku padanya.

“Nah, kebanyakan orang hanya berkeliling dan mencarinya. Di hutan,” katanya.

“Bukan, bukan berliannya,” kataku sambil mengecek translatomat. “Aku tidak terlalu tertarik dengan berlian.”

“Tidak ada lagi,” katanya. “Dulu banyak turis dan pemburu berlian. Kurasa mereka melakukan hal lain sekarang.”

“Tapi aku membaca di sebuah buku bahwa ada orang-orang di sini yang hidup sangat lama, yang tidak mati.”

“Ya,” katanya dengan tenang.

“Apakah ada orang abadi di kota? Kamu tahu salahsatunya?”

Dia memeriksa pancingnya. “Ya,” katanya. “Ada yang baru, di masa nenekku, tapi pergi ke daratan. Dia adalah seorang wanita. Kurasa ada yang tua di desa.” Dia mengangguk ke arah pulau itu. “Ibuku pernah melihatnya sekali.”

“Jika kamu bisa, apakah kamu ingin hidup lama?”

“Tentu!” Katanya, dengan antusias sebanyak Yendian mampu melakukannya. “Tentu saja.”

“Tapi kamu tidak ingin menjadi abadi. Kamu pakai kasa anti-lalat.”

Dia mengangguk. Dia tidak melihat apapun untuk dibahas dalam semua ini. Dia sedang memancing dengan sarung tangan kasa, melihat dunia melalui kasa. Itulah hidup.

Pemilik toko mengatakan kepadaku bahwa kau bisa berjalan ke desa dalam sehari dan menunjukkan jalannya kepadaku. Induk semangku yang putus asa mengemaskan makan siangku. Aku berangkat keesokan paginya, pada awalnya dikerubungi oleh kawanan lalat. Jalannya yang menjemukkan melintasi bentang darat yang rendah dan lembab, tapi matahari terasa teduh dan menyenangkan, dan lalat akhirnya menyerah. Yang mengejutkanku, aku sampai di desa sebelum aku lapar untuk makan siang. Penduduk pulau harus berjalan pelan dan jarang-jarang. Ini pasti desa yang tepat, karena mereka hanya berbicara tentang sebuah “desa”, tanpa sebuah nama.

Desanya kecil dan miskin dan menyedihkan: enam atau tujuh gubuk kayu, sedikit ditinggikan untuk menjauhkan mereka dari lumpur. Unggas, seperti ayam mutiara tapi kecokelatan, bergerak ke sana-kemari, membuat keributan yang parau. Beberapa bocah melarikan diri dan bersembunyi saat aku mendekat.

Dan di sana, bersandar di samping sumur desa, adalah yang digambarkan Postwand, seperti yang telah diterangkannya — tanpa kaki, tanpa alat kelamin, wajahnya hampir tidak berbentuk, buta, dengan kulit seperti roti yang terbakar parah, dan rambutnya tebal, kusut, putih kotor.

Aku berhenti, ngeri.

Seorang wanita keluar dari pondok tempat anak-anak berlari. Dia menuruni tangga reyot dan menghampiriku. Dia memberi isyarat pada translatomatku, dan aku secara otomatis memeganginya agar dia bisa berbicara lewat itu.

“Kau datang untuk menemui Keabadian,” katanya.

Aku mengangguk.

“Dua radlo lima puluh,” katanya.

Aku mengeluarkan uang itu dan memberikan padanya.

“Lewat sini,” katanya. Dia berpakaian kumal dan tidak bersih, tapi wanita berwajah rupawan, berusia tiga puluh lima tahun, dengan keteguhan dan semangat yang tidak biasa dalam suara dan gerakannya.

Dia membawaku langsung ke sumur dan berhenti di depan yang disandarkan di kursi nelayan kanvas tanpa kaki di sampingnya. Aku tidak bisa melihat wajah itu, juga tangan yang terluka parah. Lengan lainnya ada kerak hitam di atas siku. Aku berpaling darinya.

“Kau sedang melihat ke Keabadiaan desa kami,” kata wanita itu seperti pemandu wisata yang terlatih. “Sudah berabad-abad bersama kami. Selama lebih dari seribu tahun itu milik keluarga Roya. Dalam keluarga ini adalah tugas dan kebanggaan kami untuk merawat Keabadiaan. Jam makan pukul enam pagi dan pukul enam sore. Ia hidup dengan susu dan kaldu jelai. Punya nafsu makan yang baik dan menikmati kesehatan yang baik tanpa penyakit. Tidak punya udreba. Kakinya hilang saat terjadi gempa seribu tahun yang lalu. Juga rusak oleh api dan kecelakaan lainnya sebelum dibawa ke perawatan keluarga Roya. Legenda keluargaku mengatakan bahwa Keabadian pernah menjadi pemuda tampan yang mencari nafkah untuk banyak kehidupan orang normal dengan berburu di rawa-rawa. Itu dua atau tiga ribu tahun yang lalu. Keabadiaan tidak dapat mendengar apa yang kau katakan atau melihatmu, tapi dengan senang hati menerima doa untuk kesejahteraan dan persembahan untuk dukungannya, karena sangat bergantung pada keluarga Roya untuk makanan dan tempat berlindung. Terima kasih banyak. Aku akan menjawab pertanyaan.”

Setelah beberapa lama aku berkata, “Dia tidak bisa mati.”

Dia menggelengkan kepalanya. Wajahnya tidak biasa; bukan tidak berperasaan, tapi tertutup.

“Kau tidak memakai kain kasa,” kataku, tiba-tiba menyadari hal ini. “Anak-anak tidak. Bukankah kau—”

Dia menggelengkan kepalanya lagi. “Terlalu merepotkan,” katanya dengan suara tenang dan tidak resmi. “Anak-anak selalu merobek kasa. Bagaimanapun, kita tidak memiliki banyak lalat. Dan hanya ada satu.”

Memang benar lalat itu sepertinya tertinggal, di kota dan ladang yang sangat terawat di dekatnya.

“Maksudmu hanya ada satu yang abadi pada satu waktu?”

“Oh, tidak,” katanya. “Ada yang lain di sekitar sini. Di tanah. Terkadang orang menemukannya. Suvenir. Yang benar-benar tua. Punya kami masih muda, kau tahu.” Dia menatap Keabadian dengan mata lelah tapi berperasaan, seperti seorang ibu melihat bayi yang tidak menjanjikan.

“Berliannya?” kataku. “Berlian itu abadi?”

Dia mengangguk. “Setelah sekian lama,” katanya. Dia memalingkan muka, menyeberangi dataran berawa yang mengelilingi desa, dan kemudian kembali ke arahku. “Seorang pria berasal dari daratan, tahun lalu, seorang ilmuwan. Dia bilang kami harus mengubur Keabadiaan kita. Agar bisa berubah menjadi berlian, kau tahu. Tapi kemudian dia mengatakan butuh waktu ribuan tahun. Sepanjang waktu itu akan kelaparan dan haus di tanah dan tak seorang pun akan menjaganya. Sangat salah mengubur seseorang yang masih hidup. Adalah tugas keluarga kami untuk merawatnya. Dan tidak ada turis yang mau datang.”

Sekarang giliranku mengangguk. Kesusilaan dalam situasi ini berada di luar jangkauanku. Aku menerima pilihannya.

“Apakah kau ingin memberi makan?” tanyanya, sepertinya menyukai sesuatu tentangku, karena dia tersenyum padaku.

“Tidak,” kataku, dan aku harus mengakui bahwa aku menangis tersedu-sedu.

Dia mendekat dan menepuk pundakku.

“Sangat menyedihkan,” katanya. Dia tersenyum lagi. “Tapi anak-anak suka memberi makan,” katanya. “Dan uangnya membantu.”

“Terima kasih telah bersikap baik,” kataku sambil menyeka mataku, dan aku memberinya lima radlo lagi, yang dia terima dengan penuh syukur. Aku berbalik dan berjalan kembali melintasi dataran berawa ke kota, di mana aku menunggu empat hari lagi sampai kapal saudari itu datang dari barat, dan pemuda yang baik membawaku ke perahu, dan aku meninggalkan Pulau Keabadiaan, dan segera setelah itu aku meninggalkan Daratan Yendian.

Kita adalah bentuk kehidupan berbasis karbon, seperti yang para ilmuwan katakan, tapi bagaimana tubuh manusia bisa berubah menjadi berlian yang tidak kuketahui, kecuali melalui beberapa faktor spiritual, mungkin akibat dari penderitaan yang benar-benar tak ada habisnya.

Mungkin “berlian” hanyalah nama yang diberikan orang Yendia pada benjolan kehancuran ini, semacam eufemisme.

Aku masih belum yakin apa arti wanita di desa saat dia berkata, “Hanya ada satu.” Dia tidak mengacu pada keabadian. Dia menjelaskan mengapa dia tidak melindungi dirinya sendiri atau anak-anaknya dari lalat, mengapa dia merasa risikonya tidak sebanding dengan masalahnya. Ada kemungkinan bahwa yang dia maksud adalah bahwa di antara kawanan lalat di pulau itu hanya ada satu lalat, satu lalat abadi, yang gigitannya menulari korbannya dengan kehidupan kekal.

*

Diterjemahkan dari The Island of the Immortals di Lightspeed Magazine. Tak banyak penulis fiksi-sains yang mampu memberi genre ini dimensi sosial-politik yang sangat dalam dan luas sepertinya; sebagian besar berhenti hanya sebagai “fantasi”. Ursula Kroeber Le Guin salah satunya.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s