Syahrazad, Haruki Murakami [1/2]

141013_r25575-877
SETIAP kali mereka bersetubuh, dia mendongengi Habara kisah yang aneh dan mencekam sesudahnya. Seperti Ratu Syahrazad dalam “Seribu Satu Malam.” Meskipun, tentu saja, Habara tidak seperti sang raja, dia tidak berniat untuk memenggal kepala sang ratu keesokan harinya. (Yang pasti wanita itu tidak pernah tinggal dengan Habara sampai pagi.) Dia mendongengi Habara karena keinginan Syahrazad sendiri, sebab menurut dugaan Habara, wanita itu menikmati meringkuk di tempat tidur dan ngobrol dengan seorang pria saat mereka berada pada kelesuan, saat-saat intim setelah bercinta. Dan ada kemungkinan juga, karena dia ingin menghibur Habara, yang hanya bisa menghabiskan setiap harinya terkurung dalam ruangan.

Oleh karenanya, Habara menjuluki wanita itu Syahrazad. Dia tidak pernah memanggilnya langsung dengan nama itu, tapi hanya Habara pakai untuk menyebut wanita itu dalam buku harian kecilnya. “Syahrazad datang hari ini,” dia mencatatnya dengan bolpoin. Kemudian Habara akan merekam inti cerita hari itu dengan sederhana, dan dengan samar untuk membingungkan siapa saja yang mungkin bakal membaca buku hariannya.

Habara tidak tahu apakah ceritanya benar, rekaan, atau sebagian benar dan sebagian rekaan. Dia tidak punya cara untuk mengetahui. Realitas dan anggapan, observasi dan imajinasi murni tampak campur aduk bersama-sama dalam tiap narasinya. Oleh karena itu Habara menikmati kisah-kisahnya layaknya seorang bocah, tanpa harus terlalu mempertanyakan kebenarannya. Pada akhirnya tak ada beda, mau itu bohong atau benar-benar terjadi, atau tambal sulam yang rumit dari keduanya, terus kenapa?

Bagaimana pun, Syahrazad sudah memberi hadiah lewat ceritanya yang menyentuh hati. Tidak peduli apa jenis ceritanya, dia selalu membuatnya jadi istimewa. Suaranya, pengaturan temponya, alurnya, semua sempurna. Dia menarik perhatian pendengarnya, menggodanya, mendorongnya untuk merenungkan dan berspekulasi, dan kemudian, pada akhirnya, memberi pendengarnya tepat apa yang dia inginkan. Karena terpesona, Habara mampu melupakan realitas yang mengelilinginya, meski hanya untuk sesaat. Seperti papan tulis yang dilap dengan kain basah, ia terhapus dari kekhawatiran, dari beragam kenangan tak menyenangkan. Harus minta apa lagi? Pada titik dalam hidupnya ini, melupakan adalah sesuatu yang Habara inginkan lebih dari apa pun.

Syahrazad berusia tiga puluh lima, empat tahun lebih tua dari Habara, dan merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak di sekolah dasar (meskipun dia juga seorang perawat terdaftar dan sesekali dipanggil untuk suatu pekerjaan). Suaminya adalah tipikal seorang pekerja kantoran. Rumah mereka berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah Habara. Semua informasi pribadi tadi (atau hampir semua) Syahrazad sendiri yang memberitahukannya. Habara tidak punya cara untuk memverifikasi semua itu, tapi juga ia tak punya alasan untuk meragukannya. Syahrazad tidak pernah mengungkapkan namanya. “Kau tak butuh-butuh amat buat mengetahuinya, kan?” tanya Syahrazad. Sebaliknya Syahrazad pun tak pernah memanggil Habara dengan namanya langsung, meskipun tentu saja dia sudah tahu. Syahrazad sangat merahasiakan namanya, seolah-olah itu sesuatu yang mendatangkan kesialan atau hal tak pantas kalau sampai nama aslinya bocor keluar melewati bibirnya.

Di permukaan, setidaknya, Syahrazad yang ini tak memiliki kesamaan dengan si ratu cantik dalam “Seribu Satu Malam.” Wanita ini dalam perjalanan menuju usia menengah dan sudah muncul timbunan lemak di rahang dan timbul garis keriput di sudut matanya. Gaya rambutnya, makeup-nya, dan gaya berpakaiannya memang tidak serampangan, namun tidak juga cukup bagus untuk menerima suatu pujian. Penampilannya memang cukup menarik, tapi wajahnya tidak terlalu cantik, sehingga kesan yang ditinggalkannya serasa kabur. Akibatnya, orang-orang yang berjalan di sampingnya, atau yang berbagi lift dengannya, mungkin cuma memperhatikan dirinya sekilas. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mungkin seorang wanita muda yang ceria dan menarik, bahkan mungkin sebaliknya. Di beberapa titik, bagaimana pun, tirai telah jatuh di bagian hidupnya dan tampaknya tidak mungkin ditarik ulur kembali.

Syahrazad mengunjungi Habara dua kali seminggu. Harinya tidak tetap, tapi dia tidak pernah datang pada akhir pekan. Tidak diragukan lagi dia memakai hari itu untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menelepon satu jam sebelum tiba. Dia membeli bahan makanan di supermarket terdekat dan mengangkutnya dalam mobil sedannya, Mazda biru kecil. Model lama, ada penyok di bumper belakang dan roda-rodanya hitam dengan lumur yang melekat. Parkir di tempat yang disediakan depan rumah, Syahrazad akan membawa barang belanjaan tadi menuju pintu depan lalu membunyikan bel. Setelah memeriksa lubang intip, Habara akan membuka kunci, melepas kaitan rantai, dan menyilahkan dia masuk. Di dapur, wanita itu akan menyortir bahan makanan dan memasukannya ke dalam lemari es. Lalu dia membuat daftar bahan-bahan untuk dibeli pada kunjungan berikutnya. Dia melakukan tugas ini dengan terampil, dengan tanpa gerakan sia-sia, dan tanpa banyak cakap.

Setelah selesai, mereka berdua akan bergerak tanpa kata ke kamar tidur, seakan mereka tergerus oleh arus yang tak terlihat. Syahrazad dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri dan, masih membisu, bergabung dengan Habara di tempat tidur. Wanita itu nyaris tak berbicara saat mereka bercinta, melakukan setiap tindakan itu seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah tugas. Saat sedang menstruasi, dia menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lugas ini mengingatkan Habara bahwa wanita itu memang seorang perawat profesional berlisensi.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Syahrazad yang berbicara sementara Habara hanya mendengarkan, menambahkan beberapa kata, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika jam menunjukan empat tiga puluh, ia akan memutus kisahnya (untuk beberapa alasan, kisahnya selalu berakhir saat akan mencapai klimaks), melompat dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, dan bersiap-siap untuk pergi. Dia harus pulang, katanya, untuk menyiapkan makan malam.

Habara akan mengantarnya sampai pintu, mengunci, dan mengamati melalui tirai sampai mobil biru kecil yang kumal itu melaju pergi. Pukul enam tepat, Habara akan membuat makan malam sederhana dan memakannya sendiri. Dia pernah bekerja sebagai juru masak, sehingga menyiapkan makan malam bukanlah kesulitan besar. Dia minum Perrier untuk makan malamnya (dia tidak pernah menyentuh alkohol) dan dilanjut dengan secangkir kopi, yang ia teguk sambil menonton DVD atau membaca. Dia menyukai buku lama, terutama yang harus ia baca beberapa kali untuk memahaminya. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan. Dia tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Tidak ada seorang pun untuk ditelepon. Tanpa adanya komputer, ia tidak punya cara untuk mengakses internet. Tidak berlanggan koran, dan ia tidak pernah menonton televisi. (Ada alasan yang baik untuk itu.) Tak ada penjelasan mengapa dia tidak boleh pergi ke luar. Kalau Syahrazad berhenti menengoknya karena ada suatu alasan misalnya, ia akan ditinggal sendirian.

Habara tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Jika itu terjadi, ia berpikir, akan sulit, tapi pasti akan ada jalan lain. Aku tidak terdampar di pulau terpencil. Tidak, ia berpikir, akulah pulau terpencilnya. Dia selalu nyaman berada dalam kesendirian. Bagaimanapun, yang mengganggunya justru pikiran bahwa dia tidak bisa berbicara di tempat tidur dengan Syahrazad. Atau, lebih tepatnya, kehilangan lanjutan dari kisahnya.

*

AKU dulunya seekor belut lamprei dalam kehidupan sebelumnya,” kelakar Syahrazad sekali waktu, saat mereka tengah berbaring di tempat tidur bersama-sama. Sebuah celetukan yang begitu sederhana, seolah-olah dia memberitahukan bahwa letak Kutub Utara berada di sebelah utara. Habara tidak tahu seperti apa makhluk bernama lamprei itu, tidak punya gambaran sedikit pun. Jadi dia tidak bisa menanggapi.

“Apakah kau tahu bagaimana cara lamprei makan ikan?” Tanya wanita itu.

Habara tidak tahu. Bahkan, itu pertama kalinya ia mendengar bahwa lamprei makan ikan.

“Lamprei tidak memiliki rahang. Itulah yang membedakan mereka dari belut lain.”

“Hah? Belut punya rahang ya?”

“Apakah kau tidak pernah memerhatikan?” Katanya, terkejut.

“Aku sering makan belut, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat apakah mereka punya rahang.”

“Nah, kau harus mengeceknya sekali waktu. Datangi akuarium atau tempat seperti itu. Belut biasanya punya rahang dan gigi. Tapi lamprei hanya punya pengisap, yang mereka gunakan untuk melampirkan diri pada bebatuan di dasar sungai atau danau. Kemudian mereka hanya akan mengapung di sana, bergerak bolak-balik, seperti rumput liar.”

Habara membayangkan sekelompok lamprei bergoyang mengambang seperti rumput liar di dasar danau. Adegan tampak jauh bercerai dari kenyataan, meskipun kenyataannya, dia tahu, kadang-kadang bisa sangat nyata.

“Lamprey hidup seperti itu, bersembunyi di antara rumput liar. Berbaring menunggu. Kemudian, ketika ikan kecil melewat di atas kepalanya, mereka akan melesat ke atas dan menyedotnya dengan pengisap mereka. Di dalam pengisap mereka terdapat alat serupa lidah dengan gigi, yang memuntir perut ikan sampai terbuka lubang sehingga mereka bisa mulai makan daging ikan itu, sedikit demi sedikit.”

“Aku tidak mau jadi ikan itu,” kata Habara.

“Kalau menengok zaman Romawi kuno, belut lamprei dibiakan dalam kolam. Budak yang membangkang bakal dilempar ke sana dan belut lamprey akan memakan mereka hidup-hidup.”

Habara berpikir bahwa ia tidak akan menikmati menjadi budak Romawi.

“Pertama kali aku melihat seekor lamprei adalah saat di sekolah dasar, pada perjalanan kelas ke sebuah akuarium,” kata Syahrazad. “Saat aku membaca deskripsi tentang cara mereka hidup, aku tahu bahwa aku adalah salah satu dari mereka dalam kehidupan terdahulu. Maksudku, aku bisa benar-benar ingat—mengikat ke batu, bergoyang tak terlihat di antara rumput liar, mengawasi ikan yang berenang di atasku.”

“Apakah kau ingat saat memakan ikan-ikan itu?”

“Tidak, aku tak ingat kalau yang itu.”

“Itu melegakan,” kata Habara. “Tapi apakah hanya itu tadi yang kau ingat dari kehidupanmu saat jadi lamprei—bergoyang ke sana kemari di dasar sungai?”

“Kehidupan terdahulu tidak bisa diingat begitu saja,” katanya. “Jika kau beruntung, kau akan mendapatkan seberkas kilatan kenangan. Ini seperti mengintip sekilas melalui lubang kecil di dinding. Dapatkah kau ingat setiap kehidupan terdahulumu?”

“Tidak, tidak ingat,” kata Habara. Sejujurnya, dia tidak pernah mendapat dorongan untuk meninjau kembali kehidupan terdahulu. Dia hanya fokus pada kehidupan yang sekarang.

“Namun, rasanya cukup nyaman di dasar danau. Terbalik dengan mulutku menempel pada batu, mengamati ikan yang lewat di atas kepala. Aku juga mendapati gertakan kura-kura yang sangat besar sekali, ada juga makhluk hitam besar yang melesat cepat, seperti pesawat ruang angkasa jahat di film ‘Star Wars’. Dan burung putih besar dengan paruh panjang yang tajam; dilihat dari bawah, mereka tampak seperti awan putih yang mengambang di langit.”

“Dan kau bisa melihat semua hal-hal ini sekarang?”

“Sangat jelas,” kata Syahrazad. “Cahayanya, tarikan arusnya, semuanya. Kadang-kadang aku bahkan bisa kembali ke sana dalam pikiranku.”

“Kau bisa berpikir saat jadi lamprey?”

“Ya.”

“Apa yang lamprey pikirkan?”

“Lamprei berpikir sangat lamprei. Tentang topik lamprey dalam konteks yang sangat lamprey. Tidak ada kata-kata untuk menjelaskan pikiran-pikiran itu. Semua soal dunia air. Ini seperti ketika kita berada di dalam rahim. Kita berpikir berbagai hal di sana, tapi kita tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiran di sana dalam bahasa yang kita gunakan di sini. Benar, kan?”

“Tunggu sebentar! Kau ingat bagaimana rasanya saat berada di dalam rahim?”

“Tentu,” kata Syahrazad, mengangkat kepalanya untuk melihat dada Habara. “Kau tak bisa?”

Tidak, kata Habara. Dia tidak bisa.

“Kalau begitu aku akan memberitahumu kapan-kapan. Tentang kehidupan di dalam rahim.”

“Syahrazad, Lamprey, Kehidupan Terdahulu” adalah yang Habara catat dalam buku hariannya hari itu. Dia meragukan bahwa siapa pun yang membaca bisa menebak apa arti dari kata-kata itu.

*

HABARA bertemu Syahrazad untuk pertama kalinya empat bulan sebelumnya. Habara dipindahkan ke rumah ini, di kota provinsi sebelah utara Tokyo, dan Syahrazad ditugaskan sebagai “fasilitator” untuknya. Karena Habara tidak bisa pergi ke luar, tugas Syahrazad adalah untuk membeli makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan dan membawanya ke rumah. Dia juga menyediakan beragam buku dan majalah yang Habara inginkan untuk dibaca, dan juga CD yang ingin didengarkan. Selain itu, Syahrazad memilih bermacam-macam DVD—meskipun Habara sulit menerima film pilihannya.

Seminggu setelah Habara tiba, seolah-olah sudah terlihat jelas langkah berikutnya, Syahrazad mengantarnya ke tempat tidur. Ada kondom di meja samping tempat tidur ketika Habara tiba. Habara menduga bahwa seks adalah salah satu kegiatan yang ditugaskan kepadanya—atau mungkin “aktivitas penunjang” adalah istilah yang mereka gunakan. Apapun istilahnya, dan apa pun motivasinya, Habara tetap menjalani alur tadi dan menerima ajakannya tanpa ragu-ragu.

Seks mereka bukan semacam formalitas, tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa mereka melakukannya sepenuh hati. Syahrazad tampak penuh waspada, tetap hati-hati agar jangan sampai mereka menjadi terlalu antusias—sama seperti instruktur mengemudi yang tidak ingin murid-muridnya terlalu antusias mengemudi saat pelatihan berlangsung. Bagaimana pun, cara bercinta mereka tidak bisa dibilang bergairah, tidak juga sepenuhnya praktis. Mungkin memang ini awalnya salah satu tugas Syahrazad (atau, setidaknya, sebagai sesuatu keharusan), tetapi pada titik tertentu ia tampak—dalam beberapa hal—telah menemukan semacam kesenangan di dalamnya. Habara bisa mengatakan ini dengan jelas lewat respon tubuh Syahrazad, suatu respon yang menyenangkan dirinya juga. Pada akhirnya, Habara bukan binatang liar dikurung dalam kandang tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai emosi, dan seks sebagai kebutuhan dasar tubuh haruslah terpenuhi. Belum jelas sejauh mana Syahrazad melihat hubungan seksual mereka sebagai salah satu tugasnya, dan berapa banyak pengaruh terhadap kehidupan pribadinya? Habara tidak tahu.

Ada beberapa hal lain juga. Habara sering mendapat kesulitan dalam membaca perasaan dan maksud Syahrazad. Sebagai contoh, Syahrazad sering mengenakan celana katun polos. Jenis celana yang Habara bayangkan sering dipakai oleh ibu rumah tangga di usia tiga puluhan—ini sepenuhnya dugaan, karena ia tidak memiliki pengalaman dengan ibu rumah tangga di usia itu. Dalam beberapa hari, Syahrazad muncul dengan celana sutra berenda warna-warni sebagai gantinya. Mengapa Syahrazad beralih antara dua celana itu Habara tidak mengerti.

Hal lain yang membuatnya bingung adalah fakta bahwa persetubuhan mereka dan kisah Syahrazad yang begitu memikat, sehingga sulit untuk mengatakan di mana satu berakhir dan yang lainnya mulai. Habara belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya: meskipun ia tidak mencintainya, dan seksnya begitu-begitu saja, ia terhubung erat padanya secara fisik. Itu semua agak membingungkan.

*

AKU di usia belasan ketika aku mulai membobol rumah kosong,” kata Syahrazad suatu hari saat mereka berbaring di tempat tidur.

Habara—seperti sering terjadi ketika Syahrazad bercerita—menemukan dirinya kehilangan kata-kata.

“Apakah kau pernah menyelinap masuk ke rumah seseorang?” Tanyanya.

“Aku pikir tidak pernah,” jawab Habara dengan suara kering.

“Lakukan sekali dan kau bakal kecanduan.”

“Tapi itu ilegal.”

“Coba saja. Memang berbahaya, tapi kau pasti bakal ketagihan.”

Habara menunggunya dengan tenang untuk melanjutkan.

“Hal yang paling keren tentang berada di rumah orang lain ketika tidak ada orang di sana,” Syahrazad berkata, “adalah bahwa betapa sepi tempat itu. Tak ada suara. Itu seperti tempat yang paling sepi di dunia. Itulah yang aku rasakan. Ketika aku duduk di lantai dan terus berdiam di sana, hidupku sebagai seekor lamprey datang kembali kepadaku. Aku pernah bilang bahwa aku adalah seekor lamprey di kehidupan terdahulu, kan?”

“Ya, kau pernah cerita.”

“Seperti itulah. Pengisapku terpaut pada sebuah batu di dasar air dan tubuhku mengambang bolak-balik di atas kepala, seperti rumput liar di sekitarku. Semuanya begitu tenang. Mungkin karena aku tidak punya telinga waktu itu. Pada hari-hari cerah, cahaya menghunjam jatuh dari permukaan seperti anak panah. Ikan dari beragam warna dan bentuk melayang di atas. Dan pikiranku kosong dari pelbagai pikiran. Selain pikiran lamprey, tentu saja. Memang berkabut tapi begitu murni. Itu adalah tempat yang indah.”

*

PERTAMA kali Syahrazad membobol masuk ke rumah seseorang, jelasnya, yaitu saat dia masih SMP dan naksir pada anak laki-laki di kelasnya. Meskipun anak laki-laki itu tidak bisa dikatakan tampan, dia tinggi dan rapi, seorang murid teladan yang bermain di tim sepak bola, dan Syahrazad sangat tertarik padanya. Tapi ia tampaknya menyukai gadis lain di kelasnya dan tidak memperhatikan Syahrazad. Bahkan, sangat mungkin si laki-laki tidak menyadari kalau Syahrazad itu ada. Meski begitu, Syahrazad tidak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat laki-laki itu membuat napas Syahrazad megap-megap; kadang-kadang dia merasa seolah-olah dia akan muntah. Jika dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu, pikir Syahrazad, dia mungkin bakal gila. Tapi menyatakan cintanya bukan perkara mudah.

Suatu hari, Syahrazad bolos sekolah dan pergi ke rumah anak laki-laki itu. Hanya lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah meneliti situasi keluarga laki-laki itu terlebih dahulu. Ibunya mengajar bahasa Jepang di sebuah sekolah di kota sebelah. Ayahnya, yang pernah bekerja di sebuah perusahaan semen, telah tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun sebelumnya. Adiknya adalah seorang siswa SMP. Ini berarti rumah pasti kosong pada siang hari.

Tidak mengherankan, pintu depan terkunci. Syahrazad memeriksa di bawah keset berharap menemukan kunci. Benar saja, kuncinya ada di sana. Masyarakat perumahan yang tenang di kota-kota provinsi seperti mereka memiliki sedikit tindak kejahatan, dan kunci cadangan sering ditinggalkan di bawah keset atau pot tanaman.

Untuk amannya, Syahrazad membunyikan bel, menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada jawaban, mengawasi jalanan kalau-kalau dia sedang diamati, membuka pintu, kemudian masuk. Dia mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu, dia memasukannya dalam kantong plastik dan menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian dia berjingkat menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur anak laki-laki itu ada di sana, seperti yang Syahrazad bayangkan. Tempat tidurnya itu rapi. Di rak buku ada stereo kecil, dengan koleksi beberapa CD. Di dinding, ada kalender dengan foto tim sepak bola Barcelona dan, di samping itu, ada semacam banner tim, dan tidak ada yang lain. Tidak ada poster, tidak ada foto-foto. Hanya dinding berwarna krem. Sebuah tirai putih menggantung di atas jendela. Ruangan itu rapi, segala sesuatu berada di tempatnya. Tidak ada buku berserakan, tidak ada pakaian di lantai. Ruangan memang mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap sempurna. Atau keduanya. Hal ini membuat Syahrazad gugup. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar si laki-laki itu jadi berantakan. Namun, pada saat yang sama, dari kebersihan dan kesederhanaan ruang, dan betapa rapihnya, membuat Syahrazad merasa bahagia. Karena mengingatkan pada cerminan si laki-laki.

Syahrazad merebahkan dirinya ke kursi meja dan duduk di sana untuk sementara waktu. Ini adalah tempat lelaki itu belajar setiap malam, pikir Syahrazad, hatinya berdebar-debar. Satu demi satu, dia mengambil alat di meja, menggulungnya antara jari-jarinya, membaui mereka, dan mendekatkan ke bibirnya. Pensilnya, guntingnya, penggarisnya, stapler-nya – benda paling biasa menjadi entah bagaimana bercahaya karena milik lelaki itu.

Dia membuka laci mejanya dan dengan hati-hati memeriksa isinya. Laci teratas dibagi menjadi beberapa kompartemen, yang masing-masing berisi sekat kecil dengan beragam barang dan souvenir yang berserakan. Laci kedua sebagian besar diisi oleh buku-buku pelajaran untuk setiap kelas yang sedang ia ambil, sedangkan yang di bagian bawah (laci paling bawah) dipenuhi dengan tumpukan kertas lama, buku-buku pelajaran terdahulu, dan soal ujian. Hampir semuanya berhubungan dengan sekolah atau soal sepakbola. Syahrazad berharap bisa menemukan sesuatu yang pribadi—mungkin buku harian, atau surat-surat—tapi di meja tidak ditemukan apapun semacam itu. Bahkan tidak ada foto. Ini membuat Syahrazad merasa aneh. Apakah laki-laki itu tidak punya kehidupan selain sekolah dan sepak bola? Atau dia sangat hati-hati sehingga menyembunyikan segala sesuatu yang bersifat pribadi, agar tidak ada seorang pun yang tahu?

Namun, hanya duduk di meja dan mengedarkan matanya ke tulisan tangan laki-laki itu membuat Syahrazad terhanyut pada kata-katanya. Untuk menenangkan diri, ia bangkit dari kursi dan duduk di lantai. Dia menatap langit-langit. Kesunyian di sekelilingnya adalah mutlak. Dengan cara ini, ia kembali ke dunia lamprey.

*

JADI itu semua yang kau lakukan,” tanya Habara, “menyusup masuk kamarnya, memeriksa barang-barangnya, dan hanya duduk di lantai?”

“Tidak,” kata Syahrazad. “Ada lagi. Aku ingin sesuatu darinya untuk dibawa pulang. Sesuatu yang paling sering ia pakai setiap hari atau yang paling dekat dengan tubuhnya. Tapi itu harus barang yang tidak terlalu penting agar ia tak terlalu peduli kalau-kalau ia akan kehilangan barang itu. Jadi aku mencuri salah satu pensilnya.”

“Hanya sebatang pensil?”

“Iya. Satu yang telah ia pakai. Tapi mencuri belum cukup. Ini bukan hanya soal pencurian. Fakta bahwa aku telah melakukan itu akan hilang. Pada akhirnya, aku adalah Sang Pencuri Cinta.”

Sang Pencuri Cinta? Kedengaran seperti judul sebuah film bisu bagi Habara.

“Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan sesuatu di kamarnya, suatu tanda. Sebagai bukti bahwa aku sudah pernah ke sana. Sebuah deklarasi bahwa ini adalah pertukaran, bukan hanya sekadar pencurian. Tapi barang apa yang harus kutinggalkan? Tidak ada yang muncul di kepalaku. Aku mencari-cari dalam ransel dan sakuku, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang pas. Aku menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang cocok. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan pembalut di sana. Salah satu yang belum dipakai, tentu saja, dan masih dalam bungkus plastik. Menstruasiku semakin dekat, jadi aku membawa beberapa hanya untuk jaga-jaga. Aku menyembunyikannya di sudut paling belakang laci terbawah, tempat yang bakal sulit untuk ditemukan. Itu benar-benar mengubahku. Fakta bahwa pembalutku itu tersimpan di laci mejanya. Mungkin karena aku begitu dihidupkan bahwa masa menstruasiku bakal datang segera setelah itu.”

Sebuah pembalut ditukar dengan pensil, pikir Habara. Mungkin ini adalah yang harus Habara tulis dalam buku hariannya hari itu: “Pencuri Cinta, Pensil, Pembalut.” Dia sangat ingin melihat reaksi mereka saat membaca ini!

“Aku ada di dalam rumahnya hanya lima belas menit atau lebih. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dari itu: ini adalah pengalaman pertamaku menyelinap ke sebuah rumah, dan aku takut kalau seseorang tiba-tiba muncul ketika aku masih berada di sana. Aku memeriksa jalan untuk memastikan, menyelinap keluar pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di bawah keset. Lalu aku pergi ke sekolah. Membawa pensil miliknya yang berharga itu.”

Syahrazad terdiam. Dari tampilannya, dia berusaha kembali ke waktu silam itu dan mereka ulang beragam hal yang terjadi berikutnya, satu per satu.

“Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupku,” katanya setelah jeda panjang. “Aku menulis hal-hal acak di buku catatanku dengan pensil itu. Aku membauinya, menciumnya, mengusapkan ke pipiku, memutar-mutar di antara jari-jariku. Kadang-kadang aku bahkan menempatkannya dalam mulutku dan mengisapnya. Tentu saja, itu membuatku gelisah karena semakin aku sering memakainya untuk menulis, semakin pendek pensil itu jadinya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Jika itu sudah terlalu pendek, aku pikir, aku bisa datang kembali dan mengambil yang lain. Ada sepaket besar pensil yang tidak digunakan dalam kotak pensil di atas mejanya itu. Ide yang membuatku gila—ini memberiku sensasi geli yang aneh. Tidak lagi jadi soal buatku bahwa di dunia nyata dia tidak pernah melihatku atau menunjukkan sikap bahwa ia menyadari keberadaanku. Karena aku diam-diam memiliki sesuatu darinya—bagian dari dirinya, seolah-olah begitu.”
+

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.


10 thoughts on “Syahrazad, Haruki Murakami [1/2]

  1. Tentang ibu rumah tangga yang selingkuh itu ngingetin sama si Tengo di 1Q84 *cmiiw … Kayaknya akhir cerita di Sputnik Sweetheart dan Norwegian Wood mirip juga deh. Karya2nya Murakami banyak kemiripannya :S

          1. Saya galauan baca Norwegian Wood sih, mungkin karena bacanya dl bhs Indonesia jadi lebih ngena ._. Coba terjemahin SS atuh ^^

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s