Science-Fiction ala Murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World itu apa? Science-fiction? Fantasi?” tanya G.

No,” kata Bernard Batubara sembari tersenyum. “It’s just a Murakami novel.”

Karena sangat menyukai novel ini sampai-sampai Bang Bara nggak tahu novel itu harus digolongkan ke kategori yang mana, tulisnya dalam pos Haruki Murakami yang Tak Terkategorisasi. Bukan sastra, fantasi, science-fiction, atau apapun, hanya Novel Murakami.

Belum banyak yang saya baca, baru Dengarlah Nyanyian Angin, Kafka On The Shore, dan Norwegian Wood, serta beberapa cerita pendeknya, namun saya sudah bisa melihat pola dan merasakan nikmatnya menyelami karya-karya Murakami. Semua novel tadi saya baca versi terjemahannya, dan Hard-Boiled Wonderland and the End of the World inilah novel dalam bahasa Inggris pertama yang bisa saya nikmati. Saya awalnya pesimis bisa menamatkan novel dengan 400 halaman ini, mengingat sebelumnya harus susah payah dalam membaca The Metamorphosis-nya Franz Kafka yang cuma 50an halaman, itupun nggak paham betul ceritanya. Ajaibnya saya bisa melahap novel Murakami ini seperti sedang membaca novel berbahasa Indonesia saja.

hard-boiled wonderland and the end of the world haruki murakami

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World pertama kali dirilis di Jepang pada 1985 ketika Murakami berusia 36 tahun. Tema dan teknik penulisan di novel ini yang akan banyak ditemui di karya-karya Murakami selanjutnya, tentang perkawinan antara realitas kehidupan urban dengan surrealisme, fantasi, dan nuansa psychedelic. Juga tentang obsesi familiar Murakami soal novel klasik, musik, masakan, hewan dan area bawah tanah.

Selain Tokyo versi Murakami merupakan kota yang penuh bumbu magis, ini adalah kota yang telah diwesternisasi. Maksudnya kita bisa menemukan beragam alusi kebudayaan populer dari Amerika dan British. Supir taksi yang membicarakan The Police, pelayan rental mobil yang tergila-gila dengan Bob Dylan, percakapan soal novel-novel klasik, dan beragam referensi lainnya.

Ada dua plot cerita dalam novel ini, seperti yang bakal kita temukan juga di Kafka on the Shore dan 1Q84. Plot pertama bercerita tentang campuran antara kisah spionase dan fiksi ilmiah, dipenuhi dengan beragam tindak kriminal, intrik, dan teknologi-teknologi aneh yang latar tempatnya sendiri di Tokyo. Dengan menampilkan seorang Calcutec, pekerja yang bertugas dalam pengolahan, penyimpanan, dan rekayasa data, yang semuanya ini dilakukan melalui otaknya. Mengingatkan kita pada cerita Johny Mnemonic, saya bahkan membayangkan tokoh ‘Aku’ itu bertampang layaknya Keanu Reeves yang jadi aktor film adaptasinya yang dirilis tahun 1995 itu.

Alur cerita kedua menawarkan kisah fabel, mitologi, sekaligus psikologi analitisnya Jung. Berlokasi di sebuah kota bernama End of The World, dengan tokohnya sendiri yang harus meninggalkan bayangannya (dalam arti harfiah) dan diberi tugas untuk jadi seorang Dreamreader. Di dunia mimpi ini, semuanya ada, sekaligus nggak ada apa-apa. Sebuah utopia, sekaligus distopia.

Kedua plot tadi berhubungan satu sama lain, dalam kerangka realitas dalam sebuah realitas. Tokoh-tokoh di novel ini nggak diberi nama, seperti dalam novel Dengarlah Nyanyian Angin. Ada professor, chubby girl, librarian, Gatekeeper, Colonel dan lainnya. Tapi pemaparan tiap tokohnya begitu detail, serasa sesosok yang asli.

Lantas apa genre dari novel ini? Sebenarnya saya sendiri tak terlalu mempermasalahkan bahwa novel ini harus dikategorikan ke salah satu genre atau bagaimana. Tapi kalau ditanya soal ini, saya akan dengan mudah mengatakan bahwa ini novel bergenre fiksi ilmiah, apalagi jika mengikuti plot cerita utama, sangat kental terasa. Kalau dalam film, Murakami ini adalah Christopher Nolan. Dia membuat film bergenre science-fiction semacam Inception dan Interstellar, dia juga bikin film superhero, The Dark Knight. Dan kita bisa merasakan bahwa film science-fiction dan superhero buatan Nolan sungguh-sungguh berbeda. Sama halnya dengan Murakami dalam novel. Lintas genre.

Tapi saya setuju sih dengan pendapat Bang Bara kalau ada yang namanya novel tak terkategorisasi, novel Murakami ini dan ya novel bagus biasanya memuat banyak ‘genre’ di dalamnya.


7 thoughts on “Science-Fiction ala Murakami

  1. Hm… jadi makin penasaran buat baca karyanya Murakami! Memang kesan sureal itu terasa betul ya di karya-karyanya.

  2. Boleh nanya? Ada terjemahan bahasa Indonesianya ga? Kalau ada, bagus ga? Btw, makasih udah buat aku penasaran ama novel yang ini (padahal masih udah 1Q84 dan terseok-seok di jilid 1).

    1. Belum ada kalau bentuk buku, tapi di internet ada yg iseng nerjemahin, cari aja pake keyword “terjemahan hard boiled wonderland”

      1. Waaah.. Makasih infonya.. Untung banget ada yang iseng” ya.. Hehe… Btw, sepertinya aku ngefans ama Arip Blog yang gado-gado banget, jadi mian kalau sering ada jejak ga jelas di sini…~~

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s