Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

eka kurniawan penulis kapitalis

Seperti Mr. Golyadkin dalam The Double-nya Dostoyevsky, saya selalu merasa berdosa dan tersiksa ketika berbicara, karena enggak punya bakat melisankan apa yang ada dalam otak. Yang dipikirkan apa, keluarnya apa. Oleh karena khawatir lidah saya dapat mencelakai orang lain, saya selalu memilih bungkam saja. Saya orang yang sarkas, bahkan mungkin rasis, dan cawokah (baca: percakapan berbau porno), sehingga hanya berani membuka mulut sama mereka yang saya anggap dekat saja.

Tapi siang menjelang sore itu, ketika mendapat kesempatan untuk bertanya dalam acara bincang-bincang seputar rilis novel terbarunya, saya malah menjelekkan ‘O’; bahwa novel alusi Orwell ini sebuah kesalahan, seperti 1Q84, bagai Indomie beukah (baca: terlalu lama dimasak). Sebagai sesama bobotoh dan Sone, tentunya saya enggak berniat menyakiti seorang Eka Kurniawan yang kalau boleh dikata sebagai senpai saya. Mungkin karena ada keinginan untuk dipuji, saya justru lupa untuk memberi komentar positif. Saya sebenarnya ingin menambahkan sanjungan berikut: Tapi seperti 1Q84, ini adalah novel favoritnya Sunny loh, karena dalam novel ini beragam kehidupan tokoh-tokohnya saling terikat dalam jalinan kompleks, sebut member SNSD itu.

eka kurniawan penulis kapitalis
lihat: Hidung Gogol

Padahal ada begitu banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Meski enggak terlalu doyan bercakap-cakap, tapi ketika dihadapkan pada tema soal buku, khususnya fiksi, mulut saya selalu ingin membuka diri. Ingin rasanya punya semacam literary brother seperti Visceral Realist-nya Bolano, untuk mendiskusikan beragam hal, untuk menemukan bagaimana caranya mengguncang kemapanan yang ada, meruntuhkannya, dan menciptakan tatanan dunia yang baru. Pendek kata, ada beragam pertanyaan, namun saya menyia-nyiakan kesempatan tadi (dan saya memang sudah meramalkan bahwa akan berakhir seperti ini).

Tapi jujur sih, rupanya seorang Eka Kurniawan nampaknya bukan pembicara yang hebat, ujarannya seperti seorang dosen yang membosankan, ditambah pertanyaan-pertanyaan peserta lain (soal sastra gitu lah) yang sebenarnya sudah bisa terjawab apabila membaca pos-pos di blognya.

eka kurniawan snsd

Membaca beragam pos di ekakurniawan.com dan ekakurniawan.net seperti membaca How to Travel with a Salmon & Other Essays, buku kumpulan tulisannya Umberto Eco, seorang pemikir yang meninggal 19 Februari 2016 lalu. “Saya seorang filsuf. Saya hanya menulis novel di akhir pekan,” sebut Eco bergurau, dan memang dalam tulisan-tulisannya pun begitu penuh gurauan dengan cita rasa humor asyik. Merumitkan yang sepele dan nyeleneh, dan sebaliknya. Namun tetap, pemikiran-pemikirannya sangat canggih. Sebagai contoh saya pernah menerjemahkan salah satu kolomnya, Cara Menikmati Es Krim. Filsafat memang soal berpikir sistematis, kritis, dan radikal, tapi enggak berarti haram hukumnya untuk diguyonkan kan?

Dan kita tahu, seorang Eka Kurniawan itu lulusan Filsafat UGM (meski saya tak paham apakah Sarjana Filsafat secara otomatis disebut filsuf). Membaca tulisannya, kita pun bisa mendapat pemikiran canggih namun dengan humor seasyik Umberto Eco tadi. Meski seringnya meresensi buku yang baru ia baca (untungnya ada Google, sehingga saya bisa sedikit kenal siapa penulis yang ia sebut), dan mungkin saya enggak berniat untuk membaca buku tersebut, selalu ada ‘pencerahan’ yang saya dapat. Yang pasti Eka seperti Eco, sama-sama manusia pembaca rakus.

Misalnya dalam Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance–yang lewat pos ini saya jadi tahu kalau Eka itu seorang Sone, saya membaca serius sampai kemudian di pertanyaan filosofisnya Milan Kundera: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? Eka menimpalinya dengan santai: Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop.

Selain Alain de Botton, saya selalu suka dengan pemikiran-pemikiran kekinian yang disampaikan Eka Kurniawan–dua filsuf favorit saya ini semoga jangan cepet menyusul Eco. Lalu muncul khayalan bagaimana kalau sekiranya Eka Kurniawan, Puthut EA, Dea Anugrah, serta sarjana-sarjana filsafat lainnya membuka cabang ‘Sekolah Kehidupan’ di berbagai pelosok negeri Indonesia tercinta.

Endeswey-endeswey, mencatut kicauannya akun alter @mengbal, setelah meraih World Readers Award, kita doakan semoga bobotoh dari jabang bayi bernama Eka Kurniawan ini pun bisa merebut Man Brooker Prize yang bergengsi syekali di Amrik itu.


6 thoughts on “Eka Kurniawan: Umberto Eco 2.0

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s