7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

film-cinta

Jika seorang yang enggak becus menendang bola boleh jadi komentator sepakbola, berarti enggak masalah dong orang yang payah kisah cintanya berbagi soal film cinta kesukaannya. Tentu, dengan wawasan film seadanya, daftar bikinan saya ini anggap saja kentut tak berbau. Boleh diamini, sangat boleh dilupakan. Dan tentang film cinta, lebih jauh soal cinta sendiri, nampaknya sebutan ini cakupannya luas. Film laga minim cerita pun ada kisah cintanya, meski kacangan. Jadi apa yang saya bicarakan ketika membicarakan film cinta ini? Jenis cinta yang mana? Hehe, mudahnya, anggap saja judulnya hanya sekadar clickbait, atau umpan klik. Katakanlah, kita duduk berdiskusi sampai berbusa-busa dalam satu meja sambil minum-minum, dengan gin dan tonik atau soju atau kopi, bahas soal cinta, dan ini enggak akan mengarah ke mana pun. Apa dengan menonton film-film ini kita bisa memahami cinta lebih baik? Hmm, saya adalah orang yang salah untuk ditanya. Baiklah, berikut filmnya.

Chungking Express (1994) – Wong Kai War

Antara film Hongkong, Taiwan, dan Cina daratan, nampak mirip, tapi secara kualitas, Hongkong terdepan. Film-film Hongkong keluaran 80-90an yang dibintangi Jackie Chan atau Stephen Chow, begitu akrab dan saya gemari saat masih bocah, bahkan sampai hari ini. Biasanya kisahnya soal polisi atau detektif. Ini juga yang diangkat Wong Kar Wai, berfokus pada dua polisi menyedihkan yang habis dicampakkan, dan patah hati berlarut-larut, namun kemudian keduanya jatuh hati pada lain perempuan; yang satu pada wanita misterius yang berbisnis dalam jaringan bawah tanah, satunya lagi jatuh cinta pada pelayan sebuah kios makanan yang pelamun, yang suka mendengar musik keras-keras. Selain Dreams-nya The Cranberries versi bahasa Mandarin (atau Kanton?), menarik mengikuti monolog interior para protagonisnya. “Jika kenangan bisa dikalengkan, apa bakal ada tanggal kadaluarsanya juga?” tanya si Polisi berkode 223 pada dirinya sendiri, “Jika iya, aku ingin bisa bertahan hingga berabad-abad.”

Tony Takitani (2004) – Jun Ichikawa, Haruki Murakami

Kalau saja Norwegian Wood digarap Ichikawa, mungkin enggak akan mengecewakan para fans Murakami sedunia. Andai saja begitu, tapi sayang dia keburu meninggal. Adaptasi dari cerita pendek berjudul Tony Takitani ini berhasil dengan cemerlang. Merayakan kehampaan dengan asyik. Kehampaan Tony Takitani. Karena namanya kebarat-baratan, Tony dijauhi oleh anak-anak lain dan menghabiskan masa kecil yang soliter. Meskipun berbakat sebagai seniman, gambarnya enggak punya rasa, sehingga saat dewasa, ia mengukir karier sebagai ilustrator teknis. Tony jatuh hati pada seorang wanita muda cantik, Eiko Konuma, yang mengunjungi dia di suatu hari untuk tujuan bisnis. Eiko seperti malaikat di kehidupan sehari-hari Tony, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa terhubung dengan dunia luar. Eiko sempurna, namun satu masalah: dia seorang shopaholic, selalu gemes pengen beli pakaian stylish. Filmnya sendiri mengangkat seluruh cerpennya. Tony Takitani, baik cerpen atau film adaptasinya, adalah sebuah puisi enak buat para masokis pecinta kehampaan dan kesendirian.

Wristcutter: A Love Story (2006) – Goran Dukic, Etgar Keret

Dua hari setelah aku bunuh diri aku mendapat pekerjaan di sebuah restoran pizza. Kalimat pembuka cemerlang sebuah cerita karangan Etgar Keret. Dan seperti dalam Kneller’s Happy Camper, sebagai film adaptasi, mengikuti sebagian besar kerangka novela nyeleneh itu. Berlatar di dunia orang mati yang diperuntukan bagi mereka yang bunuh diri, sebuah dunia tanpa senyum, dan membosankan. Sedih karena putus dengan Desiree, Zia menyilet pergelangan tangannya dan kembali hidup di dunia orang mati tadi. Secara kebetulan, Zia mendapat kabar bahwa Desiree bunuh diri juga beberapa bulan setelahnya. Ia melakukan perjalanan dengan Eugene untuk menemukan mantannya itu, dan di tengah perjalanan mereka menumpangkan Mikal, yang ingin protes karena percaya ada kesalahan yang membuat dirinya dihidupkan kembali di sini. Komikal, cerdas dan aneh. Semacam parodi tingkat lanjut bagi drama No Exit-nya Sartre. Cinta akan selalu ada, setelah kamu bunuh dirimu sekalipun .

The Science of Sleep (2006) – Michel Gondry

Dua tahun setelah Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Gondry bikin lagi film dengan tema pikiran bawah sadar, soal mimpi, dan kali ini lebih surealis. Jika yang pertama soal move on, kali ini soal pendekatan. Setelah kematian ayahnya di Meksiko, Stéphane Miroux, seorang pemuda pemalu, setuju untuk datang ke Paris untuk tinggal bersama ibunya yang janda. Dia mendapat pekerjaan yang membosankan di sebuah kantor pembuatan kalender dan jatuh cinta dengan tetangga sebelahnya yang cantik, Stéphanie. Tapi menaklukkan Stephanie bukan perkara mudah dan satu-satunya solusi yang Stephane lakukan adalah melarikan diri ke dunia mimpi. Brilian dan menghibur. Visualnya nyeleneh dan penuh hipnotis. Bernal, sebagai Stephane, begitu menawan dan komikal. Tentu, saya begitu bersimpati pada Stephane. Laju film ini indah. “Otak adalah hal paling kompleks di alam semesta,” ungkap Stephane, “dan itu tepat di belakang hidung!”

Babel (2006) – Alejandro González Iñárritu

Empat cerita saling terhubung berkat sebuah tembakan. Cerita yang kompleks dan tragis dari kehidupan umat manusia dari berbagai belahan dunia, dan bahwa kita sebenarnya enggak beda-beda amat. Di Maroko, pasangan suami istri yang berselisih paham sedang berlibur untuk mencoba mengatasi perbedaan mereka. Sementara itu, seorang gembala Maroko membeli senapan untuk anak-anaknya agar mereka dapat mengusir serigala jauh-jauh dari kawanan gembalanya. Seorang gadis di Jepang berurusan dengan penolakan, kematian ibunya, hubungan dengan ayahnya yang berjarak, kesadaran diri, dan cacat fisiknya beserta isu-isu lainnya berkaitan dengan kehidupan modern di kota metropolitan bernama Tokyo. Di sisi lainnya, pengasuh asal Meksiko yang harus mengurus dua anak dari pasangan suami istri yang sedang berlibur tadi, memutuskan membawa anak asuhannya itu ke pernikahan anaknya yang berlangsung di Meksiko, untuk kemudian hanya mendatangkan masalah saat perjalanan pulang. Dikombinasikan, keempatnya memberikan cerita yang kuat dan menampilkan bahwa kita, meski tampaknya acak, dengan kultur berbeda, di seluruh dunia ini saling terhubung.

A Separation (2011) – Asghar Farhadi

Berfokus pada pasangan kelas menengah Iran yang hendak bercerai, dan konflik yang timbul ketika sang suami menyewa pengasuh dari kelas bawah untuk mengurus ayahnya yang sudah tua dan menderita Alzheimer. Simin menggugat cerai suaminya Nader dengan harapan bahwa ia dapat membuat kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di luar negeri. Nader mempekerjakan Razieh, seorang wanita yang sudah menikah, yang menyembunyikan kehamilannya. Suatu hari, karena marah, Nader mendorong Razieh sampai dia keguguran, konflik pun makin mencuat. Seperti kata Leo Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dengan semangat besar dan kehalusan, Farhadi mengubah pertengkaran tak membahagiakan ini menjadi tragedi kontemporer memikat.

The Handmaiden (2016) – Park Chan-Wook

“Tahu apa kecoa soal cinta?” tanya Hideko mengejek lelaki Korea yang telah jadi suaminya, atau suami-suamiannya, yang dulu menjanjikan pernikahannya, atau nikah-nikahannya, bakal jadi pembebasan bukan penjara. Berlatar di Korea pada 1930an saat masa kolonial Jepang, film ini merupakan fantasi erotis tentang seorang ahli waris, pamannya yang sadis juga cabul karena doyan baca Marquis de Sade dan buku erotis lainnya, pembantu setianya yang sebenarnya cuma pura-pura jadi pembantu dan sang lelaki penipu ulung yang mengejar kekayaannya. Ah, saya enggak akan membocorkan ceritanya, yang pasti penuh tipu-tipu di film ini. Selain Train to Busan, di tahun 2016, film arahan Park Chan-Wook ini banyak menyedot perhatian. Inspirasi film ini sendiri adalah dari novel Sarah Waters, Fingersmith, tentang romansa thriller lesbian pada era Victoria. Sinematografinya ciamik, dan adegan ranjangnya sungguh bajingan.

 

Daftar macam apaan ini? Kok enggak ada 500 Days of Summer atau 5 Centimeters per Seconds?  Mana film ini? Mana film bikinan si itu? Film Indonesia enggak ada, nih? Bollywood mana? Cinta apaan, sih? Hehe. Bisa saja saya bikin daftar panjang sampai 100, tapi tetap ada banyak film yang belum saya tonton, dan akan ada banyak pula bermunculan film-film lain. Semoga di masa mendatang, ketika saya lebih arif, dan enggak terlalu malas, mungkin akan saya bikin daftar lainnya. Bagi yang merasa kecewa, silahkan bikin daftar sendiri, kasih saya rekomendasi film yang bagus, dan bagi yang berminat menonton film-film di atas, berterimakasihlah pada internet karena memungkinkan adanya situs berbagi.

Advertisements

14 thoughts on “7 Film Cinta Pilihan Suka-Suka Aja

    1. Wah belum banyak nonton cult classic macam Bunuel atau Bergman, cuman tau nama doang. Nonton film cuma kalau ga lagi sibuk nonton Youtube atau drakor.

      1. Eh tapi kalau dibandingkan dua itu, juga bakal Chungking sih yang kesebut. Pun Happy Together, walau bungkusnya cinta, lebih kerasa sepinya.

  1. Saya baru tahu kalau Tony Takitani ada filmnya 😌 saya cuma baca cerpennya. Menarik kayaknya dari cerpen dibikin film.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s