Syahrazad, Haruki Murakami [2/2]

141013_r25575-877

SEPULUH hari kemudian, Syahrazad bolos sekolah lagi dan berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah si lelaki. Saat itu pukul sebelas pagi. Seperti sebelumnya, dia memungut kunci dari bawah keset kemudian membuka pintu. Sekali lagi, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Pertama, Syahrazad memilih pensil yang sudah digunakan dan dengan hati-hati memindahkan ke dalam kotak pensilnya. Kemudian dengan hati-hati dia berbaring di tempat tidur si lelaki, melipat tangannya di dada, dan menatap langit-langit. Ini adalah kasur tempat si lelaki tidur setiap malamnya. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat, dan dia merasa sulit untuk bernapas normal. Paru-parunya tidak terisi oleh udara dan tenggorokannya kering seperti tulang, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Syahrazad turun dari tempat tidur, merapihkan selimut, dan duduk di lantai, seperti saat kunjungan pertamanya. Dia menatap kembali langit-langit. Aku belum siap untuk kasur si lelaki, Syahrazad membatin. Itu sesuatu yang masih sulit untuk dia tangani.

Kali ini, Syahrazad menghabiskan setengah jam di rumah si lelaki. Dia mengambil beragam buku catatan si lelaki dari laci dan melihat-lihatnya. Dia menemukan sebuah buku laporan membacanya. Itu tentang ulasan “Kokoro”, novel karya Soseki Natsume, tugas membaca saat musim panas. Tulisan tangan si lelaki begitu indah, sesuatu yang diharapkan dari seorang siswa teladan, tidak ada kesalahan atau kelalaian satu pun. Tugas itu diberi nilai Sempurna. Apa lagi yang bisa mereka beri? Setiap guru yang disuruh menilai tulisan tangan yang sempurna ini secara otomatis akan memberikan nilai Sempurna, bahkan tanpa perlu repot-repot membaca satu baris pun.

Syahrazad pindah mendekat ke laci, memeriksa isinya secara runtut. Pakaian dan kaus kaki. Kemeja dan celana. Seragam sepak bola. Semua terlipat rapi. Tidak ada yang bernoda atau kusut. Apa si lelaki itu yang melipat sendiri? Atau, kemungkinan besar, ibunya yang melakukan semuanya? Dia tiba-tiba merasa cemburu terhadap ibu si lelaki, yang bisa melakukan hal-hal untuk si lelaki setiap harinya.

Syahrazad membungkuk dan membaui pakaian dalam laci. Semua masih segar baru dicuci dan harum matahari. Dia mengambil sebuah kaus abu-abu polos, membukanya, dan menekannya ke wajahnya. Mungkinkah bau keringatnya masih tertinggal di bawah lengan? Tapi tidak tercium. Namun, dia menahannya untuk beberapa waktu, menghirup melalui hidungnya. Dia ingin membawa pulang kaus itu. Tapi ini terlalu berisiko. Pakaian-pakaiannya begitu cermat diatur dan dijaga. Lelaki itu (atau ibunya) mungkin tahu persis jumlah kaos di dalam laci. Jika salah satu hilang, pasti bakal ketahuan. Syahrazad hati-hati melipat kembali kaos tadi dan mengembalikan ke tempat semula. Sebagai gantinya, Syahrazad mengambil sebuah lencana kecil, berbentuk seperti bola sepak, yang ia temukan di salah satu laci meja. Tampaknya itu klub di kelasnya tahun kemarin. Syahrazad meragukan bahwa lelaki itu akan mengetahuinya. Setidaknya, perlu beberapa waktu sebelum si lelaki menyadari bahwa lencananya hilang. Saat masih di sana, Syahrazad memeriksa laci bawah meja untuk memastikan pembalut yang ia simpan. Ternyata masih ada.

Syahrazad membayangkan apa yang akan terjadi jika ibu si lelaki itu menemukan sebuah pembalut. Apa yang akan ibunya pikirkan? Apakah ibunya akan menuntut si lelaki untuk menjelaskan kenapa ada pembalut di mejanya? Atau ibunya akan merahasiakan penemuannya tersebut, hanya memikirkan berulang kecurigaan dalam pikirannya saja? Syahrazad tak tahu. Tapi dia memutuskan untuk tetap meninggalkan pembalut itu di sana. Pada akhirnya, itu jadi semacam bukti pertama bagi keberadaannya.

Untuk memperingati kunjungan kedua, Syahrazad meninggalkan tiga helai rambutnya. Malam sebelumnya, ia telah mencabutnya, membungkus dalam plastik, dan menyegel dalam amplop kecil. Sekarang dia mengambil amplop tadi dari ransel dan menyelipkannya ke salah satu buku catatan matematika tua di dalam laci. Tiga helai rambut yang lurus dan hitam, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Tidak ada yang akan tahu milik siapa kecuali kalau dilakukan tes DNA, meski memang jelas rambut itu milik seorang gadis.

Dia keluar dari rumah si lelaki dan langsung pergi ke sekolah, tiba tepat waktu untuk kelas sore pertamanya. Sekali lagi, ia bisa berbahagia untuk sekitar sepuluh hari. Dia merasa bahwa si lelaki telah menjadi miliknya. Tapi, seperti yang Anda harapkan, rantai peristiwa tidak akan berakhir tanpa insiden. Karena, seperti yang Syahrazad ucapkan, menyelinap ke rumah orang lain adalah sesuatu yang sangat adiktif.

*

SAAT titik ini dalam cerita Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur dan melihat bahwa sudah pukul 04:32. “Harus pergi sekarang,” katanya, seolah pada dirinya sendiri. Dia melompat dari tempat tidur dan mengenakan celana dalam putih polosnya, mengaitkan bra, mengenakan celana jeans-nya, dan menarik kaus Nike biru gelap melalui atas kepalanya.  Lalu ia membasuh tangannya di kamar mandi, menyibak rambutnya, dan melaju pergi dengan Mazda birunya.

Ditinggalkan sendirian tanpa perintah apa-apa untuk dilakukan, Habara berbaring di tempat tidur dan merenung tentang kisah yang baru saja Syahrazad ceritakan padanya, menikmatinya sedikit demi sedikit, seperti sapi mengunyah rumput. Kemana arah cerita itu? ia bertanya-tanya. Seperti semua cerita Syahrazad yang lain, Habara tak pernah tahu. Ia merasa sulit untuk membayangkan Syahrazad sebagai siswa SMA. Apakah dia ramping saat itu, bebas dari timbunan lemak seperti saat ini? Seragam sekolah, kaus kaki putih, rambutnya dikepang kah?

Habara belum lapar, sehingga ia menunda menyiapkan makan malam dan kembali ke buku yang telah ia baca, dan mendapati dirinya tidak bisa berkonsentrasi. Gambaran Syahrazad yang menyelinap ke kamar teman sekelasnya dan membenamkan wajahnya di kaus si lelaki terlalu segar dalam pikirannya. Dia tidak sabar untuk mendengar apa yang terjadi selanjutnya.

*

KUNJUNGAN berikutnya Syahrazad ke rumah Habara adalah tiga hari kemudian, setelah lewat akhir pekan. Seperti biasa, Syahrazad datang membawa wadah kertas besar berisi beragam barang-barang kebutuhan. Dia pergi melalui makanan di lemari es, menggantikan beragam keperluan yang telah lewat tanggal kedaluwarsa, meneliti makanan kaleng dan botol di lemari, memeriksa pasokan bumbu dan rempah-rempah untuk memastikan apa yang menipis, dan menulis sebuah daftar belanja. Dia menaruh beberapa botol Perrier di lemari es untuk bersantai. Akhirnya, dia tumpuk buku-buku baru dan DVD yang dibawanya di atas meja.

“Apakah ada yang lain yang kau butuhkan atau inginkan?”

“Aku pikir tak ada,” jawab Habara.

Kemudian, seperti biasa, mereka berdua pergi ke tempat tidur dan berhubungan seks. Setelah melakukan beberapa foreplay, Habara menyelipkan kondomnya, memasuki Syahrazad, dan, setelah berada di waktu yang tepat, ejakulasi. Setelah memastikan isi pada kondomnya, Syahrazad mulai melanjutkan kisahnya.

*

SEPERTI sebelumnya, dia merasa bahagia dan puas selama sepuluh hari setelah penyusupan keduanya. Dia menyelipkan lencana sepakbola dalam tempat pensil dan dari waktu ke waktu merabanya selama kelas berlangsung. Dia menggigiti pensil yang telah ia ambil dan menjilati ujungnya. Sepanjang waktu dia terus memikirkan kamar si lelaki. Dia membayangkan mejanya, kasur tempatnya tidur, lemari yang mengemas pakaiannya, celana boxer putih, dan pembalut juga tiga helai rambut Syahrazad yang tersembunyi di laci.

Dia telah kehilangan semua minat di sekolah. Di kelas, dia terus memain-mainkan lencana dan pensil atau jatuh terbuai dalam lamunan. Ketika dia pulang, dia tidak dalam kondisi pikiran untuk menuntaskan PR-nya. Nilai Syahrazad tidak pernah bermasalah sebelumnya. Dia memang bukan murid unggul, tapi dia adalah seorang gadis serius yang selalu mengerjakan tugasnya. Jadi ketika gurunya bertanya padanya di kelas dan dia tidak mampu memberikan jawaban yang tepat, alih-alih marah, guru tersebut malah kebingungan. Akhirnya, sang guru memanggilnya ke kantor saat istirahat makan siang. “Apa ada masalah?” Ia bertanya. “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” Syahrazad hanya bisa bergumam sesuatu yang samar tentang tidak enak badan. Rahasianya terlalu berat dan gelap untuk diungkapkan kepada siapa pun—Syahrazad harus menanggungnya sendiri.

*

AKU terus membobol rumahnya,” ungkap Syahrazad. “Aku terpaksa. Seperti yang dapat kau bayangkan, itu sesuatu yang sangat berisiko. Bahkan aku sangat tahu itu. Cepat atau lambat, seseorang akan memergokiku di sana, dan polisi akan dilibatkan. Bayangan itu membuatku mati ketakutan. Tapi, setelah bola bergulir, tidak ada cara untuk bisa menghentikannya. Sepuluh hari setelah ‘kunjungan’ keduaku, aku pergi ke sana lagi. Aku tak punya pilihan. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukannya, hidupku akan berakhir. Melihat ke belakang, aku pikir aku benar-benar sedikit gila.”

“Apakah itu tidak menimbulkan masalah bagimu di sekolah, bolos dari kelas begitu sering?” Tanya Habara.

“Orang tuaku punya kesibukan sendiri, sehingga mereka terlalu sibuk untuk memberikan banyak perhatian kepadaku. Aku tidak pernah mendapat masalah sampai saat itu, tidak pernah sampai melibatkan mereka. Jadi mereka pikir tak terlalu ikut campur merupakan pendekatan terbaik. Catatan peringatan ke sekolah adalah hal sepele. Aku menjelaskan kepada guru wali kelasku bahwa aku punya masalah medis sehingga aku harus menghabiskan setengah hari di rumah sakit untuk beberapa waktu. Karena guru memeras otak mereka atas apa yang harus dilakukan untuk anak-anak lain yang bolos sekolah, mereka tidak terlalu mengkhawatirkanku untuk mengambil izin setengah hari.”

Syahrazad melirik sekilas jam di samping tempat tidur sebelum melanjutkan kembali.

“Aku mengambil kunci dari bawah keset dan masuk ke rumah itu untuk ketiga kalinya. Keadaan di sana sesunyi seperti sebelumnya—tidak, bahkan lebih sunyi untuk beberapa alasan. Mengejutkanku ketika kulkas tiba-tiba berbunyi—itu terdengar seperti binatang besar mendesah. Telepon berdering saat aku berada di sana. Dering itu sangat keras dan kasar yang membuatku berpikir jantungku akan berhenti. Aku ditutupi dengan keringat. Tidak ada yang mengangkat, tentu saja, dan baru berhenti setelah sekitar dering kesepuluh. Rumah itu terasa lebih sunyi setelahnya.”

*

SYAHRAZAD menghabiskan waktu yang lama berbaring di tempat tidurnya hari itu. Kali ini jantungnya tidak berdetak begitu liar, dan dia mampu bernapas normal. Dia bisa membayangkan anak itu sedang tidur dengan tenang di sampingnya, bahkan merasa seolah-olah Syahrazad sedang mengawasinya saat si lelaki tidur. Dia merasa bahwa, jika Syahrazad mengulurkan tangan, dia bisa menyentuh lengan berototnya. Si lelaki tidak ada di sampingnya, tentu. Syahrazad baru saja jatuh dalam kabut lamunan.

Syahrazad mendapat dorongan kuat untuk menciumnya. Bangkit dari tempat tidur, dia berjalan ke laci, membuka satu slot, dan memeriksa baju-baju di dalamnya. Baju-baju itu telah dicuci dan dilipat rapi. Semuanya masih segar, dan bebas dari bau, seperti sebelumnya.

Sebuah ide menimpanya. Dia berlari menuruni tangga ke lantai pertama. Di sana, di ruang di samping kamar mandi, ia menemukan keranjang binatu dan membuka tutupnya. Itu adalah campuran beragam pakaian kotor dari tiga anggota keluarga—ibu, anak perempuan, dan si lelaki. Cucian selama sehari, kalau diperhatikan. Syahrazad mengambil sepotong pakaian laki-laki. Satu kaos oblong putih. Dia membauinya. Aroma begitu jelas yang berasal dari si lelaki. Bau apek yang pernah Syahrazad cium sebelumnya, ketika berdekatan dengan teman-teman laki-laki sekelasnya. Bukan aroma harum, tentu saja. Tapi fakta bahwa bau ini adalah milik si lelaki membawa Syahrazad pada sukacita yang tak berkesudahan. Ketika ia meletakkan hidungnya di bagian ketiak kemudian menghirupnya, Syahrazad merasa seolah-olah dia berada dalam pelukannya, tangan si lelaki menggenggam erat Syahrazad.

Dengan kaos di tangan, Syahrazad menaiki tangga ke lantai dua dan berbaring di tempat tidur si lelaki lagi. Dia membenamkan wajahnya di baju si lelaki dan rakus membauinya. Sekarang dia bisa merasakan sensasi lesu di bagian bawah tubuhnya. Putingnya juga mengeras. Mungkinkah menstruasi? Tidak, itu terlalu dini. Apakah ini yang namanya hasrat seksual ini? Jika demikian, maka apa yang bisa dia lakukan tentang hal itu? Dia tak tahu. Satu hal yang pasti, tentu saja—ini tidak boleh terjadi dalam situasi seperti ini. Tidak di sini di kamarnya, di tempat tidur si lelaki.

Pada akhirnya, Syahrazad memutuskan untuk membawa pulang kaos itu. Ini berisiko, sudah pasti. Ibu si lelaki kemungkinan besar bakal tahu kalau sebuah baju telah hilang. Meski si ibu tidak menyadari bahwa kaos itu hilang karena dicuri, ia masih akan bertanya-tanya ke mana perginya kaos itu. Setiap wanita yang terus menjaga rumahnya sampai begitu tertata pastilah seorang yang gila akan kerapihan. Ketika sesuatu hilang, dia akan mencari di setiap jengkal rumah dari atas ke bawah, seperti anjing polisi, tak akan berhenti sampai ia berhasil menemukannya. Tidak diragukan lagi, ibu si lelaki akan mengungkap jejak Syahrazad di kamar anak kebanggaannya ini. Tapi, meski Syahrazad paham betul akan hal ini, dia tidak ingin berpisah dengan baju itu. Otaknya tak berdaya untuk membujuk hatinya.

Sebaliknya, Syahrazad malah mulai berpikir tentang barang apa yang harus ditinggalkan. Celana dalamnya tampak seperti pilihan terbaik. Itu memang sesuatu yang biasa, sederhana, relatif baru, dan segar pagi itu. Dia bisa menyembunyikannya di bagian paling belakang lemari. Adakah barang lain yang lebih tepat untuk ditinggalkan dalam pertukaran ini? Tapi, ketika dia menanggalkan celana dalamnya, selangkangannya basah. Aku kira ini berasal dari birahi tadi, pikirnya. Mustahil untuk meninggalkan sesuatu yang ternoda oleh nafsunya di kamar si lelaki. Syahrazad hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Syahrazad memakainya kembali dan mulai berpikir tentang apa lagi yang harus ditinggalkan.

*

SYAHRAZAD menghentikan ceritanya. Untuk waktu yang lama, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia berbaring di sana bernapas tenang dengan mata tertutup. Di sampingnya, Habara mengikuti, menunggunya untuk melanjutkan.

Akhirnya, Syahrazad membuka matanya dan bicara. “Hei, Tuan Habara,” katanya. Ini adalah pertama kalinya Syahrazad menyapanya dengan nama langsung.

Habara menatapnya.

“Apakah kau pikir kita bisa melakukannya sekali lagi?”

“Saya pikir saya bisa,” katanya.

Jadi mereka bercinta lagi. Kali ini, bagaimanapun, sangat berbeda dari waktu sebelumnya. Keji, bergairah, dan lebih panjang. Klimaksnya begitu jelas. Serangkaian kejang hebat yang meninggalkan gemetar. Bahkan wajah Syahrazad ikut berubah. Bagi Habara, ini seperti menangkap sekilas Syahrazad di masa mudanya: wanita dalam pelukannya sekarang seorang gadis tujuh belas tahun bermasalah yang entah bagaimana terjebak dalam tubuh seorang ibu rumah tangga tiga puluh lima tahun. Habara bisa merasakan Syahrazad sedang di sana, matanya terpejam, tubuhnya bergetar, polos menghirup aroma dari kaos berkeringat si lelaki.

Kali ini, Syahrazad tidak menceritakan sebuah cerita sehabis berhubungan seks. Dia juga tidak memeriksa isi kondom Habara. Mereka hanya berbaring di sana diam-diam di samping satu sama lain. Mata Syahrazad terbuka lebar, dan ia menatap langit-langit. Seperti lamprey menatap permukaan air yang terang. Betapa indahnya itu, pikir Habara, jika ia juga bisa menghuni waktu atau ruang lain—meninggalkan tubuh ini, manusia bernama Nobutaka Habara ini dan menjadi seekor lamprey tanpa nama. Dia membayangkan dirinya dan Syahrazad berdampingan, pengisap mereka menempel ke batu, tubuh mereka melambai dalam arus, mengamati permukaan karena mereka menunggu ikan gendut yang berenang dengan pongah di atasnya.

“Jadi apa yang kau tinggalkan dalam pertukaran untuk baju itu?” Habara memecah keheningan.

Syahrazad tidak langsung menjawab.

“Tidak ada,” katanya akhirnya. “Tidak ada sesuatu yang aku bawa yang bisa menyamai baju dengan baunya itu. Jadi aku hanya mengambil dan langsung menyelinap keluar. Itu adalah ketika aku menjadi pencuri, sesederhana itu.”

*

DUA BELAS hari kemudian, Syahrazad kembali ke rumah si lelaki itu untuk keempat kalinya, ada kunci baru di pintu depan. Warna emas berkilauan terkena sinar matahari tengah hari, seolah-olah untuk memamerkan kebanggaan yang kokoh. Dan tidak ada kunci yang disembunyikan di bawah keset. Jelas, ibunya curiga akibat baju hilang itu. Dia pasti mencari dari atas ke bawah, tercium tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu yang aneh terjadi di rumahnya. Nalurinya memang tepat, reaksinya cepat.

Syahrazad, tentu saja, kecewa dengan perkembangan ini, tapi pada saat yang sama ia merasa lega. Seolah-olah seseorang telah melangkah dari belakangnya dan melepas beban berat dari bahunya. Ini berarti aku tidak bisa membobol rumahnya lagi, pikirnya. Tidak ada keraguan, jika saja kuncinya tetap sama, maka invasinya ini akan berlanjut terus menerus. Juga sudah dipastikan bahwa tindakannya akan meningkat lebih jauh di setiap kunjungan. Pada akhirnya, anggota keluarga akan muncul saat Syahrazad sedang berada di lantai dua. Tak akan ada jalan untuk melarikan diri. Tidak ada cara untuk membela dirinya yang bisa mengeluarkannya dari kesulitan. Ini adalah masa depan yang telah menunggunya, cepat atau lambat, dan hasilnya akan menghancurkannya. Sekarang Syahrazad telah berhasil mengelak. Mungkin dia harus berterima kasih pada ibu si lelaki—meski dia tidak pernah bertemu wanita itu—karena memiliki mata seperti elang.

Syahrazad menghirup aroma kaos si lelaki setiap malam sebelum dia pergi tidur. Dia tidur dengan kaos itu di sampingnya. Dia akan membungkusnya dengan kertas dan menyembunyikannya sebelum dia berangkat ke sekolah di pagi hari. Kemudian, setelah makan malam, dia akan menariknya keluar untuk membelai dan mengendusinya. Dia khawatir kalau-kalau bau itu akan memudar sejurus berlalunya hari, tapi itu tidak terjadi. Bau keringatnya telah meresapi kaus itu untuk selamanya.

Sekarang setelah aktivitas penyusupan yang telah berakhir, pikiran Syahrazad perlahan mulai kembali normal. Melamunnya di kelas berkurang, dan kata-kata gurunya mulai bisa terserap lagi. Namun, fokus utamanya tidak pada suara gurunya, tetapi pada perilaku teman sekelasnya itu. Dia terus mengawasi diam-diam dirinya, mencoba untuk mendeteksi perubahan, indikasi kalau-kalau si lelaki mungkin gugup akan sesuatu. Tapi si lelaki bertindak persis sama seperti biasa. Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa spontan seperti biasa, dan menjawab segera ketika dipanggil. Dia berteriak keras-keras saat latihan sepak bola dan berkeringat seperti biasa. Syahrazad tidak mendapati sesuatu yang luar biasa—hanya pemuda biasa, dengan pembawaan yang lurus-lurus saja.

Namun, Syahrazad tahu ada satu bayangan yang mengikutinya. Atau sesuatu yang seperti itu. Tak ada yang tahu, kemungkinan. Hanya Syahrazad saja (dan, kalau dipikir-pikir, mungkin juga ibu si lelaki). Pada penyusupan ketiga, Syahrazad menemukan sejumlah majalah porno tersembunyi di relung terjauh dalam lemari. Majalah itu penuh dengan gambar wanita bugil, meragangkan kakinya dan memamerkan kelamin mereka dengan murah hatinya. Beberapa gambar menampilkan tindakan seks: pria memasukkan penis berbentuk pancing ke dalam tubuh wanita yang posisinya sangat tidak wajar. Syahrazad tidak pernah melihat foto seperti ini sebelumnya. Syahrazad duduk di meja dan membalik perlahan majalah itu, mempelajari setiap foto dengan minat yang tinggi. Syahrazad menduga bahwa si lelaki melakukan masturbasi saat melihat majalah-majalah itu. Tetapi gagasan itu tak Syahrazad anggap sebagai sesuatu yang menjijikkan. Syahrazad menerima masturbasi sebagai aktivitas normal. Semua sperma laki-laki harus pergi ke suatu tempat, seperti gadis-gadis harus mengalami menstruasi. Dengan kata lain, si lelaki sangat khas remaja. Bukan orang yang suci-suci amat. Dia menemukan bahwa pengetahuan ini merupakan sesuatu yang melegakan.

*

KETIKA pembobolanku berhenti, gairahku terhadapnya mulai reda. Bertahap memang, seperti surut pasang dari pantai panjang yang landai. Entah bagaimana, aku menemukan diriku membaui kausnya tak sesering sebelumnya dan menghabiskan lebih sedikit waktu membelai pensil dan lencananya. Demam itu sudah lewat. Apa yang aku telah tertular bukan sesuatu seperti sakit tapi hal itu sangat nyata. Selama itu berlangsung, aku tidak bisa berpikir jernih. Mungkin semua orang mengalami periode gila seperti itu pada satu waktu. Atau mungkin itu adalah sesuatu yang terjadi hanya untukku. Kalau kau bagaimana? Apakah kau pernah memiliki pengalaman seperti itu?”

Habara mencoba mengingat, tapi kosong belaka. “Tidak, tidak ada yang seekstrim dirimu, saya pikir,” katanya.

Syahrazad tampak agak kecewa dengan jawabannya.

“Pokoknya, aku lupa semua tentang dia setelah aku lulus. Begitu cepat dan mudah, itu aneh. Apa karena dirinya yang membuat usia tujuh belasku terasa begitu keras? Aku tak ingat. Hidup ini aneh, kan? Kau bisa benar-benar terpesona oleh sesuatu dalam satu menit, rela mengorbankan segalanya untuk membuatnya milikmu, tapi kemudian sedikit waktu berlalu, atau perspektifmu berubah sedikit saja, tiba-tiba kau terkejut betapa cahaya itu dengan cepatnya memudar. Apa yang aku cari? kau bertanya-tanya. Jadi itulah kisah saat masa ‘melanggar-dan-masuk’ ku.”

Dia membuatnya terdengar seperti Blue Period-nya Picasso, pikir Habara. Tapi ia mengerti apa yang Syahrazad coba untuk sampaikan.

Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur. Itu hampir waktu baginya untuk pergi.

“Sejujurnya,” katanya akhirnya,”cerita tidak berakhir di sana. Beberapa tahun kemudian, ketika aku berada di tahun keduaku di sekolah keperawatan, goresan takdir aneh membawa kami bersama-sama lagi. Ibunya memainkan peran besar di dalamnya; pada kenyataannya, ada sesuatu yang menakutkan tentang seluruh hal ini—seperti salah satu cerita hantu lawas. Mungkin terdengar agak luar biasa. Apakah kau ingin mendengar tentang hal itu?”

“Aku ingin,” kata Habara.

“Mungkin lebih baik menunggu sampai kunjungan berikutnya,” kata Syahrazad. “Sudah larut. Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam.”

Syahrazad bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian—celana dalamnya, stoking, kamisol, dan, akhirnya, roknya dan blus. Habara biasa menyaksikan gerakannya ini dari tempat tidur. Ini membuatnya berpikir kalau saat perempuan mengenakan pakaian bisa lebih menarik ketimbang saat mereka menanggalkan pakaian.

“Ada buku yang kau inginkan untuk kubawa?” Tanya Syahrazad, dalam perjalanan keluar pintu.

“Tidak, tidak ada yang bisa saya pikirkan,” jawabnya. Apa yang benar-benar ia inginkan, Habara pikir, adalah agar Syahrazad bisa menceritakan seluruh kisahnya, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata. Hal itu mungkin bakal membahayakan peluang Habara sehingga tidak akan pernah mendengar kisahnya lagi.

*

HABARA pergi tidur lebih awal malam itu dan berpikir tentang Syahrazad. Mungkin dia tidak akan pernah melihat Syahrazad lagi. Ini membuatnya khawatir. Kemungkinan itu terlalu nyata. Tidak ada dari kontak personal—tidak ada sumpah, tidak ada hubungan implisit di antara mereka—yang mengikat. Ada kemungkinan hubungan mereka diciptakan oleh orang lain, dan mungkin akan berakhir karena kemauan orang itu juga. Dengan kata lain, mereka terikat hanya oleh benang sangat tipis. Itu mungkin—tidak, sudah pasti—bahwa benang itu pada akhirnya akan rusak dan semua kisah-kisah aneh dan asing yang Syahrazad ceritakan akan terputus untuknya. Satu-satunya pertanyaan adalah kapan itu akan terjadi.

Habara menutup matanya dan berhenti memikirkan Syahrazad. Sebaliknya, ia memikirkan lamprey. Belut lamprey tanpa rahang mengikatkan diri pada batu, bersembunyi di antara rerumputan dasar air, sedang bergoyang maju-mundur. Habara membayangkan bahwa dirinya adalah salah satu dari mereka, menunggu ikan muncul. Tapi tidak ada ikan lewat, tidak peduli berapa lama ia menunggu. Baik yang gemuk, bahkan yang kecil sekalipun, tidak ada ikan sama sekali. Akhirnya matahari terbenam, dan dunianya itu merengkuh dalam kegelapan.

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.


One thought on “Syahrazad, Haruki Murakami [2/2]

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s