Penyenandung, Kazuo Ishiguro [1/2]

venice-italy-dark-night-canal-gondola-4k-035_ejxkswk3__f0000

Pagi saat aku melihat Tony Gardner duduk di antara para turis, musim semi baru saja tiba di Venesia. Kami pertama kalinya menghabiskan minggu ini di luar ruangan, di piazza—betapa leganya, biar kuberitahu, setelah berjam-jam yang melelahkan tampil di belakang kafe, yang hanya jadi penghalang pelanggan yang ingin menggunakan tangga. Ada angin sepoi-sepoi pagi itu, dan tenda paviliun baru kami terkepak-kepak, tapi kami semua merasa sedikit lebih riang dan segar, dan aku rasa itu tampak dalam musik yang kami tampilkan.

Aku berlaga seperti aku seorang anggota band saja. Sebenarnya, aku hanya salah satu dari “gipsi,” seperti yang oleh para musisi lain panggil, orang-orang yang berkeliaran di sekitar piazza, membantu antara tiga orkes kafe yang membutuhkan kami. Seringnya aku bermain di sini di Caffè Lavena, tapi pada suatu sore yang ramai, aku bisa melakukan set bersama bocah-bocah Quadri, pergi ke Florian, lalu kembali melintasi alun-alun menuju ke Lavena. Aku berhubungan baik dengan mereka semua – dan juga para pelayannya – dan di kota lain aku punya posisi reguler seperti sekarang. Tapi di tempat ini, yang sangat terobsesi dengan tradisi dan masa lalu, semuanya terbalik. Di tempat lain, menjadi seorang pemain gitar akan selalu disukai. Tapi di sini? Seorang gitaris! Manajer kafe bakal meringis. Terlihat terlalu modern, turis tak akan suka. Musim gugur yang lalu aku membeli gitar model jazz vintage dengan lubang suara berbentuk oval, semacam gitar yang dimainkan Django Reinhardt, jadi tidak mungkin ada orang yang menganggapku sebagai bintang rock and roll. Hal ini membuat segalanya menjadi sedikit lebih mudah, tapi manajer kafe, mereka tetap tidak menyukainya. Sebenarnya, jika Anda seorang gitaris, dan Anda jadi Joe Pass, mereka tetap tidak akan memberi Anda pekerjaan tetap di alun-alun ini.

Ada juga, tentu saja, masalahku yang remeh karena bukan seorang Italia, apalagi orang Venesia. Sama saja dengan si pria Ceko gendut yang memainkan saksofon alto. Kami sangat disukai, kami dibutuhkan oleh musisi lain, tapi kami tidak disesuaikan dengan bayaran resmi. Bermain saja dan tutup mulut, itulah yang selalu dikatakan oleh manajer kafe. Dengan begitu para turis tidak akan tahu kalau Anda bukan orang Italia. Kenakan jas Anda, kacamata hitam, jagalah agar rambut disisir ke belakang, tidak ada yang tahu bedanya, jangan banyak bicara.

Tapi aku sebenarnya tidak terlalu buruk. Ketiga orkes kafe itu, terutama saat mereka harus bermain bersamaan dari tenda saingan mereka, mereka butuh gitar—sesuatu yang lembut, padu, tapi diperkeras, yang menggebuk akord dari belakang. Aku kira Anda berpikir, tiga band bermain pada saat yang sama di alun-alun yang sama, akan terdengar seperti kekacauan. Tapi di Piazza San Marco itu sangat bisa. Seorang turis yang berjalan-jalan melintasi alun-alun akan mendengar satu nada menghilang, satu lagi memudar, seperti dia sedang mencari sinyal di radio. Apa yang tidak dapat dinikmati turis adalah barang-barang klasiknya, semua serba versi instrumental dari arias terkenal. Oke, ini San Marco, mereka tidak ingin hits pop terbaru. Tapi setiap beberapa menit mereka menginginkan sesuatu yang mereka kenali, mungkin nomor lawas Julie Andrews, atau musik tema dari film terkenal. Aku ingat musim panas kemarin, pergi dari satu band ke band lain dan memainkan “The Godfather” sembilan kali dalam satu sore.

Pokoknya di sanalah kami berada saat pagi di musim semi, bermain di depan kerumunan turis, saat aku melihat Tony Gardner, duduk sendirian dengan kopinya, hampir tepat di depan kami, mungkin enam meter dari tenda kami. Kami kedatangan orang-orang terkenal di alun-alun sepanjang waktu, kami tidak pernah ambil pusing. Di akhir nomor lagu, mungkin ada perbincangan kecil yang berkelindan antara anggota band. Lihat, ada Warren Beatty. Lihat, itu Kissinger. Wanita itu, dia yang ada dalam film tentang pria yang bertukar wajah. Kami sudah terbiasa. Ini adalah Piazza San Marco. Tapi saat aku sadar itu Tony Gardner yang duduk di sana, rasanya berbeda. Aku senang sekali.

Tony Gardner menjadi favorit ibuku. Di kampung halaman, saat era komunis, sangat sulit untuk mendapatkan rekaman, tapi ibuku punya cukup banyak koleksi lengkapnya. Suatu ketika ketika aku masih kecil, aku merusak salah satu rekaman berharga itu. Apartemennya begitu sempit, dan aku yang masih bocah, tentu tak tahan untuk selalu bergerak, terutama selama bulan-bulan musim dingin saat Anda tidak bisa pergi keluar. Jadi aku sedang bermain sebuah permainan dengan melompat dari sofa kecil ke kursi, dan suatu saat aku salah mengukur dan menghantam pemutar rekaman. Jarum itu menggores rekaman dengan bunyi mendesing—ini sudah lama sebelum era CD—dan ibuku muncul dari dapur dan mulai meneriakiku. Aku merasa sangat bersalah, bukan hanya karena dia meneriakiku, tapi karena aku tahu itu adalah rekaman Tony Gardner, dan aku tahu betapa itu sangat berarti baginya. Bertahun-tahun kemudian, ketika aku bekerja di Warsawa dan aku tahu tentang rekaman di pasar gelap, aku memberi pengganti buat ibuku semua album Tony Gardner yang sudah usang, termasuk yang aku gores. Butuh waktu lebih dari tiga tahun, tapi aku terus mengumpulkan semua, satu per satu, dan setiap kali aku kembali menemui ibuku, aku akan membawakannya.

Jadi Anda tahu mengapa aku begitu bersemangat saat mengenalinya, hampir enam meter jauhnya. Mula-mula aku tidak bisa mempercayainya, dan aku telat pada perubahan akord. Tony Gardner! Apa yang akan dikatakan ibuku tersayang jika dia tahu! Demi ibuku, demi kenangannya, aku harus pergi dan mengatakan sesuatu kepadanya, tidak masalah jika musisi lain tertawa dan mengatakan bahwa aku bertingkah seperti bocah kampungan.

Tapi tentu saja aku tidak bisa langsung menghampirinya, menyingkirkan meja dan kursi. Ada lagu-lagu yang kami harus selesaikan. Sungguh sangat menyakitkan, aku bisa memberi tahu Anda, tiga, empat nomor lagu, dan setiap detik aku pikir dia akan berdiri dan berjalan pergi. Tapi dia terus duduk di sana, sambil menatap kopinya, mengaduknya seperti dia benar-benar kebingungan dengan apa yang telah dibawakan pelayan itu. Dia tampak seperti turis Amerika lainnya, mengenakan polo biru pucat dan celana abu-abu yang longgar. Rambutnya yang sangat gelap dan sangat mengkilap di sampul rekaman itu hampir putih sekarang, dan rapi sekali dengan gaya yang sama seperti yang kuingat. Ketika pertama kali mengenalinya, dia memegang kacamata hitamnya — aku ragu apakah aku akan mengenalinya, tapi saat kami terus bermain dan aku terus mengawasinya, dia meletakkannya di wajahnya, melepasnya lagi, lalu memakainya kembali. Dia tampak asyik dan aku merasa kecewa karena melihat dia tidak benar-benar mendengarkan musik kami.

Kemudian kami selesai. Aku bergegas keluar dari tenda tanpa berkata apa-apa kepada yang lain, berjalan ke meja Tony Gardner, lalu panik sesaat tanpa tahu bagaimana memulai pembicaraan. Aku berdiri di belakangnya, tapi indra keenam membuatnya berbalik dan menatapku—kurasa sudah bertahun-tahun ada banyak penggemar yang datang kepadanya—dan hal berikutnya aku mengenalkan diriku, menjelaskan betapa aku mengaguminya, bahwa aku ada di band yang baru saja dia dengarkan, bahwa ibuku menjadi penggemar beratnya, semuanya dengan terburu-buru. Dia mendengarkan dengan ekspresi muram, mengangguk setiap beberapa detik seperti dia adalah dokterku. Aku terus bicara dan semua yang dia katakan sesekali: “Begitukah?” Setelah beberapa saat kupikir sudah waktunya untuk pergi dan aku mulai menjauh ketika dia berkata:

“Jadi kamu berasal dari salah satu negara komunis itu. Pasti serba sulit.”

“Itu sudah jadi masa lalu.” Aku mengangkat bahu dengan ceria. “Kami adalah negara bebas sekarang. Sudah ada demokrasi.”

“Kabar menyenangkan. Dan itu krumu yang bermain. Duduklah. Kamu ingin kopi?”

Kukatakan padanya bahwa aku tidak ingin merepotkannya, tapi sekarang ada sesuatu yang secara lembut mendesak Tuan Gardner. “Tidak, tidak, duduklah. Ibumu menyukai rekamanku, katamu.”

Jadi aku duduk dan mengatakan kepadanya lagi. Tentang ibuku, apartemen kami, rekaman-rekaman dari pasar gelap. Dan walaupun aku tidak dapat mengingat lagi albumnya, aku mulai menjelaskan gambar-gambar di album seperti yang kuingat, dan saat melakukan ini, dia mengangkat jarinya ke udara dan berkata seperti: “Oh, dia yang tak ada bandingannya. Tony Gardner yang tidak ada bandingannya.” Aku pikir kami berdua benar-benar menikmati permainan ini, tapi kemudian aku melihat tatapan Tuan Gardner beralih dariku, dan aku berbalik untuk melihat seorang wanita datang ke arah meja kami.

Dia adalah salah satu wanita Amerika yang sangat berkelas, dengan rambut, pakaian dan penampilan yang bagus, Anda tidak menyadari bahwa mereka tidak terlalu muda sampai Anda melihat mereka dari dekat. Jauh sekali, mungkin aku salah mengartikannya sebagai model dari majalah gaya. Tapi saat dia duduk di samping Tuan Gardner dan mendorong kacamata hitamnya ke dahinya, aku sadar setidaknya dia berumur lima puluh, mungkin lebih. Tuan Gardner berkata padaku, “Ini Lindy, istriku.”

Nyonya Gardner menyapaku dengan senyuman yang agak dipaksakan, lalu berkata pada suaminya: “Jadi siapa ini? Kamu punya teman baru.”

“Benar, Sayang. Aku sedang ngobrol asyik di sini dengan … maafkan aku, kawan, aku tidak tahu namamu.”

“Jan,” kataku cepat. “Tapi teman-teman memanggilku Janeck.”

Lindy Gardner berkata, “Maksudmu nama panggilanmu lebih panjang dari nama sebenarnya? Kok bisa, ya?”

“Jangan bersikap kasar terhadap pria ini, Sayang.”

“Aku tidak bersikap kasar.”

“Jangan mengolok-olok nama pria itu, Sayang. Jadilah gadis yang baik.”

Lindy Gardner berpaling padaku dengan ekspresi tak berdaya. “Kamu tahu apa yang dia bicarakan? Apa aku menghinamu?”

“Tidak, tidak,” kataku, “tidak sama sekali, Nyonya Gardner.”

“Dia selalu mengatakan bahwa aku tidak sopan di depan publik. Tapi aku tidak kasar. Apa aku bersikap kasar kepadamu sekarang?” Kemudian kepada Tuan Gardner: “Aku berbicara di depan publik dengan cara alami, sayangku. Ini caraku. Aku tidak pernah kasar.”

“Baiklah, Sayang,” kata Gardner, “jangan dibesar-besarkan. Bagaimanapun, orang ini, dia bukan sekadar publik.”

“Oh, bukan, ya? Lalu siapa dia? Keponakan yang sudah lama hilang?”

“Bersikap baiklah, Sayang. Pria ini, dia seorang kawan. Seorang musisi, seorang profesional. Dia baru saja menghibur kita semua.” Dia menunjuk ke arah tenda kami.

“Oh, benar!” Lindy Gardner berpaling padaku lagi. “Kamu yang bermain di sana? Nah, betul-betul keren. Kamu yang pegang akordeon, kan? Betul-betul menawan!”

“Terima kasih banyak. Sebenarnya aku gitarisnya.”

“Gitaris? Kau pasti bercanda. Aku baru mengawasimu semenit yang lalu. Duduk di sana, di samping pria yang main double bass, kamu bermain begitu indah dengan akordeonmu.”

“Maafkan aku, yang itu sebenarnya Carlo dengan akordeonnya. Si pria botak besar … ”

“Kamu yakin? Kamu sedang tidak bercanda?”

“Sayang, sudah kukatakan. Jangan bersikap kasar terhadap pria ini.” Dia tidak berteriak, tapi suaranya tiba-tiba keras dan marah, dan sekarang ada keheningan yang aneh. Lalu Tuan Gardner sendiri memecahkannya, berkata dengan lembut:

“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu.” Dia mengulurkan tangan dan menggenggam satu tangan Nyonya Gardner. Aku malah berpikir Nyonya Gardner bakal menghindar, tapi sebaliknya, dia bergerak di kursinya sehingga dia lebih dekat dengan Tuan Gardner, dan menjepitkan tangannya. Mereka duduk di sana seperti itu selama beberapa detik, Tuan Gardner, kepalanya tertunduk, istrinya menatap dengan tenang melewati pundaknya, melintasi alun-alun menuju Basilika, meskipun matanya tampak sedang tidak melihat apa-apa. Untuk beberapa saat sepertinya mereka melupakanku yang duduk dengan mereka, tapi juga melupakan semua orang di piazza. Lalu Nyonya Gardner berkata, hampir berbisik:

“Tidak apa-apa, Sayang. Itu kesalahanku. Membuatmu kesal.”

Mereka terus duduk seperti itu sedikit lebih lama, tangan mereka terkunci. Lalu Nyonya Gardner menghela napas, melepaskan Tuan Gardner dan menatapku. Dia pernah menatapku sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Kali ini aku bisa merasakan pesona dirinya. Rasanya seperti dia melakukan semacam panggilan, dari nol sampai sepuluh, dan bersamaku, pada saat itu, dia memutuskan untuk mengubahnya menjadi nomor enam atau tujuh, tapi aku bisa merasakannya sangat kuat, dan jika dia meminta bantuanku—jika dia memintaku untuk pergi melintasi alun-alun dan membelikannya beberapa bunga—aku akan melakukannya dengan bahagia.

“Janeck,” katanya. “Itu namamu kan? Maafkan aku, Janeck. Tony benar. Aku harusnya tidak bersikap seperti itu denganmu.”

“Nyonya Gardner, sungguh, tolong jangan khawatir … ”

“Dan aku mengganggu perbincangan kalian berdua. Obrolan musisi, aku yakin. Jadi tahu, ‘kan? Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk melanjutkan kembali.”

“Tidak perlu pergi, Sayang,” kata Tuan Gardner.

“Tak apa, sayang. Aku benar-benar ingin melihat-lihat di toko Prada itu. Aku datang justru untuk memberi tahumu bahwa aku akan pergi lebih lama dari yang kukatakan.”

“Baiklah, Sayang.” Tony Gardner menegakkan tubuh untuk pertama kalinya dan menarik napas dalam-dalam. “Selama kamu yakin kamu senang melakukannya.”

“Aku akan bersenang-senang di toko itu. Jadi kalian berdua, kalian mengobrollah.” Dia bangkit dan menyentuh bahuku. “Jaga dia, Janeck.”

Kami melihat dia berjalan pergi, maka Tuan Gardner menanyakan beberapa hal tentang menjadi seorang musisi di Venesia, dan tentang orkestra Quadri khususnya, yang baru mulai bermain pada saat itu. Dia sepertinya tidak mendengarkan dengan saksama jawabanku dan aku akan permisi dan pergi, ketika dia berkata tiba-tiba:

“Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu, kawan. Izinkan aku memberi tahumu apa yang ada di pikiranku dan kamu bisa menolaknya jika itu yang kamu inginkan.” Dia mencondongkan tubuh ke depan dan menurunkan suaranya. “Bisakah aku memberitahumu sesuatu? Saat pertama Lindy dan aku datang ke Venesia, itulah bulan madu kami. Dua puluh tujuh tahun yang lalu. Dan untuk beragam kenangan indah di tempat ini, kami belum pernah kembali lagi, tidak bersama-sama. Jadi ketika kami merencanakan perjalanan ini, perjalanan khusus kami ini, kami berkata kepada diri sendiri bahwa kami harus menghabiskan beberapa hari di Venesia.”

“Ini ulang tahun pernikahan Anda, Tuan Gardner?”

“Ulang tahun pernikahan?” Dia tampak kaget.

“Aku minta maaf,” kataku. “Aku hanya berpikir, karena Anda mengatakan bahwa ini adalah perjalanan istimewa Anda.”

Dia terus menatap terkejut beberapa saat, lalu dia tertawa, tertawa terbahak-bahak, dan tiba-tiba aku teringat satu lagu yang biasa diputar ibuku saat dia berbicara di tengah lagu, sesuatu tentang tidak ambil pusing karena ditinggalkan perempuan, dan dia melakukan tawa sinis ini. Sekarang tawa yang sama meledak di alun-alun. Lalu dia berkata:

“Ulang tahun pernikahan? Bukan, bukan, ini bukan ulang tahun pernikahan kami. Tapi apa yang kuusulkan, itu tidak begitu jauh. Karena aku ingin melakukan sesuatu yang sangat romantis. Aku ingin bernyanyi untuknya. Benar, gaya Venice. Di situlah kau masuk. Kau memainkan gitarmu, aku bernyanyi. Kita melakukannya dari sebuah gondola, kita diam di bawah jendela, aku bernyanyi untuknya. Kami menyewa palazzo tidak jauh dari sini. Jendela kamar tidur terlihat di atas kanal. Setelah gelap, bakal sempurna. Lampu di dinding menyala dengan benar. Kau dan aku di gondola, dia datang ke jendela. Semua nomor lagu favoritnya. Kita tidak perlu melakukannya lama, malam hari masih agak dingin. Hanya tiga atau empat lagu, itulah yang ada dalam pikiranku. Aku akan kasih kompensasi. Bagaimana menurutmu?”

“Tuan Gardner, aku benar-benar merasa terhormat. Seperti yang kukatakan, Anda telah menjadi tokoh penting bagiku. Kapan Anda berpikir untuk melakukan ini?”

“Kalau tidak hujan, kenapa tidak malam ini? Sekitar pukul setengah delapan? Kami makan malam lebih awal, jadi kami akan kembali pada saat itu. Aku akan membuat alasan, meninggalkan apartemen, datang dan menemuimu. Aku akan memasang gondola, kita akan kembali menyusuri kanal, berhenti di bawah jendela. Itu akan sempurna. Bagaimana menurutmu?”

Anda mungkin bisa membayangkan, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Lagi pula, rasanya seperti ide manis, pasangan ini—dia berusia enam puluhan, umurnya lima puluhan—bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran. Sebenarnya ide itu sangat manis, tapi tidak begitu, membuatku melupakan pemandangan yang baru saja aku saksikan di antara mereka. Yang kumaksud adalah, bahkan pada tahap itu, aku tahu jauh di lubuk hati bahwa hal-hal tidak akan sesederhana seperti yang dia rencanakan.

Selama beberapa menit berikutnya Tuan Gardner dan aku duduk di sana mendiskusikan semua detailnya—lagu mana yang dia inginkan, kunci yang dia sukai, segalanya. Kemudian tiba saatnya aku kembali ke tenda dan memainkan set berikutnya, jadi aku berdiri, menjabat tangannya dan mengatakan bahwa dia benar-benar dapat mengandalkanku malam ini.


Jalanan gelap dan sepi saat aku menemui Tuan Gardner malam itu. Pada saat itu aku selalu tersesat setiap kali aku pergi jauh di luar Piazza San Marco, jadi meski aku membiarkan diriku menghabiskan banyak waktu, meski aku tahu jembatan kecil tempat Tuan Gardner memberitahuku, aku masih terlambat beberapa menit.

Dia berdiri tepat di bawah lampu, mengenakan jas gelap kusut, dan bajunya terbuka tiga atau empat kancing, jadi Anda bisa melihat bulu di dadanya. Ketika aku meminta maaf karena terlambat, dia berkata:

“Cuma beberapa menit, ‘kan? Lindy dan aku telah menikah dua puluh tujuh tahun. Cuma beberapa menit, ‘kan?”

Dia tidak marah, tapi suasana hatinya tampak serius dan khidmat — sama sekali tidak romantis. Di belakangnya ada gondola, dengan lembut bergoyang-goyang di air, dan aku melihat si tukang gondola adalah Vittorio, pria yang tidak kusukai. Di hadapanku, Vittorio selalu ramah, tapi aku tahu—aku tahu saat itu—dia berkeliling sambil mengatakan segala macam hal buruk, bahwa semuanya sampah, tentang orang-orang sepertiku, orang-orang yang dia sebut “orang asing dari negara baru.” Itulah mengapa, saat dia menyapaku malam itu seperti layaknya kakak laki-laki, aku hanya mengangguk, dan menunggu tanpa suara saat dia membantu Gardner naik ke gondola. Lalu aku mengulurkan gitarku—aku membawa gitar Spanyol-ku, bukan gitar dengan lubang suara oval—dan naik tanpa bantuannya.

Tuan Gardner terus bergeser posisi di depan kapal, dan pada satu titik duduk memberatkan yang hampir kami semua terbalik. Tapi sepertinya dia tidak memperhatikan dan saat kami berusah menyeimbangkan, dia terus menatap ke air.

Selama beberapa menit kami hanyut dalam keheningan, melewati bangunan gelap dan di bawah jembatan rendah. Lalu dia keluar dari pikirannya yang dalam dan berkata:
“Dengar, kawan. Aku tahu kita sepakat pada satu lagu untuk malam ini. Tapi aku sudah berpikir. Lindy menyukai lagu itu, ‘By the Time I Get to Phoenix.‘ Aku pernah merekamnya.”

“Tentu, Tuan Gardner. Ibuku selalu bilang versimu lebih baik ketimbang Sinatra. Atau yang direkam Glen Campbell.”

Tuan Gardner mengangguk, lalu aku tidak bisa melihat wajahnya untuk sementara waktu. Vittorio mengirim lantunan tukang gondola yang bergema di sekitar dinding sebelum mengarahkan kami ke sebuah tikungan.

“Aku sering menyanyikannya untuknya,” kata Tuan Gardner. “Kau tahu, aku pikir dia ingin mendengarnya malam ini. Kau sudah familiar dengan lagu itu?”

Gitarku tentu saja bisa diandalkan, jadi aku memainkan beberapa bar lagunya.

“Naikkan,” katanya. “Naikkan sampai E-flat. Begitulah caraku melakukannya di album itu.”

Jadi, aku memainkan akord di kunci itu, dan saat hampir seluruh lirik itu berlalu, Tuan Gardner mulai bernyanyi, sangat pelan, terengah-engah, sepertinya dia hanya bisa setengah mengingat liriknya. Tapi suaranya bergema aduhai di kanal yang sepi itu. Sebenarnya, kedengarannya sangat indah. Dan sesaat aku seperti bocah laki-laki lagi, kembali ke apartemen itu, berbaring di atas karpet sementara ibuku duduk di sofa, kelelahan, atau mungkin patah hati, sementara album Tony Gardner berputar di sudut ruangan.

Gardner berhenti tiba-tiba dan berkata, “Baiklah. Kita akan memainkan ‘Phoenix‘ di E-flat. Lalu mungkin ‘I Fall in Love Too Easily‘, seperti yang kita rencanakan. Dan kita akan menyelesaikannya dengan ‘One for My Baby‘. Itu sudah cukup. Dia tidak akan mendengarkan lebih dari itu.”

Dia tampak tenggelam dalam pikirannya setelah itu, dan kami mengapung sepanjang kegelapan sampai terdengar percikan Vittorio yang lembut.

“Tuan Gardner,” kataku akhirnya, “kuharap kau tidak keberatan aku bertanya. Tapi apakah Nyonya Gardner mengharapkan resital ini? Atau apakah ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan?”

Dia menghela napas berat, lalu berkata, “Kurasa kita harus memasukkan ini ke dalam kategori kejutan yang luar biasa.” Kemudian dia menambahkan: “Demi Tuhan dia bakal terkejut. Kita mungkin tidak berhasil sebelum sampai ke ‘One for My Baby‘.”

Vittorio mengarahkan kami ke tikungan lain, dan tiba-tiba terdengar tawa dan musik, dan kami melayang melewati restoran besar yang terang benderang. Setiap meja tampak terisi, para pelayan sedang bergegas, para pengunjung tampak sangat bahagia, meski tidak begitu hangat di samping kanal pada waktu itu. Setelah diam dan gelap yang telah kami lewati, restoran itu agak mengganggu. Rasanya seperti kami yang stasioner, ditonton dari dermaga, saat perahu berkilauan ini meluncur. Aku melihat beberapa wajah melihat ke arah kami, tapi tidak ada yang memerhatikan kami. Kemudian restoran itu berada di belakang kami, dan aku berkata:

“Sangat lucu. Bisakah kau membayangkan apa yang akan dilakukan wisatawan tersebut jika mereka menyadari sebuah kapal baru saja membawa Tony Gardner yang legendaris?”

Vittorio, yang tidak mengerti banyak bahasa Inggris, menangkap apa yang kumaksud dan tertawa kecil. Tapi Tuan Gardner tidak menanggapi untuk beberapa lama. Kami kembali dalam kegelapan lagi, berjalan menyusuri kanal sempit melewati pintu yang remang-remang, saat dia berkata:

“Temanku, kamu berasal dari negara komunis. Itulah mengapa kamu tidak menyadari bagaimana semua ini bekerja.”

“Tuan Gardner,” kataku, “negaraku tidak lagi komunis. Kami sudah bebas sekarang.”

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menghina bangsamu. Kamu orang pemberani. Aku harap kamu memenangkan kedamaian dan kemakmuran. Tapi apa yang ingin kukatakan kepadamu, kawan, yang kumaksud adalah bahwa datang dari tempatmu, tentu saja, masih banyak hal yang belum kau pahami. Seperti ada banyak hal yang tidak akan aku mengerti di negaramu.”

“Kurasa benar, Tuan Gardner.”

“Orang-orang yang kita lewati sekarang. Jika kamu mendatangi mereka dan berkata, ‘Hei, apakah ada di antara kalian yang ingat dengan Tony Gardner?’ Mungkin beberapa dari mereka, kebanyakan bahkan mungkin berkata iya. Siapa tahu? Tapi melintas seperti yang baru saja kita lakukan, bahkan jika mereka mengenaliku, apakah mereka akan senang? Aku tidak berpikir begitu. Mereka tidak akan meletakkan garpu mereka, mereka tidak akan merusak perbincangan seru dalam cahaya lilin mereka. Mengapa mereka harus? Aku hanya penyenandung dari zaman dulu.”

“Aku tidak percaya itu, Tuan Gardner. Kamu seorang klasik seperti Sinatra atau Dean Martin. Penampilan berkelas, yang tidak akan pernah ketinggalan zaman. Tidak seperti bintang pop hari ini.”

“Kamu baik sekali mengatakannya, kawan. Aku tahu maksudmu baik. Tapi malam ini, bukan saatnya bercanda denganku.”

Aku hendak memprotes, tapi ada sesuatu yang menurutnya menyuruhku untuk membatalkan keseluruhan topik pembicaraan. Jadi kami terus bergerak, tidak ada yang berbicara. Sejujurnya, sekarang aku mulai bertanya-tanya dalam hati apa yang telah kuhadapi, seperti apa seluruh kejadian seremonial ini. Dan bahwa inilah orang Amerika. Untuk semua yang kupikirkan, ketika Tuan Gardner mulai bernyanyi, Nyonya Gardner akan muncul dari jendela dengan membawa pistol dan menembaki kami.

Mungkin pikiran Vittorio bergerak di sepanjang jalur yang sama, karena saat kami lewat di bawah lentera di sisi dinding, dia memberiku pandangan seolah berkata: “Kita punya sesuatu yang aneh di sini, bukankah begitu, amico.” Tapi aku tidak merespon. Aku tidak akan berpihak pada orang seperti dia untuk melawan Tuan Gardner. Menurut Vittorio, orang asing sepertiku, kami berkeliling mengganggu wisatawan, mengotori kanal, intinya merusak seluruh kota. Beberapa hari, jika dia dalam suasana hati yang buruk, dia akan mengklaim bahwa kami adalah perampok—bahkan pemerkosa. Aku pernah bertanya kepadanya apakah memang benar dia berbual mengatakan hal-hal seperti itu, dan dia bersumpah itu semua bohong. Bagaimana dia bisa menjadi rasis saat punya seorang bibi Yahudi yang justru dipuja bagai ibu sendiri? Tapi suatu sore aku menghabiskan waktu di antara penampilan, bersandar di jembatan di Dorsoduro, dan sebuah gondola melintas di bawahnya. Ada tiga turis yang duduk di dalamnya, dan Vittorio berdiri di atas mereka dengan dayungnya, mengajak dunia mendengarnya, keluar dengan omongan sampah yang sama ini. Jadi dia bisa memandang mataku sepanjang yang dia suka, dia tidak akan pernah mendapatkan persahabatan dariku.

“Coba kuceritakan sedikit rahasia,” kata Tuan Gardner tiba-tiba. “Sedikit rahasia tentang pertunjukan. Saran dari pro ke pro lainnya. Sangat sederhana. Kau harus tahu sesuatu, tidak masalah soal apa, kau harus tahu sesuatu tentang audiensmu. Sesuatu yang bagimu, dalam pikiranmu, membedakan audiens dari orang yang kamu nyanyikan malam sebelumnya. Katakanlah kamu berada di Milwaukee. Kamu harus bertanya pada diri sendiri, apa bedanya, apa istimewanya penonton Milwaukee? Apa yang membuatnya berbeda dari penonton Madison? Tidak bisa memikirkan apapun, kamu terus mencoba sampai kau mendapatkannya. Milwaukee, Milwaukee. Mereka punya daging babi yang enak di Milwaukee. Itu akan berhasil, itulah yang kau gunakan saat kau melangkah keluar dari sana. Kau tidak perlu mengatakan sepatah kata pun tentang hal itu kepada mereka, itulah yang ada dalam pikiranmu saat kau bernyanyi untuk mereka. Orang-orang di depanmu, mereka yang makan daging babi yang enak. Mereka memiliki standar tinggi dalam hal daging babi. Kamu memahami apa yang aku katakan? Dengan cara itu penonton menjadi seseorang yang kau akrabi, seseorang yang bisa kau hibur. Nah, itulah rahasiaku. Satu pro ke pro lain.”

“Baiklah, terima kasih Tuan Gardner. Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Tips dari seseorang seperti Anda, aku tidak akan melupakannya.”

“Jadi malam ini,” lanjutnya, “kita tampil untuk Lindy. Lindy adalah penontonnya. Jadi aku akan menceritakan sesuatu tentang Lindy. Kau ingin mendengar tentang Lindy?”

“Tentu saja, Tuan Gardner,” kataku. “Aku sangat ingin mendengar dan tahu banyak tentangnya.”

*

Diterjemahkan dari Crooner dalam Nocturnes: Five Stories of Music and Nightfall.

Kazuo Ishiguro merupakan pengarang British kelahiran Jepang. Gaya penulisannya mengawinkan Jane Austen dengan Franz Kafka, dengan perselingkuhan bersama Marcel Proust. Peraih Nobel Sastra 2017.

 

 

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s