Hidup Mati di Bangsal Ekonomi, Charles Bukowski

charity ward

Ambulans sudah penuh sesak tapi mereka masih bisa menyisakanku tempat di bagian atas dan kami berangkat juga. Aku telah memuntahkan darah dari mulut dengan banyaknya dan aku sangat khawatir bahwa aku mungkin bakal muntah ke orang di bawahku. Kami terus melaju dengan bunyi sirine. Suaranya terdengar jauh, terdengar seperti bunyinya bukan berasal dari ambulans kami. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit propinsi, kami semua. Kaum miskin. Kelas ekonomi. Ada yang sangat salah di antara kami semua dan banyak dari kami nampaknya tak akan kembali. Satu yang pasti adalah bahwa kami semua miskin dan tidak punya banyak kesempatan. Kami semua dipaketkan di sini. Aku tak pernah menyangka sebelumnya kalau satu ambulan bisa memuat begitu banyak orang.

“Ya Tuhan, oh Tuhan,” aku mendengar suara dari wanita hitam di bawahku, “Aku tak pernah berpikir ini bakal terjadi pada DIRIKU! Aku tak pernah berpikir hal seperti ini menimpaku Tuhan…”

Aku tak merasakan seperti itu. Aku pernah menghadapi masa-masa kritis beberapa kali. Aku tak bisa berkata kami adalah teman baik tapi kami saling kenal. Dia jadi makin dekat denganku malam ini. Ada peringatannya: nyeri seperti pedang menusuk perutku tapi aku mengabaikannya. Aku pikir aku pria yang tangguh dan nyeri bagiku adalah semacam nasib sial: aku mengacuhkannya. Aku hanya menuangkan whiskey di atas luka dan kembali mengerjakan aktivitas biasa. Aktivitasku tak lain tak bukan mabuk-mabukan. Whiskey itu ampuh; aku harus berganti dulu dengan minum anggur.

Darah yang keluar dari dalam tidak berwarna merah terang seperti, misalnya, ada luka di jari. Darah dari dalam sangat gelap, berwarna ungu, hampir hitam, dan itu berbau, baunya lebih buruk dari tai. Cairan itu benar-benar buruk, lebih-lebih dari tai kalau habis minum bir.

Aku merasa mual lagi. Ini perasaan yang sama ketika memuntahkan makanan dan ketika darah keluar, terasa lebih baik. Tapi itu hanya ilusi… setiap yang keluar semakin mendekatkanku pada Ajal.

“Ya Tuhan, aku tak pernah berpikir…”

Darah naik dan aku menahannya di mulutku. Aku tak tahu harus bagaimana. Dari atas sini aku bisa membuat temanku terkena. Aku menahan di mulutku sambil terus berpikir harus bagaimana. Ambulans berbelok dan darah mulai menetes dari sudut mulutku. Baik, seorang pria harus menjaga sopan santun meski sedang sekarat. Aku memantapkan diri, menutup mata dan menelan kembali darahku kembali ke perut. Aku jadi mual. Tapi aku telah memecahkan masalah. Aku hanya berharap kami bisa mendapat tempat segera agar aku bisa memuntahkan yang selanjutnya.

Sungguh, tak ada sedikit pun pikiran tentang sekarat; yang kupikirkan hanya satu: ini ketidaknyamanan yang mengerikan, aku tak bisa lagi mengatur terhadap apa yang terjadi. Mereka memberimu pilihan dan memaksamu.

Ambulans sampai dan kemudian aku masih dalam meja dan mereka memberiku beberapa pertanyaan: apa agamamu? dimana kau lahir? apakah aku punya hutang dengan rumah sakit ini sebelumnya? dimana aku lahir? orangtua masih hidup? sudah menikah? semua itu, kau tahu. Mereka bicara dengan seorang pria yang seolah dia yang paling berkuasa; mereka bahkan tak menganggapmu sedang sekarat. Dan mereka sangat tergesa-gesa. Itu punya efek menenangkan tapi itu bukan alasan mereka: mereka hanya bosan dan mereka tak peduli jika kau mati, terbang atau kentut. Tidak, mereka agaknya lebih ingin kau tidak kentut saja.

Lalu aku berada di elevator dan pintu terbuka menuju dinding gelap. Aku digulingkan. Mereka menempatkanku di kasur dan pergi. Seorang perawat muncul entah dari mana dan memberiku pil putih kecil.

“Minum ini,” katanya. Aku menelan pil tadi dan dia memberiku segelas air dan kemudian hilang. Ini adalah hal terbaik yang kuterima sejak beberapa saat kebelakang. Aku menyandar ke belakang dan memperhatikan sekitarku. Ada 8 atau sepuluh kasur, semua ditempati lelaki Amerika. Tiap kami diberi wadah timah berisi air dan segelas saat jaga malam. Sepreinya kelihatan bersih. Di sana sangat gelap dan dingin, lebih terasa seperti gudang bawah tanah rumah apartemen. Hanya ada lampu pijar kecil, tanpa tudung. Di sebelahku seorang lelaki besar, dia sudah tua, di usia lima puluhan, tapi dia sangat besar; meskipun sebagian besarnya karena lemak, dia tampak merasa punya banyak tenaga. Dia diikat di kasurnya. Dia menatap ke depan dan bicara pada langit-langit.

“… dan dia adalah anak baik, anak baik yang bersih, dia butuh pekerjaan, dia berkata kalau dia butuh pekerjaan, dan aku berkata, ‘aku suka tampangmu, nak, kami butuh tukang masak yang baik, koki yang jujur, dan aku bisa mengetahui wajah yang jujur, nak, aku bisa tahu watak, kau bekerja untukku dan istriku dan kau punya pekerjaan di sini seumur hidupmu, nak…’ dan dia berkata, ‘Baik, pak,’ seperti itu dia bilang dan dia terlihat senang karena punya pekerjaan dan aku bilang, ‘Martha, kita punya anak baik di sini, anak yang jujur, dia tak akan mencuri seperti bocah celaka kemarin.’ Jadi, aku pergi dan anak itu disuruh membeli ayam, ayam yang sesuai harga. Martha bisa melakukan beragam hal pada seekor ayam itu, dia punya sentuhan magis pada ayam. Kolonel Sanders bahkan tak bisa menyamai sampai tujuh turunan. Aku pergi dan membeli 20 ekor ayam untuk akhir pekan itu. Kami akan punya akhir pekan yang baik, spesial dengan ayam. 20 ekor ayam yang kudapat dan kupunya. Kami akan membikin Kolonel Sanders bangkrut. Akhir pekan indah seperti itu, aku bisa menarik untung bersih 200 dollar. Anak itu membantu mencabuti bulu dan memotong ayam-ayam itu, dia lakukan saat waktu senggangnya. Martha dan aku tidak punya selain ayam. Aku begitu suka pada anak itu. Jadi, Martha memutuskan ayam ada di belakang, dia telah menyiapkan ayam itu.. kami punya 19 ekor ayam beragam jenis, kami punya ayam yang keluar dari liang tai. Yang dilakukan anak itu adalah memasak makanan lain seperti burger dan steak dan lainnya. Ayam telah siap. Dan berkat rahmat Tuhan, kami punya akhir pekan yang hebat. Jumat malam, Sabtu dan Minggu. Anak itu pekerja baik, dan juga ramah. Dia baik di sekitar. Dia punya lelucon-lelucon lucu. Dia memanggilku Kolonel Sanders dan aku memanggilnya anak. Kolonel Sanders dan Anaknya, itulah kami. Ketika kami tutup Sabtu malam kami lelah tapi bahagia. Tiap ayam sudah lenyap. Tempat sudah disiapkan, orang-orang menunggu di mejanya, kau tak akan pernah melihat yang seperti ini. Aku mengunci pintu dan pergi ke tempat whiskey terbaik kelima dan kami duduk di sana, lelah dan bahagia, memesan minum. Anak itu mencuci piring dan mengepel lantai. Dia berkata, ‘Baik, Kolonel Sanders, kapan aku harus melapor besok?’ Dia tersenyum. Aku memberitahunya 6:30 pagi, dan dia mengambil topi lalu pergi. ‘Dia anak yang baik, Martha,’ kataku dan kemudian aku menghitung keuntungan kami. Kas uangnya KOSONG! Itu benar, kataku, ‘Kas uang KOSONG!’ Dan kotak rokok yang menyimpan keuntungan dua hari ke belakang, dia juga menemukan ini. Betul-betul anak baik… aku tak mengerti ini… aku bilang dia bakal punya pekerjaan untuk seumur hidupnya, ini yang aku katakan padanya. 20 ekor ayam… Martha sangat hapal ayam-ayamnya… Dan anak itu, tai ayam bau itu, dia kabur dengan semua uang sialan kami, anak itu… ‘”

Lalu dia berteriak. Aku telah mendengar beragam orang berteriak tapi aku belum pernah mendengar seseorang yang berteriak seperti itu. Dia meronta dari ikatannya dan berteriak. Terlihat seakan-akan ikatan itu akan putus. Semua ranjang berderak, dinding memantulkan kembali teriakan tadi pada kami. Lelaki itu dalam penderitaan total. Itu bukan teriakan pendek. Sangat panjang dan terus berlanjut dan terus. Kemudian dia berhenti. Kami 8 atau sepuluh lelaki Amerika, yang sakit, meregangkan diri di ranjang kami masing-masing dan menikmati keheningan.

Lalu dia mulai bicara lagi. “Dia anak baik, aku menyukai tampangnya. Aku memberitahunya bahwa dia bakal punya pekerjaan seumur hidup. Dia membuat lelucon-lelucon lucu, dia baik kepada sesama. Aku pergi keluar dan membeli 20 ekor ayam. 20 ekor ayam. Pada akhir pekan kau bisa punya 200. Kami punya 20 ekor ayam. Anak itu memanggilku Kolonel Sanders…”

Aku menyandarkan diri dari kasur dan muntah-muntah sampai seteguk darah…

*

Hari berikutnya seorang perawat datang dan memeriksaku dan membantuku menggulirkanku di peron. Aku masih memuntahkan darah dan sangat lemah. Dia membawaku ke elevator.

Seorang teknisi berada di belakang mesinnya. Mereka menusuk satu titik di perutku dan memberitahuku untuk berdiri. Aku merasa sangat lemah.

“Aku terlalu lemah untuk berdiri,” kataku.

“Cukup berdiri saja,” ucap sang teknisi.

“Aku pikir aku tak mampu,” kataku.

“Tahan sebentar saja.”

Aku merasa diriku pelan-pelan mulai jatuh ke belakang.

“Aku mau jatuh,” kataku.

“Jangan jatuh,” ucapnya.

“Tahan sebentar,” kata perawat.

Aku terjatuh ke belakang. Aku merasa seakan-akan aku terbuat dari karet. Tak terasa apa-apa saat aku jatuh mengenai lantai. Aku merasa sangat ringan. Aku memang begitu.

“Sial!” umpat sang teknisi.

Perawat membantuku bangun dan memberdirikanku menghadap mesin dengan jarum yang menusuk masuk perutku.

“Aku tak bisa berdiri,” kataku, “Aku pikir aku sekarat. Aku tak kuat berdiri. Aku mohon maaf tapi aku tak sanggup berdiri.”

“Tahan sebentar,” perintah sang teknisi, “cukup berdiri di sana.”

“Tahan sebentar,” perintah perawat.

Aku bisa merasakan diriku jatuh. Aku jatuh ke belakang.

“Maaf,” kataku.

“Sial!” sang teknisi berteriak, “kau membuatku menghamburkan dua kertas film! Film-film ini pakai duit!”

“Maaf,” kataku.

“Bawa dia keluar dari sini,” perintah sang teknisi.

Perawat membantuku berdiri dan mendudukanku dalam kursi roda. Perawat yang terus mendumel itu membawaku ke elevator, masih mendumel.

Mereka mengeluarkanku dari ruang bawah tanah itu dan menempatkanku ke dalam ruangan besar, ruang yang sangat besar. Di sana ada 40 orang sekarat. Kabel pada tombol pemanggil telah dicabut dan pintu kayu besar, pintu kayu sangat tebal yang terlapis timah di kedua sisinya membuat kami terpisah jauh dari para perawat dan dokter. Mereka telah mengangkat penahan sisi ranjangku dan aku disuruh untuk menggunakan bejana sorong tapi aku tak suka bejana sorong, khususnya buat memuntahkan darah dan untuk tempat buang tai. Jika saja seorang manusia menemukan bejana sorong yang nyaman dan gampang digunakan maka dia akan dibenci para dokter dan suster untuk sepanjang hidupnya.

Aku terus-terusan merasa ingin buang hajat tapi tak beruntung. Tentu, semua yang kumakan hanya susu dan perut terbuka sehingga tak bisa menyalurkan ke bawah liang tai. Seorang perawat menyediakanku daging sapi panggang yang keras dengan wortel setengah matang dan kentang setengah lembek. Aku menolak. Aku tahu mereka hanya ingin ranjang kosong. Bagaimanapun, ada rasa ingin buang tai. Aneh. Ini malam kedua atau ketigaku di sini. Aku sangat lemah. Aku berusaha menurunkan salah satu sisi dan keluar dari ranjang. Aku bisa sampai toilet dan duduk di sana. Aku mengejan dan duduk di sana dan mengejan. Lalu aku bangkit. Tak ada apapun. Hanya ada pusaran darah. Dan kepalaku mulai nyut-nyutan dan aku bersandar ke dinding dengan satu tangan dan memuntahkan darah. Aku menyiram toilet dan keluar. Aku dalam setengah jalan menuju kasurku dan muntahan lain keluar. Aku terjatuh. Dan saat di lantai aku muntah darah lagi. Aku tak tahu bahwa ada begitu banyak darah dalam diri seseorang. Aku memuntahkan lagi lainnya.

“Kau goblog ya,” seorang lelaki tua berteriak padaku dari ranjangnya, “diam agar kami bisa tidur.”

“Maaf, bung,” kataku, dan lalu aku pingsan…

Perawat marah-marah. “Bangsat,” umpatnya, “Aku bilang padamu jangan keluar dari ranjangmu. Dasar bedebah celaka buat malamku sial saja.”

“Memekmu sungguh bau,” ucapku padanya, “kau dari rumah bordil Tijuana pasti.”

Dia mengangkat kepalaku dengan cara menjenggut rambutku dan dengan keras menamparku dari sebelah kiri wajahku dan kemudian dengan tangan terbalik menampar lagi dari samping kanan.

“Ulang lagi!” bentaknya. “Ulang lagi!”

“Florence Nightingale,” kataku, “aku cinta kamu.”

Dia menurunkan kepalaku dan melangkah keluar dari ruangan. Dia seorang perempuan dengan semangat sejati dan berapi-api; aku suka yang begitu. Aku berguling di atas genangan darahku, membuat pakaianku basah. Ini buat pelajaran baginya.

Florence Nightingale datang kembali dengan wanita sadis lainnya dan mereka menempatkanku dalam kursi dan menggeser kursi itu di sepanjang ruangan menuju ranjangku.

“Ribut banget anjing!” umpat si lelaki tua. Dia memang benar.

Mereka mengembalikanku ke ranjang dan Florence menempatkan penahan sisi ranjang terangkat. “Bangsat,” ucapnya, “tetap diam di sini atau lain kali aku akan membaringkanmu.”

“Sepong aku,” kataku, “sepong dulu aku sebelum kau pergi.”

Dia bersandar pada palang pembatas kasur dan menatap wajahku. Aku punya sebuah wajah yang sangat tragis. Kadang memikat beberapa wanita. Matanya lebar dan penuh gairah dan menatap mataku. Aku menarik turun selimut dan membuka pakaianku. Dia meludahi wajahku, dan melangkah pergi…

Lalu kepala perawat datang.

“Tuan Bukowski,” katanya, “kita tak bisa mendapatkanmu darah. Kau tak punya kredit darah lagi.”

Dia tersenyum. Dia membiarkanku tahu kalau mereka akan membiarkanku mati.

“Baik,” ucapku.

“Kau mau bertemu pendeta?”

“Untuk apa?”

“Kami punya kartu admisimu yang menyebutkan kalau kau seorang Katolik.”

“Aku hanya asal mengisi.”

“Kenapa?”

“Aku selalu begitu. Kau menulis ‘tak beragama’, orang-orang selalu bertanya ini-itu.”

“Kami telah menuliskanmu sebagai seorang Katolik, Tuan Bukowski.”

“Dengar, ini sulit untuk aku bicarakan. Aku sekarat. Baik, baik, aku seorang Katolik, terserah kau saja.”

“Kami tak bisa mendapatkanmu darah, Tuan Bukowski.”

“Dengar, ayahku bekerja di wilayah ini. Aku pikir mereka punya program darah. L.A. County Museum. Tuan Henry Bukowski. Dia membenciku.”

“Kami akan mengeceknya.” …

*

Ada sesuatu dalam dokumenku yang jatuh ketika aku naik tangga. Aku tidak melihat seorang dokter sampai hari keempat dan sampai itu mereka menemukan kalau ayahku yang membenciku adalah orang baik yang punya pekerjaan dan yang punya anak mabuk-mabukan yang sekarat tanpa pekerjaan dan orang baik itu telah memberi darah ke program darah dan mereka menghubungkan sebotol dan mengucurkannya untukku. 13 unit darah dan 13 unit glukosa tanpa henti. Seorang perawat kehabisan tempat untuk menusukan jarum…

Aku bangun sekali dan seorang pendeta berdiri di sebelahku.

“Bapa,” kataku, “tolong pergi. Aku bisa mati tanpa ini.”

“Kau mau aku pergi, anakku?”

“Ya, Bapa.”

“Kau telah kehilangan iman?”

“Ya, aku telah kehilangan iman.”

“Sekali Katolik selamanya Katolik, anakku.”

“Bodo amat, Bapa.”

Si lelaki tua di seberang ranjangku berkata, “Bapa, Bapa, aku ingin berbicara denganmu. Kau berbicara denganku, Bapa.”

Pendeta itu pindah ke sana. Aku menunggu-nunggu untuk mati. Kau tahu tuhan tak mengijinkanku mati atau aku tak bisa menceritakanmu kisah ini sekarang…

Mereka memindahkanku ke ruangan dengan seorang pria hitam dan pria putih. Pria putih  yang mendapat mawah segar tiap harinya. Dia memelihara mawar-mawar yang dia jual ke toko bunga. Dia tak merawat mawar saat itu tentu. Pria hitam itu telah sakit-sakitan sepertiku. Pria putih punya jantung buruk, jantung yang sangat buruk. Kami berbaring bersama dan si pria putih membicarakan soal pembiakkan mawar dan menumbuhkan mawar dan bagaimana ia bisa begitu yakin untuk merokok, tuhaku, bagaimana ia butuh sebatang rokok. Aku telah berhenti memuntahkan darah. Sekarang aku hanya buang berak darah. Aku rasa aku telah melewati ini. Aku hanya menghabiskan seunit darah dan mereka telah mencabut jarumnya.

“Aku bakal memberimu sebatang, Harry.”

“Tuhan, makasih, Hanks.”

Aku bangkit dari ranjang. “Beri aku uang.”

Harry memberiku beberapa.

“Jika ia merokok ia akan mati,” kata Charley. Charley adalah si pria hitam.

“Omong kosong, Charley, beberapa batang tak bakal melukai seorang pun.”

Aku pergi keluar ruangan dan turun ke aula. Di sana ada mesin rokok di lobi ruang tunggu. Aku mengambil satu pak dan berjalan kembali. Lalu Charley dan Harry dan aku berbaring sambil merokok. Itu masih pagi. Sekitar siang dokter datang dan menempatkan mesin pada Harry. Mesin itu muntah dan kentut dan meraung-raung.

“Kau habis merokok, ya?” si dokter menanyai Harry.

“Tidak dokter, jujur, aku tak habis merokok.”

“Siapa diantara kalian yang membawakannya rokok ini?”

Charley menatap langit-langit. Aku menatap langit-langit.

“Kau merokok lagi dan kau mati,” ucap si dokter.

Kemudian dia melepaskan mesin dan pergi. Segera setelah ia pergi aku mengeluarkan pak tadi dari bawah bantal.

“Beri aku satu,” ucap Harry.

“Kau dengar apa yang dokter bilang,” kata Charley.

“Yah,” kataku, menghembuskan asap biru yang indah, “kau dengar apa yang dokter bilang: ‘kau merokok lagi dan kau mati.'”

“Aku lebih memilih mati bahagia ketimbang hidup dalam kemalangan.”

“Aku tak bisa bertanggung jawab pada kematianm, Harry,” ucapku, “aku akan memberimu sepak rokok ini lewat Charley dan jika ia ingin memberimu satu ia bisa.”

Aku memberi Charley yang ada ranjang tengah.

“Baik, Charley,” ucap Harry, “minta satu.”

“Aku tak bisa, Harry, aku tak bisa membunuhmu Harry.”

Charley mengembalikan rokoknya padaku.

“Ayolah, Hank, beri aku sebatang.”

“Tidak, Harry.”

“Tolong, aku mohon, bung, hanya sebatang saja!”

“Ohm demi tuhan!”

Aku melemparnya sepak rokok. Tangannya gemetaran saat ia mengeluarkan satu batang.

“Aku tak punya korek. Ada yang punya?”

“Oh, demi tuhan,” kataku.

Aku melemparnya korek…

*

Mereka masuk dan memberiku botol lainnya. Sekitar sepuluh menit ayahku muncul. Vicky ada bersamanya, sangat mabuk sampai ia kesulitan untuk berdiri.

“Sayang!” ucapnya, “Sayangku!”

Dia sempoyongan ke ujung ranjang.

Aku menatap si lelaki tua itu. “Kau bodoh,” kataku, “kau tak perlu membawanya ke sini sambil mabuk.”

“Sayang, kau tak mau menemuiku, hah? Hah, sayangku?”

“Aku mengingatkanmu untuk tidak terlibat dengan wanita macam ini.”

“Dia bangkrut. Kau goblog, kau membawakannya whiskey, membuatnya mabuk dan membawanya ke sini.”

“Aku bilang padamu dia tidak baik, Henry. Aku bilang padamu dia wanita buruk.”

“Kau tak lagi cinta aku, sayang?”

“Keluarkan dia dari sini… SEKARANG!” aku membentak si pria tua.

“Tidak, tidak, aku ingin kau tahu wanita jenis apa yang kau punya.”

“Aku tahu jenis wanita yang kupunya. Sekarang keluarkan dia dari sini, atau demi Tuhan bantu aku mencabut jarum ini dari tanganku dan pecut pantatmu!”

Si pria tua mengeluarkannya. Aku kembali berbaring di atas bantal.

“Dia kelihatan menarik,” ucap Harry.

“Aku tahu,” kataku, “aku tahu.” …

Aku berhenti membuang berak darah dan aku diberi daftar apa yang bisa dimakan dan aku diberitahu bahwa kalau minum-minum bakal membunuhku. Mereka juga bilang padaku bahwa aku akan mati kalau tidak dioperasi. Aku punya argumen buruk dengan seorang dokter wanita Jepang tentang operasi dan kematian. Aku bilang “tanpa operasi” dan dia pergi, menggetarkan pantatnya kepadaku sambil marah. Harry masih hidup saat aku pergi, merawat rokoknya.

Aku berjalan di bawah cahaya matahari untuk melihat bagaimana rasanya. Ini terasa baik-baik saja. Lalu lintas lancar. Trotoarnya seperti trotoar biasa. Aku memikirkan apakah harus naik bus atau mencoba menelepon seseorang untuk datang dan menjemputku. Aku berjalan menuju tempat ini untuk menelepon. Aku duduk terlebih dahulu dan merokok.

Bartender melangkah mendekat dan aku memesan sebotol bir.

“Ada kabar baru?” dia bertanya.

“Tak banyak,” kataku. Dia melangkah pergi. Aku menuang bir ke dalam gelas, dan kemudian aku menatap gelas sebentar dan lalu aku meminum setengahnya. Seseorang memasukkan sebuah koin ke dalam juke box dan kami punya beberapa musik. Hidup terlihat sedikit lebih baik. Aku menyelesaikan gelasku, dan menuang yang lain dan membayangkan jika burungku bisa berdiri lagi. Aku melihat ke sekeliling bar: tak ada wanita. Aku melakukan hal terbaik selanjutnya: aku mengangkat segelas dan menyalurkannya ke tubuhku.

*

Cerpen HENRY CHARLES BUKOWSKI dari kumcer The Most Beautiful Woman in Town dengan judul asli Life and Death in the Charity Ward.

 

 

 


2 thoughts on “Hidup Mati di Bangsal Ekonomi, Charles Bukowski

  1. i can relate with this … walau engga seperti ini karena rumah sakit yang saya tempati (walau kelas 3) masih ada AC dan bersih:mrgreen: but the nightmare is the same lah …

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s