7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya

film-about-writer

Merencanakan dan berkhayal memang mudah, inginnya bisa merampungkan naskah fiksi, meski dengan menunda skripsi, mengirimkannya ke sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, bisa masuk tiga terbaik, dilirik untuk kemudian diterbitkan Gramedia atau Bentang Pustaka, lalu mereka pajang di rak-rak toko buku bagian sastra, yang mana merupakan destinasi paling sunyi di Indonesia, meski hanya dapat royalti yang enggak seberapa, tapi karenanya bisa dapat kesempatan diundang Ubud Writers Festival atau gelaran lainnya, juga peluang agar novel tadi masuk perpustakaan pribadi Viny. Rencana indah, dan begitu kapitalistik oportunis. Berkhayal sudah tentu enak, syarat utama timbulnya ereksi, seenggaknya pas coli. Bercita-cita jadi penulis adalah suatu kesalahan. Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, sebut Goenawan Mohamad, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Nah, berikut beberapa film yang memperlihatkan kehidupan para penulis beserta keresahan-keresahan yang dihadapinya, saya pilih suka-suka dengan batasan media 2000an ke atas dan hanya tujuh judul.

Before Night Falls (2000)

Diangkat dari autobiografinya Reinaldo Arenas, penyair dan novelis asal Kuba, yang mengisahkan masa bocahnya di Oriente sampai kematiannya di New York. Arenas ikut dalam pemberontak yang membuat Fidel Castro naik jadi presiden. Namun saat iklim politik pemerintah Castro memanas, justru berkat tulisan dan homoseksualitasnya, Arenas harus mendekam di penjara selama dua tahun. “Perbedaan antara sistem komunis dan sistem kapitalis adalah bahwa ketika mereka menendang pantatmu,” keluh Arenas dongkol, “di sistem Komunis kau harus bertepuk tangan, dalam sistem kapitalis, kau boleh berteriak.” Dalam film besutan Julian Schnabel ini, Arenas diperankan oleh Javier Bardem, dan ini sangat tepat. Selain itu, cameo dari Sean Penn dan Johny Depp, yang jadi bencong, adalah sesuatu yang jangan dilewatkan.

Finding Forrester (2000)

Seorang penulis muda secara kebetulan mendapatkan mentor seorang penulis senior, yang tertutup. Jamal Wallace dan William Forrester akhirnya menjalin pertemanan, yang mengarahkan Forrester untuk mengatasi sikap tertutupnya dan Jamal untuk mendobrak prasangka rasial, juga untuk mengejar impian sejatinya; menulis. “Jangan berpikir – itu nanti saja. Kau harus menulis draft pertamamu dengan hati. Baru kau tulis ulang dengan kepala,” Forrester memberi nasihat. “Kunci pertama menulis adalah menulis, bukan untuk berpikir!”

The Squid and The Whale (2005)

Bernard adalah seorang akademisi universitas juga penulis yang kariernya dekaden, yang pencemburu dan egois, yang merasionalisasi setiap sikap dalam keluarga dan hidupnya dan enggak terima para ‘philistine’–orang yang enggak baca buku atau nonton film, sedangkan istrinya Joan ikut menjadi penulis dan sukses namun enggak punya masalah dengan para ‘philistine’. Anak-anak mereka, Walt si pemuda tanggung dan Frank yang masih bocah, menjadi terpisah dan saling mengambil sisi: Walt dengan Bernard, Frank dengan Joan, dan keduanya terpengaruh dengan perilaku abnormal. Kisah dalam film ini terinspirasi dari kisah hidup sutradaranya, Noah Baumbach. Lagi-lagi ada Anna Paquin di sini, masih berperan sebagai penulis muda yang sedang belajar seperti di Finding Forrester, namun banyak nakalnya.

Reprise (2006)

Philip dan Erik telah lama memimpikan ketenaran sastrawi, tetapi ketika mereka mengirimkan naskah pertama mereka, jalan mereka menjadi berlainan. Naskah Erik ditolak sementara Philip diterbitkan, dan sukses, yang membuatnya jadi seleb dadakan. Plot sendiri berupa coming-of-age, dipenuhi dengan ansietas, musik punk dan rock n roll, kisah cinta romansa anak muda, dan pastinya literasi bercampur depresi.

| Lihat: Saudara Seliterasi

Midnight in Paris (2011)

Bisa ngobrol sama Ernest Hemingway dan Scott Fitzgerald dan penulis Lost Generation lainnya, juga naskah novel kita ditangani langsung Gertrude Stein tentu mimpi paling indah bagi para penulis. Lost Generation sendiri adalah kumpulan seniman di era setelah Perang Dunia I, sebutan yang dipopulerkan Hemingway. “Jika kau seorang penulis, anggap dirimu penulis terbaik,” ungkap Hemingway menasehati, “tapi tidak kalau sedang ada aku.” Film dari Woody Allen ini bercerita tentang Gil yang seorang penulis sukses skrip Hollywood namun masih susah payah dalam menyelesaikan novel perdananya. Gil ikut perjalanan bisnis orangtua pacarnya ke Paris, jatuh cinta dengan kota tersebut, dan mengusulkan agar setelah menikah bisa pindah ke sini, namun pacarnya enggan, juga enggak setuju gagasan Gil yang menganggap Paris di tahun 1920an, era saat Lost Generation eksis, adalah masa emas. Saat tengah malam, Gil sengaja pulang dengan berjalan kaki, untuk mencari inspirasi, dan secara ajaib Gil ditarik ke masa lampau impiannya tadi. Namun Gil sadar, nostalgia adalah sebuah penyangkalan, menganggap era sebelumnya lebih baik ketimbang hari ini hanya sejenis imajinasi romantis bagi orang-orang yang sulit untuk beradaptasi dengan masa kini.

Ruby Sparks (2012)

Calvin merupakan seorang novelis yang sukses dengan karya perdananya sedang dalam perjuangan melawan writer’s block untuk merampungkan karya keduanya. Calvin iseng menuliskan dengan mesin ketik manualnya mengenai Ruby, gadis yang datang dalam mimpinya. Dia enggak bisa percaya matanya, karena keesokan harinya, Ruby menjadi orang yang nyata, betul-betul eksis dan mereka berdua mulai menjalani hubungan yang indah. Jika hubungan ini enggak sempurna, yang harus Calvin lakukan cukup mengetik kata-kata di naskah tadi dan perilaku Ruby berubah menjadi apa yang Calvin inginkan. Yang namanya ‘terlalu’, pasti berakibat buruk, apalagi jika ditambahkan pada kata ‘sempurna’, karena ini hanya milik surga. Calvin dan Ruby sendiri diperankan pasangan yang memang sudah berkencan lama, Paul Dano dan Zoe Kazan.

Kill Your Darling (2013)

Menjadi “Beat” adalah pilihan gaya hidup yang memisahkan seseorang dari iklim Amerika tahun 1950an yang konformis di bidang kebudayaan, represif dalam soal seksualitas dan reaksioner di bidang politik. Gaya hidup ini tercipta berkat adanya Beat Generation, sekelompok penulis yang bertemu di Columbia University, yang dikisahkan dalam film ini. Berpusat pada insiden pembunuhan yang dilakukan Lucien Carr, aktor kunci dalam terbentuknya geng Beats tadi, film ini mengambil versi dari novel And the Hippos Were Boiled in Their Tanks yang ditulis Jack Kerouac dan William S. Burroughs. Daniel Radcliffe berperan jadi Allen Ginsberg, penyair penting dari Beats, yang dikisahkan menjadi mahasiswa baru di Columbia University tadi, namun merasa jenuh dengan perkuliahan, dan menemukan dunia baru bersama Carr, Kerouac dan Burroughs.


5 thoughts on “7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s