Hama-Hama Penggerutu

1

Situasinya seperti dalam Perjamuan Terakhir. Belalang sembah, kecoa, walang sangit, kepinding dan beberapa serangga duduk melingkar, mencicipi roti dan anggur dan aneka hidangan yang tersedia di atas meja panjang, sambil memperbincangkan beragam soal; bagaimana mengatasi bencana kelaparan di Afrika sana? kenapa sih ada orang yang harus menderita? kenapa harus hidup, lalu dibuat menderita? apakah Tuhan itu seorang sadis? Hey, sahut si kecoa, ngapain kita ngomong ginian segala? Dasar pandir, gertak belalang sembah, sudah berkali-kali kujelaskan, kau memang enggak nyata, aku enggak nyata, kita enggak nyata, kita semua adalah arus kesadaran, tugas utama kita cuma untuk terus mengoceh. Hmm, gitu ya, timpal kecoa dengan mulut penuh remah roti, rasanya pernah dengar, tapi lupa lagi euy. Memang kau bajingan dungu, balas belalang, sampai masyarakat tanpa kelas tercipta di dunia pun kau akan selalu lupa. Ngomong-ngomong soal masyarakat tanpa kelas, walang sangit bersuara, rasanya lebih mudah membayangkan gagasan soal kiamat ketimbang ide bahwa kapitalisme akan runtuh. Apa yang salah dengan kapitalisme coba? tanya kepinding menantang, bisa ada yang namanya Indomie, beragam produk Nestle, dan yang terbaik: video porno. Jangan lupa Bigo Live, kecoa cengengesan. Kepinding terbahak, memuntahkan anggur yang baru diminumnya. Mesum, desah ulat bulu. Pernahkah kalian membayangkan kalau kita seperti dalam adegan cerpen What We Talk About When We Talk About Love-nya Raymond Carver, si kutu buku ikut bicara dengan terbata-bata. Dia memang kutu buku, dalam arti harfiah. Kecoa bersendawa. Kita ini Gorosei dalam manga One Piece, sergah kepinding, para tua bangka yang enggak mau lepas merecoki dunia. Kali ini aku setuju denganmu, wahai bangsat penghisap darah, balas walang sangit pada kepinding, One Piece sebuah karya agung, Eichiro Oda lebih pantas dapat hadiah nobel ketimbang Haruki Murakami. Pemenang nobel sastra tahun ini kemungkinan besar Philip Roth, si kutu buku kembali bersuara, malu-malu. Anggur terus penuh, makanan tak berkurang sedikitpun, meski para serangga itu melahap begitu rakus. Mulut mereka terus berbusa, mendesis. Begitu terus. Enggak mengenal apa-apa kecuali mengoceh, mengoceh, mengoceh, dan mengoceh. Dengan bahasan yang silih berganti. Musyawarah berkepanjangan tanpa kata mufakat. Hari Minggu atau hari libur nasional, siang juga malam, enggak ada dalam kamus para serangga yang hinggap di kepala saya. Para serangga itu terus berpikir, berwacana, berdebat, membuat beragam perhitungan, yang hanya akan berakhir jadi berak, juga beragam kebijakan yang merugikan sang pemilik ruang rapat itu. Jadi, maaf kalau saya jarang bersuara, dalam kepala ini sudah terlalu bising.

2

Saya bolak-balik membuka CorelDraw dan Google, dan memutuskan untuk memakai sebuah kutipan dari Anton Chekov. Bukan ide yang buruk, malah brilian, sebab dia sastrawan besar sekaligus dokter. Cocok dicatutkan dalam banner yang diperuntukkan di RSHS yang sedang saya garap. Terpikir pula untuk memakai puisi dari Walt Whitman, penyair besar dan pembaharu sajak bebas, juga pernah jadi perawat. Tapi Chekov sudah pas. Sebuah kutipan pasaran, yang pasti sudah sering didengar: Pengetahuan tak punya makna jika Anda tidak mempraktikkannya. Saya masyuk di depan laptop di kamar indekos di lantai dua di daerah Sukajadi. Ada Chandra, Bagus, dan Bila. Datang Dila membawa penganan ringan, Bila turun ke kamarnya, meninggalkan pacarnya Bagus yang anteng main Dota 2, dan saya beres mendesain tugas Chandra, untuk kemudian dilanjut membantu Dila. Saya terus menatap layar laptop. Tong serius-serius teuing, Rip, sergah Bagus. Biasa golongan darah A mah perfeksionis, tambah Chandra. Oh pantesan skripsi ga selesai-selesai, ya, timpal Dila. Buruan lulus ih, tambahnya. Nungguan si Eza, sih, jawab saya singkat, membawa-bawa orang Sukabumi itu yang saya enggak tahu sekarang kabarnya gimana. Bukan soal skripsi saja, masalahnya saya punya hobi untuk menunda dan enggak menuntaskan beragam hal. Serangga-serangga itu biang keladinya. Ya, ya, ya, mengambinghitamkan yang lain-lain atas kegagalan kita memang sungguh mudah, dan inilah masalah saya lainnya. Serangga keparat. Menjelaskan bahwa ada semacam dewan pemikir di kepala saya, bahwa ada serangga-serangga penggerutu, bahwa mereka menggunakan semacam algoritma menyesatkan dalam pengambilan keputusannya, dalam arti berpikir enggak seperti orang kebanyakan, bahwa para hama itu terus merongrong dalam tempurung ini, sudah bisa membuat saya dibawa ke RSJ Cisarua dengan diagnosis skizofrenia. Sebenarnya ada solusi untuk mengatasi para hama penggerutu dalam kepala ini, yang dibutuhkan hanya latte yang dicampur pestisida.

3

Sudah lebih dari puluhan kali. Red velvet latte, pesanan yang saya minta racik, belum jadi-jadi. Saya bilang ini akan jadi tren baru, sudah terbukti di Australia. Salah saya juga, sih, cuma modal menyuruh, dan enggak ikut membantu. Red velvet latte, mungkin sama halnya seperti Hama-Hama Penggerutu dan Kisah Menjengkelkan Lainnya, secara gagasan memang seru dan menjual, tapi yang namanya gagasan adalah gagasan. Hamdan, yang enggak pernah kehabisan perilaku antik dan beribu gagasan cemerlang, memang layak diabadikan jadi patung lilin di Museum Madame Tussaud. Saya pernah menerangkan pada Hamdan dan Vecco, soal penelitian yang menunjukkan adanya kesamaan antara orang yang sangat kreatif dan dengan skizofrenia. Hanya orang gila yang dianugerahi beragam delusi dan imaji. Gagasan sebagai suatu yang imajiner enggak salah memang. Jorge Luis Borges pernah menulis ensiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner, lalu Italo Calvino dengan kota-kota imajinernya, kemudian berangkat dari gagasan ini, Roberto Bolano membuat daftar penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di daratan Amerika. Rasa-rasanya para serangga dalam kepala saya punya banyak ide untuk membikin sebuah buku tentang buku-buku imajiner, dan Hama-Hama Penggerutu dan Kisah Menjengkelkan Lainnya sudah tentu ada dalam daftar. Saya pun pernah iseng bikin cover Wendy dan Seribu Satu Kisah Pendek Lain, baru ada satu cerpen, dan jelek, meski ada entah kenapa ada yang tertarik untuk menerbitkannya kalau jadi. Ya, pada akhirnya akan berakhir jadi gagasan.


8 thoughts on “Hama-Hama Penggerutu

  1. Ya ampuuun… isi kepala kamu tuh udah kayak taon baruan: meriah!! 🎇 Atau kayak pasar malem yang juga ga kalah meriah.. Hheee….
    Seru-seru…. Si kutu buku, si belalang sawah trus si-si yang lainnya pada punya opini dan wacana-wacana yang cihuiii,, tapi bener siih, semuanya kejadian di otak aja, jadi tinggal yang punya kepala yang kepusingan hhaaa..
    Hah! Komen saya absurd, maaf… Tapi makasih udah mention Chekov, Murakami dan Carver. Yang terakhir ini nama baru buat saya, dan pengen banget baca ceritanya What When We Talk About When We Talk About Love..

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s