Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

Aku pikir video game lebih dekat dengan fiksi ketimbang apa pun hari ini, sebut Haruki Murakami. Video game? tanya pewawancara dari The Paris Review. Iya, jawab Murakami. Aku sendiri enggak suka main video game, tapi aku menemukan kesamaan. Kadang-kadang ketika aku menulis aku merasa aku perancang video game, dan pada saat yang sama, sang pemainnya. Aku membuat program, dan sekarang aku di tengah-tengah itu; tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Ini jadi semacam proses memperasingkan diri.

Pandangan ini diamini oleh Salman Rushdie, seperti yang dijelaskannya di Video Games and the Future of Storytelling, bahwa video game memungkinkan pemainnya jauh lebih leluasa dalam memilih jalur yang mereka ambil melalui narasi. Seperti cerita The Garden of Forking Paths-nya Jose Luis Borges yang menawarkan beragam kemungkinan dari variasi narasi, jelasnya

Jika berbicara video game, maka Korea Selatan adalah jawaranya, sebut penulis New York Times, Seth Schiesel, seperti dilansir dalam The Land of the Video Geek. Baik dari segi memainkan, juga dalam merancangnya. Menjadi gamer saja bisa jadi profesi. Sebagai gamer juga, tentu saya kenal betul betapa banyaknya game-game rancangan mereka, dari mobile sampai konsol. Saya pernah bercita-cita jadi pro gamer, kalau enggak jadi game developer. Nah, lewat web drama Game Dev Girls ini, kita bisa menengok kantor perancang video game.

Selain karena bertema video game, alasan lain kenapa saya suka serial ini tentu saja karena aing fans Red Velvet garis keras. Lewat Game Dev Girls ini menjadi akting debut seorang Irene yang berperan sebagai Ahreum, pemrogram geek berkacamata bulat di sebuah kantor perusahaan video game. “Irene benar-benar memiliki visual seorang aktris. Aktingnya juga bagus!” komentar salah seorang netizen. “Ini adalah pertama kalinya dia mencoba berakting, tapi menurutku dia sangat bagus. Dia juga terlihat cantik dengan atau tanpa kacamata,” tulis netizen lainnya.

irene rv game dev girls

Web drama Game Dev Girls ini sendiri merupakan adaptasi dari webtoon yang diputar dari 25 Juli 2016 oleh Naver TV Cast. Total ada ada 11 episode, dengan durasi kurang dari sepuluh menit tiap rilisnya. Ceritanya seputar kantor perancangan game, di episode pertama dibuka dengan gambaran para pekerja yang telah lembur dalam proyek selama lima bulan–sampai enggak tahu sudah malam atau siang karena enggak ada jendela di kantor, namun tiba-tiba investor memutuskan untuk membatalkan. Meski sudah berjalan dua tahun, perusahaan game ini belum pernah meluncurkan satu game pun. Cerita utamanya sendiri tentang Gom Gaebal, satu-satunya pekerja lelaki di kantor tersebut, yang jatuh hati pada Ahreum tadi. Siapa sih yang bakal tahan jika bekerja siang malam satu meja berhadapan dengan seorang yang secantik Irene?

Selain Ahreum dan Gaebal, ada pula Marshmell yang bekerja di bagian desain animasi. Tak lupa, Kihye sang kepala tim cantik dan intelek namun mesum yang sudah bergelut selama tujuh tahun lamanya di industri game namun belum pernah sekalipun meluncurkan game. Kihye punya cita-cita mulia untuk menciptakan sebuah game dewasa.

Sebagai komedi romantis, webdrama ini memunculkan lelucon samping pada adegan klise dalam drakor; jadi cantik ketika membuka kacamata, terjebak di lift, ruangan yang tiba-tiba mati lampu, dan cinlok pada rekan kerja. “Ah, ini klise kayak di drama-drama, tapi tak mengapa,” komentar Gaebal saat terjebak di lift bersama Ahreum. Juga beberapa dagelan yang mengacu pada video game dan Red Velvet.

Tonton di Dailymotion ReVelUp Subs

Meski bergenre komedi romantis, sampai episode terakhir enggak ada kisah romansa menye-menyenya–sesuatu yang justru saya sukai. Kita diajak menertawakan betapa menyedihkannya Gaebal yang socially awkward itu, yang kebanyakan mikir, yang selalu gugup berbicara sama cewek, apalagi untuk mengungkapkan perasaannya, dan yang paling parah, karena enggak punya pacar, dianggap lebih doyan sama cewek 2D. Ya, ya, aing banget ini mah.

Tapi saya selalu optimis, seperti disebutkan dalam meme 9gag: mungkin jodohmu itu sama seperti dirimu, sama-sama hobi mendekam diri seperti dirimu, makanya enggak ketemu-ketemu. Saya juga setuju dengan pandangan visioner Murakami dan Rushdie, video game akan menjadi kunci, seperti layaknya Pokemon Go yang dikabarkan jadi semacam biro jodoh, karena sukses mempertemukan dua hati, mengubah fiksi jadi realita. Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk, ungkap Gustave Flaubert, kita butuh mengungsi ke dunia lain. Harvest Moon dan Grand Theft Auto contohnya.


9 thoughts on “Game Dev Girls: Sebuah Usaha Merancang Video Game

  1. mungkin jodohmu itu sama seperti dirimu, sama-sama hobi mendekam diri seperti dirimu, makanya enggak ketemu-ketemu. -> ngajleb pisan

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s