Di Atas Trem, Franz Kafka

tramstaromak

Aku berdiri di ujung peron trem dan aku benar-benar tak yakin akan pijakanku atas dunia ini, di kota ini, dalam keluargaku. Bahkan tidak biasanya aku menyadari kalau diriku sedang bergerak ke arah apapun. Aku bahkan tidak punya pembelaan untuk diajukan kenapa bisa berdiri di platform ini, berpegangan pada ambin, membiarkan diriku terbawa oleh trem ini, atau pada orang-orang yang memberi jalan untuk trem atau berjalan dengan tenang di pinggir jalan atau berdiri menatap ke jendela-jendela toko. Tidak ada yang memintaku untuk membuat pembelaan, memang, tapi ini sungguh tak biasa.

Trem mendekati tempat pemberhentian dan seorang gadis mengambil posisinya dekat pijakan tangga, bersiap untuk turun. Gadis itu begitu intim seolah-olah aku telah merasainya dengan tanganku. Dia berpakaian hitam, lipatan roknya bergantung-gantung, blusnya ketat dengan kerah putih berenda halus, tangan kirinya disandarkan pada sisi trem, payung di tangan kanannya bertumpu di puncak tangga kedua. Parasnya coklat, hidungnya, sedikit kurus di bagian sisinya, namun lancip agak lebar ke ujung. Dia punya rambut cokelat lebat dan beberapa sulur menjuntai di pelipis kanan. Telinganya mungil, tapi karena aku berada dekat dengannya aku bisa melihat seluruh ulir di telinga kanannya dan bayang uratnya.

Pada saat itu aku bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana mungkin dia tidak heran pada dirinya sendiri, bahwa dia terus menutup bibirnya dan tidak mengeluarkan semacam pendapat?

*

Judul asli Jerman adalah “Der Fahrgast”, yang berarti penumpang. Cerita berfokus pada gambar ketidakpastian keberadaan dan tujuan seseorang di dunia, dengan nada yang kontemplatif dan eksistensial. Sang narator tidak mengerti akan dirinya sendiri di dunia, namun anehnya ia merasa memahami begitu jelas si gadis yang ia lihat sekilas di trem. Franz Kafka sendiri adalah penulis novel dan cerita pendek yang dianggap sebagai salah satu tokoh utama sastra abad ke-20. Tema yang diangkatnya sering menjelajahi soal keterasingan, kecemasan eksistensial, rasa bersalah, dan absurditas hidup.


4 thoughts on “Di Atas Trem, Franz Kafka

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s