Setelah Suara Tembakan

soju

Terjemahan dari After the Gunshot dari Lee Ji Myung, mantan propagandis Korea Utara yang membelot ke Selatan. “Tidak ada ruang di Korea Utara bagi seorang individu untuk mempublikasikan hal-hal dari kehendak bebas mereka sendiri,” ungkapnya, dan merasa malu karena pernah menulis untuk kepentingan pemerintah.

Awan hitam berarak rendah dan gundah-gulana menghiasi langit, melimbang di atas aliran merayap sungai. Seperti biasa, Sungai Aprok bergema mengaliri jurang yang dalam. Air naik setelah badai datang tiba-tiba, dan tampak melimpah di bawah bulan yang berkilau.

Sebuah tembakan keras terdengar tidak jauh.

Saat suara tadi, seekor burung malam yang tengah tertidur di batang pohon willow mengepakkan sayapnya dan terbang, dengan terkaget, ke langit. Pada saat yang sama, seorang pemuda berpakaian hitam muncul di tepi sungai, terengah-engah.

Dia bersembunyi di balik batu, menahan napas, memandang cemas ke bawah sungai. Sekarang dia hati-hati melangkah keluar dan menuju ke dalam air. Saat ia melihat ke kedalaman sungai, matanya penuh ketakutan.

Dia terhenti selama satu detik. Bayangan-bayangan gelap bergerak maju di pegunungan yang barusan ia lalui, bergegas ke arahnya. Sorotan senter mengenai punggungnya dan sebuah suara nyaring berteriak, “Jangan bergerak!” Pada saat itu, keraguannya menghilang dan dia menceburkan diri ke air dan lenyap.

Bayangan-bayangan gelap tadi mengarahkan senternya ke dalam air yang mengalir tapi tidak bisa melihat lelaki tadi.

“Sial!” Pria berperut buncit, yang tampaknya bertanggung jawab, bersumpah keras dan menembakkan pistolnya ke udara. Bang! Tetapi gema itu ditelan oleh arus keras dari sungai.

Dikejutkan oleh keributan di sisi lain sungai, dua penjaga perbatasan yang sedang bertugas saling memandang seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang gila.

“Apa yang salah dengan bajingan itu malam ini?”

“Yah, dia menembak pistol, jadi dia jelas bukan penjaga perbatasan.”

“Kau mungkin benar,” kata yang paling tinggi. “Berani-beraninya bajingan itu menembak! Haruskah kita balas menembak?” Seolah-olah hendak menembak, pria tinggi mengangkat senapannya.

“Hei, kau gila? Kau tidak bisa menembak di perbatasan.”

“Nah, bajingan itu melakukannya, jadi mengapa kita tidak bisa?”

“Ke mana kau akan menembak? Ke dalam air? Ke udara? Pikirkan kembali.”

Untuk sementara, para pria di sisi lain terus berteriak. Kemudian, karena letih oleh usahanya, mereka berjalan pergi dan suara mereka memudar. Dua penjaga perbatasan mengawasi mereka sampai mereka menghilang, dan kemudian melanjutkan patroli mereka.

*

Di ruang sempit dekat pintu masuk ke jalan kecil tak jauh dari pinggir sungai, seorang perempuan jenjang dan benar-benar cantik menunggu dengan gelisah. Jang Sin-mi: tinggi dan cantik—itu namanya. Dia melirik jam di dinding: baru saja melewati pukul 3:00 pagi. Tapi dia terlalu takut meski hanya memunculkan pikiran untuk tidur.

Ruang kecil itu mempunyai dapur mungil dan tempat tidur yang menghadap dinding bagian dalam. Di sebelahnya terdapat kotak kayu besar. Sisanya, ruangan itu kosong. Ada dua tanda tempat itu dihuni: tas coklat di jendela, dan cermin kecil yang mungkin miliknya.

Dinding itu ditutupi kertas untuk menutupi dinding semen, dan beberapa pakaian tergantung di paku. Selimut terlipat di ujung tempat tidur, buatan Cina, dengan pola merak. Perempuan itu sedang menunggu seorang lelaki yang seharusnya sudah tiba. Kang Ki-su: seorang pria kuat—itu namanya.

Perempuan tadi mendengar suara tembakan dari tepi sungai dan suaranya masih tergiang di telinganya. Kang Ki-su harusnya sudah kembali dua jam yang lalu. Pada sekitar tengah malam, dia menyeberangi sungai dengan membawa ranselnya, sesuai kesepakatan.

Orang yang seharusnya menyerahkan lima belas kilo opium belum datang, pikirnya. Dan kemudian suara tembakan terdengar.

Tentu saja, ketika Kang Ki-su menyeberang, belum hujan. Badai yang datang sekitar satu jam setelah dia pergi benar-benar telah membuat air sungai meninggi, tapi dia adalah jenis orang yang akan tetap kembali dengan melintasinya. Dalam tiga puluh menit, pikir Jang Sin-mi, matahari akan terbit. Sin-mi merasa seperti ada yang terbakar dalam dirinya.

Sin-mi tidak pernah membayangkan bahwa menunggu seseorang bisa sesulit ini. Meskipun mereka belum menikah, hubungan mereka bukan sebatas teman. Ketika mereka pergi ke sini untuk menuju Hyesan, mereka selalu berbagi tempat tidur. Dua muda-mudi berusia dua puluhan berdarah panas tinggal bersama di sebuah ruangan kecil? Semua tetangga menganggap mereka sepasang sejoli.

Sin-mi sangat menderita. Dia tidak bisa memutuskan apakah dia harus pergi keluar atau menunggu lebih lama.

Mereka telah membuat satu aturan: tidak pergi ke luar pada malam hari. Tapi menunggu seseorang yang tidak datang-datang di ruangan gelap tanpa lampu menyala—sungguh tak tertahankan. Karena ia harus kembali, dan penantian ini menekan dada Sin-mi. Lebih buruk lagi, sebuah tembakan terdengar ketika ia seharusnya telah menyeberang! Itu bukan perkara kecil! Dan sekarang sudah dua jam sejak tembakan menyayat hati tadi terdengar dari sungai.

Seorang lelaki belum kembali, dan setelah suara tembakan! Mata Sin-mi lurus menatap pintu. Air mata menggenang dan mulai turun. Sesuatu pasti berjalan tidak sesuai rencana. Jika itu yang terjadi, ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi? Mereka melakukan ini berkali-kali dan selama bertahun-tahun, tapi belum pernah seperti ini. Dan sekarang, akhirnya. . .

Bahu perempuan itu mulai gemetar dan kemudian, namun bunyi berderit membuatnya terkejut, dan pintu terbuka. Sin-mi bahkan tidak menyeka matanya. Dia berlari ke arahnya.

Kang Ki-su, tubuh kuat itu basah kuyup, menatap kosong Jang Sin-mi dan membenamkan diri ke lantai. Mungkin dia kehilangan kesadaran. Dia menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali.

“Hei?” Air matanya menetes ke wajahnya, Jang Sin-mi memanggil dengan suara rendah, tapi tidak ada jawaban. Air dari tubuh Kang mengalir ke arah tungku yang menghangatkan ruangan dan Sin-mi bisa mendengar suara tetesannya.

Jang Sin-mi cepat menuju pintu dan menguncinya rapat. Lalu ia berlutut di samping Kang dan menatap wajahnya yang pucat. Kang bernapas. Sin-mi bangkit, mengambil sebotol minuman keras dari lemari di dapur, membukanya, dan hati-hati menuangkan beberapa tetes di antara bibir Kang. Minuman menetes sedikit, maka Kang meminum cairan itu dengan suara tegukan. Beberapa saat kemudian, Kang mengerang dan membuka matanya. Mata Sin-mi berubah cerah penuh sukacita.

“Tunggu sebentar,” kata Sin-mi. “Aku akan membantumu membuka pakaianmu.” Dia melepas baju yang robek-robek dan kotor itu. Ketika ia mencoba untuk membuka baju yang tertahan antara tubuh dan lantai, Kang bergeser sedikit untuk memudahkannya. Setelah Sin-mi sudah melepas celana dalam Kang, Sin-mi mengisi baskom dengan air hangat, membasahi handuk, dan dengan hati-hati mengelap tubuh Kang.

Kang lecet di beberapa tempat dan ada darah juga. Dengan kain, Sin-mi menyeka Kang sampai kering, kemudian merangkulnya untuk mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur. Kang langsung tertidur. Sin-mi meliputinya dengan selimut dan berbalik menuju kompor, dia menyalakan api. Dia mencuci setiap robek pakaian, menggantungnya pada tali yang membentang di seberang ruangan, dan kemudian mencuci beras. Dia memasukkannya ke dalam panci untuk dimasak.

*

Sebuah sarapan yang telat. Akhirnya, beberapa jam setelah fajar, Kang Ki-su bangkit dan pindah untuk duduk di meja rendah di tengah ruangan. Matanya masih kusam karena kelelahan. Sin-mi membawa botol minuman keras ke meja dan menuangkan beberapa teguk.

“Kamu harus ikut minum juga,” kata Kang.

“Jangan terlalu banyak. Aku begitu senang bisa menuangkannya untukmu.”

Sin-mi mengambil gelas lain dan meletakkannya. Kali ini, Kang Ki-su yang menuangkan.

“Cukup segitu, setengah saja.”

*

Saat Sin-mi menyentuh botol, dia tersenyum lebar. Pada siang hari, dia begitu cantik. Kau bisa melihat tak ada cacat, dan wajahnya betul-betul sebuah keindahan. Kulit Sin-mi mulus: Kang tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Itu wajah yang Kang kenal betul dan ia tidak akan pernah bosan karenanya, dan ketika Sin-mi memberengut pada Kang, ia tersenyum malu-malu dan memalingkan muka.

“Ayo, segelas lagi,” kata Kang. Sin-mi menyentuh gelas. “Baik.”

Sin-mi melihat lelaki itu saat ia minum lagi, menyesap seteguk, dan meletakkan gelas kembali. Itu adalah minuman keras yang kuat dan Sin-mi merasa panas di tenggorokannya saat minuman itu turun, meskipun dia cuma meneguk sedikit.

“Ngomong-ngomong, uangnya tidak basah,” kata Sin-mi.

“Bagaimana aku bisa membuatnya basah? Itu adalah hidupku.” Kang menyeringai. “Apakah kamu merasa lebih baik?”

“Ya. Apakah kamu khawatir bahwa aku akan mati?”

“Aku pikir aku yang sedang sekarat, karena hatiku begitu tertekan.” Sin-mi memberengut lagi.

“Bagaimana aku bisa mati ketika seorang gadis cantik sepertimu menungguku? Tidak masuk akal.”

“Kau serius?”

“Tentu saja. Apakah aku serius atau tidak, bagaimanapun, itu sesuatu yang penting. Maksudku, ketika ada seorang gadis menunggu.” Kang tertawa kecil. “Itulah sumber kekuatan lelaki.”

“Aku selalu akan menunggu selamanya. Tapi. . .”

“Ya?” Kang memandang Sin-mi sambil meletakkan sesendok besar ayam dan tahu rebus dalam mulutnya.

“Apa yang tadi itu . . . suara tembakan?”

“Ah—tak tahu kenapa mereka bisa menemukanku. Mereka menyudutkanku dan hampir menangkapku. Bagaimana mereka bisa tahu?”

“Mereka membuatmu terpojok?” Mata Sin-mi melebar.

“Aku rasa ini sudah berakhir. Sampai kita menemukan jalan lain.”

Kang mengangkat gelasnya. Dia mengguncang tetes terakhir ke dalam mulutnya. Sin-mi meminta, “Ceritakan apa yang terjadi.”

“Biarkan aku makan dulu, aku kelaparan.”

Sin-mi menyorongkan piring di meja. “Maaf. Ini, makan ini. Jangan kebanyakan minum.”

Sin-mi menatapnya dan tersenyum. Kang telah melewati kematian. Jika bayangan tebal kematian menutupi diri Kang, dan jika dia bisa menghindarinya karena seorang gadis penuh kerinduan sedang menunggunya, Sin-mi akan terus menunggu—bahkan jika itu untuk seumur hidupnya. Kang telah membuat jelas bahwa itu sesuatu yang penting. Sin-mi ingin menanamkan itu pada ingatannya.

*

Sin-mi berharap bahwa apa yang Kang katakan adalah sebuah janji, dan bahwa ia akan menepatinya. Sin-mi tahu mereka tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Dia tidak ingin terus-terusan berada dalam situasi aneh macam begini.

Di mana pun itu terjadi, Sin-mi ingin satu hari mereka memiliki tempat yang aman dan nyaman di mana dia bisa memegang kepala Kang dan hidup dengan lelaki yang dicintainya itu. Sin-mi membenci kehidupan ini. Kang telah mengatakan semua ini sudah berakhir, dan Sin-mi mengharapkan hal ini. Dia ingin Kang untuk memahami hal ini.

“Ini lezat. Sin-mi, kau koki yang hebat.””Beneran?”

“Tentu saja. Maksudku tidak ada yang akan menolak makanan, kan. Ini enak. Sini kucium.”

Bibir Kang masih basah oleh sup tetapi ia menekan bibirnya menuju pipi putih Sin-mi dan menciumnya dua kali.

“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa begitu bahagia setelah apa yang terjadi tadi malam.” “Huh. Apa gunanya memikirkan tentang itu? Lagi pula, itu memang kejadian sial tadi malam. Aku sudah menyalurkan barangnya dan punya uang dan sekarang ada di tasku. Mereka memintaku untuk tinggal untuk minum jadi aku setuju. Kemudian . . . ”

Kang berhenti sebentar dan meletakkan rokok di mulutnya. Sin-mi cepat menyalakan api untuknya. Kang mengisap dalam-dalam dan kemudian menghembuskan. Kang menggigil. Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya, kau tidak boleh minum bila kau sudah dapat uangnya. Dan selain itu, meski mereka sama-sama orang Korea seperti kita, mereka sudah tinggal bersama orang-orang Cina. Bagaimana bisa kau benar-benar mempercayai mereka? Jadi aku berkata aku akan ke kamar mandi dan menyelinap keluar dari pintu belakang. Maka kau tahu apa yang aku dengar dalam gelap? Bunyi kerikil, bergulir menuruni bukit curam.

“Pikiranku sedang dalam kondisi siaga tinggi dan aku punya firasat tiba-tiba. Lari. Jika aku tertangkap, bakal mati. Jadi aku berlari ke arah sungai. Mungkin mereka melihatku, dan mereka bahkan melepaskan tembakan saat mereka mengejarku.” Dia tertawa. “Tapi aku bisa pulang kembali kepadamu.”

Sin-mi menaruh tangannya di belakang leher Kang, dan menariknya ke arahnya. Dia mengusap pipinya yang lembut ke rambut Kang. Air mata menetes dari mata Sin-mi. Kang membungkuk ke arahnya dan berbisik ke telinga Sin-mi.

“Apakah kau tahu apa yang aku pikirkan ketika aku melompat ke dalam air yang gelap?” “Apa?”

“Ketika aku berada di bawah air, Sin-mi, kau muncul dan tertawa dan memanggilku. Kemudian aku harus fokus. Mungkin jika aku tidak sadar, aku bakal. . .”

Kang ketakutan, dan ia memeluk Sin-mi lebih erat.


Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s