Reply 1988 dan Absurditas Junghwan

Jika War & Peace BBC, serial adaptasi dari novel Leo Tolstoy, mengambil latar 1800an awal di Rusia, maka sesuai judulnya, Reply 1988 mengambil set di kompleks Ssangmundong, Seoul pada tahun 1980an akhir. Meski begitu, keduanya punya tema besar utama: keluarga. Yang satu keluarga aristokrat ningrat, satunya lagi keluarga kelas menengah. Untuk drama Korea, memang yang namanya kisah cinta romantis muda-mudi selalu jadi sajian utama, tapi di Reply 1988, tema hubungan keluarga, persahabatan, sampai pergolakan politik mahasiswa dihadirkan dalam porsi yang pas.

Awal ketertarikan sih karena pemain utamanya, Lee Hyeri, member termuda Girl’s Day yang jadi bias saya (berkat lihat aktingnya saat jadi bintang tamu di Saturday Night Live Korea). Selain memang, karena banyak mendapat komentar positif (juga komentar mencak-mencak karena ending serialnya).

1c87eed6e34e4d09a5a644d04f48b8af

Ini tahun 1988. Saat itu cuaca dingin, tapi hati kami berapi-api. Dan tak banyak yang kami miliki, tapi orang-orang bergembira. Tentu, jika kau bandingkan dengan keadaan sekarang, jelas saat itu “Zaman Analog.” Meski begitu, kami menjalani hidup yang canggih selama 18 tahun. Kami pakai sepatu slip-on, dan tentu, denim. Anak laki-laki tergila-gila dengan Jaime Sommers dan Joey Wong dan Sophie Marceau dan Guru Jimena. Dan kami para gadis tergila-gila dengan Pierce Brosnan dan Tom Cruise dan Richard Gere dan the New Kids on the Block.

Fokus utama ada pada keenam sekawan: Sung Duk-Seon (Hyeri), Kim Jung-Hwan (Ryoo Joon-Yeol), Sung Sun-Woo (Ko Gyung-Pyo), Yoo Dong-Ryong (Lee Dong-Hwi) dan Choi Taek (Park Bo-Gum). Antara hubungan persahabatan (bahkan cinta kasih) antar sesamanya, juga hubungan dengan keluarga masing-masing, beserta permasalahan lain yang hinggap pada masa muda. Dari keenam karakter tadi, ada enam kepribadian berbeda pula, dan mungkin kau bisa memilih yang mana kau. Untuk saya sendiri, si bajingan sialan Junghwan.

Langsung saja, maaf bagi yang kena spoiler, Reply 1988 berakhir bahagia. Tapi tidak bagi Junghwan, mungkin. Saya sendiri membayangkan Junghwan, tentunya dengan rasa sesal, pun ikut berbahagia akan pasangan bahagia Duk-seon dan Taek. Seperti dalam Reply 1997 dan Reply 1994, kita pun dibuat penasaran akan siapa yang bakal jadi suami masa depannya Duk-seon. Dan sialannya, saya (beserta jutaan penonton lainnya) dibuat salah memilih dan merasa prihatin akan nasib malang Junghwan. Jika melihat fanwar yang ditimbulkan, membuktikan kalau Reply 1988 berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton.

Junghwan, seorang yang dingin, namun aslinya baik hati dan perhatian, bahkan lebih memilih untuk mewujudkan kebahagiaan orang lain, sehingga kadang kebahagiaan dirinya sendiri dilupakan. Junghwan adalah jagonya soal memendam perasaan.

Akhirnya, takdir dan waktu… tak terjadi begitu saja karena kebetulan. Itu adalah hasil dari kesungguhan, pilihan sederhana, yang menciptakan momen ajaib. Jadilah tegas,
memutuskan tanpa ragu… Itulah waktu. Dia menginginkannya lebih dariku. Dan harusnya aku lebih berani. Bukan salah lampu lalu lintas. Bukan salah waktu.

Seringnya aku ragu.

Junghwan, setelah gagal nonton konser bareng Duk-seon

Dunia merupakan tempatnya kematian, keterasingan, kesepian berkuasa. Dunia ini absurd, ujar Albert Camus. Absurditas ini dapat diungkapkan dalam berbagai variasi, misalnya bahwa dunia ini indah, tetapi kehidupan manusia bersifat sementara saja. Dunia ini absurd karena enggak bisa menerangkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Dunia ini irasional karena enggak bisa menerangkan adanya kemalangan, bencana, ataupun tujuan hidup manusia. Dunia seringnya enggak kasih yang kita minta. Kesenangan hanyalah bagian kecil dari hidup.

Hidup bagai sekotak cokelat. Kau tak pernah tahu akan dapat apa. Bisa saja cokelat pahit. Tak ada yang bisa kau lakukan. Itulah takdir yang kupilih. Tak ada penyesalan, tak ada air mata… Dan tak perlu patah hati.

Junghwan, terinspirasi setelah nonton Forrest Gump

Ketika menulis Le Mythe de Sisyphe, Camus bersikeras membayangkan benak Sisyphus yang dipayungi bahagia walaupun ia dikutuk untuk melakukan pekerjaan sia-sia. Menjadi pemberontak pada yang absurd berarti mengatakan “ya” pada penderitaan yang harus ditanggung oleh manusia bebas sekalipun ia sendiri harus menderita dan menerima hukuman.

Sebuah nasihat, lebih baik, jangan ikuti saya dan Junghwan, kalau kau mampu, sebaiknya ungkapkan perasaanmu. Memendam perasaan itu menyebalkan dan menimbulkan sesal. Pada akhirnya, seperti Sisyphus, kita harus membayangkan bahwa Junghwan juga bahagia.


16 thoughts on “Reply 1988 dan Absurditas Junghwan

  1. Untunglah dari awal aku adalah team taek,jai gak ada rasa kesal yg mendalam gtu sama drama ini.hihihihi

    Btw,aku setuju banget dg kalimat :memendam perasaan itu menyebalkan dan menimbulkan sesal.
    Huwaaah..itu bener banget. Segala sesuatu Mending diungkapin,perkara gmna tanggapannya itu urusan belakanan.hihihi
    Salam kenal kak🙂

    1. Ah andai saja saya dikasih kemampuan untuk bisa berani mengungkapkan perasaan. Apa daya saya seperti Junghwan yang nelangsa.😦

  2. Saya sudah menyerah total sama drama korea. Kebanyakan drama korea cuma seru diawalnya saja. Saya ada beberapa episode nonton Reply 1994, 1997 itu, tidak habis. Kalau yang ini belum lihat.
    Kalau tujuannya mau cari hiburan semata, bolehlah nonton drama korea2 begini.
    Tetapi, kalau untuk mencari sesuatu yang lain. Nampaknya tak ada. Tak tahu juga.
    Singkatnya, susah mencari “pencerahan” dari drama-drama korea sekarang. hehe.

    1. Saya baca buku dan nonton ya niatnya sebagai sarana eskapisme aja. Dan beruntungnya, lewat kemalasan dan memutuskan diri dari realita, seringnya jadi medium saya untuk menemukan “pencerahan”.😀

  3. Hmmm sepertinya anda dari team jung hwan ya hahahaa, sesungguhnya saya juga team jung hean tapi apa daya park bo gum jauh kebih imut😄

  4. Ah iya malang betul nasib jung hwan di situ. Di awal-awal kelihatannya jung hwan yang tokoh utamanya. Eh ternyata taek yg jadi suaminya.rasanya gimana gitu

  5. kirain apa, ternyata drakor yaaa. tapi setting film nya lucu yaaah, boleh jadi rekomendasi *setelah selesai nonton dots dan bingung nonton apa habis itu*

  6. wah ternyata seru ya kayaknya kalau film latar tahun segitu. . . btw itu gue juga penasaran sejak dulu pengen nonton sejak di rkomendasikan vini tapi belum sempat.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s