Enaknya Tinggal di Desa

“Enak tinggal di desa,” tegas Ishak, “apalagi bagi pengarang. Itu rupanya maka Tolstoy tinggal di desa.” Sebuah bacotan dalam ‘Kejahatan Membalas Dendam’, naskah sandiwara karya Idrus yang bercerita tentang kegalauan penulis muda yang dihantam kritik dari ayah kekasihnya yang notabene penulis senior, kemudian memutuskan untuk bersemedi sementara di pedesaan. Awalnya hanya sebagai eskapisme, tempat sementara pelarian diri, tapi justru malah kerasan dan enggak mau balik lagi ke kota halamannya. “Kota-kota besar penuh dengan kejahatan. Beratus-ratus musuh dalam selimut,” keluh Ishak menolak untuk kembali ke Jakarta, tetap melanjutkan pekerjaan menulis sampai larut malam, dan ketika pagi sampai siang membantu petani mengurus sawah.

Begitupun yang dialami Ichiko dalam film Little Forest. Seorang wanita yang tinggal di kota besar, tetapi kembali ke kampung kecilnya di Komori, yang terletak di sebuah gunung di wilayah Tohoku. Dia hidup mandiri. Ichiko mendapat gairah energi berkat hidup berdampingan dengan alam dan lewat makan makanan yang dia buat sendiri dari bahan-bahan musiman. Film adaptasi dari manga karya Daisuke Igarashi ini menyajikan sinematografi ciamik, yang menampilkan asrinya suasana pedesaan di Jepang ditambah kecantikan Ai Hashimoto yang memerankan Ichiko tadi. Sungguh keindahan visual mana lagi yang bisa kamu dustakan?

Little Forest lebih seperti sebuah dokumenter, bahkan bisa dibilang video instruksional cara-cara hidup di desa, utamanya bertani, dan memasak. Dua film yang dibagi lagi jadi empat musim; dari summer, autumn, winter, sampai spring, yang membuat saya mengenang kembali masa-masa saat masih tinggal di Mineral Town. Jika pernah mencicipi masa-masa keemasan PlayStation generasi pertama, pasti hapal sama game video legendaris ini, yang paling menyita waktu dan perhatian, apalagi kalau bukan Harvestmoon: Back to Nature!

Antara masih di Bandung, sudah bukan di Bandung, ngerasa di Bandung, ngaku di Bandung. Memang saya berada di Bandung, tinggal di pedesaannya, enggak seterpencil Komori atau Mineral Town sih. Seperti dalam lukisan mooi indie, kampung halaman saya ini masih banyak terbentang padang sawah. Paling cepat butuh setengah jam, jika tanpa macet, untuk sampai ke Bandung (kota). Berdasar pengalaman, pergilah lebih pagi dan pulang lebih malam, agar enggak ketemu sama yang namanya macet di batas kota.

Sebuah Parabel

Buat Dan & Arlene

Orang-orang mendaki gunung, memahat batu

dan pulang senja hari;

orang-orang berlayar ke laut, menangkap ikan

dan pulang sehabis badai;

orang-orang berangkat ke hutan, menebang kayu

dan pulang dengan beban yang berat;

dan orang-orang masuk kota, menjerat angan-angan

tak seorangpun pulang kembali.

Seperti puisi Ajip Rosidi tersebut, sejak dulu kota telah dianggap sebagai sumber kegemilangan. Sukses, yang dicirikan dengan duit melimpah, hanya bisa kamu dapatkan bila pindah ke kota. Memang, kamu bisa mendapatkannya di sana, sekaligus terjerat dalam rutinitas penuh penat, juga alienisasi. Dan sayangnya, kamu berakhir hanya bisa mengeluh. Jika beruntung, hanya saat hari merah mungkin kamu bisa vakansi keluar dari kotamu.

Ada pengalaman paling menarik soal tinggal di desa adalah saat menetap sebulan di Tasikmalaya saat program KKN 2014 silam. Ini benar-benar desa, dan seperti sedang bermain Harvest Moon, meski saya kebanyakan tidur bukannya kerja.

“Tidak perlu tinggal di desa. Jika hendak bebas, di kota pun dapat juga,” tukas Satilawati. Tolstoy pun sesekali pergi ke kota juga, tambahnya. Tapi Ishak tetap keukeuh pada pendiriannya, namun juga menyetujui pendapat kekasihnya itu, “Buat sementara waktu, ya. Sebab sekarang hanya desalah yang dapat memberi kebebasan kepadaku. Akan tetapi, nanti … entah kapan … aku percaya, kota pun dapat memberi kebebasan kepada perasaan yang hendak menjelma.”

Ya, jika kamu ingin orang kota dan ingin menjauhi dulu kepenatan kotamu, cara paling mudah untuk eskapisme dengan nonton Little Forest ini, atau sekalian main Harvest Moon lagi.


8 thoughts on “Enaknya Tinggal di Desa

  1. Emang enak tinggal di desa, suasananya tenang. Tapi lucunya, orang desa pada lomba-lomba pengen ke kota. Cari suasana baru kaliii ya. Anyway, thank ulasan filmnya. Jadi pengen nonton.

  2. Aku pernah tinggal di sebuah desa atau perkampungan semasa kecil dan memang enak setiap pagi bisa menghirup udah segar masih banyak sawah dan kebun sekarang berbeda dengan tinggal di kota sawah sudah mulai banyak di jadikan gedung-gedung atau perumahan-perumahan gitu jadi kebanyak polusi yang ada😦

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s