Wawancara Ekslusif, Etgar Keret

etgar keret wawancara ekslusif

Aku sedang merobohkan sebuah tembok.

Semua reporter perempuan adalah sundal dan aku merobohkan sebuah tembok. Mungkin sudah sekitar empat bulan sejak dia pergi. Awalnya, kupikir semua kuli bangunan itu dapat menenangkanku, tapi justru hanya membuatku makin senewen saja. Dinding yang kurobohkan itu memisahkan antara ruang tengah dan kamar tidur. Jadi aku selalu membelakangi balkon. Tapi aku ingat. Kau tak harus melihat untuk mengingat. Aku ingat bagaimana kami duduk di sana pada malam hari.

“Lihat,” dia berkata, “ada bintang jatuh. Kita harus mengajukan permintaan. Ayo,” katanya, mencium leherku, “pinta sesuatu.”

“Oke, oke,” kataku, “Aku akan membuat permintaan.”

“Apa yang kau pinta?” Tanyanya dan memperketat lengannya dalam pelukanku. “Tak mau kau katakan padaku? Ayo, katakan padaku.”

“Bahwa akan selalu seperti ini, seperti sekarang ini.” Aku membelai rambutnya. “Angin sepoi-sepoi. Kita berdua bersama-sama di balkon.”

“Jangan,” katanya, mendorongku, “itu bukan permintaan yang baik. Berharaplah untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang hanya untuk dirimu sendiri.”

“Oke, baik,” kataku sambil tertawa, “jangan mendesakku. Sebuah FZR1000. Aku ingin Yamaha FZR 1000.”

“Sebuah sepeda motor?” Dia menatapku, terkejut. “Kau dikasih permintaan dan kau minta sepeda motor?”

“Ya,” kata saya. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku enggak bakal kasih tahu,” ujarnya, menyembunyikan wajahnya di switerku. “Jika kau bilang ke orang, enggak akan terkabul.”

Tapi jika kau tak bilang, mungkin itu bakal terkabul. Dua bulan kemudian, ia pindah ke Tel Aviv untuk bekerja di salah satu surat kabar harian besar, tidak seperti koran lokal di Hadera. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, suatu hari dia menghilang begitu saja. Orangtuanya tidak memberiku alamatnya. Mereka mengatakan dia tidak ingin berbicara denganku. “Mengapa tidak?” Aku bertanya pada ayahnya. “Apakah aku menyakiti perasaannya? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk padanya?”

“Aku tak tahu,” katanya, sambil mengangkat bahu. “Itu yang dia bilang padaku untuk dikatakan.”

“Katakan padaku, Tuan Brosh” kataku, marah, “Anda pikir normal bahwa putrimu dan aku yang berkencan selama dua tahun, dan tiba-tiba, begitu saja, tanpa alasan, dia tidak mau bicara padaku? Kau pikir aku tak butuh sebuah penjelasan? ”

“Itu tak adil, Eli,” ucap ayahnya, bersandar di gagang pintu. Semua percakapan ini bertempat di pintu apartemen mereka. “Ini benar-benar tak adil,” katanya, melarikan tangannya ke kepala botaknya. “Aku bukan orang yang meninggalkanmu, kau tahu. Aku tak pernah lakukan sesuatu yang buruk padamu, kan? Aku tak pantas kau persalahkan.” Dia memang benar. Hanya itu saja. Aku bilang aku minta maaf lalu pergi. Kemudian, dia terlihat sangat putus asa. Mulai dari saat itu, aku mencoba menjangkau pacarku lewat koran. Tapi mereka tak mau memberiku nomor rumahnya, dan dia tak pernah ada di kantor. Jadi aku meninggalkan pesan, aku meninggalkan ribuan pesan, tapi dia tidak menelepon. Beberapa bulan kemudian, aku mulai melakukan renovasi rumah.

Orang-orang berteriak. Antara beberapa kali gebrakan di dinding, aku tiba-tiba mendapati bahwa orang-orang berteriak di luar sana, tak jauh dari rumahku. Aku pergi ke luar. Dekat persimpangan, tiga puluh meter jauhnya, dua orang terbaring di atas jalan raya, dan seorang wanita berlari ke arahku, berteriak, dan seorang pria dengan topi wol hijau mengejarnya. Ketika dalam jarak sepuluh meter, pria itu menangkap wanita tadi dan menjambak rambutnya. Tiba-tiba, aku melihat sembulan pisau menonjol keluar dari leher depan wanita tadi. Juga darah, segalon darah. Dia jatuh tersungkur dengan lututnya, pria tadi membelit lengan wanita tadi ke belakang punggungnya, dan pedang tadi hilang. Wanita tadi terbaring di trotoar sekarang. Dan pria dengan pisau itu menatapku, bergerak ke arahku, tapi dengan perlahan. Aku ingin lari secepatnya, tapi kakiku tak mau bergerak. Dia terus bergerak mendekat, sedikit demi sedikit, langkah waswas seperti kami adalah anak-anak yang sedang bermain kejar-tangkap. Dan sepanjang saat itu, aku terus membatin, “Sesuatu tak beres. Kenapa dia berjalan sangat pelan? Maksudku, dia berlari mengejar wanita tadi seperti orang gila. Sekarang aku hanya memakai sandal dan dia memegang sebilah pisau yang panjangnya dua puluh sentimeter. Apa yang dia takutkan? Kenapa dia tidak cepat-cepat menusukku?” Kemudian aku melihatnya melangkah keluar dari trotoar masuk ke jalan raya, mencoba berjalan mengitariku dengan sangat, sangat pelan. Aku mengamatinya, setengah sadar akan palu besar dalam genggamanku, sebuah palu seberat lima kilo. Aku melangkah mendekatinya dan menghantam kepalanya.

Pria itu tidak bergerak. Aku duduk di atas trotoar. Lelaki dari toko kelontong datang mendekat dengan sebotol Coke. Aku meraih saku celanaku untuk membayarnya. Dia mengasihkannya dan tak mau membiarkanku untuk mengeluarkan uang. “Lupakan saja,” ucapnya. “Hadiah dariku.”

“Ayolah, Gaby,” kataku, “biar aku bayar.” Tapi ia menolak dan tak membiarkanku membuka tanganku. “Catat itu sebagai hutang,” ucapku, menyerah. Aku sangat haus dan ingin segera membereskan persoalan sebelum aku bisa minum, sementara aku sedang dalam posisi tawar-menawar.

“Baik, baik,” ucapnya, “aku akan masukkan itu pada tagihanmu.”

Para fotografer yang pertama sampai di lokasi, bahkan mendahului polisi. Dengan sepeda motor, dua orang dengan Honda 600F dan seorang dengan sebuah Harley. Dengan rambut panjang dan tato, mereka terlihat seperti Hells Angels. “Bisakah Anda memegang palunya seperti ini, seperti saat kau menakuti dia, buat foto?” pria dengan Harley memintaku. Aku jawab tidak. “Anda yakin? Ini bakalan lebih gagah, dalam segi visual.”

“Masa bodo dengan visual,” ucap Gaby. “Ingin sesuatu yang lebih nyata? Foto dia di depan tokoku.”

Setelah itu, polisi datang, disusul reporter surat kabar. Semua reporter adalah sundal.
Mereka datang dari beragam koran. Aku tak mau bicara dengan mereka. Mereka datang dari TV dan juga dari radio. Aku bahkan enggan bilang tidak pada mereka, aku hanya mengangkat tanganku dan pergi menjauh. Orang-orang dari TV mendatangi Gaby dan hampir semuanya mengikuti mereka, kecuali pria dari Ma’ariv, yang tak mau meninggalkanku.

“Hey kau, mata-empat,” aku menghardik pada salah satu reporter surat kabar yang mencoba menyodokkan alat perekamnya pada leher beberapa detektif kepolisian. “Kemari.” Pria dengan kacamata itu meninggalkan seorang polisi saat di tengah-tengah kalimat dan buru-buru mendekat. “Kau dari Yediot?” tanyaku.

“Ya, memang,” dia tergopoh, mencoba menyalakan alat perekamnya.

“Hey, bagaimana bisa kau bicara dengannya dan bukan aku?” tanya si menyebalkan dari Ma’ariv.

“Karena aku mau saja, oke?” aku kehilangan kesabaranku. “Karena koranmu tai. Apa bedanya coba? Tolong. Tinggalkan aku sendirian.”

Aku memberi isyarat pada pria dengan kacamata agar mengikuti menuju sudut keramaian, tapi lelaki dari Ma’ariv itu seperti lem. “Ini karena regulasi mereka,” ucapnya dengan suara menyakitkan. “Ini semua karena regulasi mereka, dasar kau egois. Kau ingin dibesar-besarkan, hah? Sehingga semua temanmu bisa melihatmu sebagai seorang pahlawan? Kau macho sialan, kau pembunuh, kau membuatku ingin muntah.” Dia meludah dan pergi.

“Oke,” pria dengan kacamata itu berkata, “pertama aku ingin menanyakanmu—”

“Pertama-tama, dengar dulu,” ucapku. Aku mengambil alat perekam dari tangannya dan menekan Stop. “Temui redakturmu sekarang dan bilang padanya aku siap memberimu wawancara eksklusif. Sebuah wawancara ekslusif, jelas? Aku enggak bakal bicara dengan TV, atau saluran kabel, atau Ma’ariv. Aku bahkan tak bakal cerita ke nenekku. Tapi hanya jika—”

“Kami tak mau bayar,” ucap pria berkacamata itu. “Ini masalah prinsip. Kami tak pernah membayar agar diberi akses.”

“Dengarkan aku barang semenit saja, dasar bodoh,” kataku. Sekarang aku senewen. “Aku tak butuh uangmu. Aku hanya ingin memilih pewawancaranya. Mengerti apa yang kuucapkan? Bilang pada redakturmu aku siap untuk diwawancarai, tapi hanya oleh Dafna Brosh.”

“Brosh,” ucap si Kacamata, menggaruk kepalanya. “Gadis baru itu? Dia pisau yang masih tumpul.”

“Gadis itu yang mewawancarai. Bilang pada redakturmu.”

“Maaf,” si Kacamata berucap, “aku tahu mungkin ini tak berhubungan, tapi apakah kau sudah baca laporan reportase soal kartel korupsi?”

“Dafna Brosh,” aku mengulangi dan meninggalkannya di sana.

Untuk bisa sampai ke apartemenku sekarang, aku harus berjalan melewati lingkaran besar orang-orang yang berdiri mengelilingi Gaby. Mereka berteriak dan menjerit, dan Gaby berdiri di tengah-tengah, melambaikan tangannya. Tampaknya dia sangat menikmatinya. Dua tentara dari stasiun radio angkatan darat dengan mike di tangan mereka datang sedikit telat dan mencoba mendesak agar bisa masuk ke dalam lingkaran tapi tidak bisa. Salah satu dari mereka, yang jangkung, kena sikut di wajahnya dari kameramen salah satu tv kabel luar negeri. Dia mengucurkan darah dari hidungnya, matanya berlinang, dan air mata mulai mengucur turun. Aku memutuskan mengambil arah lain dan menuju gedung lewat sebuah jalan memutar. “Dasar egois!” pria Ma’ariv tadi meneriaki dari belakang.

*

Dia datang. Aku tahu dia bakal datang. Dengan rok pendek hitam. Dia menggelembungkan  gaya rambutnya. “Ingin kopi?” tanyaku, mencoba agar terdengar kalem. “Haruskah aku memanaskan ketel?” Dia menggelengkan kepalanya, duduk di meja, dan mengeluarkan alat perekam mungil dari tasnya. Ada plaster besar korat-karit di seluruh permukaan meja. Dengan dinding setengah roboh di tengah ruangan, tempat itu terlihat seperti habis kena bom. “Yakin?” tanyaku. “Aku mau masak.”

Gelengan kepalanya makin jelas, lebih gugup. “Wawancara,” ucapnya, dan kata-kata mulai keluar seperti dia sedang tercekik, “aku datang untuk wawancara.” Dia meletakkan alat perekamnya di atas meja.

Wawancara A

—Kenapa?

—Apakah aku diizinkan untuk bertanya kenapa kau meninggalkanku?

—Jangan mengangkat bahumu. Jawab pertanyaanku. Yang kumau hanya sebuah jawaban.
Aku tak ingin menyakitimu. Pastinya tidak sekarang. Tak ada artinya itu.

—Menyakitiku, kurang ajar kau, menyakitiku. Itu takkan lebih buruk ketimbang apa yang sudah kau lakukan.

Karena kau bukan siapa-siapa, oke? Karena kau bukan siapa-siapa. Karena kau tak ingin apapun. Tak ada. Tak ingin tau apapun, tak ingin berhasil dalam apapun, tak ingin jadi apapun. Hanya ingin duduk dan bilang betapa baiknya kita bersama. Baik itu adalah melakukan sesuatu, mencoba meraih sesuatu, kecuali kau? Kau bahkan tak tahu cara bermimpi. Kau bukan seorang manusia, kau bukan apa-apa. Yang hanya kau bisa cuma duduk di atas balkon dengan tanganmu memelukku, berkata, “aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu.” Aku bukan teddy bear, kau tahu? Aku bukan Barbie. Dan tak seperti dirimu, aku punya ambisi lebih besar ketimbang tidur.

—Kau masih mencintaiku?

—Kau cinta aku?

—Pernahkah kau mencintaiku?

—Hey, matikan itu, jangan nangis. Aku bakal berhenti. Aku berhenti. Dengar. Lanjutkan dan tanyakan yang tadi.

Wawancara B

—Apa yang sedang kau lakukan di jalan saat insiden itu terjadi?
Tak ada.

—Kau sedang menuju kemana?
Tidak. Aku sedang tidak kemana pun. Aku hanya mendengar teriakan, jadi aku pergi keluar untuk melihat.

—Dan palu itu?
Aku menghantamnya di kepala dengan itu. Tuhan, ketika aku mencoba mengingatnya, itu kelihatan begitu lama, seperti dalam sebuah film.

—Ya, dan kenapa kau memegang sebuah palu?
Karena sedang renovasi. Aku sedang merobohkan dinding antara ruang tengah dan kamar tidur.

—Apakah kau melihat pelakunya sebelum insiden itu? Kau melihat wajahnya?
Ya, wajahnya tembem. Dia punya mata coklat yang besar, sepertimu. Dan dia mengulum bibirnya, seperti ada sesuatu yang salah. Sepertinya dia sembelit, penuh kesakitan.

—Apa yang terlintas di pikiranmu ketika kau menghantamnya dengan palu?
Tak ada.

—Jangan bilang tak ada. Kau pasti memikirkan sesuatu.
Tak ada. Benar-benar tak ada.

—Aku bicara dengan Gaby dari toko kelontong. Dia bilang bahwa orang Arab itu tidak mendekatimu, bahwa dia takut ketika melihatmu membawa palu, bahwa dia mencoba berjalan menjauh darimu, untuk pergi menghindar. Tapi kau masih menghantam tengkoraknya. Kau bisa menunggu, kau tahu itu, kau bisa berdiri saja dan membiarkan dia pergi menjauh. Setidaknya begitu yang bakal Eli yang kutahu lakukan. Aku memikirkanmu.

*

Kami mendengar suara dari sebuah sepeda motor dari luar. “Itu fotografernya,” ucapnya. “Namanya Eli juga.”

“Apa jenis motor yang ia kendarai?” tanyaku.

“Sejak kapan aku tahu begituan soal sepeda motor?” tanyanya, tertawa.

“Hanya bertanya. Aku pikir kau tahu.”

“FZR 1000. Dia punya Yamaha FZR 1000, motor yang dulu kau inginkan.”

“Kau tahu, jika saja aku tak bilang padamu, aku bakal punya satu.”

“Aku tahu,” katanya dan tersenyum. “Maaf.”

*

Diterjemahkan dari cerita “An Exclusive” dalam buku The Girl on the Fridge karya Etgar Keret.


One thought on “Wawancara Ekslusif, Etgar Keret

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s