The Wind-Up Bird Chronicle

Berharaplah jangan jadi perempuan atau kucing dalam dunia fiksi Haruki Murakami, karena kemungkinan besar kamu akan menghilang. Jadi lelaki pun sama sih, bahkan lebih nelangsa, karena kau bakal menderita kesepian ditinggal pergi mereka. Maka, sungguh malang nasib lelaki bernama Toru Okada dalam semesta The Wind-up Bird Chronicle, sebab setelah kehilangan pekerjaan, lalu kucingnya, kemudian istrinya pun ikut-ikutan hilang. Dan yang dilakukan si Toru Okada tadi malah masuk ke dalam sumur kering, kampret banget kan? Mau nyusul Kagome sama Inuyasha kali ya.

wind up bird chronicle haruki murakami

Novel tebal dengan fisik yang sudah koyak dan menguning ini sudah lama saya incar untuk dilahap. Tapi, meski purwarupanya yang udah lapuk begitu, tetap saja ada yang meminjamnya – novel Haruki Murakami emang paling laku, dan saya masih belum berani menggagahi novel berjumlah lebih dari 600 halaman ini – yang akan lebih banyak sekiranya ukuran hurufnya diperbesar. Akhirnya, pada 14 Januari 2016, di tahun yang masih baru, saya memutuskan untuk meminjam novel hikayat ini dari Kineruku (beruntung, belum ada yang minjem). Dan ternyata, hanya butuh seminggu untuk menyelesaikannya, berbanding terbalik dengan novel terjemahan Great Expectation-nya Charles Dickens yang butuh waktu lama buat mengkhatamkan.

Seperti yang saya duga, meski berbahasa Inggris, karya-karya Haruki Maruki selalu mudah dicerna oleh seorang yang nggak jago-jago amat berbahasa selain Indonesia dan Sunda ini. Yang saya duga lainnya adalah bahwa saya akan dibawa hanyut terus, nggak dibolehin buat berhenti ketika membacanya. Kalau kata orang Inggris mah: Page turner!

Alasan ketertarikan saya bermula karena membaca ulasan senpai-ku, Mang Eka Kurniawan di pos Mimpi Basah Cara Manusia Sumur: Haruki Murakami. Uh, jika seorang penulis hebat disanjung-sanjung penulis hebat lainnya, coba pikirkan betapa hebatnya si penulis hebat itu jadinya. Jadi, setelah Dengarlah Nyanyian Angin, Dunia Kafka (Kafka on the Shore), Norwegian Wood, Blind Willow Sleeping Woman, Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, 1Q84, Sputnik Sweetheart, maka Wind-Up Bird Chronicle ini jadi buku Haruki Murakami ke-8 yang saya baca. Boleh sombong dong.

Is it possible, in the final analysis, for one human being to achieve perfect understanding of another?

Semua orang dungu pun tahu, sebut Albert Einstein suatu kali, bahwa yang utama adalah saling memahami. Ya, ya, keahlian manusia yang paling penting namun paling sering dilupakan, dan inilah yang saya kira menjadi tema besar di novel ini: “Saling memahami satu sama lain”.

The Wind-Up Bird Chronicle ditulis ketika Murakami berada di Amerika saat jadi dosen Princeton. Novel ambisius yang membikin seorang Haruki Murakami makin diakui kepengarangannya, salah satunya diganjar penghargaan sastra dari kritikus paling kerasnya, Kenzaburo Oe. Novel ini dengan sadar diri memuat spektrum yang luas juga berat: sifat fana cinta romantis, kekosongan kejahatan politik kontemporer dan yang paling provokatif dari semua, warisan agresi kekerasan Jepang dalam Perang Dunia II. Tapi jangan loyo dulu, meski temanya luas dan berat, tapi saya yakin, novel ini bisa dicerna dengan mudah.

“I’m only sixteen,” she said, “and I don’t know much about the world, but I do know one thing for sure. If I’m pessimistic, then the adults in this world who are not pessimistic are a bunch of idiots.

Protaganis dari novel ini adalah seorang pengangguran berusia 30 tahun bernama Toru Okada tadi. Dan wataknya, sangat template Murakami banget, kayak protagis di novel lainnya: Toru Watanabe, Tengo Kawana, Kafka Temura, “K”, Tsukuru Tazaki. Seorang plegmatis-melankolis.

Favorit saya selalu tertuju pada tokoh perempuan yang selalu dihadirkannya. Setelah pada Midori Kobayashi, Oshima (eh, ini masuk perempuan ga ya?), Sumire, Fuka-Eri, Sang Pustakawati di Hard-Boiled Wonderland, maka saya pun jatuh cinta sama May Kasahara yang semi-nihilistik ini. Mungkin konsep filsafat saya, Kearifan Pesimisme, secara paripurna ada dalam diri May Kasahara.

I could disappear from the face of the earth, and the world would go on moving without the slightest twinge. Things were tremendously complicated, to be sure, but one thing was clear: no one needed me.

Jika Albert Camus adalah seorang abang, maka Haruki Murakami adalah adiknya. Mereka mengangkat tema eksistensialis, lebih tepatnya absurdis. Secara ringkasnya, maksud dari absurdis ini adalah bahwa dunia enggak dapat memberikan sesuatu yang pasti ketika manusia menginginkan sebuah kepastian, tepat pada saat itulah absurditas terjadi. Eksistensi manusia hadir ketika ia memberontak terhadap absurditas tadi. Pemberontakkan yang dimaksud adalah ketika manusia tetap terus bergerak dan menjalani kehidupan walaupun banyak permasalahan di dalam hidup.

The officer gave his order, and the bullets from the Model 38 rifles ripped through the smooth hide of a tiger, tearing at the animal’s guts. The summer sky was blue, and from the surrounding trees the screams of cicadas rained down like a sudden shower.

Meski bukan novel horror, ada bagian-bagian yang sungguh bikin merinding, utamanya ketika masuk ke bagian saat kisah berlatar Perang Dunia II dituturkan. Bagian itu horror banget, lewat penceritaan yang dingin-dingin keren sumpah sangat menganggu tapi nikmat. Narasi di atas salah satunya, ini saat penceritaan tentara Jepang harus membantai beragam binatang buas di sebuah kebun binatang. Ada bagian-bagian yang ketika kita baca kadar seremnya udah kayak pas buka thread Disturbing Picture di Kaskus.

I’m going to take you out of here … I’m going to take you home, to the world where you belong, where cats with bent tails live, and there are little backyards, and alarm clocks ring in the morning.

Saya rasa akhir dari The Wind-Up Bird Chronicle sangat jelas, nggak seambigu Kafka on the Shore – yang oleh Murakami sendiri kita disuruh baca dua kali. Meski memang, Toru Okada nggak dapat pengakhiran yang se-happy ending 1Q84.

Bagaimanapun, seperti yang ditegaskannya dalam wawancara di The Paris Review, bahwa Haruki Murakami ingin menjadikan pembacanya semacam pecandu, junkies, yang sakaw untuk terus menikmati karya-karyanya. Saya pun sadar bahwa saya sudah kecanduan.


2 thoughts on “The Wind-Up Bird Chronicle

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s