Clara, Roberto Bolaño

clara roberto bolano

DIA punya dada besar, kaki ramping, dan mata biru. Begitulah caraku ingin mengingatnya. Aku tidak tahu mengapa aku begitu jatuh cinta dengan dia, tapi aku benar-benar mencintainya, dari sejak pertama, maksudku sejak hari pertama, jam pertama, semuanya berjalan lancar; kemudian Clara kembali ke kota tempat dia tinggal, di selatan Spanyol (dia sedang berlibur ke Barcelona), dan semuanya mulai berantakan.

Suatu malam aku bermimpi bertemu seorang malaikat: Aku memasuki sebuah bar besar yang kosong dan melihat malaikat itu duduk di pojok ruangan dengan bertopang siku di meja dan secangkir kopi susu di depannya. Perempuan itu cinta sejatimu, ucap sang malaikat, menatapku, lalu dengan kekuatan tatapannya, api berkobar di matanya, melemparkanku tepat ke seberang ruangan. Aku mulai berteriak, Pelayan, pelayan, kemudian membuka mata dan bisa terlepas dari mimpi buruk itu. Malam lainnya aku tidak memimpikan siapa pun, tapi aku terbangun sambil menitikkan air mata. Sementara itu, Clara dan aku saling bersurat satu sama lain. Surat-suratnya begitu singkat. Hai, bagaimana kabarmu, di sini sedang hujan, aku mencintaimu, dah. Pada awalnya, surat-surat tadi membuatku khawatir. Ini semua akan berakhir, pikirku. Namun, setelah mempelajari lebih saksama, aku mencapai kesimpulan bahwa alasan tulisannya begitu singkat karena ia ingin menghindari kesalahan tata bahasa. Clara berbangga. Dia tidak bisa menulis dengan baik, dan dia tidak ingin membiarkan hal itu diketahui, bahkan jika itu berarti menyakitiku lewat bersikap dingin.

Dia berusia delapan belas pada saat itu. Dia keluar dari SMA dan belajar musik di akademi swasta, juga menggambar dengan seorang pelukis lanskap yang sudah pensiun, tapi Clara nampaknya tidak terlalu berminat dengan musik, begitupun dengan lukisan: dia memang menyukainya, tapi tak bisa disebut bergairah dalam hal itu. Suatu hari, aku menerima surat yang memberitahuku, seperti biasa dalam suratnya yang singkat, bahwa ia akan mengikuti kontes kecantikan. Tanggapanku, yang termuat dalam tiga halaman bolak-balik, adalah puji-pujian berlebihan untuk kecantikannya yang meneduhkan, matanya yang manis, kesempurnaan sosoknya, dll. Surat itu sebuah perayaan yang kacangan, dan ketika aku selesai aku bertanya-tanya haruskah aku mengirimkan ini, tapi pada akhirnya aku kirimkan juga.

Beberapa minggu berlalu sampai aku mendengar kabar darinya. Aku bisa saja menelepon, tapi aku tidak ingin mengganggu, dan juga pada saat itu aku sedang bokek. Clara memenangkan peringkat kedua dalam kontes dan karenanya tertekan selama seminggu. Anehnya, dia mengirimiku telegram, yang berbunyi, “JUARA KEDUA. STOP. TELAH TERIMA SURATMU. STOP. DATANG DAN TEMUI AKU.”

Seminggu kemudian, aku naik kereta menuju kota tempat dia tinggal, kereta pertama yang berangkat hari itu. Sebelumnya, tentu saja—maksudku setelah telegram itu—kami telah berbicara lewat telepon, dan aku telah mendengar cerita tentang kontes kecantikan itu beberapa kali. Rupanya itu punya dampak besar bagi Clara. Jadi aku mengemas tasku, dan secepat yang kubisa, naik kereta api paling awal, dan pagi-pagi sekali aku sudah di sini, di kota yang begitu asing. Aku tiba di apartemen Clara pukul sembilan tiga puluh, setelah sebelumnya minum kopi di stasiun dan merokok beberapa batang untuk membunuh waktu. Seorang wanita gemuk dengan rambut berantakan membuka pintu, dan ketika aku bilang aku datang untuk bertemu Clara ia menatapku seolah-olah aku seekor domba yang sedang dalam perjalanan menuju penyembelihan. Selama beberapa menit (tampak sangat lama waktu itu, dan dipikir-pikir aku menyadari kemudian bahwa sebenarnya memang benar-benar lama), aku duduk dan menunggu Clara di ruang tamu, ruang tamu yang tampak bersahaja, meski memang, terlalu berantakan tapi ramah dan penuh cahaya. Ketika Clara membuka pintu masuknya, itu seperti seorang bidadari yang menampakan diri. Aku tahu itu adalah hal yang bodoh untuk dipikirkan—juga bodoh untuk dikatakan—tapi memang begitulah adanya.

Hari-hari berikutnya terjadi hal-hal menyenangkan pun tidak menyenangkan. Kami menonton banyak film, hampir seharian; kami bercinta (aku adalah orang pertama yang tidur dengan Clara, tampak kurang penting atau anekdot memang, tetapi pada akhirnya nanti ini sesuatu yang sangat berdampak); kami pergi jalan-jalan; aku bertemu dengan teman-teman Clara; kami mendatangi dua pesta yang sungguh mengerikan; dan aku membujuknya untuk pindah dan tinggal bersamaku di Barcelona. Tentu saja, pada tahap itu aku sudah tahu apa jawabannya. Setelah satu bulan, aku naik kereta malam kembali pulang ke Barcelona; aku masih ingat itu adalah perjalanan yang mengerikan.

Segera setelah itu, Clara menjelaskan dalam surat, sebuah surat terpanjang yang pernah dia kirim buatku, tentang alasan mengapa dia tidak bisa menerima ajakanku: Aku menempatkan dia di bawah tekanan tak tertahankan (dengan menyarankan bahwa kita harus hidup bersama); semuanya sudah berakhir. Setelah itu, kami berbicara tiga atau empat kali di telepon. Aku pikir aku juga menulis surat penuh cemoohan sekaligus deklarasi cinta. Sekali waktu, ketika aku berlibur ke Maroko, aku meneleponnya dari hotel tempat menginapku, di Algeciras, dan saat itu kami bisa memperoleh percakapan yang beradab. Setidaknya, dia pikir itu beradab. Atau justru aku sendiri yang berpikir begitu.

*

BERTAHUN-TAHUN kemudian, Clara menceritakan kepadaku tentang bagian-bagian hidupnya yang aku lewatkan tanpanya. Dan kemudian, setahun setelah itu, dia dan beberapa temannya menceritakan kisah hidupnya lagi, mulai dari awal, atau dari saat kita putus—karena aku cuma seorang tokoh minor, hal itu tidak terlalu berpengaruh buat mereka, atau kepadaku, sungguh, meskipun tidak mudah untuk mengakui begitu saja. Bisa ditebak, tidak lama setelah akhir dari pertunangan kami (aku tahu “pertunangan” terlalu hiperbolik, tapi itu adalah kata terbaik yang dapat kutemukan) Clara menikah, dan pria beruntung itu, cukup logis memang, merupakan salah satu teman yang aku temui ketika perjalanan pertamaku ke kotanya.

Tapi, sebelum itu, Clara punya masalah psikologis: ia sering bermimpi tentang tikus-tikus; di malam hari ia akan mendengar mereka di kamar tidurnya, dan selama berbulan-bulan, bulan-bulan menjelang pernikahannya, dia terpaksa tidur di sofa di ruang tamu. Aku menduga kalau tikus-tikus terkutuk itu menghilang setelah pernikahan.

Begitulah. Clara menikah. Dan suaminya, suami yang begitu Clara sayangi, mengejutkan semua orang, bahkan dirinya sendiri. Setelah satu atau dua tahun, aku tidak terlalu yakin kapan tepatnya—Clara yang menceritakannya kepadaku, tapi aku sudah lupa—bahwa mereka bercerai. Itu bukan perceraian yang berjalan damai. Si suami menempik, Clara pun berteriak, Clara kemudian menamparnya, dan suaminya membalas dengan pukulan yang membuat rahang Clara terkilir. Kadang-kadang, ketika aku sendirian dan tidak bisa tidur tapi tidak merasa perlu untuk menyalakan lampu, aku membayangkan Clara, yang jadi juara kedua dalam kontes kecantikan, dengan rahangnya yang gual-gail, tidak bisa mengembalikan ke posisi normal, mengemudi sendirian ke rumah sakit terdekat dengan satu tangan di kemudi dan tangan lainnya memegangi rahangnya. Aku ingin merasa itu sesuatu yang lucu, tapi aku tidak bisa membayangkannya.

Apa yang aku pikir lucu adalah malam pernikahannya. Dia menjalani operasi wasir sehari sebelumnya, jadi aku kira dia masih grogi sedikit. Atau mungkin tidak. Aku tidak pernah bertanya apakah dia bisa bercinta dengan suaminya. Aku pikir mereka telah melakukannya sebelum operasi. Lagi pula, apa bedanya? Semua rincian ini bercerita lebih banyak tentangku bukan soal yang mereka lakukan tentang Clara.

Dalam beberapa hal, Clara bercerai dengan suaminya satu atau dua tahun setelah pernikahan, kemudian melanjutkan kembali studinya. Dia tidak bisa meneruskan ke jenjang universitas karena dia tidak lulus SMA, tapi dia mencoba segala sesuatu yang lain: fotografi, melukis lagi (aku tidak tahu kenapa, tapi dia selalu berpikir dia bisa menjadi seorang pelukis yang hebat), bermusik, mengetik , IT, semua kursus program diploma satu tahun yang konon ditujukan menciptakan peluang kerja bagi orang-orang muda yang putus asa. Dan meskipun Clara sangat senang telah melarikan diri dari suami yang memukulnya itu, dalam hati dia masih putus asa.

Tikus-tikus itu datang lagi, bersama depresi, dan juga penyakit misterius. Selama dua atau tiga tahun ia dirawat karena maag, sampai dokter akhirnya menyadari bahwa tidak ada yang salah, setidaknya bukan dalam perutnya. Sekitar waktu itu dia bertemu Luis, seorang eksekutif; mereka menjadi kekasih, dan ia membujuk Clara untuk belajar sesuatu yang berhubungan dengan administrasi bisnis. Menurut teman-teman Clara, ia akhirnya menemukan cinta sejatinya. Tak berselang lama, mereka hidup bersama; Clara mendapat pekerjaan kantoran, di sebuah perusahaan resmi atau semacam agensi—pekerjaan yang menyenangkan, sebut Clara, tanpa ada kesan ironi—dan hidupnya tampak berada dalam jalur, jalur yang benar kali ini. Luis adalah seorang pria perasa (dia tidak pernah memukul Clara), dan berbudaya (dia, aku percaya, adalah satu dari dua juta orang Spanyol yang membeli lengkap karya-karya Mozart), dan juga penyabar (dia mendengarkan, ia mendengarkan Clara setiap malamnya juga pada akhir pekan). Clara tidak banyak bicara untuk dirinya sendiri, tapi dia tidak pernah bosan mengatakan itu. Dia tidak mencemaskan kontes kecantikan lagi, meskipun dia mengungkitnya dari waktu ke waktu; sekarang itu semua soal periode depresinya, ketidakstabilan mentalnya, beragam gambar yang ingin dia lukis tapi tidak bisa.

Aku tidak tahu mengapa mereka tidak memiliki anak; mungkin mereka tidak punya waktu, meskipun, menurut Clara, Luis sangat tergila-gila pada anak-anak. Clara menggunakan waktunya untuk belajar, dan mendengarkan musik (Mozart pada awalnya, kemudian komposer lain), dan memotret, yang dia tidak pernah tunjukkan pada siapa pun. Dengan jalannya yang masih kabur dan tidak berguna ini, dia mencoba membela kebebasannya, mencoba belajar.

Pada usia tiga puluh satu, dia tidur dengan seorang pria rekan sekantornya. Itu hanya hal biasa, bukan perkara besar, setidaknya untuk mereka berdua, tapi Clara membuat kesalahan dengan menceritakan ini pada Luis. Tercipta pertengkaran mengerikan. Luis menghancurkan kursi atau lukisan yang dibelinya, mabuk, dan tidak berbicara dengannya selama satu bulan. Menurut Clara, sejak hari itu tidak lagi sama, terlepas sudah ada semacam rekonsiliasi, terlepas dari jalan-jalan mereka ke kota di sisi pantai, perjalanan yang agak sedih dan membosankan, pada akhirnya.

Waktu berlalu sampai Clara berusia tiga puluh dua, kehidupan seks hampir tidak ada. Sesaat sebelum Clara beranjak tiga puluh tiga, Luis mengatakan bahwa ia mencintainya, ia menghormati Clara, dia tidak akan pernah melupakannya, tapi dalam beberapa bulan Luis telah terpincut seseorang dari tempat kerjanya, seorang wanita baik dan pengertian, yang telah bercerai dan memiliki anak, dan Luis berencana untuk pergi dan tinggal bersamanya.

Sekilas, nampak Clara berpisah dengan cara cukup baik (itu pertama kalinya seseorang telah meninggalkannya). Tapi beberapa bulan kemudian ia terjerumus dalam depresi lagi dan harus mengambil cuti kerja dan menjalani perawatan kejiwaan, yang tidak membantu banyak. Pil yang Clara terima menghambat seksualnya, meskipun dia membuat beberapa upaya yang disengaja tapi tidak memuaskan untuk tidur dengan laki-laki lain, termasuk denganku. Dia mulai berbicara tentang tikus lagi; tikus-tikus itu tidak mau meninggalkannya sendirian. Ketika dia gugup dia terus-menerus akan pergi ke kamar mandi. (Malam pertama kami tidur bersama, dia terbangun untuk pipis sepanjang sepuluh kali.) Dia berbicara tentang dirinya dalam sudut pandang orang ketiga. Bahkan, dia pernah mengatakan kepadaku bahwa ada tiga Clara dalam jiwanya: seorang gadis kecil, seorang nenek sangat tua yang diperbudak keluarganya, dan seorang perempuan muda, Clara yang sesungguhnya, yang ingin kabur dari kota itu selamanya, yang ingin melukis, dan memotret, dan berkelana, dan hidup bebas. Selama beberapa hari pertama setelah kami kembali bersama-sama, aku mengkhawatirkan dirinya. Kadang-kadang aku bahkan tidak akan pergi berbelanja karena aku takut datang kembali dan menemukan dirinya sudah mati, tetapi sejurus dengan hari-hari yang berlalu ketakutanku berangsur-angsur memudar, dan aku menyadari (atau mungkin meyakinkan diri) bahwa Clara tidak akan bertindak nekat; ia tidak akan menjatuhkan dirinya dari balkon apartemennya—ia tidak akan melakukan apa-apa.

Segera setelah itu, aku meninggalkan dia, tapi kali ini aku memutuskan untuk meneleponnya sesering mungkin dan tetap menjalin komunikasi dengan salah satu temannya, yang bisa menampalku (jika bisa untuk sekarang dan kemudian). Begitulah caraku untuk mengetahui beberapa hal yang sebetulnya lebih baik tak perlu kuketahui, cerita-cerita yang tidak akan mengganggu ketenangan pikiranku, jenis berita yang egoistis sebisa mungkin harus dihindari.

Clara kembali bekerja (obat baru yang ia peroleh telah melakukan keajaiban bagi penampilannya), dan, tak lama kemudian, manajemen, mungkin sebagai bayaran atas cutinya yang kelamaan, memindahkannya ke kantor cabang di kota Andalusia lain, meski memang tidak terlalu jauh. Dia pindah, mulai pergi ke pusat kebugaran (di usia tiga puluh empat ia tidak lagi secantik yang kutahu saat aku berumur tujuh belas), dan berkenalan dengan teman-teman baru. Begitulah cara dia bertemu Paco, yang bercerai, sama seperti Clara.

Tak berselang lama, mereka menikah. Pada awalnya, Paco akan memberitahu siapa pun yang bersedia mendengarkan tentang apa yang dia pikir dari foto-foto dan lukisan Clara. Dan Clara berpikir bahwa Paco seorang yang cerdas dan memiliki selera bagus. Seiring waktu, bagaimanapun, Paco kehilangan minat dalam upaya estetika Clara dan ingin memiliki anak. Clara berusia tiga puluh lima dan pada awalnya dia tidak tertarik pada ide itu, tapi dia menyerah, dan mereka pun punya seorang anak. Menurut Clara, anak itu memuaskan semua kerinduannya—inilah istilah yang dia pakai. Menurut teman-temannyaClara malah makin memburuk, apa pun itu artinya.

Pada satu kesempatan, sebenarnya tidak relevan untuk cerita ini, aku harus menghabiskan malam di kota tempat tinggal Clara. Aku meneleponnya dari hotelku, mengatakan di mana aku berada, dan mengatur pertemuan untuk hari berikutnya. Sebetulnya aku lebih suka jika bisa bertemu langsung malam itu, tapi setelah pertemuan kami sebelumnya Clara menganggapku, dan mungkin dengan alasan yang baik, sebagai semacam musuh, jadi aku tidak terlalu berkeras diri.

Dia hampir tak bisa dikenali. Dia bertambah gemuk, dan meski memakai riasan, wajahnya tampak usang, digerus waktu karena frustrasi, yang sungguh mengejutkanku, karena aku tidak pernah benar-benar berpikir bahwa Clara bercita-cita untuk menjadi apa-apa. Dan jika Anda tidak bercita-cita untuk apa-apa, bagaimana Anda akan frustrasi? Senyumnya juga mengalami perubahan. Sebelum-sebelumnya, senyumnya begitu hangat dan sedikit bodoh, senyum seorang perempuan muda dari kota pinggiran, tetapi sekarang menjadi kasar, senyum penuh luka, dan sangat mudah untuk dibaca bahwa ada semacam aroma kebencian, kemarahan, dan iri hati di dalamnya. Kami saling mencium pipi seperti sepasang idiot dan kemudian duduk; untuk beberapa saat kami tidak tahu harus berkata apa. Aku adalah orang yang pertama memecah sunyi. Aku bertanya tentang anaknya; dia bilang anaknya sedang berada di penitipan, dan kemudian menanyaiku tentang anakku sendiri. Dia baik-baik saja, kataku. Kami berdua menyadari bahwa, kecuali kalau kita melakukan sesuatu, pertemuan itu akan menjadi sedih tak tertahankan. Bagaimana penampilanku? Tanya Clara. Seolah-olah dia sedang memintaku untuk menamparnya. Sama seperti sebelumnya, aku menjawab secara spontan. Aku ingat kami memesan kopi, kemudian pergi jalan-jalan di sepanjang sebuah jalan berjajar dengan pohon-pohon yang dipangkas sama tinggi, yang mengarah langsung ke stasiun. Keretaku hendak pergi. Kami mengucapkan selamat tinggal di pintu stasiun, dan itu terakhir kalinya aku melihatnya.

Bagaimanapun, kami berbicara lewat telepon sebelum dia meninggal. Aku pastikan untuk meneleponnya setiap tiga atau empat bulan sekali. Aku telah belajar dari pengalaman untuk tidak menyentuh hal-hal pribadi atau intim (seperti jangan mengungkit klub olahraga ketika mengobrol dengan orang asing di sebuah bar) jadi kami berbicara tentang keluarganya, yang pada percakapan tetap terkesan abstrak layaknya puisi Kubisme, atau tentang sekolah putranya, atau pekerjaannya; Clara masih di kantor yang sama, dan selama bertahun-tahun dia harus mengenal rekan-rekannya dan kehidupan mereka, dan semua masalah eksekutif—beragam rahasia itu memberinya semacam kesenangan intens dan mungkin berlebihan. Pada satu kesempatan, aku mencoba membujuknya untuk menceritakan sesuatu tentang suaminya, tapi dia bungkam pada saat itu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, aku bilang. Itu aneh, Clara menjawab. Apa yang aneh? Tanyaku. Ini aneh karena kau yang justru mengatakan itu—kau, dari sekian orang, katanya. Aku segera mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan, mengaku kalau aku kehabisan uang receh (aku tidak pernah punya telepon sendiri, dan tidak akan pernah—aku selalu menelepon dari telepon umum), buru-buru mengatakan selamat tinggal, dan menutup telepon. Aku menyadari bahwa aku tidak sanggup beradu argumen dengan Clara; Aku tidak tahan mendengarkan dia yang terus menciptakan pembenaran tak berujungnya.

*

SATU malam belum lama berselang, dia bilang dia menderita kanker. Suaranya sedingin sebelumnya, suara yang dia selalu pakai untuk menceritakan hidupnya dengan detasemen pendongeng yang buruk, menempatkan semua tanda seru di tempat yang salah, dan melewati apa yang seharusnya diceritakan, bagian-bagian di mana dia justru memotongnya untuk mempersingkat. Aku ingat bertanya padanya apakah dia sudah memeriksakan ke dokter, atau itu hanya di mendiagnosis sendiri kankernya (atau dengan bantuan Paco). Tentu sudah, katanya. Di ujung percakapan aku mendengar semacam suara parau. Dia tertawa. Kami berbicara singkat tentang anak-anak kami, maka (dia pasti merasa kesepian atau bosan) dia memintaku untuk menceritakan tentang kehidupanku. Aku mereka-reka saja, dan berkata aku akan menelepon kembali minggu berikutnya. Malam itu tidurku sungguh buruk. Aku mengalami mimpi buruk yang silih berganti, dan terbangun tiba-tiba, berteriak, meyakinkan diri kalau Clara telah berbohong kepadaku: ia tidak menderita kanker; sesuatu menimpanya, sudah pasti, segala yang telah terjadi selama dua puluh tahun terakhir, semua penuh omong kosong dan senyuman, yang pasti dia tidak mengidap kanker. Itu pukul lima pagi. Aku bangkit dan berjalan ke Paseo Marítimo, dengan angin mengikut di belakangku, sesuatu yang aneh, karena angin bertiup biasanya berasal dari laut, dan hampir tidak pernah dari arah yang sebaliknya. Aku tidak berhenti sampai aku sampai ke bilik telepon di samping salah satu kafe terbesar di Paseo. Teras masih kosong, kursi dirantai ke meja. Tak begitu jauh, tepat menghadap laut, seorang gelandangan tidur di bangku, dengan lutut ditarik ke atas, dan terus-terusan ia bergidik, seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk.

Buku alamatku hanya berisi satu nomor lain yang sekota dengan Clara. Aku meneleponnya. Setelah jeda yang lama, terdengar suara seorang wanita. Aku mengatakan siapa diriku, tapi tiba-tiba mendapati diriku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku pikir dia menutup telepon, tapi aku mendengar suara klik pemantik dan rokok yang ditempelkan ke bibir. Apa kamu masih tersambung? tanya wanita itu. Ya, jawabku. Apakah kau sudah bicara dengan Clara? Ya, jawabku. Apakah dia memberitahumu kalau dia menderita kanker? Ya, jawabku lagi. Nah, itu memang benar.

Tahun-tahun sejak aku bertemu Clara tiba-tiba terasa runtuh, kehidupan yang telah kujalani, meski sebagian besar tidak ada hubungannya dengan dia. Aku tidak tahu apa lagi yang dikatakan perempuan itu di ujung sana, serasa ratusan mil jauhnya; Aku pikir aku mulai menangis meskipun aku seorang sendiri, seperti dalam puisi karya Rubén Darío. Aku meraba-raba sakuku mencari rokok, sambil mendengarkan fragmen cerita: dokter, operasi, mastektomi, diskusi, sudut pandang yang berbeda, musyawarah, segala hal dari Clara yang aku tidak bisa tahu atau singgung atau bantu, tidak sekarang. Si Clara yang tidak akan pernah menyelamatkanku sekarang.

Ketika aku menutup telepon, gelandangan itu berdiri sekitar lima kaki dariku. Aku tidak mendengar dia mendekat. Dia sangat tinggi, dengan pakaian yang terlalu hangat untuk musim ini, dan ia menatapku, seolah-olah dia punya penglihatan buruk, atau khawatir aku mungkin membuat langkah yang tiba-tiba. Aku sangat sedih sampai aku tak merasa takut, meskipun setelah itu, saat berjalan kembali melalui jalan memutar dari pusat kota, aku menyadari bahwa, melihat gelandangan itu, aku melupakan Clara untuk sesaat, untuk pertama kalinya, dan hanya yang pertama.

Kami berbicara di telepon cukup sering setelah itu. Beberapa minggu aku meneleponnya dua kali sehari. Percakapan kami yang singkat dan bodoh, dan tidak ada cara untuk mengatakan apa yang benar-benar ingin aku katakan, jadi aku berbicara tentang apa pun, hal pertama yang hinggap di kepalaku, beberapa omong kosong yang kuharap akan membuatnya tersenyum. Sekali waktu, aku begitu sentimental dan mencoba untuk menumpahkan segalanya, tapi Clara mengenakan baju besi es, dan aku segera sadar dan menyerah pada nostalgia. Semakin mendekati tanggal operasi, aku menelepon lebih sering. Sekali waktu, aku berbicara dengan anaknya. Lain waktu dengan Paco. Mereka berdua tampak baik-baik saja, mereka terdengar baik-baik saja, setidaknya tidak gugup sepertiku. Meskipun bisa saja aku salah tentang hal itu. Faktanya, memang salah. Semua orang mengkhawatirku, ungkap Clara suatu sore. Aku pikir maksudnya adalah suami dan anaknya, tapi “semua orang” mencakup lebih banyak orang, lebih dari yang bisa kubayangkan, semua orang. Sehari sebelum dia pergi ke rumah sakit, aku meneleponnya di sore hari. Paco yang mengangkat. Clara tidak ada. Tidak ada yang melihatnya atau mendengarnya dalam dua hari ini. Dari nada Paco aku bisa merasakan bahwa ia menduga bahwa Clara mungkin sedang bersamaku. Aku meluruskan, Dia tidak di sini, tapi malam itu aku berharap dengan segenap hatiku bahwa Clara akan datang ke apartemenku. Aku menunggunya dengan lampu menyala, dan akhirnya tertidur di sofa, kemudian memimpikan sesosok perempuan yang sangat cantik, bukan Clara: seorang perempuan tinggi ramping, dengan payudara kecil, kaki panjang, dan mata cokelat tua, yang bukan dan tidak akan pernah menjadi Clara, seorang perempuan yang kehadirannya melenyapkan Clara, mereduksinya menjadi wanita empat puluhan tahun yang gemetaran, miskin, dan penuh kekalahan.

Dia tidak datang ke apartemenku.

Hari berikutnya aku menelepon Paco. Dan dua hari setelah itu aku menelepon lagi. Masih belum ada tanda-tanda Clara. Ketiga kalinya aku menelepon Paco, ia berbicara tentang anaknya dan mengeluh tentang perilaku Clara tersebut. Setiap malam aku ingin tahu di mana Clara, katanya. Dari suaranya dan percakapan yang ia sampaikan, aku bisa menarik kesimpulan bahwa ia membutuhkan diriku, atau seseorang, siapa pun itu, untuk menjalin sebuah persahabatan. Tapi aku tidak dalam kondisi untuk menghadiahinya dengan semacam penghiburan itu.

*

Cerpen Roberto Bolano ini dialihbahasakan dari Bahasa Spanyol oleh Chris Andrews, dan terbit di The New Yorker edisi 4 Agustus 2008.

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.


2 thoughts on “Clara, Roberto Bolaño

  1. Kasihan Clara. Pada akhirnya dia selalu menjadi korban. Tapi si pencerita punya pengetahuan yang mengagumkan juga akan kehidupan Clara–dia tidak jadi stalkernya, kan Mas? :haha. Baca cerpen ini antara ngenes, tapi ya itulah realita, tapi unsur surealisnya juga kadang seperti menyeruak ada–apa genre infrarealis itu memang ciri khasnya seperti ini, Mas? :hehe.
    Terima kasih sudah menerjemahkannya! Ini tulisan yang sangat kaya.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s