Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

wind up bird and tuesday women

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi gang ini tak punya jalan masuk atau keluar, mengarah ke tembok batako di satu sisi dan pagar kawat di sisi lainnya. Ini bahkan bukan lorong. Setidaknya, sebuah lorong harus memiliki sebuah jalan masuk. Penduduk sekitar menamainya “gang” hanya demi kemudahan.

Gang berkelok-kelok dihimpit halaman belakang rumah warga kira-kira sepanjang enam ratus kaki. Tiga-kaki-sekian lebarnya, tapi karena sampah yang menumpuk dan tanaman liar yang tumbuh di sisinya, hanya tersisa sedikit ruang sehingga kau harus berdesak-desakan melalui jalur ini.

Dari apa yang kudengar—tepatnya dari pamanku yang dengan baik hatinya menyewakan rumah yang kami tempati dengan begitu murah—gang ini dulunya punya jalan masuk dan keluar, menjadi jalan pintas antar kompleks, jalan ke jalan. Tapi kemudian, setelah ledakan penduduk pasca perang, rumah-rumah baru dibangun di tiap lahan yang tersedia, berhimpitan dari area biasa sampai jalur sempit sekalipun. Khawatir akan dilalui orang asing yang berjalan melalui halaman belakangnya, praktis di bawah naungan atap, maka penduduk sekitar diam-diam menutup jalan masuknya. Awalnya hanya semak yang tak menyamarkan jalan masuk, tapi seorang penduduk kemudian meluaskan halamannya dan membangun tembok batu bata yang pada akhirnya menutup sempurna jalan masuk itu. Sementara di sisi lain gang ada yang memasang pagar kawat untuk menghalangi anjing agar tidak masuk. Karena tidak ada penduduk yang menggunakan lagi gang ini, jadi tak ada yang mengeluh ketika kedua jalan masuk tadi ditutup. Dan bagaimanapun, dengan ditutupnya jalan ini merupakan perhitungan dalam pencegahan kriminal. Dengan demikian, jalur ini menjadi terbengkalai dan tak bisa digunakan, seperti kanal yang tak terurus, hanya jadi semacam zona penyangga antar rumah, tanahnya sendiri ditumbuhi semak belukar, jaring laba-laba yang lengket tersebar menjerat serangga.

Sekarang, kenapa istriku lebih tahu soal tempat ini? Itu di luar pemikiranku. Aku sendiri baru sekali menginjakan kaki di sana beberapa waktu ke belakang. Dan dia bahkan takut dengan laba-laba.

Namun saat aku mencoba berpikir, kepalaku seakan-akan dipenuhi ledakan semacam dari substansi gas. Aku tidak tidur nyenyak malam kemarin, ditambah cuaca yang terlalu panas untuk permulaan Mei, ditambah pula panggilan telepon celaka tadi.

Baiklah, pikirku, mungkin harus mencari kucing itu. Soal perkembangan ke depan tinggalkan dulu untuk nanti. Bagaimanapun, lebih baik berada di luar ketimbang menyekap diri dalam ruangan menunggu panggilan telepon.

Matahari musim semi bersinar terang dan segar melewati batang-batang pohon, membentuk bayang-bayang di tanah. Tanpa adanya angin, bayangan tadi menempel di tempat seperti noda naas. Noda yang sungguh sudah menempel sejak berabad-abad silam.

Bayang-bayang silih berganti di kausku saat aku melintas di bawah batang-batang pohon, lalu pindah ke tanah. Semuanya tetap pada tempatnya. Kau bisa mendengar hampir semua rumput yang tengah menyerap sinar matahari. Sekumpulan awan kecil mengambang di langit, begitu jelas dan berbentuk tegas, lurus di tengah-tengah. Semuanya nampak begitu cerah sehingga aku serasa menguap, seperti tubuhku bakal hilang untuk selamanya. Seperti itu, dan ini sungguh panas.

Aku menggunakan kaos, celana panjang katun tipis, dan sepatu tenis, tapi baru saja, hanya berjalan sebentar, ketiakku dan celah dadaku lepek karena peluh. Aku hanya memakai kaos pagi tadi dan celana yang ada, jadi setiap kali aku menghela napas ada harum kapur barus yang tajam, seakan ada serangga kecil yang terbang dekat hidungku.

Aku mengarahkan mataku ke dua sisi dan melangkah pelan, langkah terukur, berhenti sebentar demi sebentar untuk memanggil nama kucing dalam bisikan.

Rumah-rumah yang menghimpit gang adalah dua tipe berbeda dan membaur sempurna seperti cairan yang punya gravitasi spesifik berbeda. Pertama adalah rumah-rumah berasal dari masa lalu, dengan halaman belakang yang besar; lalu ada yang baru. Tidak ada dari rumah-rumah baru punya halaman belakang; beberapa tak punya sepetak pun area untuk halaman belakang. Hampir tidak cukup ruang antara bagian atap dan gang untuk mengaitkan gantungan baju. Di beberpa tempat, baju-baju digantung melalui gang, memaksaku untuk bergerak dengan hati-hati di antara handuk dan pakaian yang menggantung. Aku begitu dekat sehingga kau bisa mendengar televisi yang menyala dan toilet yang disiram. Aku bankan mencium harum masakan kari di salah satu dapur.

Rumah tua, secara kasat mata, sangat sulit untuk menemukan kehidupan di sana. Secara cermat menempatkan pagar tanaman dan semak belukar sebagai pembatas yang menghalangi pandangan, meski di sana sini kau bisa melihat sekilas ke dalamnya. Rumahnya sendiri dari berbagai gaya arsitektur: rumah tradisional Jepang dengan lorong panjang, villa gaya Barat awal dengan atap tembaga penuh noda, rumah “modern” hasil rancang bangun ulang. Semuanya, bagaimanapun, tak kelihatan ada penghuninya. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan. Tak terlihat cucian menggantung.

Ini pertama kalinya aku mengeluyuri gang dengan begitu antusiasnya, jadi semuanya baru bagi mataku. Di sudut salah satu halaman belakang ada pohon Natal coklat tunggal yang layu. Di halaman lainnya berserak mainan anak-anak—tumpukan bagian sepeda roda tiga, set ringtoss, pedang samurai plastik, bola-bola karet, mainan kura-kura, truk kayu. Satu halaman lainnya tersedia ring basket, yang lainnya ada satu set mahal kursi taman dan meja rotan. Kalau dilihat-lihat, kursi-kursi itu belum pernah diduduki selama sebulan (atau setahun), kursi-kursi itu tertutup kotoran; atas meja sendiri dilapisi anti-air dengan hiasan kelopak magnolia lavender.

Salah satu rumah menyuguhkan pandangan jelas langsung menuju ruang tengah lewat pintu kaca gesernya. Di sana aku bisa melihat sofa berbentuk hati yang pas dengan furnitur sekitar, televisi yang lumayan besar, ada akuarium yang berisi ikan tropis dan dua piala penghargaan, dan lampu berdiri sebagai hiasan. Itu terlihat tak nyata bagai disusun untuk sebuah acara sitkom di TV.

Di halaman yang lain, ada kandang anjing besar yang terbuat dari kawat skrining. Tak ada anjing di dalamnya yang bisa kulihat, bagaimanapun. Aku juga mendapati bahwa skrining itu melar tak berbentuk, koyak menonjol bagai ada seseorang atau sesuatu yang bersandar di sana selama sebulan.

Rumah kosong yang istriku bilang tak jauh dari sana, setelah kandang anjing tadi. Segera, aku bisa melihat bahwa itu memang kosong. Sekali melihat kau bisa tahu bahwa rumah itu tidak ditinggal dua atau tiga bulan. Tempat itu memang rumah dua lantai yang masih baru, meski rana pada jendela terlihat diterpa cuaca dan pagar berkarat di sekitar jendela ruang atas terlihat sebentar lagi mau roboh. Halaman kecil itu terpampang patung batu berbentuk burung dengan sayapnya yang mengepak sejajar dadanya dikelilingi rumput rimbun, bunga-bunga kecil menjalari kaki burung itu. Burung itu—membuatku berpikir apa jenisnya—mendapati gangguan dariku dan kapan saja mungkin bakal terbang.

Di samping patung batu ini, halamannya minim dekorasi. Dua kursi santai yang sudah rusak teronggok tepat di bawah bibir atap, ada di sebelah bunga-bunga azalea merah terang yang mekar. Selain itu, hanya rumput yang bisa dilihat.

Aku bersandar ke pagar kawat sedada dan melakukan pengamatan singkat terhadap halaman itu. Hanya halaman yang seekor kucing sukai, tapi tak seperti yang kuharapkan, tak kelihatan seekor pun kucing. Di atas antena TV di genteng, seekor merpati bertengger, suara monotonnya terbawa kemana-mana. Bayangan dari patung burung itu jatuh di lilitan semak, bilahnya memotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk berbeda.

Aku mengambil sebatang rokok dari sakuku, menyalakannya, dan mengesapnya, bersandar ke pagar. Burung merpati tidak berpindah dari antena seakan-akan bakal terus mendekut di sana.

Rokok habis dan kucecap ke tanah, aku masih belum bergerak untuk beberapa waktu yang lama. Untuk berapa lama, aku tak tahu. Setengah tertidur, aku menatap secara dungu bayangan dari burung yang jatuh di rumput.

Berangsur-angsur aku mulai sadar akan sesuatu—sebuah suara?—dalam bayangan burung itu. Suara siapa? Seseorang nampaknya sedang memanggilku.

Aku berputar untuk melihat belakangku, dan di sana, di halaman seberang, berdiri seorang gadis yang mungkin berusia lima belas atau enam belas tahun. Kecil mungil, dengan rambut lurus pendek, dia mengenakan kacamata hitam dengan bingkai kuning dan kauus Adidas biru muda dengan lengan baju yang dipotong ke bahu. Lengan kurus terjulur dari bukaan tadi coklat matang sempurna untuk hanya bulan Mei. Satu tangan di celana pendeknya, dan tangan lainnya di pintu pagar bambu, dia menopang sendiri sambil terhuyung-huyung.

“Panas, ya?” gadis itu menyapaku.

“Panas betul,” aku mengulang.

Mulai lagi, pikirku—lagi. Sepanjang hari ini ada saja perempuan-perempuan yang memulai percakapan denganku, kan?

“Apa Anda punya sebatang rokok?” gadis itu bertanya.

Aku mengeluarkan sepak Hope dari sakuku dan menawarkan kepadanya. Dia menarik keluar tangannya dari celana pendeknya, mengambil sebatang, dan mengamati sebentar sebelum menempatkan ke mulutnya. Mulutnya kecil, dengan bibir atas yang sedikit melengkung. Aku menjentikan korek dan menyalakan rokoknya. Dia bersandar ke depan, menyingkap telinganya: telinga yang segar terbentuk, berbau sabun, dan indah, garis halus yang berkilau dengan dekorasinya dari bulu-bulu halus.

Dia membuka bibir di bagian tengahnya dengan sebuah udara dan membiarkan keluar kepulan asap dengan puas, kemudian menatapku seakan dia tiba-tiba teringat akan sesuatu. Aku melihat wajahku terbagi menjadi dua bayangan di kacamatanya. Lensanya gelap pekat, dan dilapisi kaca, sehingga sulit untuk melihat langsung matanya.

“Kamu dari lingkungan ini?” tanya gadis itu.

“Ya,” jawabku, dan menunjuk rumahku, hanya saja aku tak bisa mengatakan jika itu memang arah yang tepat atau bukan. Kenapa semua jadi aneh di sekitar sini. Jadi—apa bedanya?—aku menunjuk ke sembarang arah.

“Kenapa Anda berdiam lama sekali di sini?”

“Aku sedang mencari seekor kucing. Sudah hilang tiga atau empat hari,” aku menjelaskan, menyeka keringat di telapak tangan ke celanaku. “Ada orang yang mengatakan kalau kucingnya ada di sekitar sini.”

“Kucing jenis apa?”

“Seekor jantan yang besar. Dengan garis-garis cokelat, ujung ekornya sedikit berbelit.”

“Nama?”

“Nama…?”

“Nama kucingnya? Kucingnya punya nama, tidak?” ucapnya, memandang tajam mataku dari balik kacamatanya—setidaknya, aku menduga seperti itu.

“Noboru,” jawabku. “Noboru Watanabe.”

“Nama yang indah untuk seekor kucing.”

“Itu nama sepupu laki-lakiku. Candaan dari istriku. Katanya kucing ini mengingatkannya pada kakaknya.”

“Maksudnya?”

“Cara bergeraknya. Cara jalannya, tampang ngantuk di matanya. Beberapa hal kecil.”

Baru kali ini si gadis menyunggingkan senyum. Dan saat dia menurunkan kacamatanya, aku bisa melihat kalau ternyata dia lebih anak-anak ketimbang yang aku tebak saat pandangan pertama. Lengkungan unik di bibir atasnya menampilkan sudut yang aneh.

Cumbui, aku bersumpah aku mendengar seseorang mengatakan ini. Suara dari perempuan di telepon itu. Bukan suara si gadis. Aku menyeka keringat dari keningku dengan belakang telapak tanganku.

“Belang coklat dengan lengkungan di ujung buntutnya, ya?” si gadis menegaskan kembali. “Pakai kalung?”

“Kalung hitam kemerah-merahan.”

Si gadis dengan tenang berpikir selama sepuluh, lima belas detik, tangannya tetap bertumpu pada pintu gerbang. Kemudian dia mengibaskan puntung rokoknya ke tanah di dekat kakiku.

“Bisakah Anda mematikannya? Aku tak pakai alas kaki.”

Aku menginjaknya hati-hati dengan bawah sepatu tenisku.

“Kucing itu, aku pikir aku pernah melihatnya,” dia ucapkan dengan hati-hati, “aku tidak terlalu memperhatikan soal buntutnya, tapi memang, itu seekor jantan berwarna coklat. Besar, mungkin memakai kalung.”

“Kapan kau melihatnya?”

“Ya, kapan itu ya? Aku yakin aku telah melihatnya beberapa kali. Aku sering di luar sini hampir sepanjang hari untuk berjemur, jadi satu hari bisa saja tercampur baur. Tapi bagaimanapun, itu mungkin tiga atau empat hari yang lalu. Halaman belakang ini adalah jalan pintas untuk kucing, beragam jenis kucing melintasi sepanjang waktu. Mereka keluar dari pagar rumah keluarga Suzuki di sana, memotong lewat halaman kami, dan menuju halaman rumah keluarga Miyawaki.”

Sambil bicara, ia menunjuk rumah kosong itu. Sama seperti sebelumnya, ada patung batu burung dengan sayap terkepak, rerumputan berjumur di bawah sinar musim semi, merpati masih hinggap di antena TV.

“Terimakasih untuk infonya,” Aku berkata kepadanya.

“Hey, aku tau, bagaimana kalau masuk dan menunggu di halaman ini? Semua kucing-kucing itu melintas ke sini bagaimanapun. Dan di samping itu, jika Anda terus mengendap-endap di sekitar sini, seseorang bakal berpikir Anda seorang pencuri lalu memanggil polisi. Bukan kejadian pertama, lho.”

“Tapi aku tak bisa berkeliaran mencari kucing seenaknya di halaman orang lain.”

“Tentunya bisa, ini bukan sesuatu yang salah. Tak ada orang di rumah dan sangat membosankan tanpa seorang pun yang bisa diajak bicara. Kenapa kita tak menikmati matahari, kita berdua, sampai kucing itu menampakan diri? Aku punya penglihatan tajam, aku bisa sangat membantu.”

Aku melihat jam tanganku. Dua tiga puluh. Yang harus kulakukan selanjutnya hari ini adalah mengambil binatu dan menyiapkan makan malam.

“Baik, aku akan tinggal sampai jam tiga,” ucapku, masih tak bisa memahami keadaan.

Aku membuka pintu gerbang dan melangkah masuk, mengikuti gadis itu melewati rerumputan, dan sebentar kemudian aku mendapati bahwa dia sedikit menyeret kaki kirinya. Bahu mungilnya berayun dengan ritme periodis seperti gerakan mekanik ke arah kiri. Dia berhenti beberapa langkah di depanku dan memberi isyarat agar aku berjalan di sampingnya.

“Terjadi kecelakaan bulan kemarin,” gadis itu berkata dengan mudahnya, “Saat dibonceng di motor seseorang dan aku terpental. Tak beruntung.”

Dua kursi kanvas disusun di tengah rerumputan. Handuk biru lebar menggantung di salah satu kursi, dan kursi lainnya terdapat kotak Marlboro merah, sebuah asbak, dan sebuah korek tercecer bersama radio-kaset besar dan beberapa majalah. Volume suaranya rendah, tapi beberapa grup hard-rock yang tak dapat dikenali sedang dimainkan.

Dia memindahkan segala centang-perenang itu ke atas rumput dan menyuruhku untuk duduk, lalu mematikan musiknya. Belum lama aku duduk aku bisa mendapat pandangan jelas gang itu dan rumah kosong yang dilewatinya. Aku bahkan bisa melihat patung batu burung putih dan bunga-bunga kecil dan pagar kawar. Aku yakin gadis itu telah mengamatiku dari sini sepanjang waktu.

Halaman ini luas dan sederhana. Rumputnya dipotong pendek merata, di sana sini dihiasi tanaman. Dari kiri kursi ada sebuah kolam yang cukup besar, yang kelihatan sudah lama tak dipakai. Airnya mengering, tampak dasarnya yang kotor berwarna kehijauan tersinari matahari, seperti semacam makhluk air terbalik. Rumah elegan dengan potongan bergaya Barat jadul, meski tidak besar dan tidak pula mewah, nampak di belakang pohon-pohon. Hanya halaman yang tidak terukur atau tampak tak terawat.

“Pernah, aku bekerja paruh waktu di layanan pemotongan rumput,” aku berkata.

“Oh ya?” kata gadis itu tanpa menunjukan ketertarikan.

“Pasti pekerjaan sulit mengurus halaman sebesar ini,” aku berkomentar, melihat sekelilingku.

“Anda punya sebuah halaman?”

“Hanya halaman kecil. Dua, tiga pohon hydrangea, seukuran itu lah,” kataku. “Kau di sini sendirian sepanjang waktu?”

“Ya, seperti kata Anda. Siang hari, aku selalu sendirian. Pagi dan sore, ada pembantu datang, selain itu aku sendirian. Mau minuman dingin? Ada bir.”

“Ah tak usah repot.”

“Ayolah? Tak masalah kok.”

“Aku tak haus,” kataku. “Kau tak pergi sekolah?”

“Anda tak kerja?”

“Tak ada kerjaan,” aku mengakui.

“Pengangguran?”

“Seperti itu. Aku keluar kerja.”

“Kerjaan apa yang Anda lakukan?”

“Pengacara,” aku berdalih, menghela nafas dalam dan lama untuk memotong percakapan. “Mengambil kertas-kertas dari balai kota dan kantor pemerintahan, mengisi formulir, mengecek kasus preseden, menangani prosedur pengadilan, pekerjaan padat semacam itu.”

“Tapi Anda keluar?”

“Benar.”

“Istri Anda kerja?”

“Dia kerja,” jawabku.

Aku mengeluarkan sebatang rokok dan menempatkan di mulutku, menyalakan korek dan menghidupkannya. Burung Nejimaki berciut-ciut dari pohon terdekat. Ada dua belas atau tiga belas kali, dan burung itu pindah ke pohon lain.

“Kucing-kucing selalu melintas di sana,” gadis itu berkomentar tanpa aba-aba, menunjuk ke sudut rerumpuan di depannya. “Lihat tempat pembakaran sampah di belakang pagar rumah keluarga Suzuki? Nah, mereka keluar dari sana, lari sepanjang jalan itu, menyelundup ke bawah pagar, dan keluar di halaman sebelah sana. Selalu sama rutenya. Anda tahu Tuan Suzuki? Profesor di universitas, sering masuk TV?”

“Tuan Suzuki?”

Gadis itu menambahkan beberapa detail, tapi tetap saja aku tak tahu tentang Tuan Suzuki.

“Aku jarang nonton TV,” kataku

“Keluarga yang mengerikan,” gadis itu menyeringai, “Sombong, mereka memang begitu. Orang-orang di TV itu pada munafik.”

“Oh?”

Gadis itu mengeluarkan Marlboro-nya, mengambil sebatang, dan menggulirkannya di antara jarinya.

“Baik, aku pikir ada beberapa yang baik, tapi mereka bukan tipeku. Sekarang, keluarga Miyawaki, mereka orang-orang baik. Nyonya Miyawaki ramah. Dan Tuan Miyawaki, dia menjalankan dua atau tiga restoran keluarga.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Tak tahu,” ucap gadis itu, menjentikkan ujung rokoknya. “Kemungkinan punya hutang. Ada keribuan saat mereka pergi. Sudah dua tahun yang lalu, kupikir. Meninggalkan segalanya dan pergi begitu saja. Kucing-kucing terus beranak-pinak, tanpa pertimbangan. Ibuku selalu ngomel-ngomel.”

“Emang banyak kucing ya?”

Dia menempatkan rokok ke mulutnya dan menyalakan dengan koreknya. Lalu mengangguk.

“Segala jenis kucing. Beberapa kehilangan bulunya, bahkan ada kucing bermata satu.. benjolan daging membesar di satu matanya. Jijik, ya?”

“Menjijikan,” aku menyetujui.

“Aku punya sepupu yang punya enam jari. Seorang perempuan, sedikit lebih tua dariku, punya kelingking bayi tepat di sebelah jari kecilnya. Selalu menjaganya agar tetap terlipat, sehingga kau tak bakal tahu. Seorang perempuan cantik.”

“Hmm,” gumamku.

“Anda pikir yang semacam itu keturunan? Seperti, Anda tahu… mengalir dalam darah?”

“Aku tak tahu,” kataku.

Gadis itu tak berkata untuk beberapa saat. Aku mengesap rokokku dan mengarahkan mataku ke arah jalur kucing tadi. Tak ada satu pun kucing yang muncul sejauh ini.

“Hey, Anda yakin tak mau minum sesuatu? Aku mau ngambil minuman soda,” ucap gadis itu.

“Tidak terima kasih,” aku memberitahunya.

Gadis itu bangkit dari kursinya dan menghilang ke balik bayangan, menyeret kakinya; sementara itu, aku mengambil satu majalah yang ada dekat kakiku dan membolak-balik halamannya. Berbalik dengan apa yang kusangka, ini adalah majalah pria dewasa bulanan. Di tengah ada wanita yang duduk dengan pose tak wajar, kaki terbuka lebar, sehingga kau bisa melihat kemaluannya dan bulu pubisnya melalui stocking tipis. Bukan waktu yang tepat, pikirku, dan menaruh kembali majalah itu ke tempat asalnya, lalu mengarahkan lagi pandanganku ke jalur kucing tadi, tangan dilipat di dadaku.

Setelah beberapa lama, gadis itu kembali, segelas cola di tangan. Dia melepaskan kaus Adidas-nya berganti dengan atasan bikini dan celana pendeknya. Itu bra kecil yang menampakan kesuluruhan dadanya, dengan tali ikat di belakangnya.

Sungguh, ini siang yang panas. Hanya berbaring di atas kursi di bawah matahari, kaus abu-abuku berubah gelap karena keringat.

“Katakan padaku,” gadis itu kembali ke tempatnya semula, “Andai saja Anda mendapati kalau perempuan yang Anda sukai punya enam jari, apa yang bakal Anda lakukan?”

“Aku bakal menjualnya ke sirkus,” kataku.

“Sungguh?”

“Hanya bercanda,” ulangku, terkejut. “Aku sih tak terlalu ambil pusing.”

“Meski jika bakal ada kemungkinan menurun ke anak-anak Anda?”

Aku berpikir sejenak.

“Aku pikir aku tak keberatan. Lebih satu jari tak bakal melukai.”

“Bagaimana jika dia punya empat payudara?”

Aku berpikir kembali beberapa saat.

“Aku tak tahu,” ucapku.

Empat payudara? Percakapan ini ngalor-ngidul begitu cepat, jadi aku memutuskan mengganti topik.

“Berapa umurmu?”

“Enam belas,” gadis itu menjawab, “Baru masuk enam belas. Murid baru di SMA.”

“Tapi kau bolos dari sekolah.”

“Tak bisa berjalan terlalu jauh saat kakiku mulai sakit. Ada luka parah di sebelah mataku juga. Itu sekolah yang sangat disiplin, tak tahulah masalah apa yang bakal terjadi kalau mereka menemukanku terluka karena jatuh dari motor… karenanya aku cuti karena penyakit. Aku bisa cuti selama setahun jika aku mau. Aku tak terlalu buru-buru untuk lulus dari SMA.”

“Hmm,” hanya ini yang bisa kuucapkan.

“Tapi bagaimanapun, balik lagi ke obrolan kita tadi, Anda bilang Anda tak terlalu keberatan untuk menikahi perempuan yang punya enam jari, tapi empat payudara Anda tak mau.”

“Aku tidak bilang aku tak mau, aku bilang aku tak tahu.”

“Kenapa Anda tak tahu?”

“Aku tak bisa menggambarkannya.”

“Tapi Anda bisa membayangkan enam jari.”

“Begitulah.”

“Apa bedanya? Enam jari atau empat payudara?”

Sekali lagi, aku berpikir sejenak, tapi tak bisa memulai berpikir bagaimana untuk menjelaskannya.

“Katakan, apakah aku bertanya terlalu banyak?” gadis itu bertanya, menatapku tajam dari balik kacamatanya.

“Kau pernah dibilang begitu?” aku balik bertanya.

“Beberapa kali.”

“Tak ada yang salah dengan bertanya. Membuat orang lain berpikir.”

“Kebanyakan orang, bagaimanapun, tak memberiku banyak pikiran,” katanya, melihat ujung jari kakinya. “Semuanya sering tak memberi jawaban apa-apa.”

Aku menggeleng kepalaku samar-samar dan menyetel kembali pandanganku ke arah jalur kucing itu. Sial, apa yang kulakukan di sini? Tak ada satu pun kucing celaka yang lewat jalur itu.

Aku menutup mataku selama dua puluh atau tiga puluh detik, tangan dilipat di dadaku. Berbaring di sana, mata tertutup, aku bisa merasakan butiran keringan keluar dari berbagai bagian tubuhku. Di dahiku, di bawah hidungku, di sekitar leherku, ada sensasi sedikit, seakan ada bulu-bulu kecil basah yang melayang di sana sini. Kausku melengket ke dadaku seperti bendera terkulai di hari tak berangin. Sinar matahari punya berat yang ganjil saat meresap kepadaku. Aku bisa mendengar bunyi gemerincing es saat gadis itu menggoyang gelasnya.

“Tidur saja jika Anda mau. Aku akan membangunkan Anda jika aku melihat kucingnya,” gadis itu erbisik.

Aku mengangguk pelan dengan mata tertutup.

Untuk sementara, tak terdengar bunyi apapun. Merpati dan burung nejimaki pasti sudah terbang menjauh. Tidak ada angin sepoi-sepoi, bahkan tidak ada deru mobil. Semuanya ketika aku memikirkan tentang suara di telepon. Bagaimana jika aku memang tahu wanita itu?

Meski aku tak bisa mengingat siapa wanita itu. Dia tidak ada di sana; dia jauh sekali dari kesadaranku. Hanya bayangan panjangnya, panjang sekali yang terus mengikuti jejakku, seperti dalam lukisan Chirico. Dering yang tak berkesudahan dalam telingaku.

“Hey, Anda sudah tidur?” datang suara dari gadis itu, saking redupnya itu seperti tak ada bunyi sama sekali.

“Tidak, aku masih bangun,” jawabku.

“Bolehkah aku mendekat? Akan mudah bagiku berbicara denganmu dengan berbisik.”

“Silahkan saja,” kataku, mata masih tertutup.

Aku mendengar saat gadis itu menggeser kursinya mendekatiku, terdengar bunyi berkeletak kering bingkai kayu yang beradu.

Aneh, pikirku, suara gadis itu dengan mataku yang tertutup terdengar sangat berbeda dibanding suaranya saat mataku terbuka. Ada apa denganku? Ini tak pernah terjadi sebelumnya.

“Bolehkah aku bicara?” tanya gadis itu. “Aku tidak akan berisik. Anda tak perlu menjawab, Anda bahkan bisa tidur kapan saja.”

“Baik,” kataku.

“Kematian. Orang-orang sekarat. Ini semua sangat mengasyikan,” gadis itu memulai.

Dia berbisik tepat di telingaku, jadi kata-kata langsung masuk tubuhku dalam aliran nafas lembab yang hangat.

“Tak ada pertanyaan,” katanya. “Aku tak mau ditanya apapun sekarang. Dan jangan buka mata Anda. Mengerti?”

Aku memberi anggukan selamat suaranya.

Dia melepaskan jarinya dari bibirku, dan jari yang sama sekarang menjelajahi pergelangan tanganku.

“Aku memikirkan soal bagaimana rasanya menyayat sesuatu dengan pisau bedah. Bukan mayat. Gumpalan yang sudah mati. Pasti ada yang seperti itu di sana, aku tahu. Menjemukan kayak bola sofbol—dan lembut—dan jalinan saraf yang lumpuh. Aku ingin mengangkatnya dari mayat tadi dan membedahnya. Aku selalu memikirkan ini. Bayangkan apa yang bakal ada di dalamnya. Kemungkinannya sih bakal lengket, seperti lumeran pasta gigi yang ada dalam kemasan, Anda berpikir begini juga? Baik, Anda tak usah menjawab. Semuanya liat dan lengket di sekitarnya, kemudian menjadi keras. Itulah mengapa hal pertama yang ingin kulakukan adalah menyanyat kulit luarnya lalu menyendok cairan itu, dan di tempat semuanya keluar akan ada biji yang sangat kecil. Seperti bantalan pada bola yang super keras, bagaimana menurut Anda?”

Gadis itu batuk-batuk pendek.

“Belakangan ini, aku sering memikirkan ini. Mungkin karena aku punya banyak waktu luang setiap hari. Tapi memang, aku memikirkan ini. Jika aku tak melakukan apa-apa, pikiranku selalu mengawang-awang jauh. Aku jatuh dalam pikiranku, sulit untuk mencari jalan kembali.”

Sekarang, gadis itu melepaskan jarinya dari pergelangan tanganku untuk meminum sisa minuman sodanya. Aku bisa tahu dari bunyi es dalam gelas kosong itu.

“Tenang saja. Aku terus mengawasi kucing itu. Jangan khawatir. Segera saat aku melihat Noboru Watanabe, aku akan memberitahumu. Jadi kau bisa menutup matamu. Noboru Watanabe pasti lewat sini beberapa menit lagi. Maksudku, semua kucing punya jalur yang sama, jadi dia bakal muncul. Mari membayangkan saat kita menunggunya. Seperti, Noboru Watanabe mendekat, makin dekat. Dia muncul dari balik semak-semak, menyelinap di bawah tembok, berhenti lalu membaui bunga-bunga, makin dekat setiap menitnya. Coba dan bayangkan dia.”

Aku mengikutinya dan mencoba melihat kucing itu dalam mata batinku, tapi semua yang bisa kucapai hanya gambaran kucing yang sangat kabur. Benderang matahari membakar melalui pelupuk mataku, memencarkan area gelap pada citraanku; di samping itu, bagaimana pun aku mencoba aku tak bisa mengingat wajah mungil berbulu itu seakurat mungkin. Noboru Watanabe yang kubayangkan adalah citraan yang gagal, bisa dibilang menyimpang dan tak wajar. Hanya suaranya saja; yang lain-lain tak ada. Aku bahkan tak ingat bagaimana cara dia berjalan.

Gadis itu meletakan kembali jarinya di pergelangan tanganku sekali lagi dan kali ini menggambar suatu pola. Diagram aneh tentang bentuk tak tentu. Saat dia menggambari bagan di pergelangan tanganku, bersamaan dengan itu aku merasakan sepenuhnya beragam kegelapan menyusup ke kesadaranku. Aku pasti jatuh tertidur, pikirku. Bukan karena aku mengantuk, tapi sesuatu memberitahuku bahwa aku tak bisa mengelak dari sesuatu ini. Tubuhku terasa berat di atas lengkungan kanvas kursi.

Di tengah-tengah naungan kegelapan ini, sebuah gambaran jelas dari keempat kaki Noboru Watanabe muncul di kepalaku. Empat cakar coklat mungil dengan bantalan empuk pada telapaknya. Tanpa bersuara, dia berjalan dengan lesu di sebuah tanah lapang.

Tanah lapang apa? Dimana?

Aku tak bisa membayangkannya.

Kemungkinan besar kau punya sebuah titik buta di suatu tempat? ucap wanita itu lembut.

*

Aku terbangun dan mendapati diriku sendirian. Yang pergi adalah gadis itu yang berbaring di kursi di sampingku. Handuk dan rokok juga majalah-majalah masih ada di tempat, tapi minuman soda dan radio pemutar kaset sudah tak ada.

Matahari sudah condong di barat dan diriku sampai pergelangan kakiku berada dalam bayang-bayang pohon pinus. Tulisan di jam tanganku menunjukan pukul 3:40. Aku menggeleng kepalaku beberapa kali seakan menggoyang-goyang kaleng kosong, bangkit dari kursi, dan melihat ke sekeliling. Semuanya masih sama seperti saat aku pertama melihatnya. Halaman rumput yang lebar, kolam yang mengering, pagar, patung burung, bunga-bunga kecil, antena TV, tak ada kucing. Tak ada si gadis.

Aku mengempaskan diriku ke atas rumput yang terbayangi dan melarikan tanganku ke rumput hijau, sebelah mata melihat jalur kucing, sementara aku menunggu gadis itu untuk kembali. Sepuluh menit kemudian, masih tak ada tanda baik dari kucing atau gadis itu. Bahkan tak ada sesuatu yang beranjak. Aku dibuat bingung untuk melakukan apa selanjutnya. Aku merasa aku sudah melakukan sesuatu yang buruk saat tidur tadi.

Aku berdiri lagi dan menatap rumah itu. Tapi masih tak ada tanda siapa pun di sana. Hanya sinar matahari dari barat yang menyinari jendela. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menerobos lagi ke gang dan mengikuti jalan pulang. Jadi aku tidak menemukan kucingnya. Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba.

*

Kembali di rumah. Aku membawa masuk cucian kering dan melempar semuanya lalu membuat makanan sederhana. Kemudian aku merebahkan diriku di atas lantai ruang tengah, punggungku bersandar di tembok, untuk membaca koran siang. Pukul 5:30, telepon berdering dua belas kali, tapi aku tidak mengangkatnya. Setelah dering berhenti, kekosongan berkepanjangan melayang-layang dalam ruang gelap debu yang mengambang. Jam dinding di atas TV mencoreng panel tak terlihat dalam ruang dengan cakar rapuhnya. Dunia ini hanyalah mainan yang diputar, pikirku. Sekali tiap hari burung nejimaki akan muncul dan memutar pegas dunia ini. Sendiri dalam rumah menyenangkan ini, tempat aku menua ini, sebuah bola pucat kematian mengembang di dalam diriku. Meski aku tidur di antah berantah antara Saturnus dan Uranus sekali pun, burung nejimaki di mana pun terus sibuk memenuhi tugasnya.

Aku mempertimbangkan untuk menulis puisi tentang burung nejimaki ini. Tapi tidak ada baris pertama yang terpikirkan. Di samping itu, aku ragu kalau anak-anak perempuan SMA akan tertarik untuk membaca puisi tentang burung nejimaki. Mereka bahkan tak tahu kalau burung nejimaki itu sungguh ada.

*

Sudah pukul tujuh tiga puluh ketika istriku pulang.

“Maaf, aku pulang telat,” dia meminta maaf. “Aku harus mati-matian mengurus catatan kuliah seorang murid. Perempuan yang kerja sampingan itu sungguh lelet, sehingga aku yang kena getahnya.”

“Jangan dipikirkan,” kataku. Lalu aku melangkah menuju dapur, memasak sepotong ikan dengan mentega, dan menyiapkan salad dan sup miso. Sementara itu, istriku membaca koran sore di meja dapur.

“Kau tidak di rumah jam setengah enam ya?” tanyanya. “Aku mencoba menghubungimu untuk bilang kalau aku bakal telat.”

“Aku kehabisan mentega jadi aku keluar untuk membeli,” aku berbohong.

“Kau ingat untuk pergi ke bank?”

“Tentu lah,” jawabku.

“Kalau soal kucing?”

“Belum ketemu.”

“Oh,” timpal istriku.

*

Aku menyembul keluar sehabis mandi setelah makan malam dan mendapati istriku duduk sendirian di ruang tengah yang gelap. Aku memakai kaos abu-abu dan meraba-raba dalam gelap agar bisa sampai di tempat istriku teronggok seperti barang-barang. Dia terlihat seperti seorang yang sangat kehilangan. Jika saja mereka menempatkannya di tempat lain, mungkin saja dia bisa terlihat sedikit bahagia.

Mengeringkan rambutku dengan handuk, aku duduk di sofa di seberangnya.

“Ada masalah apa?” tanyaku.

“Kucing itu sudah mati, aku tahu,” ucap istriku.

“Ayolah,” protesku. “Kucing itu cuma mau jalan-jalan. Sebentar lagi juga dia bakal lapar dan kembali pulang. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, kau ingat kan? Saat kita masih tinggal di Koenji-”

“Kali ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Kucing itu mati dan membusuk di rerumputan. Kau mencarinya di halaman rumah kosong itu kan?”

“Hey, hentikan. Itu memang rumah kosong, tapi itu tetap rumah orang. Aku enggak mau masuk tanpa izin.”

“Kau membunuhnya!” tuduh istriku.

Aku menghela nafas dan menyeka kepalaku dengan handuk.

“Kau membunuhnya dengan tatapanmu itu!” dia mengulang dalam kegelapan.

“Bagaimana bisa?” belaku. “Kucing itu menghilang karena keinginannya. Bukan salahku. Kau harus tahu itu.”

“Kau! Kau gak pernah suka kucing itu!”

“Oke, memang iya,” aku mengaku. “Setidaknya aku enggak segila kau terhadap kucing. Tetap, aku ga bakal menyiksanya. Aku kasih makan tiap hari. Meski aku gak terpikat dengan si mungil celaka itu, bukan berarti aku akan membunuhnya. Berkata seperti ini dan aku jadi ingin membunuh setengah umat manusia di bumi ini.”

“Baik, memang kau,” istriku memberi vonis. “Memang kamu. Selalu, selalu seperti ini. Kau membunuh semuanya tanpa perlu mengayunkan tanganmu.”

Aku akan balas menghardik tapi dia mulai menangis. Aku menghentikan ucapanku dan melempar handuk ke keranjang kamar mandi, pergi ke dapur, mengambil bir dari kulkas, dan menyesapnya. Hari yang begitu tak masuk akal! Satu hari yang tak masuk akal, dari bulan yang tak masuk akal, dalam tahun yang tak masuk akal.

Noboru Watanabe, pergi kemana kau?, pikirku. Apakah burung nejimaki memutar pegasmu?

Ini hanya sebuah puisi biasa:

 Noboru Watanabe

Kemana kau pergi?

Apakah burung nejimaki

Memutar pegasmu?

Aku belum menghabiskan setengah birku saat telepon mulai berdering.

“Bisakah kau mengangkatnya?” aku berteriak ke kegelapan ruang tengah.

“Tak mau! Angkat saja sendiri,” balas istriku.

“Aku enggak mau mengangkatnya,” kataku.

Tak ada yang membalasnya, dan telepon terus berdering. Dering itu menggegerkan debu yang menempel sehingga bertebaran di dalam gelap. Baik aku atau istriku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku meminum birku, istriku terus tersedu-sedu. Sudah dua puluh kali berdering sampai aku berhenti menghitung dan membiarkan telepon tetap berdering. Kau tak bisa terus menghitung selamanya.

***

NB: Saya menggunakan istilah “Burung Nejimaki” untuk “Wind-Up Bird”, yang berarti burung mainan yang ada motor pegas pemutar di bagian belakangnya.

Diterjemahkan dari “Wind-Up Bird and Tuesday’s Women” yang ada dalam kumcer The Elephant Vanished. Cerpen Haruki Murakami yang kemudian menjadi bab pertama dari novel The Wind-Up Bird Chronicle.

 


6 thoughts on “Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

  1. Ahh.. cuma begini aja? Masing ngegantung nih, kayaknya emang harus ditulis seluruh isi novelnya. Hahaha…
    Murakami itu kayaknya emg selalu menceritakan latar dengan sangat komplit, malah di cerpen ini kebanyakan memberitahu keadaanna aja, dengan sedikit dialog. Apalagi pas bagian awal.

    1. Beginilah yg kurasa saat habis baca cerpen sialan ini, sehingga penasaran buat nyicipin salah satu novel tertebalnya itu, dan ternyata memang mantap jiwa.
      Nah, itu gara-gara detailnya itu saya bosen pas nerjemahin, jadi lama gini. Kalau pas ngobrol sama May Kasahara terus cekcok sama istrinya sih lancar jaya.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s