Book Porn

Apa yang salah dengan mempos foto makanan yang kau konsumsi? Apa yang salah dengan memamerkan foto buku yang telah kau baca? Apa yang salah dengan menyombongkan fotomu yang sedang berada di puncak gunung sembari memberi info ketinggian gunung yang kau daki itu? Untuk ukuran benar salah, saya tak mau dan tak bisa (intinya malas sih) untuk menilai. Kau boleh lakukan apa yang kau suka, terserah, asal jangan bikin risih orang. Yang pasti, menurut saya, kegiatan-kegiatan manusia modern ini suatu yang alami, lebih tepatnya hewani.

Pada pertengahan abad ke-20, ahli biologi Belanda Nikolaas Tinbergen menemukan sebuah perilaku aneh binatang: Di setiap spesies, hewan dalam percobaannya akan lebih memilih yang lebih cantik, lebih cemerlang, lebih menarik perhatian dalam lingkungannya—”stimulus supernormal,” ia menyebutnya—bahkan ketika rangsangan itu palsu semata. Induk burung akan mengabaikan telurnya sendiri untuk kemudian menduduki sarang yang lebih besar, atau mengalihkan makanan dari anak-anak mereka untuk memberi makan anak lain yang punya paruh yang lebih terang. “Inti dari stimulus supernormal,” psikiater Deirdre Barrett menulis dalam bukunya, “adalah bahwa imitasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan tarikan kuat dari hal yang nyata.”

Manusia, kalau boleh disetarakan dengan binatang, tentu punya dorongan bernama ‘stimulus supernormal’ tadi; suka pamer dan suka pura-pura. Apalagi di masa kekininian, karena katanya masyarakat posmodern itu ditandai dengan superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan atau kelesuan emosi, teknologi reproduktif, pokoknya serba gimmick gitu lah. Jujur, saya tak menampik, saya pun manusia yang ada kecenderungan ingin dianggap lebih; lebih cerdas, lebih keren, lebih unggul.

xxxxxxxxxxxxxxx

Istilah ‘Food Porn’ sudah tak asing lagi bagi kita, yaitu foto-foto makanan yang disusun seestetik mungkin untuk meningkatkan ‘berahi’ kita. Mengambil bentuk ‘food photography’ dan styling agar bisa menyajikan makanan seprovokatif mungkin, dalam cara yang mirip dalam ‘glamour photography’ bahkan setara pornografi. Food Porn sendiri berawal sebagai presentasi visual dalam iklan-iklan, biasanya pada iklan makanan cepat saji.

Hal yang sama terjadi pula dengan buku, maka hadir pula yang namanya ‘Book Porn’ ini. Karena zaman sekarang buku nggak cukup dirayakan dengan dibeli, dibaca, dan dikoleksi. Tetapi juga diabadikan dalam sebuah potret.

  • The Prince, Niccolò Machiavelli – Maudy Ayunda
  • Sputnik Sweetheart, Haruki Murakami – Yumna Kemal
  • Kumpulan Puisi Sylvia Plath, To Kill a Mockingbird, Harper Lee – Dian Sastro
  • The Catcher on the Rye, J.D. Salinger – Dian Sastro
  • The Catcher on the Rye, J.D. Salinger – Viny JKT48

Biasanya dalam Food Porn, seorang pesohor memamerkan makannya karena ada motif endorse, untuk urusan komersil. Tapi berbeda dengan buku, meski saya nggak tahu persis apa ada ‘endorse buku’ juga, mereka menyombongkan buku yang sedang mereka baca ya karena kecintaan aja. Dian Sastro sama Viny JKT48 misalnya, tentu mereka nggak dibayar oleh siapapun ketika mempos novel asyik The Catcher on the Rye-nya Salinger.

Adakah yang lebih seksi dari seorang gadis cerdas yang kerap mengumbar senyuman dan sama-sama menyukai buku yang kau favoritkan?

Shelfie

A picture or portrait of your bookshelf. Showcasing literature IN ALL IT’S GLORY!
(This term was originally defined by author Rick Riordan).

 

Bagaimanapun, esensi dari sebuah buku, kalau boleh dibilang raison d’être-nya, tentunya ya buat dibaca. Terlepas dari itu, sah-sah aja sih mau diapain selanjutnya buku itu. Jika food porn memiliki efek negatif, salah satunya sikap konsumtif, maka untuk book porn, saya kira nggak masalah sih, apalagi sebagai promosi agar bangsa yang kurang membaca ini jadi terangsang untuk menjadikan laku membaca sebagai hobinya.

Saya selalu membayangkan bahwa surga akan menjadi semacam perpustakaan, kelakar Jorge Luis Borges. Kalau kejadian begini, kasihan dong orang Indonesia entar pada ogah masuk surga.


17 thoughts on “Book Porn

  1. Buku juga bisa jadi kebanggan, jadi karya seni dari bentuknya, jadi apa saja bisa ya! Tapi bagi saya, yang penting ya itu, bukunya dibaca dulu, bacaannya dimengerti dulu… :hehe. Tapi ini juga jadi bikin mikir, tanpa diapa-apakan buku sudah jadi sesuatu, apalagi ketika diapa-apakan? :haha.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s