Ajari Saya Menulis Fiksi, Sensei!

haruki murakami cartoon

“Pakai saja bahasamu sendiri,” sela lelaki murung yang duduk di hadapanku, “Kita punya peradaban yang bernama penerjemahan.”

“Baik, Murakami-sensei. Eh bolehkah saya memanggil Anda sensei?”

Tanpa mengiyakan, dia menyesap Bir Bintang kalengan dengan air muka setenang permukaan danau. Watak dan gelagaknya, sepenglihatan sekilasku–meski deduksiku tak seahli seorang Sherlock Holmes, sangat persis seperti protagonis dalam novel-novel bikinannya. Di hadapanku itu duduk seorang Haruki Murakami, dengan setelan kaus putih bertuliskan The Doors dibalut jas tweed biru gelap. Dia memang bicara dengan bahasa Jepang, tapi entah kenapa aku bisa mengerti, seperti ada semacam narasi terjemahan yang bisa kubaca.

“Maaf sebelumnya, cuma itu yang bisa saya sediakan sensei.”

“Kau tak ikut minum?”

Menggelengkan kepala, aku tersenyum kecil. Sejurus kemudian kuminum teh tarik dingin pesananku, untuk meredakan ketegangan dan kekikukan ini.

Dia meneguk kembali birnya. “Ah ya, ya. Sayang sekali.”

Kedai kopi mungil di bilangan Buah Batu ini masih santai seperti biasa, di luar sedang mendung, mungkin sebentar lagi gerimis akan turun. Ada dua lelaki di dalam, duduk di meja yang berbeda, masyuk menekuri laptopnya masing-masing, dengan sesekali melirik ke arah meja kami. Sementara pramusaji sendiri masih sibuk dengan piring-piring kotor di tempat cucian yang berada di balik konter. Radio disetel pada stasiun Hard Rock FM, memperdengarkan lagu-lagu alternative dan rock 90an sampai 2000an awal. ‘No Surprise’-nya Radiohead diputar, raungan motor-mobil yang hilir mudik di seberang jalan samar-samar ikut terbawa masuk.

“Apa saya harus mematikan radio, sensei?”

“Tak apa.”

“Baik…,” aku tergagap-gagap merangkai kata, “Seekor gajah hilang secara misterius. Katak raksasa menunggu di apartemenmu. Kucing hilang secara misterius. Ada dua purnama menggantung di langit. Istri hilang secara misterius. Seorang pria aneh datang kepadamu dan memintamu untuk mencarikannya seekor domba, atau seorang wanita meneleponmu dan meminta sepuluh menit waktumu. Gimana caranya Anda dapat ide asyik macam gitu? Gimana agar saya bisa menulis segila dan sejenius Anda sih, sensei?”

“Tinggal tulis saja. Sederhana.”

Jawaban celaka yang sudah kuduga. Saat-saat itu, aku merasa menyesal mengapa harus susah-susah mengerahkan kuchiyose no justru, jurus pemanggilan, untuk mendatangkan seorang Haruki Murakami, bukannya Murakami lain yang juga pengarang: Ryu Murakami. Atau Yasunari Kawabata, atau Banana Yoshimoto, atau Eichiro Oda, atau sekalian saja Ai Hashimoto, atau Haruka Nakagawa. Di lain pihak, aku jadi berpikir mungkin ini juga yang dirasakan rekan bicaraku yang ingin bicara serius, namun aku menanggapinya dengan dingin dan seenak jidat.

“Anak muda, kau tentunya lebih paham dirimu sendiri ketimbang aku. Yang pasti,” ia menghela napas, lalu berdiam dalam jeda yang lumayan panjang, “lewat menulis novel kau bisa bermimpi saat terjaga.”

“Maaf, mungkin pertanyaan saya yang salah,” dan mungkin aku telah salah pula dalam mempersepsikan dia, “Begini… dalam karya-karya Anda, saya melihat kalau Anda suka menulis soal kehilangan?”

“Aku tak tahu mengapa aku terus menulis hal-hal itu. Protagonisku selalu kehilangan sesuatu, dan dia mencari sesuatu yang hilang itu. Ini seperti Cawan Suci, atau Philip Marlowe dalam karyanya Raymond Chandler. Ada yang hilang, lalu ada yang harus dicari.”

“Anda tidak dapat jadi seorang detektif kecuali ada sesuatu yang hilang.”

“Nah, iya. Ketika protagonisku kehilangan sesuatu, ia harus mencarinya. Dia seperti Odysseus. Dia mengalami begitu banyak hal-hal aneh dalam perjalanan pencariannya. . .”

“Dan sedang dalam perjalanan untuk kembali pulang.”

“Ya, ya. Dia harus bertahan dari berbagai insiden, dan pada akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Tapi dia enggak yakin bahwa itu sesuatu yang sama. Aku pikir itu motif utama dari buku-bukuku. Dari mana hal-hal ini berasal? Nah, aku enggak terlalu mengerti. Ini pas denganku. Ini jadi semacam pendorong buat ceritaku: kehilangan kemudian mencari dan menemukannya. Juga adanya kekecewaan, semacam kesadaran baru tentang dunia baginya.”

“Kekecewaan sebagai sebuah jalan yang harus ditempuh?”

“Betul. Sang protagonis telah berubah dalam perjalanannya, inilah yang utama. Bukan soal apa yang ia temukan, tapi bagaimana ia berubah.”

Tiba-tiba radio memperdengarkan musik klasik, seperti dalam pembukaan suatu kompetisi olahraga, penuh tiupan terompet dan gebukan drum.

“Sinfonietta… Janacek,” tebaknya, dengan ekspresi sedikit terkejut, “Nah, anak muda. Kukira waktuku sudah habis.”

“Sayang sekali, padahal saya ingin berbincang lebih banyak lagi dengan Anda, sensei.”

“Ini nasihat dariku: jangan terburu-buru. Jangan gampang putus asa juga,” ia mulai terdengar bagai para motivator sial saja, “Kau harus menyadari ini akan menjadi proses yang panjang dan bahwa kau akan mengerjakannya secara perlahan, satu per satu.”

Tubuhnya memancarkan cahaya putih kebiru-biruan.

“Satu nasihat terakhir,” ia menyunggingkan senyum, “mungkin kau perlu piknik ke ‘sisi lain’ dulu, anak muda.”

“Sisi lain?”

Cahaya dari tubuhnya semakin menyilaukan mata, dan tercipta semacam ledakan, seperti sambaran kilat, sepersekian detik kemudian lelaki yang duduk di depanku lenyap, hanya meninggalkan bir kaleng yang tersisa setengah di atas meja. Haruki Murakami pergi, sebelum aku sempat mengucap terima kasih. Ah sial, aku lupa minta tanda tangan, juga foto bareng. Sisi lain? Apa itu dan bagaimana cara untuk ke sana? Aku menuangkan bir tadi ke gelas tehku.

***

Inspirasi dari Eka Kurniawan – Beberapa Penulis Ingin Menguasai Dunia dan The Paris Review – Haruki Murakami, The Art of Fiction No. 182


14 thoughts on “Ajari Saya Menulis Fiksi, Sensei!

  1. menurutku arip nulisnya udah luwes ih asyik banget lah. dengan diksi yang ga ngoyo tapi tetap terkesan cerdas, aku sebagai pembaca udah sangat terhibur. masalahnya cuma satu, KURANG PANJAAAANG HUHUHU aku ngarep tulisan agak panjang dari kamu rip huhu jika boleh :p

    btw rip kemarin aku nulis fiksi dan maaf nih mencatut nama kamu wkwk.

    1. Nah bener, ngerasa gini juga sih, belum bisa ‘panjang’. Masih lemah soal penggambaran latar dan detail.

      Haha, itu fanfic ya?😎

  2. kalau boleh jawab pertanyaan terakhir .. jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani .. maaf😀.
    sisi lain.. mungkin mencoba sesuatu yang kita tidak ingin mencobanya ..

  3. Pakai bahasa sendiri
    Itu kuncinya

    Tapi tetap saja klo nulis fiksi saya mah nyerah duluan huhuhu

    Btw postingan ini keren banget
    Aku suka caramu memberi pelajaran tanpa terlihat menggurui

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s