Nestapa, Han Yujoo

hantan han yujoo

Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran masih sehat dan tubuh yang membusuk. Dia meninggal. Dia tidak cukup muda untuk punya sebab kematian tertentu, atau cukup muda untuk mati karena kesedihan luar biasa mendalam. Hanya ada kesedihan yang samar seputar kematian itu sendiri. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan dia tidak punya siapa pun yang akan sedih atas kematiannya. Tidak ada orang yang akan mengingatnya. Karena dia sudah meninggal, dia bahkan tidak bisa mengklaimnya. Kematian berarti kehilangan semua hal, orang-orang, diri sendiri, dan kepemilikan apapun atas ruang dan waktu. Saya menemukan bahwa itu sesuatu yang benar-benar tragis. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan saya tidak merasa sedih. Saya pikir ini benar-benar menyedihkan.

Lalu saya terbangun.

Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Meski begitu, saya rasa saya belum kehilangan sedikit pun kemampuan saya untuk membuat sebuah kalimat. Saya tidak punya masalah menulis, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Karena itu, kalimat sebelumnya bohong. Saya tidak tahan dengan kebohongan. Yang tidak bisa saya tahan adalah memulai dengan kalimat itu, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Saya duduk di meja kerja saya untuk waktu yang lama, mencoba untuk tidak menulis bahwa saya tidak bisa menulis satu kalimat pun sebagai kalimat pertama saya. Beberapa kali saya menulis bahwa saya tidak bisa menulis satu kalimat pun sebagai kalimat pertama dan beberapa kali saya menghapusnya. Saya tertidur dan bermimpi, dan dalam mimpi itu saya membaca sebuah buku yang dimulai dengan kalimat yang mengatakan bahwa dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran yang sehat dan tubuh yang membusuk. Untuk mengingat kalimat-kalimat dalam buku itu—karena saya tahu saya sedang bermimpi—saya membaca kalimat itu berkali-kali, berjuang keras untuk menghapalnya. Tapi bahkan dalam mimpi, saya tahu saat saya terbangun, seketika halaman mimpi saya tertutup, kalimat yang telah saya hafal akan lenyap. Kalimat dalam mimpi saya itu indah, mengingatkan pada Peter Handke. Tokoh berusia lima puluh empat tahun itu berlaku seperti karakter dalam novel Peter Handke. Bahkan dalam mimpi, saya tahu saya belum bisa menulis satu kalimat pun untuk waktu yang lama. Karena itulah saya tidak ingin kehilangan kalimat tersebut, meski bisa saja ini jadi tiruan mutu rendah dari Peter Handke. Bahkan dalam mimpi, saya tidak tahu apakah saya pernah menulis yang begini, atau pernah ditulis orang lain. Meski begitu, saya ingin menjadikannya milik saya. Saya ingin mengklaim kepemilikan atasnya. Bahkan dalam mimpi kalimat itu sungguh luar biasa, tapi saya tahu kalimat itu tidak punya kekuatan. Meski begitu, saya ingin membuat kalimat itu sepenuhnya milik saya. Saya ingin membuat setiap komanya jadi milik saya. Bahkan dalam mimpi, saya tahu saya hanya bermimpi. Saya mencoba merobek halaman itu, tapi tidak robek. Saya pernah bermimpi bahwa saya telah mati berkali-kali. Saya berjuang mati-matian untuk merobek halaman itu, tapi tidak robek. Karena saya pernah meninggal berkali-kali, jika saya berjuang mati-matian, bisa saja saya mati. Teks itu berkeras tetap berada di halaman itu. Tidak. Teks itu bahkan tetap begitu. Setiap koma tetap sama. Tidak. Halaman begitu keras kepala terpaku pada teks. Meskipun saya merobek teks, tidak robek sedikit pun. Hari menjadi cerah. Bahkan dalam mimpi, saya bisa merasakan fajar. Awalnya, saya duduk di antara teks itu, dan kemudian saya menutupi semua celah di antara teks tanpa meninggalkan tempat saya, dan pada akhirnya saya bisa merasakan matahari sedang terbit—fajar yang menguasai semua kalimat. Saya tidak mati dalam mimpi. Saya bahkan tidak merasa lelah. Saya hanya berjuang keras untuk mengulangi tindakan tanpa arti untuk merobek halaman itu lagi dan lagi. Saya merobeknya, tapi tidak robek. Saya mencengkeram halaman yang tidak ada. Saya hafal kalimat yang tidak ada. Karakter-karakter yang tidak nyata mengulangi tindakan-tindakannya yang tidak nyata. Lalu saya terbangun. Beberapa kalimat terlewat, tapi bukan yang dari mimpi saya. Saya merasa sedih. Tapi tidak benar-benar sedih. Saya bahkan tidak tahu kapan dan di mana dan bagaimana saya bisa menggunakan ungkapan “benar-benar sedih.”

Maka saya mulai menulis dengan meminjam kalimat dari mimpi itu. Tapi tiba-tiba, saya merasa bahwa saya tidak akan bisa menyelesaikannya jika saya tidak dapat mengingat kalimat yang telah lenyap saat saya terbangun. Tapi saya tidak pernah menemukan apapun yang telah hilang dalam mimpi atau apapun yang lenyap menjadi mimpi. Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran sehat dan tubuh yang membusuk. Dan kemudian di kalimat berikutnya dia meninggal. Menurut ingatan saya yang redup, dia bukan teknisi perakitan atau pemain sepak bola, bukan orang Korea atau Austria. Saya menyukai novel Peter Handke, tapi saya tidak pernah berpikir untuk menyalin kalimatnya. Saya belum bisa menulis satu kalimat pun untuk waktu yang lama. Itu bohong. Saya menulis banyak kalimat tapi menghapus semuanya. Tapi ada kalanya kamu harus menulis lebih dari satu kalimat, meski mungkin itu kebohongan. Seperti sekarang. Saya masih tidak bisa menulis satu kalimat pun. Tapi saya rasa saya belum kehilangan sedikit pun kemampuan saya untuk membuat sebuah kalimat. Saya tidak punya masalah menulis soal saya yang tidak bisa menulis satu kalimat pun. Ini invasif. Ini berbahaya. Ini tak terlihat. Itu tak terhapuskan. Ini tidak akurat. Ini tidak memadai. Ini tidak koheren. Ini belum lengkap. Ada banyak kata sifat seperti ini. Saya memikirkan kalimat yang telah saya tulis dengan mudah sampai sekarang. Saya pernah menulis begitu mudah. Kata-kata. Kalimat-kalimat. Fragmen-fragmen. Memikirkannya bikin saya ingin menangis sekarang, saya ulangi kalimatnya, “Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun.” Saya rasa saya harus melepaskan sentimentalisme seperti itu karena ingin menangis, tapi saya juga berpikir betapa menyenangkannya jika saya bisa melakukannya. Menangis dan menulis kalimat apapun. Apakah air mata adalah bagian dari tubuh? Apa jenis kepemilikan yang bisa kamu klaim atas air mata? Saya tidak menangis. Saya menulis. Saya tidak menulis. Saya menangis. Ini semua bohong.

Saya membolak-balik buku catatan saya. Catatan-catatan yang telah saya tulis tanpa metode. Catatan-catatan itu tidak mengandung insiden yang mempertarungkan. Tanaman itu membeku sampai mati di dalam rumah. Setelah Anda meninggal, saya tidak menyiram tanaman Anda. Musim dingin datang dan pemanasnya rusak. Saya tidak tahu nama tanamannya. Itu adalah tanaman dengan banyak daun hijau besar. Daun hijau berangsur-angsur berubah menjadi kuning dari ujungnya. Tanaman itu sekarat. Tapi sebelum layu sampai mati, ia mati membeku. Saya kesal karena bukan saya yang telah membunuhnya. Udara dingin yang telah membunuhnya. Air membeku di dalam rumah. Udara dingin sangat parah. Ada baris dari puisi Choi Hayeon yang telah saya hafal seperti mantra: Bekukan sampai mati, bekukan sampai mati. Saya tidak ingat baris sebelum atau sesudahnya. Saya ingin membunuh tanaman itu tanpa menggunakan tangan saya sendiri. Daya tahannya sungguh luar biasa. Tanaman itu bertahan tanpa air selama hampir dua bulan. Dan kemudian membeku sampai mati sebelum bisa layu sampai mati. Sementara saya sedang mencari-cari di dalam kotak, saya menemukan bantal elektrik. Stekernya 110 volt. Itu adalah barang yang tidak bisa saya gunakan. Cuaca memanas. Ketika saya minum air es, saya tidak layu kemudian mati atau mati membeku.

Inilah yang tertulis di buku catatan. Di bagian belakang halaman, “bekukan sampai mati, bekukan sampai mati” mengisi seluruh halaman. Saya memutuskan untuk memikirkan orang dari mimpi saya yang meninggal pada usia lima puluh empat tahun sebagai orang yang sama yang meninggal dan menelantarkan tanaman. Dan kemudian saya gagal. Saya ingin menunjukkan sesuatu dan saya juga tidak ingin menunjukkan apapun. Saya ingin mengungkapkan sesuatu dan saya juga tidak ingin mengungkapkan apapun. Saya ingin menunjukkan sesuatu dengan sesuatu yang tidak nampak, dan saya ingin menunjukkan sesuatu dengan sesuatu yang tidak nampak. Saya merasa sudah habis. Tapi saya tidak tahu persis apa artinya habis. Rasanya salah menuliskan kata-kata tertentu sembarangan. Tapi saya selalu menuliskan semuanya dengan ceroboh. Tidak mungkin menulis apapun jika kamu tidak menulis dengan ceroboh. Rasanya salah menuliskan semua kata sembarangan. Saya tidak bisa dipercaya. Saya selalu berbohong. Saya, yang berbohong bahwa saya berbohong, tidak bisa dipercaya. Bahkan sekarang saya sedang berbohong. Itu karena saya tidak bisa menulis apapun. Saya bisa terus selamanya, mengatakan bahwa saya tidak bisa menulis apapun. Saya memiliki kemampuan untuk mengulanginya berulang kali. Ini adalah kemampuan yang ingin saya buang.

Lalu saya terbangun.

Musim dingin, saya kedinginan bahkan saat di dalam rumah. Suhu di bawah nol. Orang mulai berhamburan masuk ke dalam ruangan. Saya mencium aroma kopi. Seseorang memulai percakapan. Hari ini adalah hari terakhir seminar. Ada pendakian yang direncanakan besok. Nama sungainya adalah Hantan. Nestapa. Saya diberitahu bahwa kami bisa melihat burung dan binatang liar. Jika kami tidak beruntung, es bisa retak dan kaki kami mungkin basah, dan jika kita beruntung, kita mungkin melihat seekor elang. Sulit untuk mengatakan mana yang tidak beruntung dan mana yang beruntung hanya dengan mendengarkan deskripsi. Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang bagaimana anak gadis seorang kerabat jauh yang telah pindah ke Amerika Serikat beberapa dekade yang lalu membawa anjingnya untuk ditangkap oleh seekor elang. Saya juga mendengar bahwa di lingkungan yang sama, tinggal seorang wanita yang bayinya baru lahir direnggut oleh seekor elang. Ketika saya menceritakan kisah-kisah ini, orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa elang Korea lebih kecil dan bahwa pada pendakian besok, tidak ada yang punya seekor anjing atau bayi yang baru lahir. Saya mencium aroma kopi. Meski saya tidak minum kopi, saya bisa membaui kelebat rasa. Rasanya manis dan pahit. Orang-orang mengambil tempat duduk masing-masing. Pembicara berjalan ke depan. Orang-orang bertepuk tangan. Persamaan disalin di papan tulis. Tetapkan teori. Hitung. Zermelo-Fraenkel. Saya tidak mengerti sebagian besar dari yang disampaikan pembicara. Nama Zermelo membuat saya berpikir tentang “cello” dan “Portobelo.” Saya pernah melihat cello sebelumnya dan saya belum pernah ke Portobelo. Penampakan belakang orang yang duduk di depanku mulai terlihat. Rambut pendeknya dengan warna agak keabuan. Dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Saya memutar kepala saya sedikit dan mempelajari profilnya. Saya tahu siapa dia. Pembicara membaca sebuah persamaan lainnya. Bosan karena saya tidak mengerti apa yang disampaikan pembicara, saya memutuskan untuk mempelajari orang yang duduk di depan saya. Dia adalah seorang akademisi. Dari apa yang telah saya dengar, dia telah menulis dan menerjemahkan banyak buku. Saya melihat ke sekeliling ruangan. Saya akhirnya melakukan kontak mata dengan seseorang. Seseorang yang tidak saya kenal. Sekitar setengah orang di seminar itu sudah tidak asing lagi dan sekitar setengahnya tidak dikenal. Mungkin tidak persis setengahnya. Dan ada orang yang saya kenal namun dia tidak mengenal saya. Mereka masuk bagian dari setengah dalam setengah yang saya tidak yakin setengahnya itu. Sebagian besar orang memusatkan perhatian pada papan tulis dan berfokus pada apa yang disampaikan oleh presenter. Saya bersandar di kursi saya dan mulai mengamati dengan sungguh-sungguh pria yang ada di hadapan saya. Dari apa yang saya dengar, dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Di kursi di sebelah kirinya ada tasnya dan di atas kursi di sebelah kanannya ada mantel jasnya. Tidak ada yang duduk di kedua sisinya. Dia memakai baju putih. Kerahnya bersih. Sepenglihatan saya paling tidak itu bersih. Dia memakai celana korduroi hitam. Saya tidak bisa melihat sepatunya, karena kursinya menghalangi pandangan saya. Dia fokus pada apa yang pembicara sampaikan. Dia terlihat seperti itu, paling tidak. Kertas diskusi, pulpen Monami, dan sepasang kacamata ada di mejanya. Dia memakai kacamata. Dengan kata lain, ia memiliki dua pasang kacamata. Dia mengenakan jaket wol di atas kemeja putihnya. Pakaian cendikiawan. Saya tidak tahu persis jenis pakaian apa yang cendikiawan itu. Tapi nampaknya dia akan terlihat seperti cendikiawan dimanapun dia berada. Dia melepaskan kacamatanya dan mengenakan yang ada di mejanya. Satu pasang mungkin untuk rabun jauh dan yang lain mungkin untuk membaca. Pembicara menggunakan kalimat yang terdiri dari kata benda bahasa Inggris dan kata belakang Korea, kata kerja bahasa Inggris dan sufiks Korea. Saya mulai mencatat kata-kata pembicara dalam pikiran saya dan kemudian berhenti. Saya tidak bisa membuat persamaan sesuai dengan kalimatnya. Bulu jaket wol cendekiawan itu sudah usang. Dia sedang menulis sesuatu di kertas diskusi kosong dengan pena Monami. Saya tidak bisa melihat teksnya. Tiba-tiba, saya penasaran dengan usianya. Dia mungkin berusia pertengahan lima puluhan. Dia mungkin tidak berumur lima puluh empat tahun. Pikirannya kemungkinan besar masih sehat dan tubuhnya tidak tampak membusuk. Dia melepas kacamatanya dan tidak memakai kacamata satunya. Di mejanya ada dua pasang kacamata. Dia menundukkan kepalanya seolah-olah dia membungkuk di atas mejanya dan kemudian meluruskan dan mengangkat kertas diskusi itu ke matanya. Dia mengangkat kertas itu sampai ke wajahnya. Tas dan mantel jasnya berada di kedua sisinya. Persamaan yang berbeda tertulis di papan tulis. Kertas di tangannya bergetar. Bisa jadi karena udara panas yang berasal dari pemanas dan bisa juga karena tangannya gemetar. Jika ia mengalami getaran tangan, kertasnya tidak akan terlalu bergetar. Saya ingin menghadiahinya mata saya.

Tidak. Saya ingin penglihatannya seperti saya. Saya bisa melihat papan tulis, kertas, teks, kalimat, wajah, es, dan elang. Saya bisa melihatnya dengan sangat baik. Saya ingin menghadiahinya mata saya. Dia akan bisa menggunakan mata saya untuk melihat sesuatu yang jauh lebih baik, jauh lebih jelas, jauh lebih luas. Saya berasumsi bahwa dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran sehat tapi tubuh yang sedang membusuk. Saya mungkin bisa mempelajarinya dan menulis tentang kematian yang konkret. Tapi apa itu kematian yang konkret? Dan mengapa saya selalu menuntut kematian seseorang?

Presentasi berakhir. Tepuk tangan. Pembicara berikutnya berjalan ke depan. Tepuk tangan. Saya membuka kertas diskusi. Tertulis di atasnya adalah judul “Alain Badiou’s Set-Theoretical Ontology.” Alain Badiou adalah nama yang saya tahu. Tapi mengetahui namanya tidak menjelaskan set ontologi teoritisnya. Cendekiawan yang duduk di depan saya masih mengintip kertas di depan matanya. Berada tepat di depan matanya. Saya ingin memberinya mata saya. Di samping papan tulis ada jendela. Salju turun. Seseorang batuk. Kelebat rasa kopi yang saya tidak minum terasa di lidah saya. Pahit dan manis. Diam-diam saya mendorong kursi saya ke belakang dan berdiri, dan dengan diam saya membuka pintu dan melangkah ke lorong. Kelebat rasa rokok yang belum saya habiskan di lidah saya. Pahit dan tak berdaya. Bagaimana saya bisa eksis?

Jika saya tidak bisa menulis satu kalimat pun, tidak masalah jika saya tidak ada. Bahkan jika saya tidak bisa membaca, cukup baik jika saya bisa menulis. Saya membaca, setidaknya. Tapi jika saya tidak bisa menulis satu kalimat pun, saya tidak bisa membaca. Bahkan saya. Saat saya membuka pintu kaca, udara dingin bergerak dari ujung jari ke bagian dalam kepala saya. Apakah saya merasakan kedinginan atau apakah karena saya memikirkannya? Udara luar terasa dingin. Benarkah udara luar terasa dingin? Apakah kebenaran yang terhubung dengan sensasi sebenarnya memang kebenaran? Saya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Salju turun. Saya menyentuh kunci mobil di saku saya dan menekan satu tombol. Sebuah lampu berkedip dari tempat parkir yang jauh. Saya menekan tombol lagi. Lampu depan berkedip lagi. Salju menumpuk di atas mobil. Ada pendakian yang direncanakan besok. Apakah sungai cukup beku? Salju menumpuk bahkan di atas abu rokok. Saya memutuskan untuk berjalan di sekitar gedung. Saya ingin meninggalkan jejak kaki saya di salju. Saya ingin melihat tumpukan salju putih di atas salju putih, di atas jejak kaki. Di atas lapisan waktu. Saya melewati kotak bunga kecil dan ketika saya di tikungan, saya mendengar suara seseorang. Suara dua orang.

“Apa sudah mencair? ”

Saya melemparkan rokok saya ke tanah. Salju jatuh menutupi puntung rokok.

“Bagian dalam diri saya bukan bagian dalam diri saya.”

Salju turun.

“Maksud Anda masih terhalang?”

Saya memutari tikungan. Dua orang menatap. Saya tidak mengenali. Mereka mungkin adalah penjaga atau orang-orang dari kantor daerah. Seseorang melepaskan rokok yang dipegangnya dan orang lain terus berbicara di telepon genggamnya.

“Salju akan berhenti saat malam. . . ”

Orang yang mematikan rokok itu mengatakan kepada orang yang menelepon, “Anda tahu betapa kedinginannya saya?”

Orang yang memegang telepon terus berbicara di telepon. “Tidak akan ada apa-apa. . . ”

Saya menginjak puntung rokok saya. Saya melindasnya. Salju akan menutupinya. Orang yang mematikan rokok itu menatap. Saya menoleh dan berjalan menuju pintu masuk. Pintu kaca. Lorong. Lampu neon. “. . . Yang satu itu bukan. . . ” Dengan saksama, saya mendengar suara pembicara. Rokok yang saya sesap itu pahit dan manis. “. . . apa yang tidak bisa dijelaskan Matematika, puisi bisa menjelaskannya. . ” Saya masuk kamar.

Lalu saya terbangun.

Tidak ada mimpi. Mungkin saya yang tidak bisa mengingatnya. Ketika saya pergi ke kafetaria, sebagian besar orang sudah selesai sarapan. Seseorang berteriak, “Berkumpul di depan pintu masuk setengah jam nanti!” Seseorang mendekat dan menyapa saya. Saya melihat-lihat kafetaria dan mendapati cendikiawan yang ingin saya hadiahi mata saya sebelumnya. Dia memakai jaket wol. Dia menyeka mulutnya. Hari ini saya tidak ingin menghadiahinya mata saya. Masih ada hal yang ingin saya lihat. Saya hanya tidak tahu apa itu. Saya pernah melihat sebuah film yang bercerita tentang seseorang yang secara tiba-tiba pergi ke kota besar untuk menemukan perempuan yang telah berulang kali muncul dalam mimpinya. Karena ada lebih banyak perempuan di kota besar, yang memiliki populasi lebih tinggi, dia mengatakan ada kemungkinan besar perempuan dalam mimpinya juga akan ada di sana. Dia benar. Dia mungkin tidak akan bertemu perempuan itu. Tapi dia punya kesempatan meski sangat kecil. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lihat. Tapi sementara saya masih memiliki kedua mata ini, saya punya kesempatan kecil untuk bisa melihat apa yang ingin saya lihat. Sementara saya minum kopi dan mengunyah roti, saya memikirkan hal-hal yang belum pernah saya lihat. Tidak mungkin memikirkan hal-hal yang belum pernah kamu lihat. Tidak mungkin melihat hal-hal yang belum pernah kamu lihat. Seseorang tersandung tongkat hiking orang lain. Gelas kacanya pecah. Sementara saya mendengarkan kaca yang jatuh dan pecah, saya pikir saya pernah melihat kaca pecah sebelumnya. Tidak, itu tidak seharusnya benar. Saya belum pernah memakai kacamata sebelumnya.

Ada sekop di bagasi mobil saya. Sementara saya menunggu bus, saya bertanya-tanya apakah saya harus mengambil sekop dari bagasi. Saya telah mengubur anjing dengan itu. Kata “anjing” itu memang anjing betulan. Saya tidak akan pernah punya seekor anjing lagi. Saya takut soal pendakiannya. Itu karena saya merasa bahwa saya akan mendapati mayat seekor binatang liar. Itu sebabnya saya berpikir untuk membawa sekopnya. Saya ingin mengubur mayat binatang itu dalam es. Tapi kemungkinan melihat mayat binatang saat pendaikan tidak bagus. Orang lain mungkin melihatnya di hadapan saya. Bagaimanapun, saya bertanya-tanya apakah saya harus membawa sekop. Saya mungkin bisa menggunakannya sebagai tongkat hiking. Tapi alih-alih menggunakannya untuk mengubur mayat hewan di es, saya ingin mengubur sekop yang telah saya gunakan untuk mengubur anjing itu. Pada saat es mencair saya tidak akan berada di sana. Bahkan saat es mencair, memunculkan mayat dan sekop, saya tidak akan ada di sana untuk melihat. Saya lega anjing itu sudah mati. Seekor anjing mati tidak bisa mati lagi. Karena anjing itu sudah meninggal, saya bahkan tidak bisa mengklaim kepemilikan atas anjing yang tidak ada. Saya ingin melepas kepemilikan saya atas sekop itu juga. Tapi busnya tiba. Orang masuk satu-satu. Nama sungai itu adalah Hantan. Ini pertama kalinya saya pergi ke Sungai Hantan.

Kami menyusuri sungai untuk waktu yang lama. Kami tiba di tempat dimana sungai itu padat membeku. Orang-orang pergi ke sungai. Salju yang jatuh sehari sebelumnya menumpuk di atas lempengan es. Saya tidak membawa tongkat. Seharusnya saya membawa sekop. Saya ingin mengubur salju di bawah es. Saya ingin mengubur mata saya di bawah es. Dua orang berjalan di depan saya. Salah satunya adalah seorang matematikawan yang telah menjadi salah satu pembicara sehari sebelumnya. Mereka bertukar beberapa kata. Saya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Saya memakai sepatu lari. Saya sudah merasa seolah jari kaki saya membeku. Sinar matahari menyilaukan. Karena cahaya menyilaukan, saya menaungi mata saya dengan tangan. Saya mengantuk. “Tidak banyak makalah yang dirilis dari Korea. . . ” Saya mendengar apa yang dia katakan. Saya bertanya-tanya bagaimana bisa ada kata-kata seperti itu yang membuatmu tidak memikirkan apapun.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang lebih sesuai?” Seseorang bertanya dari belakang.

Saya menoleh ke belakang. Dia adalah pembicara ketiga. Dia seorang novelis. Alih-alih mendengarkan tanggapan saya, dia berbalik ke samping dan mengambil gambar. Saya menunduk menatap sepatu hiking-nya. Saya pikir ini pertama kalinya saya melihat sepatu hiking dari dekat. Sinar matahari sama membutakannya seperti sebelumnya. Sebuah formasi granit terlihat. Batu granit yang tertutup salju seperti jamur raksasa atau piring terbang. Saya belum pernah melihat jamur raksasa atau piring terbang. Tetapi bahkan jika saya melihat jamur raksasa atau piring terbang, saya tidak akan berpikir bahwa mereka tampak seperti batu granit. Saya tidak punya sepatu yang tepat. Saya memikirkan teka-teki yang membuatmu memikirkan benda-benda serupa. “Mereka bilang ini batuan beku. .” Sekali lagi, saya mendengar apa yang dia katakan. Karena saya ingin mendengar apa yang terjadi selanjutnya, saya cepat-cepat menggerakkan kaki saya. Dan kemudian saya jatuh. Beberapa orang berpaling untuk melihat, dan beberapa dari mereka tertawa terbahak-bahak.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang tepat?”

Itu adalah kata-kata yang tidak ingin saya dengar. Saya berdiri dengan canggung dan menyapu salju. Umur saya tiga puluh tiga tahun dengan pikiran sehat dan tubuh yang membusuk. Atau justru sebaliknya? Dengan pikiran membusuk dan tubuh yang sehat. Tidak. Dengan pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat. Tidak. Begitu saya tergelincir dan jatuh, kata “bagasi” muncul dalam pikiran. Apakah ada sekop di bagasi? Apakah saya mengubur anjing dengan sekop? Apakah anjing itu mati? Apakah saya punya anjing? Saya mulai berjalan lagi. Orang-orang diam-diam berjalan di sepanjang sungai untuk beberapa lama. Sungai makin sempit dan sebuah tenda terlihat. Sepasang sepatu hiking berjajar di luar tenda. Saya ingin mencurinya dan melarikan diri. Tapi saya akan tergelincir dan jatuh sebelum saya bisa melarikan diri. Apakah sebelum saya mencuri sepatu hiking itu saya tergelincir dan jatuh, atau setelah saya mencurinya? Sebuah façade batu terjal terlihat. Saya tahu kata benda yang menggambarkan topografi semacam ini. Tapi saya tidak bisa mengingatnya. Apakah kamu tetap menyebut itu pengetahuan jika kamu tidak bisa mengingat pengetahuan itu? Tiba-tiba sebuah titik muncul di langit. Saya menatap langit melalui jari saya. Titik bergerak secara horisontal. Itu elang. Orang-orang bersorak. Seseorang mengeluarkan teropong. Bukan si cendekiawan. Kalau dipikir-pikir, dia tidak ada di sana. Dia mungkin tidak membawa pakaian musim dingin. Dia tidak akan mempertimbangkan untuk pergi mendaki dengan jaket wol dan mantel jas. Dia mungkin juga tidak membawa sepatu yang tepat. Saya tidak membawa sekop. Titik yang telah bergerak secara horisontal melonjak tiba-tiba. Bayangan elang menjadi noda kecil dan menyulitkan mata. Saya merasa bisa menulis fragmen berdasarkan ingatan hari ini. Tapi tidak banyak yang saya lihat. Seharusnya saya membawa sekop. Saya ingin menulis tentang kematian. Saya ingin melihat mayat binatang dengan mata kepala sendiri dan menulis tentang kematian, berdasarkan hal itu. Bagaimana rasanya melihat mayat manusia? Tapi berpikir bahwa saya ingin melihat mayat manusia untuk tulisan kecil saya terasa tak bermoral. Tapi ini juga berlaku untuk mayat binatang. Saya bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya tulis dan apa yang seharusnya tidak saya tulis. Saya tidak tahu bagaimana saya harus menulis dan bagaimana saya tidak boleh menulis. Tapi untuk waktu yang lama saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya ingin menulis sesuatu, entah tentang mayat seseorang, ingatan memalukan, masa kecilmu yang kejam, penyakitnya yang sulit, amnesia seseorang, pemikiran saya yang harus disalahkan, penyangkalan, atau kematiannya. Kalau saja saya bisa menulis satu kalimat saja. Kalau saja saya bisa memulai sebuah kalimat yang bukan berarti saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya melihat banyak kematian. Tapi saya tidak bisa menulis secara konkret tentang kematian mereka. Bukan berarti saya belum mencobanya. Begitu juga dengan kematian anjing itu. Mereka dan anjing itu meninggal secara abstrak. Dan mereka bertahan seperti kalimat yang telah ditulis dengan mudah. Bayangan elang jadi lebih kecil. Saya mendongak. Tapi saya tidak bisa melihat apapun, karena matahari menyilaukan. Lalu saya tergelincir dan jatuh lagi.

“Apa Anda tidak punya sepatu yang sesuai?” Seseorang bertanya.

Ini untuk ketiga kalinya saya mendengar pertanyaan itu. Mengapa orang bertanya tentang sesuatu yang bisa mereka lihat? Saya tidak datang dengan sepatu yang tepat. Saya tidak tahu apa sepatu yang tepat lagi. Pertanyaan apakah saya punya sepatu yang tepat terdengar seperti pertanyaan apakah saya bisa menulis kalimat yang tepat. Ini adalah kompleks inferioritas saya. Saya mengeluarkan sebungkus rokok. Orang yang menanyakan pertanyaan itu meminta rokok. Saya katakan itu rokok terakhir dan saya bertanya padanya apakah dia ingin merokok punya saya. Dia tertawa canggung dan menolak. Dia melihat pak yang penuh dengan rokok. Kali ini dia tidak bertanya tentang apa yang dilihatnya. Dan kemudian dia pergi. Dia berjalan ke depan. Seseorang berdiri di puncak berterika kalau es tidak membeku padat dan kita harus mendaki ke tepi sungai. Dengan cepat, orang-orang memanjat. Ini disebut columnar jointing. Fasad batu terjal dari sebelumnya disebut columnar jointing. Pikiran saya menyala sebentar. Tapi definisi kamus tentang columnar jointing tidak akan menjadi façade batu yang terjal. Ada batas kemampuan saya untuk mengungkapkan sesuatu. Jadi wajar kalau saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Saya merasa malu. Saya mengambil telepon saya dan menjalankan aplikasi kamus saya dan mengetikkan “columnar jointing.” “Jointing mengacu pada patah tulang di batu. . “Sebuah fraktur di batu. . . Saya mendengar suara es retak. Untuk sesaat, saya berpikir bahwa saya pernah melihat es retak sebelumnya. Dan untuk beberapa saat, saya tidak memikirkan apapun. Bukannya saya tidak berpikir—saya tidak bisa memikirkan apapun. Saya merasa kedinginan. Kali ini sensasinya lebih cepat dari pikiran saya. Tapi inilah pikiran saya yang mengatur sensasi. Saya melihat ke bawah. Kaki kiri saya ada di bawah es. Sementara saya mencari definisi kamus “jointing kolumnar,” sebagian besar orang telah naik ke tepi sungai. Mereka sepertinya tidak pernah mendengar saya jatuh ke sungai. Saya menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Orang-orang bergerak lebih jauh. Saya menarik kaki saya keluar. Ini menakutkan dan dingin. Tidak. Tidak ada sensasi. Lubang dingin masuk ke tubuh saya seperti jarum. Saya tidak memakai sepatu yang tepat. Umur saya tiga puluh tiga tahun dengan pikiran dan tubuh saya tidak yakin apakah masih sehat atau membusuk, dan kaki kiri saya membeku. Saya ingin memotong kaki kiri saya dan menguburnya di bawah es. Karena sungai mengalir di bawah es, potongan kaki kiri saya akan mengalir deras dengan arus sungai. Saya tidak membawa sekop. Tapi apakah saya mengubur anjing itu? Paling tidak, saya mengubur anjing itu dalam kalimat yang saya tulis dengan mudah. Orang-orang bergerak lebih jauh. Cabang pohon telanjang di bawah es tampak seperti pembuluh darah. Sebelum kaki kanan saya juga jatuh ke sungai, saya naik ke tepi sungai. Saya melepas sepatu dan kaus kaki yang tidak semestinya. Kaki saya berwarna biru dan merah dan putih. Saya harus kembali sebelum kaki saya membeku. Berapa lama jalannya kembali? Apa yang akan saya lihat saat saya melewati columnar jointing dan batuan granit lagi? Fraktur. Ini adalah kata yang aneh.

Lalu saya terbangun.

Matahari sepertinya sudah terbenam. Saya meraba-raba dinding dan menyalakan lampu. Kaki kiri saya terasa tertusuk dan perih. Tapi saya bisa menahan rasa sakitnya. Dalam mimpi, kaki kiri saya tidak perlu dipotong. Saya bahkan tidak jatuh ke sungai. Saya bahkan tidak melihat elang itu. Saya mengambil sepasang kaus kaki baru dan menariknya, lalu menarik sepatu saya yang masih basah. Saya mengemasi barang-barang dan keluar dari asrama. Kaki kiri saya perih. Orang-orang belum kembali. Begitu sepi. Saya mengambil kunci mobil saya dan menekan sebuah tombol. Lampu berkedip. Pembukaan pintu terdengar sangat keras. Saya memasukkan tas di jok belakang dan membuka bagasi. Ada sekop di dalamnya. Ada kotoran kering di sekop. Apakah saya benar-benar mengubur anjing itu? Jauh di dalam bagasi ada sekaleng bir. Saya mengambilnya dan mengguncangnya. Saya tidak mendengar ada cairan di dalamnya. Saya lupa kata “fraktur”. Saya sapu salju yang menumpuk di atas mobil dan duduk di kursi pengemudi. Saya menyalakan kunci kontak. Mobil tidak menyala. Saya coba lagi. Masih tidak menyala. Akinya mungkin mati. Saya berjalan kembali menuju asrama untuk mencari penjaga. Saat saya menekan bel di atas meja, dia muncul tak lama setelahnya. Inilah orang yang pernah saya lihat sehari sebelumnya. Tapi saya tidak ingat apakah dia adalah orang yang sedang berbicara di telepon atau orang yang sedang berbicara dengan orang yang sedang berbicara di telepon. Dia melirik saya dan berkata sebelum saya mengatakan sesuatu, “Akan sulit pergi ke Seoul. Saljunya tebal.”

Tetap saja, dia menyalakan mobil saya dengan benda yang tidak saya kenal.

“Jangan matikan mesin sampai sekitar tiga puluh menit.”

Saya ingin menanyakan nama benda itu, tapi saya menghentikan diri. Saat mobil menyala, radio menyala. Sebelum saya akan berterima kasih padanya, dia sudah berjalan kembali ke gedung. Saya mengecek jam. Pukul 7:43. Saya tidak bisa mematikan mesin sampai jam 8:13. Tapi tidak perlu mematikan mesin sebelum itu. Saya keluar dari tempat parkir dan melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, saya merasa harus mengeluarkan sekop dan membiarkannya di kursi penumpang depan. Tapi sudah terlambat. Saya merasakan firasat buruk. Saya mungkin harus menggunakan sekop untuk membersihkan salju. Salju ditumpuk lebih tinggi dari perkiraan saya. Ada timbunan salju di kedua sisi jalan. Jalannya sedingin es. Saya perlahan menuju jalan raya. Penunjuk arah terlihat. Jika saya belok kiri, itu menuju Sungai Hantan. Tiba-tiba, saya ingat kata “fraktur”. Ini adalah kata yang aneh.

Ketika saya kembali, saya harus menulis. Saya tidak perlu melakukannya. Tapi saya ingin. Tapi saya tidak akan melakukannya. Saya ingin menulis fragmen yang terdiri dari satu kalimat. Judul dari fragmen itu adalah “Fraktur.” Saya beruntung bahwa kaki kiri saya yang basah. Kaki kiri saya basah, tidak akan tahu persis kapan atau berapa banyak tekanan yang harus saya terapkan pada pedal rem. Tapi saya tidak memiliki cukup pengalaman berkendara untuk merasakan kapan waktu yang tepat atau berapa jumlah yang tepat, terutama di jalan yang dingin. Tapi saya sudah cukup merasakan bahwa kata “fraktur” tidak sesuai dengan judul. . . Cukup pengalaman, yaitu. . . Saya memutuskan untuk membuang “Fraktur.” Lalu bagaimana dengan “Jangan Matikan Mesin”? Sebuah cerita tentang bagaimana seseorang meninggal karena dia tidak bisa mematikan mesin mobil selama tiga puluh menit. Tidak. Mengapa saya selalu berusaha menulis kematian seseorang? Selain itu, tidak tepat untuk memakai “Jangan Matikan Mesin” sebagai judul cerita di mana seseorang terjebak di dalam mobil dan akhirnya mati karena dia tidak bisa mematikan mesin. “Matikan Mesin” mungkin lebih baik. Tidak. Judul ironis seperti “Jangan Matikan Mesin” mungkin lebih baik.

Saya maju ke jalan raya empat jalur. Tidak banyak mobil. Mobil-mobil di depan bergerak pelan. Ini kasus yang sama dengan lalu lintas yang lewat. Lampu depannya menyilaukan. Laporan lalu lintas terdengar di radio. Ini tidak menyangkut daerah tempat saya berada. Laporan tersebut mengatakan bahwa ada sebuah kecelakaan di Seoul Ring Expressway. Dikatakan bahwa ada kendaraan macet di Gangbyeon Expressway. Dikatakan ada kemacetan luar biasa di seantero Seoul karena hujan salju lebat. Saya memutuskan untuk membuang “Jangan Matikan Mesin.” Telepon saya berdering. Mungkin seseorang mencari saya, karena saya lenyap tanpa penjelasan apapun. Bisa jadi orang lain. Bisa jadi penipu. Ponsel saya ada di jok belakang. Saya mengulurkan lengan, tapi saya tidak bisa mencapainya. Saya melepas sabuk pengaman dan memutar, meraba-raba kursi belakang. Tapi saya tidak bisa mencapainya. Saya menyerah. Tanda peringatan sabuk pengaman berhenti. Kaki kiri saya sakit.

Saya memikirkan saat saya pergi ke Pulau Cheju. Di jalan sambil melewati Gunung Halla, saya mendengar ada banyak insiden mobil-mobil yang menabrak dan membunuh rusa. Saya menyetir sepanjang jalan itu, berharap bisa menabrak seekor rusa. Saya pergi sekali, dua kali, tiga kali. Tapi saya tidak melihat satu pun rusa. Saat itu musim panas. Ketika saya menurunkan kaca jendela, saya bisa merasakan angin yang lengket dan sejuk. Di arboretum, saya benar-benar melihat seekor rusa, atau sesuatu yang serupa dengan seekor rusa. Ketika saya lewat di lapangan golf, saya melihat sebuah rusa. Saya melihat dari jauh untuk beberapa lama, menunggu seekor rusa terhantam bola golf. Rusa itu segera lenyap ke hutan. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lihat. Saya tidak tahu apa sebenarnya yang ingin saya lihat. Bisa jadi saya sendiri yang ingin saya tabrak dan bunuh dengan mobil. Bisa jadi saya yang ingin terkena lemparan bola golf, membuat kepala saya bocor. Salju turun. Kepingan salju mendarat di kaca depan dan segera meleleh. Jendela berkabut. Saya menyalakan pemanas sampai titik penuh. Saya mengantuk. Tapi saya tidak boleh tertidur. Sudah tiga puluh menit belum. Sudah jam 7:59. Dengan cemas, saya menunggu sampai jam 8:00. Apakah semenit bisa begitu lama? Saya perlu melaju lebih jauh sebelum sampai ke pompa bensin. Di sana, saya akan makan sesuatu dan tidur sebentar. Saya akan bermimpi di mana saya menabrak dan membunuh seekor rusa. Dan dengan mimpi itu, saya akan menulis sebuah kalimat. Sekali lagi, mudah. Terlalu mudah. Kalimat tunggal yang mudah sekali.

Lalu saya terbangun.

Saya mendengar sirene dari jauh. Saya buru-buru memindai jalan di depan. Saya melihat plat mobil di depan saya. 1477. Ketika saya menambahkan jumlahnya, saya akan mendapat angka 19. Jam menunjukan pukul 8:00. Di radio terdengar lagu yang akrab. Saya tidak tahu nama lagunya. Sepertinya saya tertidur selama sekitar lima belas detik. Karena saya berjalan lambat, jarak yang ditempuh dalam lima belas detik tidak begitu bagus. Sirene semakin dekat. Datang dari belakang. Saya bertanya-tanya apa yang salah dengan orang yang berada di ambulans yang melaju di sepanjang jalan yang tertutup salju. Saya melihat ke belakang melalui kaca spion. Ambulans semakin dekat. Mobil-mobil di belakang terlihat seperti mereka tidak mau menyingkir. Pemandangan salju yang kulihat di Sungai Hantan terlintas dalam pikiran. Pemandangan semacam itu mungkin disebut hamparan salju. Tenda dan ranting pohon di bawah es. Bayangan elang dan puntung rokok. Sirene makin melengking. Saya menoleh ke belakang lagi. Ambulans semakin dekat. Mobil-mobil di belakang bergerak lamban keluar dari jalan untuk membiarkan ambulans lewat. Tiba-tiba, saya memikirkan kata “hamparan salju” dan tenda di tepi sungai dengan sepatu hiking di luar. Apakah sepatu hiking itu juga basah di sungai? Apakah pemiliknya telah mencoba mengeringkannya? Atau mungkinkah pemiliknya membiarkannya basah? Sesuatu yang tidak basah belum terikat untuk menjadi basah. Sesuatu yang belum mati pasti akan mati. Saya menginjak pedal gas. Peringatan sabuk pengaman mulai berpadu. Bunyi peringatan mengisi saat istirahat sangat singkat di sirene. Bunyi peringatan makin sering. Sirene dan tanda peringatan membuat konsonan yang mengejutkan. Telinga saya berderak. Mereka menusuk begitu banyak sehingga saya ingin mati. Itu bohong. Saya menoleh ke belakang lagi. Ada dua mobil antara saya dan ambulans. Saya pikir saya pasti menggunakan “Jangan Matikan Mesin” sebagai judulnya. Saya memutar kemudi ke samping. Saya tidak memiliki cukup pengalaman berkendara untuk mengetahui seberapa banyak saya harus memutar roda kemudi agar aman, terutama di jalan yang dingin. Saat memutar roda kemudi, saya pikir akan lebih baik memakai sabuk pengaman lagi. Jika peringatan berpadu tidak segera berhenti, maka sampai pada titik dimana saya ingin mati. Saya merasa seolah-olah saya telah melihat ambulans yang ada di belakang saya sebelumnya. Saya bisa melihat lampu merahnya meski saya tidak melihat. Sirene merah memenuhi penglihatan saya. Bahkan celaan peringatannya merah. Pada siang hari saya melihat hamparan salju. Sekarang di malam hari, saya melihat warna merah. Kepingan salju yang jatuh di kaca depan meleleh. Saya ingin menulis kecepatan itu dalam sebuah kalimat. Saya ingin menulis tentang kemerahan itu dalam sebuah kalimat. Berapa banyak kepingan salju yang kamu butuhkan untuk membuat timbunan salju? Seharusnya saya menghadiahi mata saya kepada siapapun; tidak mesti hanya cendikiawan. Saya ingin menghadiahi mata saya pada siapapun. Seharusnya saya mengeluarkan sekop dari bagasi. Seharusnya saya menggunakannya untuk mengubur diri saya sendiri. Tapi bagaimana mungkin saya, orang yang sudah mati, mengubur diri saya sendiri? Jika saya tidak menguburkan diri, siapa yang akan mengubur saya? Cahaya peringatan mulai bergejolak spasmodik. Saya tidak tahu apa peringatan itu adalah peringatan. Sudah terlambat untuk peringatan. Lebih cepat dan lebih cepat. Mesin tidak bisa dimatikan. Kaki kanan saya mencari rem. Kaki kanan saya tidak basah, tapi sudah terlambat. Lebih lambat dan lebih lambat. Kecepatannya lenyap. Saya suka kalimat yang kecepatannya lenyap. Saya akan menulis itu sebagai kalimat pertama saya. Sekarang setelah saya menulis kalimat pertama saya, saya ingin menulis kalimat berikutnya. Tapi apa yang saya lihat sekarang? Kemerahan menghapus kalimat saya. Saya menemukan bahwa ini menyedihkan. Tidak, saya seharusnya tidak menggunakan bentuk lampau. Siapa yang akan menulis kalimat saya jika saya meninggal? Siapa yang akan menulis kalimat saya yang tidak ada jika saya sudah meninggal? Bagaimana kalimat saya yang tidak ada bisa ada jika saya mati? Bagaimana saya mengubur kalimat saya yang tidak ada jika saya mati? Siapa yang akan membaca kalimat saya yang tidak ada jika saya mati? Lebih cepat dan lebih cepat. Lebih lambat dan lebih lambat. Kecepatannya lenyap. Ini lenyap bahkan sebelum kalimat yang telah kehilangan kecepatan bisa ada. Lebih cepat atau lebih lambat. Semua kecepatan adalah salah satu dari keduanya. Lebih keras dan keras. Lebih keras dan keras. Lebih keras dan keras. Suara mengalahkan kecepatan. Kemerahan makin mendekat. Semuanya merah.

*

Han Yujoo lahir di Seoul pada tahun 1982. Dia belajar sastra Jerman di Universitas Hongik, memperoleh gelar Master di bidang estetika dari Universitas Nasional Seoul, juga sastra komparatif di kampus yang sama. Dianggap sebagai anak liar dalam skena sastra avant-garde Korea Selatan.

Diterjemahkan dari 한탄 (Hanta), mengacu pada nama sungai. Selain itu, dalam kebudayaan Korea ada yang namanya ‘han’, istilah yang sulit diterjemahkan dan tak bisa dihayati non-Korea. Penjelasan singkatnya, ini adalah kemarahan sekaligus melankolia kultural orang Korea. Lebih lengkap bisa baca Amuk dan Hwabyeon: Kemarahan Kultural yang Mematikan.

 

 

Advertisements

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s