Cerita Pendek Sejati, Ali Smith

20152b0920ali20smith20secondary

Ada dua lelaki di kafe di meja sebelahku. Yang satu lebih muda, yang satu lebih tua. Mereka bisa saja ayah dan anak, tapi tidak ada sedikit pun kesantunan yang dipraktikkan, tidak ada kemarahan yang suram yang hampir selalu terjadi antara ayah dan anak. Mungkin mereka adalah kesudahan dari perceraian, sang ayah ingin menjadi seorang ayah karena anaknya sedang tumbuh dewasa, anak itu ingin menjadi lelaki di depan ayahnya sekarang karena ayahnya berada di hadapannya setidaknya sewaktu menyeruput secangkir kopi. Tidak. Kemungkinan besar lelaki yang lebih tua adalah teman keluarga yang menyediakan diri jadi ayah pada akhir pekan musim panas bagi anak yang keluarganya bercerai; Seorang lelaki yang tahu tanggung jawabnya, dan lihatlah, si anak laki-laki itu sudah tumbuh besar, lelaki itu adalah lelaki yang lebih tua, dan ada kesepahaman yang tak terelakkan di antara mereka.

Aku berhenti mereka-reka. Rasanya agak salah. Sebagai gantinya, aku mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara tentang sastra, yang kebetulan menarik bagiku, meski tidak menarik bagi banyak orang. Lelaki muda itu berbicara tentang perbedaan antara novel dan cerpen.

Novel, kata dia, adalah sundal tua peyot.

Sundal tua peyot! kata pria yang lebih tua itu tampak senang.

Dia masih bisa dipakai, luwes, hangat dan akrab, kata yang lebih muda, tapi kebanyakan dipakai, terlalu lamban dan kendor.

Lamban dan kendor! kata yang lebih tua tertawa.

Sedangkan cerita pendek, sebagai perbandingan, adalah seorang bidadari yang gesit, seorang dewi yang langsing. Karena begitu sedikit orang yang menguasai cerpen, bentukannya masih aduhai.

Bentukannya masih aduhai! Pria yang lebih tua itu tersenyum lebar. Dia mungkin cukup tua untuk mengingat tahun-tahun dalam hidupnya, dan mungkin masih belum lama, dia membicarakan yang seperti ini. Dengan takjub aku bertanya-tanya berapa banyak buku di rumahku yang enak buat dientot dan seberapa hebat mereka di ranjang. Lalu aku menghela napas, dan mengeluarkan ponselku dan menelepon temanku, yang biasanya aku temui di kafe ini pada hari Jumat pagi.

Dia tahu banyak tentang cerita pendek. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membacanya, menulis tentangnya, mengajarkannya, bahkan kadang-kadang menuliskannya. Dia membaca lebih banyak cerita pendek daripada kebanyakan orang. Aku kira Anda bisa menyebutnya sebagai tindakan cinta seumur hidup, meski usianya tidak terlalu tua, usianya tiga puluhan akhir. Tindakan cinta seumur hidup. Tapi dia sudah tahu lebih banyak tentang cerita pendek, dan tentang orang-orang yang menulis dan telah menulis cerita pendek, daripada siapapun yang pernah kutemui.

Dia berada di rumah sakit pada hari Jumat ini karena suatu kemoterapi telah menghancurkan semua sel darah putih mungilnya dan kemudian dia terkena infeksi pada gigi gerahamnya.

Aku menunggu suara otomat dari sistem telepon rumah sakit yang membicarakan tentang dirinya sendiri, lalu membacakan kembali secara robotik nomor yang baru saja kupanggil, lalu secara robotik salah menyebut nama temanku, yaitu Kasia, lalu memberitahuku dengan tepat berapa tagihan yang harus aku bayar untuk mendengarkannya menceritakan semua ini, dan kemudian memberitahuku berapa biaya untuk berbicara dengan temanku per menit. Lalu kami terhubung.

Hai, kataku. Ini aku.

Kamu telepon lewat ponsel? dia berkata. Jangan, Ali, sistem ini mahal. Aku akan telepon balik.

Jangan khawatir, kataku. Sebentar aja, kok. Dengar. Apa cerita pendek adalah dewi dan bidadari sedangkan novel itu sundal tua?

Apanya apa? katanya.

Sundal tua, tipe Dickensian, mungkin, kataku. Seperti sundal yang pertama kali mengajarkan David Niven bagaimana berhubungan seks di novel itu.

David Niven? katanya.

Kau tahu, kataku. Pelacur yang dia kunjungi di The Moon’s Balloon saat berusia sekitar empat belas tahun, dan pelacur itu sangat manis dan si pelacur merayunya dan Niven kehilangan keperjakaannya, dan dia masih mengenakan kaus kakinya, atau mungkin si pelacur yang masih memakai kaus kaki, aku lupa, si pelacur benar-benar baik padanya dan kemudian Niven kembali menemuinya di kemudian hari saat dia sudah jadi pelacur tua dan Niven adalah bintang film internasional terkenal, dan Niven membawa banyak hadiah untuknya karena Niven seorang pria yang baik dan tidak pernah melupakan kebaikannya. Dan apakah cerpen lebih mirip Putri Diana?

Cerpen seperti Putri Diana, katanya. Benar. OKE.

Aku sadar kedua pria itu, yang bersiap-siap untuk meninggalkan kafe, menatapku dengan rasa ingin tahu. Aku mengangkat teleponku.

Aku hanya bertanya kepada temanku apa pendapatnya tentang argumen bidadari kalian, kataku.

Kedua pria itu tampak sedikit terkejut. Kemudian kedua pria itu meninggalkan kafe tanpa melihat ke belakang.

Aku menceritakan tentang percakapan yang kudengar.

Aku memikirkan Diana karena dia seperti dewi, kurasa, kataku. Aku tidak bisa memikirkan dewi yang seperti bidadari. Semua dewi yang masuk ke kepalaku, kayak, Kali, atau Sheel-Na-Gig. Atau Aphrodite, dia cukup tangguh. Mereka semua pembunuh rusa. Bukankah dia membunuh rusa?

Mengapa cerita pendek seperti dewi? kata Kasia. Kedengarannya seperti lelucon jorok. Ha.

Oke, kataku. Coba pikir-pikir. Mengapa cerita pendek seperti dewi?

Aku akan memikirkannya, katanya. Ini akan membuatku melakukan sesuatu di sini.

Kasia dan aku telah berteman selama hampir dua puluh tahun, yang sama sekali tidak terasa lama, meski kedengarannya cukup lama. “Panjang” dan “pendek” itu relatif. Yang panjang adalah waktu setiap hari yang dia habiskan di rumah sakit; hari ini adalah hari kesepuluh yang panjang di salah satu bangsal kanker, disuntik dengan koktail antibiotik dan menunggu suhu tubuhnya turun dan jumlah sel putihnya naik. Ketika dua penyesuaian kecil itu terjadi di dunia, maka dia diizinkan pulang ke rumah. Juga, ada banyak kesedihan di sekitarnya. Setelah sepuluh hari yang panjang, betapa beratnya kesedihan itu, yang mungkin terdengar cukup ringan jika Anda bukan orang yang harus memikirkannya atau dipaksa oleh situasi untuk mengatasinya, tapi menjadi epik jika Anda bisa mempertimbangkannya.

Dia meneleponku lagi sore itu dan meninggalkan pesan di mesin penjawab. Aku bisa mendengar suara rumah sakit yang berdengung dan suara orang lain di bangsal di udara yang terekam di latar suaranya.

OKE. Dengarkan. Itu tergantung apa yang kau maksud dengan “dewi.” Jadi, sangat tergantung. Cerpen seperti dewi karena si cabul ingin tidur dengannya sepanjang waktu. Cerpen seperti dewi karena keduanya suka tinggal di pegunungan dan di hutan dan di mata air dan sungai dan di lembah dan gua yang sejuk. Cerpen seperti dewi karena suka menemani Artemis dalam perjalanannya. Tidak terlalu lucu, aku tahu, tapi aku sedang memikirkannya.

Kudengar telepon diangkat. Pesan yang diterima pada pukul empat lebih empat puluh tiga, kata suara robot menjawab. Aku meneleponnya kembali dan melewati gema yang tepat dari suara tunggu ke sistem. Dia menjawab bahkan sebelum aku bisa menyapa, dia berkata:

Dengar! Dengar! Cerpen seperti dewi-maniak karena keduanya suka tidur — atau masuk ke banyak antologi — tapi tidak menerima imbalan uang untuk kesenangan itu.

Aku tertawa terbahak-bahak.

Berbeda dengan pelacur tua, novel, ha ha, katanya. Dan ketika aku berbicara dengan ayahku saat makan siang dia mengatakan bahwa kau bisa mancing ikan trout dibantu seorang dewi. Mereka semacam umpan. Dia mengatakan ada orang-orang yang membawa kacamata pembesar bersama mereka sepanjang waktu jika mereka mendapat kesempatan untuk melihat dewi sejati, sehingga mereka bisa lebih baik dengan umpan ikan yang mereka buat.

Dunia ini penuh dengan hal-hal yang mengejutkan, kataku.

Aku tahu, katanya. Gimana nilai buat leluconku?

Enam dari sepuluh, kataku.

Sampah, katanya. OKE. Aku akan mencoba dan memikirkan sesuatu yang lebih baik.

Mungkin ada jarak tempuh dalam dewimu, kataku.

Ha ha. dia berkata. Tapi sekarang aku harus meninggalkan dewi dulu dan kembali melanjutkan terapi Herceptin.

Ya Tuhan, kataku.

Aku lelah, katanya. Kami mengisi dokumen-dokumen.

Kapan obat anti kanker bukan obat anti kanker? Kataku.

Bila orang tidak mampu membelinya, katanya. Ha ha.

Tetap semangat, kataku.

Kau juga, katanya. Secangkir teh?

Aku akan buatkan, kataku. Sampai nanti.

Kudengar telepon mati. Aku menyudahi dan pergi menempatkan ketel. Aku melihat sampai mendidih dan uap keluar dari cerat. Aku mengisi dua gelas air mendidih dan menjatuhkan teh celupnya. Aku minum tehku sambil melihat uapnya naik dari cangkir yang lain.

Inilah yang dimaksud Kasia dengan “terapi Herceptin.”

Herceptin adalah obat yang telah digunakan dalam pengobatan kanker untuk sementara waktu sekarang. Dokter baru-baru ini menemukan bahwa terapi ini benar-benar membantu beberapa wanita yang memiliki satu jenis kanker tertentu, HER2, ketika tipe ini ditemukan pada diagnosis dini. Bila diberikan pada kasus reseptif maka bisa mengurangi risiko kambuhnya kanker hingga lima puluh persen. Dokter di seluruh dunia sangat antusias dengan hal itu. Ini berarti perubahan paradigma dalam pengobatan kanker.

Aku belum pernah mendengar hal ini sampai Kasia memberitahuku, dan dia belum pernah mendengarnya sampai suatu kebenaran kecil, kurang dari dua sentimeter, yang ditemukan dokter pada bulan April di salah satu payudaranya, berarti sebuah paradigma bergeser dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang bulan Agustus. Pada bulan Mei, dokternya telah memberitahunya tentang seberapa bagus Herceptin dan bagaimana dia bisa memilikinya pada akhir kemoterapinya di NHS. Kemudian pada akhir bulan Juli, dokternya dikunjungi oleh seorang anggota PCT, yang merupakan singkatan dari kata-kata Primary, Care and Trust, dan terkait dengan dana NHS. Anggota PCT menginstruksikan kepada dokter temanku untuk tidak memberi tahu wanita lain yang terkena dampak sama di rumah sakit tentang ketersediaan Herceptin di NHS, karena PCT telah memutuskan bahwa meskipun Herceptin tersedia di seluruh dunia, hal itu tidak akan secara rutin tersedia di sini sampai sebuah kelompok bernama NICE menyetujui penggunaannya (yang merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa mereka menundanya karena kurangnya tanggung jawab mengenai siapa yang akan mendanainya). Meskipun jika ada yang ingin membelinya di BUPA, kira-kira £ 27.000, mereka bisa, sekarang juga.

“Primary.” “Care.” “Trust.” “Nice.”

Inilah sebuah cerita pendek yang kebanyakan orang sudah mengira mereka tahu tentang dewi. (Ini juga merupakan salah satu manifestasi paling awal dalam sastra tentang apa yang sekarang kita sebut anoreksia.)

Echo adalah Oread, yang merupakan semacam peri gunung. Dia terkenal di antara para dewi dan gembala bukan hanya karena keagungannya yang gemilang tapi juga karena kemampuannya untuk menyelamatkan teman-teman perinya dari murka dewi Juno. Misalnya, teman-temannya akan terbaring di lereng bukit di bawah sinar matahari dan Juno muncul, mendapati mereka malas-malasan, dan Echo, yang memiliki bakat untuk mengetahui kapan Juno muncul, akan melompat ke arah kaki dan kepala sang dewi dengan berlari menghampirinya dan mengalihkan perhatiannya dengan cerita dan omongan, ceramah, dan cerita, sampai semua peri-peri pemalas bangun dan bekerja seperti mereka tidak pernah malas sama sekali.

Ketika Juno mengetahui muslihat Echo, dia sedikit kesal. Dia menunjuknya dengan jari kutukannya dan melemparkan kutukan pertama yang sesuai yang ada di kepalanya.

Mulai sekarang, katanya, kau hanya bisa mengulang kata-kata yang kau dengar orang lain katakan beberapa saat sebelumnya. Rasakan itu.

Rasakan itu, kata Echo.

Matanya membesar. Mulutnya ternganga.

Harusnya kau tak berbuat bodoh, kata Juno.

Goblog, kata Echo.

Benar. Aku akan berjalan-jalan, kata Juno.

Jalang, kata Echo.

Sebenarnya aku membuat-buat pemberontakan kecil itu. Sebenarnya tidak ada pemberontakan Echo dalam versi asli Ovid tentang ceritanya. Tampaknya setelah dia diabmil kemampuan berbicaranya, dan karena tidak bisa lagi melindungi teman-temannya, tidak ada yang tersisa untuknya, dalam hal cerita, kecuali jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang begitu jatuh cinta pada dirinya sendiri sehingga ia menghabiskan seluruh hidupnya membungkuk di atas segumpal keinginannya sendiri dan akhirnya mendekati kematian (lalu berubah, bukannya sekarat, dari seorang anak laki-laki menjadi bunga putih kecil).

Echo merana juga. Bobot tubuhnya turun. Dia menjadi sangat kurus, kemudian dia menjadi tulang belulang, yang tersisa dari dirinya hanyalah suara kecil yang mengambang yang melayang tanpa tubuh untuk mengatakan berulang-ulang hal yang sama persis seperti yang orang lain katakan.

Di sini, sebaliknya, adalah kisah saat aku bertemu dengan temanku Kasia, hampir dua puluh tahun yang lalu.

Aku adalah seorang mahasiswa pascasarjana di Cambridge dan aku kehilangan suaraku. Bukan kehilangan suara karena aku menderita flu atau infeksi tenggorokan, maksudku karena dua tahun sistem hierarki begitu mengakar sehingga perempuan masih sedikit bersuara sehingga entah bagaimana mengetuk suara apa yang keluar dariku.

Jadi aku duduk di belakang sebuah ruangan bahkan tidak benar-benar mendengarkan dengan benar lagi, dan aku mendengar sebuah suara. Itu dari suatu tempat di depanku. Itu adalah suara seorang gadis dan langsung bertanya kepada orang yang memberi seminar dan ketua seminar itu sebuah pertanyaan tentang penulis Amerika Carson McCullers.

Karena menurutku McCullers sangat relevan di semua tingkat dalam diskusi ini, kata suara tersebut.

Orang dan ketua rapat keduanya tampak sedikit terkejut karena ada yang mengatakan sesuatu dengan lantang. Kursi itu berdeham.

Aku mendapati diriku mencondongkan tubuh ke depan. Aku tidak pernah mendengar ada yang berbicara seperti ini, dengan tampilan pengetahuan dan kejujuran yang terbuka dan riang, selama beberapa tahun. Lebih lanjut: sebelumnya pada hari itu aku telah berbicara dengan seorang mahasiswa sarjana yang tidak dapat menemukan orang di seluruh departemen Bahasa Inggris Cambridge untuk mengawasi disertasinya tentang McCullers. Sepertinya tidak ada pengajar telah membacanya.

Pokoknya aku berani mengatakan bahwa Anda akan menemukan McCullers tidak begitu bagus, orang yang memberikan makalah Literature After Henry James mengatakan.

Aku tidak setuju, kata suara itu.

Aku tertawa terbahak-bahak. Suara itu tidak pernah terdengar di ruangan seperti itu; kepala berpaling untuk melihat siapa yang membuat suara itu. Gadis baru itu mengajukan pertanyaan sopan yang tidak ada yang menjawab. Dia menyebutkan, aku ingat, bagaimana McCullers menyukai peribahasa: tidak ada manusia yang asing bagiku.

Di akhir seminar aku berlari mengejar gadis itu. Aku menghentikannya di jalan. Saat itu musim dingin. Dia mengenakan jas merah.

Dia memberitahuku namanya. Aku memperkenalkan diriku.

Franz Kafka mengatakan bahwa sebuah cerita pendek adalah sebuah kandang yang mencari seekor burung. (Kafka sudah meninggal 81 tahun lalu, tapi aku masih bisa mengatakan kalau Kafka mengatakannya. Ini hanya salah satu cara seni tawar-menawar dengan kematian kita.)

Tzvetan Todorov mengatakan soal sebuah cerita pendek adalah bahwa ini sangat singkat sehingga tidak memungkinkan kita lupa bahwa itu hanya sastra dan sebenarnya bukan kehidupan.

Nadine Gordimer mengatakan bahwa cerita-cerita pendek adalah tentang saat sekarang, seperti kilasan cahaya sejumlah kunang-kunang di sana-sini dalam kegelapan.

Elizabeth Bowen mengatakan bahwa cerita pendek memiliki kelebihan dibandingkan novel dengan konsentrasi khusus, dan itu menciptakan narasi setiap saat dengan sendirinya.

Eudora Welty mengatakan bahwa cerita pendek sering merepotkan kepentingan terbaik mereka sendiri dan inilah yang membuat mereka menarik.

Henry James mengatakan bahwa cerita pendek, yang begitu terkondensasi, dapat memberi perspektif partikular pada kompleksitas dan kontinuitas.

Jorge Luis Borges mengatakan bahwa cerita pendek bisa menjadi bentuk sempurna bagi novelis yang terlalu malas untuk menulis sesuatu yang lebih panjang dari lima belas halaman.

Ernest Hemingway mengatakan bahwa cerita pendek dibuat oleh perubahan dan gerakan mereka sendiri, dan bahkan ketika sebuah cerita tampak statis dan Anda sama sekali tidak dapat melihat gerakan apa pun, itu mungkin berubah dan bergerak tanpa, tak terlihat oleh Anda.

William Carlos Williams mengatakan bahwa cerita pendek, yang bertindak seperti nyala korek api yang terpercik dalam kegelapan, adalah satu-satunya bentuk nyata untuk menggambarkan ketegasan, kehancuran dan keutuhan simultan kehidupan manusia.

Walter Benjamin mengatakan bahwa cerita pendek lebih kuat daripada momen nyata dan hidup, karena mereka bisa terus melepaskan momen nyata dan hidup lama setelah masa lalu yang sebenarnya telah mati.

Cynthia Ozick mengatakan bahwa perbedaan antara cerita pendek dan novel adalah bahwa novel merupakan buku yang perjalanannya, jika itu adalah karya novel yang bagus, benar-benar mengubah pembaca, sedangkan cerpen lebih mirip hadiah jimat yang diberikan kepada protagonis sebuah dongeng—sesuatu yang komplit, kuat, yang kekuatannya mungkin belum bisa dipahami, yang bisa dipegang di tangan atau diselipkan ke dalam saku dan dibawa melintasi hutan dalam perjalanan yang gelap.

Grace Paley mengatakan bahwa dia hanya menulis cerita pendek dalam hidupnya karena seni terlalu panjang dan hidup terlalu pendek, dan bahwa cerita pendek, pada dasarnya, tentang kehidupan, dan kehidupan itu sendiri selalu ditemukan dalam dialog dan argumen.

Alice Munro mengatakan bahwa setiap cerita pendek setidaknya adalah dua cerita pendek.

Ada dua pria di kafe di meja sebelahku. Yang satu lebih muda, yang satu lebih tua. Kami duduk di kafe yang sama hanya dalam waktu singkat tapi kami tidak sependapat cukup lama agar aku tahu ada sebuah cerita di dalamnya.

Cerita ini telah ditulis dalam diskusi dengan temanku Kasia Boddy (39), penulis, dosen dan kritikus, yang kebetulan pada saat ini menjadi salah satu dari 2.000 wanita di Inggris yang harus membayar obat yang seharusnya mereka semua berhak untuk saat ini.

Jadi kapan cerpen seperti dewi?

Saat gema itu menjawab kembali.

*

Diterjemahkan dari True Short Story di Prospect Magazine. Ali Smith adalah seorang penulis, dramawan, akademisi dan jurnalis Skotlandia. Sebastian Barry menyebutnya sebagai “peraih Nobel dari Skotlandia yang sedang menunggu”.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Robih )

Connecting to %s