Zeitgeist, Kurt Vonnegut

vonnegut-sevenstoriespress_img

De mortuis nil nisi bonum!” Kata pria di bangku bar di sebelahku. Saat itu hampir mendekati waktu tutup, si bartender pamit pergi sebentar, dan hanya ada kami berdua. Kami duduk berdampingan selama hampir dua jam tanpa bicara. Aku sesekali mempelajari bayangannya di cermin biru di belakang bar, tapi aku tidak menatap matanya sampai dia berbicara—dan apa yang kulihat membuatku terkejut. Dia punya perawakan dan sikap seorang anak muda atletis, belum tiga puluh, tapi matanya—matanya seperti mata orang tua yang sakit dan bingung, seperti pada Raja Lear. “Jangan ceritakan apa-apa selain kebaikan dari orang yang sudah meninggal!” Dia menerjemahkan setelah keheningan yang mengancam.

“Aku sudah tahu,” kataku, “dan aku mengerti.”

Dia tampak puas; Begitu puas, sekaligus kehilangan minat padaku sama sekali. Dia berbicara sendiri pada bayangannya, dengan gerak isyarat. “Mereka tidak akan menemukan pria seperti Omar Zeitgeist lagi,” katanya. “Dan di mana dia sekarang? Dimana pemikir terbesar di masa kita, di sepanjang masa?” Pada titik ini, dia tertawa terbahak-bahak, begitu penuh ironi hingga hampir bergemeletuk.

Aku meninggalkan setalen uang tip di bawah gelasku yang setengah penuh, dan bergerak menuju pintu keluar. Dia menangkap bahuku dengan kasar. “Omar Zeitgeist adalah orang Jerman, satu-satunya manusia di bumi yang tahu tentang bom kosmis,” bisiknya. “Aku pengawalnya.”

“Bom kosmik itu kayak bom Hidrogen?” Aku memberanikan diri.

“Antara bom kosmik ke bom Hidrogen seperti membandingkan gempa dan cegukan,” katanya masam. “Bekerja dengan prinsip yang sama seperti saat terciptanya alam semesta, hanya dibalik.”

“Betapa hebatnya,” kataku.

“Zeitgeist tidak punya laboratorium, mengerjakan semuanya di dalam kepalanya.” Si informan ini mengetuk pelipisnya untuk menggambarkan dan membuat suara berdecak. “Mata-mata lawan kami tahu bahwa dia sedikit lagi dapat memecahkan teka-teki bom kosmik saat perang berakhir. Tidak ada petunjuk yang tersisa dalam pencariannya yang mengikuti penyerahan Jerman. Beberapa resimen penuh pria dari keluarga berada ditugaskan untuk misi tunggal menemukan Zeitgeist. Tidak sedikit dari pencari ini yang ditemukan mengambang di Rhine, Rhône, Elbe, Ruhr, Aller, Altmühl, Unstrut, dan saluran air lainnya, dengan peluru di kepala mereka. Mereka tidak sendirian dalam pencarian mereka.”

“Para komunis, ya?”

“Anda sudah tahu tentang ini?” Dia bertanya dengan heran.

“Hanya tebakan asal.”

“Seperti yang kukatakan,” dia melanjutkan dengan kesal, “di negara antara Yapura dan Putumayo Rivers adalah tanah yang tidak dikenal yang pernah diklaim oleh Kolombia dan Peru. Kolombia menang, jika Anda bilang merebut negara antara Yapura dan Putumayo Rivers disebut memenangkan. Ketika aku mengatakan tanah tak bertuan, aku bermaksud mengatakan bahwa tidak ada orang Kolombia atau Peru yang ingin pergi ke sana, dan bahwa Witotos—dalam arti kata-kata beradab—bukan manusia. Witotos hidup telanjang dan ketakutan kronis terhadap tetangga mereka, dan sangat omnivora. Betapa mengerikan omnivora yang akan kuhadapi ini.” Dia menenggak habis sisa minumannya. “Mereka makan manios, jagung, ubi jalar, kacang, cabai, pisang raja, nanas, rusa, tapir, peccary, sloth, beruang, monyet, dan—” Suaranya tertahan. Dia tersungkur dalam keheningan muram yang berlangsung selama hampir sepuluh menit.

“Omar Zeitgeist—kamu bilang akan menceritakan apa yang menimpanya,” aku melecutnya.

“Aku pergi ke sana,” katanya murung. “Dia ditemukan di Wiesbaden, di Luftschutzraum yang ditelantarkan.”

“Maaf, bisa tunggu sebentar?”

Dia menatapku penuh simpati. “Kenapa, ada apa?”

“Tidak ada,” kataku dalam kebingungan. “Aku tidak tahu apa itu Luftschutzraum.”

“Tidak usah dipikirkan,” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Diputuskan bahwa Zeitgeist harus dilarikan ke tempat yang bebas dari para penentang dan para komunis, di mana dia bisa menyelesaikan rincian akhir dari bom kosmis. Sejauh yang diketahui, tidak ada mata-mata komunis antara Yapura dan Putumayo Rivers.” Dia tersenyum sedih. “Yang selalu dikatakan orang Kolombia adalah, ‘Hati-hati terhadap orang Peru,’ dan yang selalu orang Peru katakan, ‘Hati-hati terhadap orang Kolombia.’ Tidak ada yang mengatakan tentang Witotos, dan tidak ada yang tahu apakah belum turun hujan saat Omar Zeitgeist dan aku sampai di sana. Jika mereka memberi tahu, kita semua mungkin punya bom kosmis sekarang.”

“Mungkin saja lebih bagus seperti saat ini,” usulku.

Dia memejamkan mata dan mendesah. “Dari semua kata-kata di dunia tikus dan manusia, yang paling menyedihkan adalah ‘Mungkin saja.'” Dia menghamtam meja bar dengan tinjunya. “Dia sangat brilian, dia bahkan tidak menyadari bahwa dia telah melintasi Atlantik dan terjebak di sebuah gubuk di hutan belukar. Dia pikir dia masih berada di Luftschutzraum yang ditelantarkan, tidak tahu bahwa Jerman sudah jadi negara demokrasi, dan von Hindenburg adalah presiden. Zeitgeist tidak butuh laboratorium, tidak butuh asisten. Dia hanya berpikir, sementara aku menjaganya. Di sanalah kami, hanya kami berdua, dikelilingi oleh hutan hujan tropis dan Witotos. Dia hanya punya satu masalah lagi untuk dipecahkan sebelum bom kosmik siap untuk kemanusiaan. Sangat dekat! ”

“Sedikit lagi, tapi tetap tak tercipta, ‘kan?” Kataku.

“Tak tercipta—tepatnya.” Dia menangis tanpa merasa malu, lalu cemberut. “Witotos itu bodoh dan biadab. Ketololan dan kebiadaban mereka bisa kujelaskan padamu dengan mengatakan bahwa mereka percaya bahwa hujan disebabkan oleh makhluk mirip elf berwarna putih. Mereka menyebut makhluk ini ‘Dilbo’, dan percaya bahwa dia tinggal tersembunyi di hutan. Mereka percaya bahwa jika mereka bisa menangkap dan makan Dilbo dan membuat gendang dari tengkoraknya, mereka bisa memanggil hujan kapan saja mereka inginkan hanya dengan memukul kepala Dilbo. Mereka tidak tahu apa-apa tentang teknik pembuatan hujan dengan es kering dan iodida perak.” Dia menggigit bibirnya. “Sayangnya lagi.

“Bagaimanapun, di sanalah kami, hanya kami berdua, dan satu lagi masalah yang harus dipecahkan. Tiba-tiba, suatu malam, Zeitgeist melompat berdiri dan bergegas memasuki hutan sebelum aku bisa menghentikannya, berteriak, ‘Eureka! Eureka! Eureka!,’ bahasa Yunani yang artinya ‘Aku menemukannya! Aku menemukannya! Aku menemukannya!'” Pria itu menyeka air matanya dan tersenyum dengan berani. “Itu adalah saat yang penuh kemenangan. Dia mungkin orang kulit putih pertama yang meneriakkan bahasa Yunani di antara Putumayo dan Yapura Rivers.” Dia mengerutkan kening. “Kalau saja tidak terjadi musim kering! Seandainya hasil panen manios itu tidak layu dan peccary bergerak ke selatan menuju lubang air baru! Kekeringan, nasib buruk, telah membuat Witotos menjadi gelisah dan tidak sabaran.

“Aku sendirian—Anda bisa membayangkannya. Selama berjam-jam aku menyisir hutan yang gelap itu, memanggil namanya. Tak ada hasil. Akhirnya, saat sinar matahari terbit menerangi puncak pegunungan Andes di barat, aku memutuskan untuk meminta bantuan Witotos.” Di saat ini, informanku ini memejamkan mata, seolah-olah dia memusatkan setiap perhatiannya pada ingatannya, pada saat-saat mengerikan yang ia sedang hidupkan kembali.

“Witotos memiliki sistem telegraf yang efektif dalam bentuk drum-drum besar, yang bisa didengar bermil-mil,” lanjutnya, berusaha menahan suaranya. “Dulu aku terbiasa berdebar-debar, siang dan malam, dan karena itu aku tidak memperhatikan hiruk pikuk yang semakin kencang saat aku mendekati desa mereka. Baru setelah aku sampai di gerbang yang aku sadari ada irama baru dalam suara drum desa. Itu bukan drum yang sama. Kedengarannya tidak seperti drum yang pernah kudengar sebelumnya—seperti pria yang memukuli sebuah mobil tangki kosong dengan palu bola.” Dia mencengkeram lenganku dan meremasnya sampai terasa sakit. “Aku tiba-tiba tahu bahwa hanya satu hal yang bisa membuat keributan yang tidak wajar itu. Witotos yang haus telah menemukan Dilbo!”

“Bukan—?” Aku memulai.

“Zeitgeist,” terengah-engah pria itu. “Ayah dari bom kosmis itu hancur, hilang, akhi—setidak-tidaknya, paling tidak, meninggal. ‘Klang, klang, klang’ adalah suara drum baru Witotos. Sebagai pengawal, aku gagal.”

Dia mengeluarkan sebuah revolver, dan melepaskan enam tembakan ke jukebox, yang berubah warna jadi merah ceri yang menyilaukan kemudian mesinnya mati.

“Apakah turun hujan?” Tanyaku, setelah diam dengan hormat.

“Memang,” kata si informan serius, “tapi tidak sebanyak yang diharapkan para Witotos.”

*

Diterjemahkan dari Requiem for Zeitgeist di The Nation.

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s