Gadis-Gadis Pabrikan [1/2]

Girls Generation pose before their big stadium show in Jakarta for The New Yorker.

Saat itu pukul lima tepat di suatu Minggu pada bulan Mei, dua jam sebelum waktu pertunjukan, tapi sudah bergumul ribuan fans K-Pop membanjiri lapang terbuka di luar Honda Center, gelanggang besar di Anaheim, California. Penampil malam ini adalah beberapa grup pop terbesar di Korea Selatan—SHINee, f(x), Super Junior, EXO, TVXQ!, dan Girls’ Generation. Di Amerika Serikat, musik pop Korea hidup secara ekslusif lewat YouTube, di beragam video seperti “Gangnam Style,” dari Park Jae-sang, rapper yang lebih dikenal sebagai PSY, yang belakangan jadi viral. Pertunjukan di Honda Center merupakan kesempatan langka bagi fans K-pop untuk bisa melihat “idol,” sebutan para penampil itu, secara langsung.

K-pop adalah sebuah kombinasi Timur-Barat. Para penampil kebanyakan adalah orang Korea, dan irama gerakan tarian mereka yang tersinkronisasi, disertai sebuah telegrafi kompleks antara kedipan mata dan gestur tangan, memiliki rasa Asia, tapi musiknya terdengar Barat: lirik hip-hop, chorus Euro-pop, rap, dan hentakan dubstep. K-pop telah menjadi sebuah pelengkap dalam tangga lagu pop bukan hanya di Korea tapi di seluruh Asia, termasuk Jepang—pasar musik kedua terbesar di dunia, setelah AS—juga Taiwan, Singapura, Filipina, Hong Kong, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Korea Selatan, sebuah negara berpenduduk kurang dari lima puluh juta jiwa, entah bagaimana tahu cara melejitkan pop bagi satu setengah miliar orang Asia lainnya, menyumbang dua miliar dolar setahun untuk perekonomian Korea, seperti yang dilansir BBC. Konser K-pop di Hong Kong dan Cina daratan sudah sangat menguntungkan, dan tidak ada negara yang lebih baik pada posisi ini untuk menjual rekaman musik di Cina, pasar yang berpotensi besar, apalagi jika pembajakan yang sudah endemik diberantas. Namun, meskipun K-pop menonjol di Asia, sampai saat ini hanya segelintir di Amerika Serikat telah mendengar tentang hal ini. SMTOWN World Tour III, dinamai sesuai S.M. Entertainment, perusahaan musik Korea yang mensponsori tur global, berharap untuk mengubah hal tersebut, melalui sistem unik bernama “cultural technology.”

Di luar gelanggang, kelompok fans yang melakukan berbagai tarian: meniru gerakan kelompok idola favorit mereka. (tarian berkuda PSY, dari “Gangnam Style,” mungkin jadi semacam Macarena saat itu.) Orang-orang membawa beragam light stick dan beraneka balon, yang warnanya menandakan kesetiaan kepada satu atau beberapa grup idola. Kerumunan yang ada ternyata lebih tua ketimbang yang saya bayangkan, dan suasananya terasa lebih seperti sebuah konvensi video-game daripada konser pop. Sekitar tiga dari empat orang adalah Asia-Amerika, tapi ada juga beberapa Kaukasia dari segala usia, dan sejumlah perempuan kulit hitam.

Berdiri di samping saya adalah Jon Toth, seorang pria kulit putih dua puluh sembilan tahun, seorang ilmuwan komputer yang telah menghabiskan dua belas jam perjalanan langsung dari New Mexico. Toth adalah penggemar Girls’ Generation, sebuah kelompok idola yang beranggotakan sembilan gadis yang sedang dalam proses rekaman album debut Amerika, dengan Interscope Records. Pada saat ia secara tak sengaja menemukan Girls’ Generation, di YouTube, Toth adalah seorang pria penyuka alternative rock; ia mencintai Weezer. “Aku pasti bukan jenis pria yang Anda harapkan untuk bisa kepincut sama kelompok Asia beranggota sembilan gadis,” katanya. Tapi tak lama berselang Toth belajar Bahasa Korea, untuk memahami lirik dan juga acara TV Korea. Lalu ia mulai memasak makanan Korea. Akhirnya, ia melakukan perjalanan ke Seoul, di mana, untuk pertama kalinya, ia mampu melihat secara langsung konser para gadis itu—Tiffany, Sooyoung, Jessica, Taeyeon, Sunny, Hyoyeon, Yuri, Yoona, dan Seohyun. Itu adalah pengalaman yang mengubah hidup.

“Kau pikir kau sudah benar-benar mencintai mereka, tapi kemudian kau melihat Tiffany menunjuk langsung padamu dan mengedipkan mata, dan segala sesuatu yang ada di dunia serasa lenyap,” Toth menulis di Soshified, situs penggemar Girls’ Generation. “Kau pikir kau mencintai mereka, tapi kemudian kau melihat Sooyoung menatap tepat di matamu dan berkata dalam bahasa Inggris, ‘Thank you for coming.'” Toth menyimpulkan, “Saya tak tahu betapa aku mencintai gadis-gadis ini.”

Saya telah mengatur untuk bertemu Toth karena di suatu tempat saat menonton untuk kesepuluh kalinya video “Mr. Taxi”-nya SNSD dan klikan kedua puluh saya di “Gee”, saya sadar bahwa saya juga mungkin tidak tahu betapa saya mencintai gadis-gadis ini. “Listen boys,” Tiffany berbisik pada awal “Gee.” “It’s my first love story.” Dan kemudian dia memiringkan kepalanya ke samping dan mengedipkan matanya sembari tersenyum—kertak-kertuk tepat di sudut luar yang memberi pesan cintanya langsung padamu. Mengapa menonton “Mr. Taxi” menjadi semacam kesenangan audio-visual belaka? Mengapa tubuh saya terasa lebih ringan di atas kursi? Itu bukan hanya karena musiknya—yang terdengar riang dan semanis permen, layaknya Day-Glo—dan, sementara tariannya benar-benar mengagumkan, koreografinya memiliki kualitas skematis.

“Mereka tampak seperti pemandu sorak,” keponakan saya yang berusia dua puluh satu tahun mendesis di balik bahu saya satu hari ketika saya sedang melihat “Gee” lagi. “Paman Mesum!”

Tidak, ini tidak seperti itu. Bagi yang mesum, coba kelompok J-pop AKB48, sebuah ansambel gadis Jepang, dengan banyak anggota, yang, mempertontonkan siswi-siswi hanya dengan pakaian dalam pada video mereka di “Heavy Rotation,” perang bantal, saling cium, dan berbagi biskuit berbentuk hati dari mulut ke mulut. Girls’ Generation adalah grup perempuan muda berpenampilan seperti siswi sekolah atas dengan celana ketat. Ketika mereka memakai hot pants, itu untuk menampilkan kaki jenjang, bukan bokong.

“Mereka menerima perasaan cinta dari para fans untuk mereka sendiri, dan mereka mengembalikan balik pada fans,” Toth mengatakan kepada saya. “Ketika Anda melihat mereka di atas panggung, itu seperti mereka lah yang justru datang untuk melihat Anda.”

Saya jelas tampak skeptis.

“Tunggu saja,” katanya. “Anda akan percaya.”

*

“Hallyu” adalah istilah yang digunakan orang Asia untuk menggambarkan tsunami budaya Korea Selatan yang mulai membanjiri negara mereka pada pergantian abad kedua puluh satu. Drama TV Korea dan, pada tingkat lebih rendah, film Korea, bersama dengan musik pop Korea, menjadi pokok di pasar-pasar yang sebelumnya didominasi oleh Jepang dan Hong Kong. Menurut sarjana kultur pop Sung Sang-yeon, produsen TV Korea mempertetapkan dirinya selama krisis ekonomi Asia dari akhir tahun sembilan puluhan, menawarkan program yang lebih murah daripada acara yang dibuat di Jepang dan Hong Kong dengan kualitas yang lebih tinggi daripada kebanyakan negara Asia lainnya yang bisa menghasilkan program acaranya sendiri. Sementara penyanyi dan aktor Korea masih muda-muda dan latar yang kontemporer, dengan tema mereka yang meliputi nilai-nilai tradisional keluarga, persahabatan, dan cinta romantis.

Pemerintah Korea telah mempromosikan hallyu, menggunakannya sebagai bentuk “soft power,” dengan membuat Korea Selatan sebagai Hollywood-nya Asia. Hallyu telah menghapus reputasi daerah Korea Selatan sebagai negara industri berkembang di mana segala sesuatunya berbau bawang putih dan kimchi, lalu menggantinya dengan gambaran kehidupan kosmopolitan yang sejahtera. Berkat mini-seri seperti “Winter Sonata,” sebuah drama romantis tahun 2002 yang menjadi hit besar di seluruh Asia, sekarang wanita Jepang setengah baya jatuh hati pada pria Korea, sementara mengeluh tentang laki-laki Jepang yang “loyo”—maksudnya, kurang jantan. Keturunan Korea yang sudah menjadi stigma di Jepang; sekarang jadi trendi. Melalui rumah-rumah, kesuksesan K-drama telah menarik wisatawan-wisatawan dari seluruh Asia untuk mengunjungi tempat-tempat yang digambarkan di layar.

Seperti K-drama, K-pop adalah campuran bukan hanya antara Barat dengan tradisional tetapi antara yang lama dengan yang baru. Musiknya menonjolkan komponen suara gaduh yang dibikin dengan synths terbaru dan gerakan tempo urban. Hook sering dinyanyikan dalam bahasa Inggris, dan kadang-kadang mengacu pada gerakan tari: berkemudi di “Mr. Taxi”; menggemetarkan pantat di “Bubble Pop.” Video menonjolkan latar yang royal dan produksi nomor besar yang mengingatkan pada video-video awal Madonna, sementara musiknya kadang-kadang terdengar seperti New Jack Swing—musik dansa delapan puluhan akhir yang dibuat oleh produser dan penulis lagu Amerika, Teddy Riley dan dipopulerkan antara lain oleh Michael dan Janet Jackson, Boyz II Men, dan Bobby Brown. Keseksian gadis-gadis namun dengan gaya sopan mengingatkan pada grup-grup awal enampuluhan—Shirelles, Crystals, dan Ronettes. Baik grup lelaki maupun perempuan dalam lirik dan videonya umumnya tidak mengacu pada seks, minum-minum, atau kelab malam—tema pencipta hit besar di Barat. Tentu saja, Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga, sebuah lembaga negara, mengupayakan untuk menjaga agar anak-anak dijauhkan untuk mendengar atau melihat lagu dan video K-pop yang membuat referensi soal klabing. Saya berada di Seoul musim semi lalu ketika Lady Gaga tampil di Olympic Stadium, dan anak-anak di bawah usia delapan belas dilarang menyaksikan pertunjukan. (Beberapa artis mengajukan komplein. Misalnya, lagu dari idola K-pop Rain “Rainism” memperinci kegiatan “tongkat ajaib”-nya;. Lagu itu kemudian direvisi. Banyak artis menyensor sendiri, agar bisa menjangkau khalayak seluas mungkin.)

Di Seoul, kau dapat merasa K-pop di sekitarmu. Ada kehadiran konstan idol-idol pada billboard dan iklan display. Guntingan seukuran tubuh idol menyambutmu di pintu masuk pusat perbelanjaan besar. Di jalan-jalan dan di kereta bawah tanah kau bisa melihat gema dari wajah para idol. (Pada satu kesempatan, di lobi hotel, saya berjalan sampai mendapati apa yang saya pikir adalah potongan poster dari idol K-pop, hanya untuk menemukan bahwa itu adalah wanita asli, yang memberenggut kemudian pindah tempat.) Di Gangnam, distrik perbelanjaan mewah di sebelah selatan Sungai Han, arsitekturnya begitu mencolok bagaikan para idolnya.

Tiga agensi musik mendominasi industri K-pop. S.M. Entertainment adalah yang terbesar, diikuti oleh J.Y.P. Entertainment dan Y.G. Entertainment. (Inisial tersebut diambil dari nama-nama pendiri agensinya, semuanya adalah mantan musisi atau penari: Lee Soo-man, Park Jin-young, dan Yang “Gong” Hyun-suk, secara berurutan.) Agensi bertindak sebagai manajer, agen, dan promotor, mengendalikan setiap aspek dari karir seorang idol: penjualan rekaman, konser, penerbitan, dukungan, dan TV. S.M. dan J.Y.P. berada di Gangnam, dan selalu ada gerombolan gadis-gadis muda, sebagian besar orang Jepang, di jalan-jalan di luarnya, berharap untuk melihat sekilas satu dua idolanya (meskipun idol umumnya berpindah secara anonim saat melintas kota, dalam minivan dengan jendela gelap). Kedua set kantor secara mengejutkan berkondisi lusuh di dalamnya, dengan studio sempit dan dekorasi tampak usang. Y.G., di seberang sungai, memiliki banyak fasilitas yang lebih mewah, termasuk studio rekaman berisi beberapa barang seni dan enam belas staf di rumah produksi, di antaranya Teddy Park, yang menulis “Fantastic Baby,” untuk BIGBANG, dan sebagian besar musik untuk 2NE1, dua kelompok yang paling populer di Y.G..

Di J.Y.P., saya sempat bertemu Park Jin-young, pria empat puluh tahun tinggi atletis yang pernah menempuh pendidikan di AS. Dia berada di fasilitas latihan. Mengenakan pakaian olahraga, ia berada di tengah-tengah sesi dengan beberapa trainee, dan ia tidak bisa berhenti berbicara; ia menghilang ke dalam sebuah studio tari, di luar terlihat tumpukan sepatu anak-anak. Namun, saya bisa berbincang dengan kelima anggota Wonder Girls, grup perempuan paling sukses agensi tersebut. Dalam video mereka “Nobody”, mereka mengenakan gaun berkilauan dan tatanan rambut bob—jawaban Korea terhadap Supremes. Tanpa kostum dan tanpa riasan wajah, mereka hampir tak bisa dikenali. Mereka duduk di meja konferensi, dengan Sohee, yang tampak sangat lelah, duduk di tengah. Kami berbicara banyak tentang jet lag. Sunye, duduk di sebelah kiri Sohee, melihat jam di dinding, yang menunjukan pukul 5 sore. “Ini adalah hari terburuk!” keluhnya.

121008_r22653_g2048-1096

Agensi-agensi merekrut anak usia dua belas hingga sembilan belas tahun dari seluruh dunia, baik melalui audisi terbuka dan jaringan agen perekrut. Girls’ Generation, grup gadis yang dominan dalam beberapa tahun terakhir, memiliki dua anggota, Tiffany dan Jessica, yang lahir dan dibesarkan di California. (Anak laki-laki dan perempuan yang berbahasa asli Inggris atau Cina, biasanya asal Korea, dihargai lebih tinggi.) Tiffany, yang lahir di San Francisco dan dibesarkan di Los Angeles, direkrut saat berusia lima belas, saat mengikuti audisi dalam pertunjukan bakat, kemudian dibawa ke Seoul, di mana ia dilatih dalam sistem penciptaan-idol. Jessica, yang lahir di rumah sakit yang sama seperti Tiffany, ditemukan di Seoul pada usia dua belas. “Saya tidak benar-benar ikut audisi,” katanya. “Saya pergi ke Korea untuk mengujungi keluarga dari ayah saya, dan saya sedang belanja, dan salah satu agen melihat saya, dan mengajak saya dan saudara perempuan saya bersama-sama.” Adiknya, Krystal, masih berusia tujuh pada saat itu; sekarang dia anggota grup f(x). Di Seoul, baik Tiffany dan Jessica mengikuti sebuah sekolah internasional saat siang hari; sepulang sekolah, mereka melapor ke S.M., di mana mereka dilatih sampai pukul sepuluh, dan kemudian mereka harus melakukan pekerjaan rumah. Pelatihan Jessica berlangsung selama tujuh tahun.

Selain menyanyi dan menari, para idol belajar akting dan berbagai bahasa asing–Jepang, Cina, dan Inggris. Mereka juga menerima pelatihan media dan disiapkan untuk pengawasan intens yang akan mereka terima di Internet dari para “netizen” Korea, negara yang paling terkoneksi di bumi. (“Netizens Love Seohyun’s Aegyo Mark” seperti yang dinyatakan judul terbaru dari situs Web K-pop Soompi, mengenai titik keindahan kecil di sebelah kiri mata penyanyi.) Kecuali kau Jonas Brothers atau seorang Taylor Swift, mabuk di tempat umum, berkelahi, dan perilaku tak senonoh seringnya dapat meningkatkan reputasi seorang artis dalam peta musik pop Amerika; di Korea, berita akan rekaman seks atau tes positif ganja dapat menggelincirkan karir. Rata-rata, hanya satu dari sepuluh trainee yang berhasil sampai bisa debut.

Grup-grup yang disatukan oleh pimpinan-pimpinan agensi, berdasar pada hubungan kualitas individu dan kolektif. “Para anggota grup tidak harus benar-benar sama dan tak bisa dibedakan,” Melody Kim, seorang manajer komunitas di Soompi, mengatakan kepada saya, “tetapi mereka harus cukup melengkapi sehingga bersama-sama mereka membentuk kesatuan kohesif yang benar-benar hebat.” Debut grup-grup di salah satu dari banyak variety show musik yang diputar di TV Korea hampir setiap malam. Saya pergi ke salah satu siaran program musik Mnet “M! Countdown,” di mana grup-grup baru maupun yang sudah mapan menampilkan lagu-lagu terbaru mereka dan para penonton memilih favoritnya; saya teringat hari-hari ketika MTV benar-benar menayangkan musik.Jika idol berhasil, mereka sering diharapkan untuk mengolah album penuh setiap delapan belas bulan atau lebih dan mini album berisi lima lagu setiap tahunnya. Tangga lagu berubah dengan cepat, dan, karena kemudaan dan kebaruan adalah hal utama, grup yang didirikan biasanya tidak berlangsung lama: lima tahun adalah umur rata-rata seorang idol. (Beberapa idol memperpanjang karir mereka dengan berakting di K-drama.) Grup-grup baru muncul secara teratur; pada tahun 2011, sekitar enam puluh grup membuat debut, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hanya sebagian kecil yang bertahan; sebagian besar akan memudar setelah beberapa lagu.

Pada tahun-tahun awal, Korean Wave tidak terasa begitu imperialistik untuk orang Asia lainnya ketimbang gelombang dari Cina yang pernah terjadi. Tapi baru-baru ini, di Jepang dan di beberapa bagian China, telah ada reaksi dari minoritas yang cukup nyaring, yang mungkin salah satu alasan bahwa agensi-agensi memilih mempromosikan grup-grupnya lebih tekun di Barat. Tahun ini, China mengesahkan undang-undang yang membatasi jumlah program acara asing yang dapat ditampilkan di TV Cina. Hallyu, jauh dari kesan buruk tampak sebagai ekspor jinak dari negara yang tak mengancam, sekarang sering digambarkan sebagai “invasi,” seolah-olah semacam mental nonsen Asia yang bakal menyumbat pikiran generasi muda.

*

Penampakan yang baik adalah investasi seorang artis K-pop. Meskipun beberapa idol adalah musisi, artis K-pop jarang memainkan instrumen di atas panggung. Yang mana bintang K-pop unggul dalam kecantikan fisik semata. Wajah mereka, dipahat, diukir, dan dibuat meruncing ke titik yang tajam ke dagu, gaya Na’vi, terlihat sangat berbeda dari wajah bulat datar sebagian besar orang Korea. Beberapa dilahirkan dengan struktur tulang ini, tidak diragukan lagi, tapi kebanyakan dapat mendapatkan ini hanya dengan bantuan operasi plastik. Korea sejauh ini merupakan pemimpin dunia dalam hal pendapatan per kapita, menurut The Economist. Operasi melipatgandakan kelopak mata, yang membuat mata terlihat lebih Barat, adalah hadiah paling umum untuk anak-anak yang mendapatkan nilai bagus pada ujian sekolah. Popularitas idol K-pop juga telah membawa “turis medis” dari Cina, Jepang, dan Singapura untuk berkunjung ke Seoul dalam rangka membentuk wajah mereka agar terlihat mirip seperti bintang Korea. Beberapa hotel telah bermitra dengan rumah sakit sehingga para tamu dapat memiliki prosedur satu pintu; Ritz-Carlton Seoul, misalnya, menawarkan delapan puluh delapan ribu dolar “paket kecantikan anti-penuaan.” Perempuan datang untuk membuat tulang pipi mereka disayat lalu menjalani “operasi rahang ganda,” di mana tulang rahang atas dan bawah dibuat terpisah dan direposisi, memberikan tengkorak tampilan yang lebih meruncing.

Gambaran Grand Guignol ini ada di pikiran saya di Anaheim, saat pertemuan pers dengan idol sebelum pementasan, yang berlangsung di ruang sempit memanjang di lantai ketiga Honda Center. Dua idol dari masing-masing enam grup yang bakal tampil hadir di sini. Mereka duduk di bangku tinggi di panggung kecil. Masing-masing mengenakan salah satu dari banyak kostum yang berbeda bahwa ia akan olahraga dalam pertunjukan selama empat jam. Wajah para lelakinya seolah-olah mirip kue panekuk dan dicat seperti perempuan, dan rambut mereka bahkan lebih rumit, diberi gel, dan dicelup, dengan warna pirang dan merah gula-gula. Beberapa orang mengenakan jaket setinggi pinggang dengan celana longgar harem atau jodhpur, gaya pemimpin sirkus; yang lain mengenakan cutaways putih dengan kerah kaku yang tinggi dan dasi hitam, seperti teman kencan impian. Mereka lebih androgini ketimbang Ziggy Stardust. Gadis-gadisnya mengenakan hot pants emas atau rok pendek, atasan gemerlapan, dan sepatu bot kulit berenda. Semua orang tampak sangat serius.

Setelah para idol duduk, seorang wanita muncul dengan tumpukan handuk olahraga berwarna putih. Dia memberikan satu untuk masing-masing idola wanita, untuk menutupi pahanya yang terekpos, sebagai bentuk kejatmikaan darurat. Saya duduk berlawanan dengan Sooyoung, dari Girls’ Generation, yang ramping berambut cokelat. Dia tampak berjarak dan dingin, seperti patung dalam sebuah gelas kaca.

S.M. telah menyiapkan pertanyaan untuk para idol, dan mereka membacanya keras-keras, dalam bahasa Inggris dan Korea, dengan pria suruhan S.M. yang mengelola prosesnya. Pertanyaan pertama, untuk dua anggota Girls, adalah: “Setiap kali kalian mengunjungi Amerika sepertinya kalian menerima cinta dan dukungan yang begitu gila. Apakah kalian merasakannya? Dapatkah kalian menjelaskan sambutan hebat dari penggemar kalian ini?”

Pertanyaan yang sama diajukan, dalam redaksi yang sedikit berbeda, untuk setiap grup. Dua perwakilan dari Super Junior, satu grup pria beranggota dua belas orang, ditanya, “Bagaimana kalian bisa selalu sukses menerima reaksi yang meledak-ledak dari para penggemar di seluruh dunia? Apa rahasianya?”

Salah satu anggota mengambil risiko memberi sebuah terkaan. “Mungkin itu karena penampilan kami yang begitu rupawan?”

*

Lee Soo-man, pendiri S.M.—orang di perusahaan merujuk kepadanya sebagai Ketua Lee—adalah master arsitek K-pop. Lee pensiun sebagai C.E.O. agensi pada 2010, namun ia masih memberikan bantuan dalam membentuk trainee-trainee menjadi grup-grup idola, termasuk yang terbaru dari S.M., EXO. Grup ini memiliki dua belas laki-laki, enam dari mereka berbicara Korea yang tinggal di Seoul (EXO-K) dan enam berbicara Mandarin, yang tinggal di Cina (EXO-M). Dua “subgrup” itu merilis lagu pada saat yang sama di negara dan bahasa masing-masing, dan mempromosikan mereka secara bersamaan, sehingga tercapai “lokalisasi sempurna,” sebut Lee. “Itu mungkin artis Cina atau sebuah perusahaan Cina, tapi apa yang penting pada akhirnya adalah kenyataan bahwa itu dibuat oleh cultural technology kita,” ia mengatakan. “Kami sedang mempersiapkan untuk pasar terbesar berikutnya di dunia, dan tujuannya adalah untuk menghasilkan bintang terbesar di dunia.” Tapi, sementara S.M. mendapat kredit karena menciptakan sistem serupa pabrik, grup idola ini dipandang oleh beberapa orang terlalu robotik untuk membuatnya berhasil di Barat. Y.G. secara signifikan lebih kecil dari S.M. dalam hal pendapatan, tetapi memiliki reputasi sebagai sebuah lembaga yang memungkinkan artis seperti PSY mendapat semacam kebebasan kreatif yang tidak akan mereka nikmati di S.M.

Lee lahir di Seoul pada tahun 1952, saat berlangsung Perang Korea. Dia tumbuh dengan mendengarkan ibunya bermain piano klasik. Pada saat itu, genre pop Korea yang dominan adalah trot (kependekan dari “foxtrot”), diucapkan “teuroteu.” Trot meminjam musik Barat dan dari lagu-lagu populer Jepang, warisan pendudukan Jepang, dari tahun 1910 sampai 1945. Genre ini campuran pengaruh tadi dengan gaya bernyanyi khas Korea yang disebut p’ansori. Lee, bagaimanapun, menenggelamkan diri dalam musik folk Amerika dan rock Korea, yang dimulai dari pangkalan Angkatan Darat AS dan dipopulerkan oleh gitaris dan penyanyi Shin Joong-hyun, pada tahun enam puluhan. Jauh sebelum K-pop muncul, musisi Korea adalah ahli dalam menggabungkan pengaruh Barat dengan nyanyian dan tarian gaya tradisional.

Lee melambungkan namanya sebagai penyanyi folk, dan menjelang akhir dekade membentuk band hard rock berumur pendek yang dinamakan Lee Soo-man dan 365 Hari. Dia juga menjadi DJ terkenal dan pembawa acara musik dan variety show di tv. Mark Russell, yang mewawancarai Lee untuk bukunya pada 2008, “Pop Goes Korea,” menulis bahwa pemerintah Korea pernah menindak dunia musik, menangkap dan memenjarakan beberapa musisi ternama atas tuduhan penggunaan ganja. Ketika kudeta militer menjadikan Chun Doo-hwan sebagai Presiden, pada tahun 1980, program radio dan TV Lee dihentikan.

Lee pindah ke AS, di mana ia mengejar gelar master di bidang teknik komputer di California State University, di Northridge. Ia menjadi terpesona dengan video musik yang menjadi pokok dari pemrograman MTV yang baru diluncurkan. Jika ada satu video dari tahun delapan puluhan yang menangkap banyak unsur-unsur yang kemudian muncul kembali di K-pop, itu adalah hit Bobby Brown pada 1988 “My Prerogative,” dengan swing triplet pada nada keenam belas, andalannya New Jack Swing. Gerak tari Brown—gerakan berlagak pada pinggul, dikombinasikan dengan putaran tegang yang diikuti para penari latar—juga merasuk ke dalam DNA K-pop.

Pada tahun 1985, Lee menerima gelarnya, dan, dia mengatakan pada Russell, ia kembali pulang bertekad untuk “mereplikasi hiburan AS di Korea.” Peningkatan kesejahteraan, ditandai dengan diselenggarakannya Olimpiade Seoul 1988, membantu membawa demokrasi berorientasi pasar ke Korea Selatan dan melonggarkan pembatasan umum pada media. Sekitar waktu ini, orang-orang Korea kembali ke Seoul dari AS membawa irama rap dan hip-hop, dinyanyikan dalam bahasa Korea. Sifat konsonan dari bahasa, dengan kelimpahan suara ka dan ta, meminjamkan kualitas rap-rap yang tajam. Pada tahun 1992, sebuah grup tiga anggota pria yang disebut Seo Taiji and Boys mementaskan sebuah lagu rap di kompetisi bakat TV Korea, dengan kengerian dari para jurinya, sebab menempatkan mereka pada peringkat terakhir, namun menyenangkan anak-anak yang menonton di rumah (salah satu anggota Boys adalah Hyun-suk, yang kemudian jadi pendiri YG Entertainment). Sejarawan musik Korea umumnya menyebut penampilan ini sebagai awal dari K-pop.

Lee mendirikan S.M. pada tahun 1989. Keberhasilan pertamanya adalah seorang penyanyi dan penari hip-hop Korea bernama Hyun Jin-young, yang albumnya rilis pada tahun 1990. Tapi, saat Jin-young berada di ambang kebintangannya, ia ditangkap terkait narkoba. Russell menulis bahwa Lee “hancur” gara-gara kemalangan ini, dan bahwa dari pengalaman ini mengajarkan pentingnya kontrol penuh atas artisnya: “Dia tidak bisa hanya mempromosikan dan mengembangkan artis barunya tanpa henti hanya untuk kemudian mendapatinya jatuh dan hancur.”

Sebagai akibatnya, Lee mengkombinasikan ambisinya sebagai seorang impresario musik dengan pendidikannya sebagai seorang insinyur untuk menciptakan cetak biru untuk apa yang kemudian menjadi jalur perakitan idola K-pop. Bintang-bintangnya akan dibuat, bukan dilahirkan, menurut sistem canggih pengembangan keartisan yang akan membuat pabrik perakit bintang seperti yang Berry Gordy buat di Motown yang nampak seperti usaha rumahan. Lee menyebut sistemnya “cultural technology.” Dalam pidato 2011 di Stanford Business School, ia menjelaskan, “Aku menciptakan istilah ini sekitar empat belas tahun yang lalu, ketika S.M. memutuskan untuk meluncurkan artis dan konten budaya ke seluruh Asia. Abad teknologi informasi telah mendominasi sebagian besar tahun sembilan puluhan, dan saya meramalkan bahwa era teknologi budaya akan terjadi selanjutnya.” Dia melanjutkan, “S.M. Entertainment dan saya melihat budaya sebagai satu jenis teknologi. Namun teknologi budaya jauh lebih indah dan kompleks ketimbang teknologi informasi.”

Pada tahun 1996, S.M. memberi debut bagi grup idola pertama: sebuah boyband beranggota lima yang disebut H.O.T. (Singkatan dari High-Five of Teenagers). Hal ini diikuti oleh grup gadis pertama S.M., S.E.S., singkatan nama dari tiga anggotanya (Sea, Eugene, dan Shoo). Kedua grup itu sangat populer di Korea, dan menginspirasi grup lain. Segera K-pop mengalahkan trot tradisional dan rock dalam margin komersial pada peta musik Korea.

Pada tahun 1998, Lee mulai mengekspansi ke seluruh Asia. Idol bernyanyi dalam bahasa Jepang dan Cina, tapi suara dan gaya musik serta video berpegang pada prinsip-prinsip yang telah membuat mereka populer di Korea. Lee dan rekan-rekannya membikin buku manual cultural technology—dikenal di S.M. sebagai C.T.—yang merupakan katalog langkah-langkah yang diperlukan untuk mempopulerkan artis Kpop di negara-negara Asia yang berbeda. Manual itu, semua karyawan S.M. diperintahkan untuk mempelajarinya, dan menjelaskan saat membawa komposer, produser, dan koreografer asing; progresi akord apa yang harus digunakan di negara apa; warna yang tepat dari eyeshadow seorang penampil harus pakai di negara tertentu; gerakan tangan yang tepat yang harus ia buat; dan sudut kamera yang harus digunakan dalam video (sebuah syut 360 derajat pada grup untuk mengawali video, diikuti montase tiap individunya dalam jarak dekat).

C.T. tampaknya berhasil. Pada tahun sembilan puluhan, H.O.T. merajai tangga lagu di Cina dan Taiwan. Baik H.O.T. dan S.E.S. dibubarkan di awal dua ribuan, tapi tindakan tindak lanjut Lee terbukti menjadi lebih populer. BoA, seorang penyanyi solo perempuan yang memulai debutnya pada tahun 2000, menjadi raksasa di Jepang. Super Junior, sebuah boyband, memulai debutnya pada tahun 2005, dan menjadi lebih besar di seluruh Asia ketimbang pendahulunya H.O.T.. Dan pada tahun 2007 muncul Girls ‘Generation, grup beranggotakan sembilan yang merepresentasikan teknologi budaya dalam bentuk tertinggi, dirancang bukan hanya untuk menaklukkan Asia tapi juga Barat. Nikkei, majalah bisnis Jepang, menempatkan grup ini di sampulnya pada tahun 2010, memberi kesan bahwa Girls’ Generation adalah penerus Samsung berikutnya.

*

Diterjemahkan dari Factory Girls, oleh John Seabrook, dalam rubrik Annals of Music di The New Yorker edisi 8 Oktober 2012.

The New Yorker adalah majalah Amerika kompeten yang memuat beragam reportase, komentar, kritik, esai, fiksi, satir, kartun, dan puisi. Terkenal karena narrative journalism, atau literary journalism, atau jurnalisme sastrawi, bentuk penulisan nonfiksi yang dibuat menarik secara kreatif dengan tetap mempertahankan keakuratan dan ketelitian riset.

 


7 thoughts on “Gadis-Gadis Pabrikan [1/2]

    1. Buat latihan nulis jurnalisme naratif aja sih, dan moga aja ada yg mau ngebiayain nonton Phantasia buat bikin reportasenya.
      Pas nerjemahin rada sentimentil euy, pas bagian Jessica apalagi. 😭

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s