Yesterday, Haruki Murakami [1/2]

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah menggunakan lirik Jepang untuk menyanyikan lagu Yesterday-nya The Beatles (dan mendendangkannya dalam dialek Kansai yang khas itu) adalah seorang pria bernama Kitaru. Ia gunakan lirik versi miliknya ini saat berkaraoke ria di kamar mandi.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Yang kuingat seperti inilah lagunya dimulai, tapi karena aku sudah tak mendengar lagi untuk waktu yang lama, jadi aku tidak begitu yakin. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru ini hampir tidak berarti, asal-asalan, omong kosong yang tak ada hubungannya dengan versi aslinya. Lagu sahdu dengan melodi melankolis yang begitu familiar itu dikawinkannya dengan dialek Kansai yang semilir -jauh dari nuansa sedih- membuat lagu itu menjadi sebuah kombinasi aneh, semacam dobrakan berani. Setidaknya, itulah yang terdengar olehku. Pada saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggeleng. Aku tertawa dibuatnya, namun aku juga bisa menangkap semacam pesan tersembunyi di dalamnya.

Aku pertama kali bertemu Kitaru di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami bekerja paruh waktu, aku bekerja di dapur sementara Kitaru menjadi pelayan. Kami berbicara banyak selama waktu senggang di toko itu. Kami berdua sama-sama berusia dua puluh tahun, dan ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru adalah nama yang tidak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, memang,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai yang berat.

“Tim bisbol Lotte punya pitcher dengan nama yang sama.”

“Tak ada hubungan antara kami berdua. Memang nama kami tidak umum, jadi siapa tahu? Mungkin ada hubungannya juga sih.”

Aku adalah seorang mahasiswa Waseda, di fakultas sastra. Kitaru sendiri gagal ujian masuk dan sedang mengikuti kursus persiapan agar bisa tembus. Sebenarnya dia telah gagal ujian dua kali, tapi nampaknya dia tidak terlalu peduli. Dia kelihatan tidak serius belajar. Ketika punya banyak waktu, dia memang banyak membaca, tapi tidak ada yang terkait dengan ujian – biografi Jimi Hendrix, buku tentang shogi, “Where Did the Universe Come From?” dan sejenisnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia pulang-pergi ke tempat kursus dari rumah orangtuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” Aku bertanya heran. “Tapi kupikir kau dari Kansai.”

“Oh bukan. Aku lahir dan dibesarkan di distrik Denenchofu.”

Ini benar-benar membuatku bingung.

“Lalu kenapa kamu berbicara dengan dialek Kansai?” Tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Hanya dengan mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, kamu bisa lihat hasil kerja kerasku ini kan? Kata kerja, kata benda, aksen-seluruhnya kupelajari. Sama lah seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Bahkan aku pergi ke Kansai untuk latihan.”

Ternyata ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti halnya belajar bahasa asing? Ini hal baru bagiku. Ini membuatku menyadari betapa Tokyo ini luas, dan banyak hal yang aku belum tahu. Mengingatkanku pada novel “Sanshiro”, cerita tentang orang kampung yang pergi ke kota besar.

“Saat masih kecil, aku adalah penggemar berat Hanshin Tigers,” Kitaru menjelaskan. “Pergi ke setiap pertandingan mereka kalau bermain di Tokyo. Tetapi jika aku duduk di tempat duduk pendukung Hanshin dan berbicara dengan dialek Tokyo, tak seorang pun ingin menyapaku. Tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat, kau tahu kan rasanya? Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku bekerja keras seperti seperti anjing saja.”

“Jadi itu yang memotivasimu?” Aku hampir tak percaya.

“Benar. Tigers sangat berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang dialek Kansai yang aku pakai saat berbicara di sekolah, di rumah, bahkan ketika aku tidur pun. Dialekku ini hampir sempurna kan?”

“Tentu saja. Aku berpikir kamu dari Kansai,” pujiku.

“Jika aku serius belajar untuk ujian masuk seperti yang kulakukan saat mempelajari dialek Kansai, tentunya aku tidak akan menjadi pecundang yang dua kali gagal seperti sekarang.”

Dia menyadarinya juga. Bahkan pembawaan dirinya itu sudah seperti orang Kansai.

“Jadi kalau kamu dari mana?” Tanyanya.

“Kansai. Dekat Kobe,” kataku.

“Dekat Kobe? Sebelah mana?”

“Ashiya,” jawabku.

“Wow, bagus. Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?”

Aku menjelaskan. Kalau orang bertanya tentang asalku dan aku mengatakan berasal dari Ashiya, maka mereka selalu beranggapan bahwa aku dari keluarga kaya. Padahal semua jenis keluarga pun ada di Ashiya. Keluargaku, salah satu yang tidak terlalu kaya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ibuku adalah pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla berwarna krim. Jadi, ketika orang bertanya padaku di mana aku berasal, maka aku akan mengatakan asalku di “dekat Kobe”, sehingga mereka tidak berpraduga dulu tentangku.

“Hey, sepertinya kau dan aku senasib,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu-area kelas atas- namun rumahku berada di bagian kumuhnya. Rumahnya kumuh juga. Kamu harus datang kapan-kapan. Kamu akan terkejut, seperti, Apa? Ini di Denenchofu? Tidak mungkin! Tapi mengkhawatirkan sesuatu seperti itu tidak masuk akal, kan? Ini alamatnya. Tapi aku melakukan kebalikan-aku mengatakan langsung dengan bangga bahwa aku dari Den-en-cho-fu. Terus kenapa, ada masalah dengan ini, hah?”

Aku pun terkesan. Dan karena inilah awal pertemanan kami.

***

Sampai lulus SMA, aku berbicara dengan dialek Kansai. Tapi cuma butuh satu bulan di Tokyo bagiku untuk menjadi benar-benar fasih dalam standar Tokyo. Aku agak terkejut bahwa aku bisa beradaptasi begitu cepat. Mungkin aku memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Atau mungkin aku memiliki keterampilan berbahasa yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pasti, sekarang tidak ada yang percaya bahwa aku seorang yang berasal dari Kansai.

Alasan lain aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah bahwa aku ingin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saat aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk memulai kuliah, aku menghabiskan seluruh waktu di kereta cepat dengan meninjau delapan belas tahun usiaku dan menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang telah terjadi padaku cukup memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak ingin mengingat semua itu karena sangat menyedihkan. Semakin aku berpikir tentang hidupku sampai saat itu, semakin aku membenci diriku sendiri. Itu bukan berarti aku tidak memiliki beberapa kenangan yang baik. Ada sejumlah pengalaman bahagia. Tapi, jika mengakumulasikannya, kenangan yang memalukan dan menyakitkan jauh lebih banyak. Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku telah mengisi hidupku, bagaimana aku harus menjalani kehidupan selanjutnya, ini semua begitu terlambat, sehingga yang kudapat hanya kesia-siaan. Seorang kelas menengah yang tak kreatif seperti sampah, dan aku ingin mengumpulkan semuanya kemudian menyimpannya dalam laci. Atau membakarnya dan memelototinya sampai menjadi asap (aku tidak tahu jenis asap apa yang akan tercipta). Pokoknya, aku ingin menyingkirkan semua itu dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang baru. Dengan menanggalkan dialek Kansai, ini menjadi sebuah metode praktis (serta simbolik). Karena, menurut sebuah penelitian, bahasa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Setidaknya inilah ideku saat masih di usia delapan belas itu.

“Memalukan? Apanya yang memalukan?” Kitaru bertanya.

“Kamu pasti tahu.”

“Punya hubungan buruk dengan keluargamu?”

“Hubungan kami baik kok,” kataku. “Hanya saja itu memalukan. Hanya berada bersama mereka membuatku merasa malu.”

“Kau aneh, kau tahu itu kan?” Kata Kitaru. “Kenapa kau malu dengan keluargamu? Aku nyaman-nyaman saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Apa yang begitu buruk tentang memiliki Corolla berwarna krem? Aku tidak bisa mengatakan. Orang tuaku hanya tidak tertarik untuk menghabiskan uang demi penampilan, itu saja.

“Orang tuaku juga kesusahan karena aku tidak belajar sungguh-sungguh. Aku benci itu, tapi gimana ya? Itu urusan mereka. Jadi kau tetap harus melihat masa lalumu itu, kau tahu?”

“Oh kau sungguh orang yang santai, kan?” Kataku.

“Kau punya pacar?” Tanya Kitaru.

“Tidak untuk saat ini.”

“Tapi kamu punya sebelumnya kan?”

“Sampai beberapa waktu yang lalu.”

“Kalian putus?”

“Memang,” kataku.

“Kenapa kau putus?”

“Ceritanya panjang. Aku tidak ingin mengungkitnya.”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?”

Aku menggeleng. “Tidak begitu jauh sih.”

“Jadi karena inilah kamu putus?”

Aku memikirkannya. “Ya karena ini juga.”

“Tapi kau sudah bercinta dengannya kan?”

“Hampir.”

“Tepatnya sampai sejauh mana?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” kataku.

“Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk kamu bicarakan?”

“Ya,” kataku.

“Oh, hidupmu sungguh rumit,” kata Kitaru.

***

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya itu ketika dia sedang di kamar mandi rumahnya di Denenchofu (berbeda dari uraiannya, sebenarnya bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh tapi hanya sebuah rumah biasa di lingkungan biasa, sebuah rumah tua, tetapi lebih besar dari rumahku di Ashiya, rumah yang tidak terlalu mencolok, dan terdapat mobil Golf biru tua di jalan masuk, mobil model terbaru). Setiap kali Kitaru pulang, ia langsung menjatuhkan barang-barangnya kemudian memasuki kamar mandi. Dan, ketika sudah berada di bak mandi, ia bakal tinggal lama di dalamnya. Jadi aku sering membawa bangku bulat kecil ke ruang ganti yang berdekatan dan duduk di sana, berbicara kepadanya melalui pintu geser yang terbuka sekitar satu inci. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari ibunya yang selalu menceracau ke sana-kemari (kebanyakan keluhan tentang anak anehnya dan bagaimana ia perlu belajar lebih sungguh-sungguh).

“Lirikmu itu tidak masuk akal,” kataku. “Kedengarannya kamu sedang mengolok-olok lagu ‘Yesterday.'”

“Jangan sok pintar. Aku tidak mengolok-olok kok. Kalau pun iya, kamu harus ingat bahwa John sendiri juga suka terhadap omong kosong dan permainan kata. Benar kan?”

“Tapi Paul yang menulis ‘Yesterday’.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja,” aku menyatakan. “Paul yang menulis lagu dan merekamnya sendiri di studio dengan gitar. Sebuah string quartet ditambahkan kemudian, bahkan anggota The Beatles yang lain tidak terlibat sama sekali. Mereka pikir itu terlalu lemah untuk dijadikan lagu The Beatles.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada informasi rahasia seperti itu.”

“Ini bukan informasi rahasia. Ini cuma fakta yang sudah terkenal kok,” kataku.

“Ah siapa peduli? Itu hanya detail,” suara Kitaru terdengar sayup-sayup dari dalam. “Aku bernyanyi di kamar mandi rumahku sendiri. Bukan untuk rekaman atau apalah namanya. Aku tidak melanggar hak cipta, dan tak mengganggu siapapun. Jadi kamu tak punya hak untuk mengeluh.”

Dan dia sampai pada refrain, suaranya keras dan jelas. Dia bisa sampai nada tinggi dengan cukup baik. Aku bisa mendengar percikan air mandinya yang mengiringi nyanyiannya. Aku mungkin harus ikut bernyanyi bersamanya untuk sekedar membesarkan hatinya. Hanya duduk saja, berbicara melalui pintu kaca untuk menemaninya saat ia berendam dalam bak mandi selama satu jam sesungguhnya jauh dari menyenangkan.

“Kenapa sih kamu dapat berendam begitu lama di kamar mandi?” Aku bertanya. “Apakah tubuhmu itu tak jadi bengkak?”

“Ketika aku berendam di bak mandi untuk waktu yang lama, beragam inspirasi mendatangiku,” kata Kitaru.

“Seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yah, itu salah satunya,” kata Kitaru.

“Daripada menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukankah lebih baik kamu belajar untuk ujian masuk?” Aku bertanya.

“Astaga, kau kerasukan rupanya. Ibuku juga mengatakan hal yang sama loh. Bukankah kamu terlalu muda untuk mengatakan nasihat bijak seperti itu?”

“Tapi kau kursus persiapan selama dua tahun. Apakah kamu tidak bosan?”

“Tentu saja aku ingin berada di perguruan tinggi secepat aku bisa.”

“Lalu kenapa tidak belajar lebih keras?”

“Ya-,” katanya, memikirkan kalimatnya. “Jika aku bisa, pasti aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu memang menjemukan,” kataku. “Aku benar-benar kecewa sekali saat aku memasukinya. Tapi tidak masuk kuliah justru lebih menjemukan.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”

“Jadi kenapa kamu tidak belajar?”

“Kurang motivasi,” katanya.

“Motivasi?” Tanyaku. “Pacarmu itu apakah tak bisa kau jadikan sebagai motivasi?”

Ada seorang gadis yang Kitaru kenal sejak mereka masih di sekolah dasar. Bisa dibilang telah jadian sejak kecil. Mereka pernah di kelas yang sama di sekolah, tapi tidak sepertinya, dia langsung masuk ke Universitas Sophia setelah lulus SMA. Sekarang dia di jurusan sastra Perancis dan bergabung dengan klub tenis. Dia menunjukkan kepadaku foto pacarnya itu, dia sungguh menarik. Seorang yang cantik dan ekspresinya ceria. Tapi mereka berdua jarang bertemu satu sama lain belakangan ini. Mereka sudah membicarakan dan memutuskan bahwa lebih baik tidak pacaran sampai Kitaru bisa lulus ujian masuk, agar ia bisa fokus pada studinya. Kitaru sendiri yang menyarankan ini. “OK,” pacarnya berkata, “jika itu yang kau inginkan.” Mereka berbicara banyak di telepon namun bertemu paling seminggu sekali, dan pertemuan mereka itu lebih seperti wawancara ketimbang pacaran. Mereka memesan teh dan membicarakan apa-apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berpegangan tangan dan berciuman singkat, tapi hanya sejauh itu.

Kitaru memang bisa dibilang tidak terlalu tampan, tapi dia cukup sedap dipandang. Dia kurus, dan gaya rambut serta pakaiannya sederhana namun bergaya. Karena dia tidak banyak bicara, kita akan berasumsi kalau dia anak kota yang sensitif. Hanya ada sedikit kekurangan yang terletak di wajahnya yang terlalu ramping dan lembut, yang memberi kesan bahwa ia pribadi yang lemah atau plin-plan. Dan saat ia membuka mulutnya-semua kelebihannya tadi seakan runtuh seperti istana pasir yang hancur diinjak-injak seekor anjing Labrador. Orang-orang dibuat kaget dengan dialek Kansai yang ia sampaikan, belum cukup sampai itu, karena suaranya pun cempreng. Ketidakcocokan dengan penampilan luarnya itu sungguh mengejutkan; bahkan bagiku saat pertama kali bertemu.

“Hei, Tanimura, apakah kamu kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Aku tidak menyangkal hal itu,” kataku.

“Bagaimana kalau kamu kencan saja dengan pacarku?”

Aku tidak mengerti maksudnya. “Apa maksudmu – kencan dengannya?”

“Dia gadis yang hebat. Cantik, jujur, pintar, pokoknya idaman. Kamu kencan dengan dia dan kamu tidak akan menyesal. Aku jamin itu.”

“Aku mau saja,” kataku. “Tapi mengapa aku harus kencan dengan pacarmu? Ini tidak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” kata Kitaru. “Kalau tidak, aku tidak mungkin menyarankan ini. Erika dan aku telah menghabiskan hampir seluruh kehidupan kita bersama-sama. Kami telah jadi pasangan, dan semua orang di sekitar kami sudah pada tahu. Teman-teman kami, orang tua kami, guru kami. Kami selalu bersama-sama.”

Kitaru menggenggam tangannya untuk mengilustrasikan ucapannya tadi.

“Jika kami berdua sama-sama masuk perguruan tinggi, hubungan kami pasti hangat dan kabur, tapi aku gagal ujian masuk, dan di sini kami. Aku tidak yakin mengapa, tetapi segalanya kian memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini. Ini semua salahku.”

Aku mendengarkannya dalam diam.

“Jadi aku seperti terbelah menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik tangannya terpisah.

“Maksudmu?” Tanyaku.

Dia menatap telapak tangannya sejenak dan kemudian berbicara. “Yang aku maksud adalah ada satu bagian dari diriku yang khawatir, kau tahu? Maksudku, aku sedang menjalani kursus persiapan, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara Erika sedang bermain bola di tempat kuliahnya. Bermain tenis, melakukan apa pun. Dia punya teman baru, mungkin juga berkencan dengan pria baru, aku tak tahu. Ketika aku berpikir tentang semua itu, aku merasa ditinggalkan. Seperti pikiranku ada di kabut. Kamu mengerti apa maksudku?”

“Aku mengerti,” kataku.

“Tapi ada bagian lain dariku yang – merasa lega mungkin? Karena jika hubungan kami hanya berjalan begini-begini saja, tanpa ada masalah atau apa pun, pasangan yang lancar mengarungi kehidupannya, ini seperti. . . kami lulus dari perguruan tinggi, menikah, kami jadi pasangan suami istri yang semua orang senang, kami memiliki dua anak, menempatkan mereka di sebuah sekolah dasar yang baik di Denenchofu, pergi ke tepi Sungai Tama di hari Minggu, Ob-la -di, Ob-la-da. . . Aku tidak mengatakan ini sesuatu yang buruk. Tapi aku hanya membayangkan, jika hidup semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik untuk berpisah untuk sementara waktu, kemudian menyadari bahwa kami berdua tak bisa hidup berpisah, sehingga kami balikan lagi.”

“Jadi kau mengatakan bahwa hidup yang lurus dan nyaman adalah sebuah masalah. Itu saja?”

“Ya, itu hanya soal.”

“Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” Aku bertanya.

“Aku pikir, jika dia harus pacaran dengan pria lain, lebih baik itu adalah kau. Karena aku mengenalmu. Dan kau kan bisa beri aku kabar dan sebagainya.”

Itu tetap tidak masuk akal bagiku, meski memang aku tertarik pada gagasan untuk bertemu Erika. Aku ingin mengetahui mengapa seorang gadis secantik dia ingin berpacaran dengan orang aneh seperti Kitaru. Aku memang pemalu kalau bertemu orang-orang baru, tapi aku adalah orang yang selalu penasaran.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan dia?” Aku bertanya.

“Maksudmu bercinta?” Kata Kitaru.

“Ya. Apakah kau telah melakukannya?”

Kitaru menggeleng. “Aku tidak mampu, kau mengerti? Aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil, dan ini agak memalukan, kau mengerti, untuk memulainya, kemudian melepas bajunya, mencumbunya, meraba-rabanya, apa pun. Jika dengan gadis lain, aku pikir tidak akan ada masalah, tapi meletakkan tanganku di celana dalamnya, bahkan hanya berpikir tentang melakukan hal itu dengan dia, aku tak tahu, sepertinya sesuatu yang salah. Kamu mengerti kan?”

Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik,” kata Kitaru. “Seperti, ketika kau masturbasi, Kau pasti membayangkan seorang sosok wanita yang asli ada kan, ya?”

“Aku kira,” kataku.

“Tapi aku tidak bisa membayangkan Erika. Sepertinya melakukan hal itu sesuatu yang salah, kau mengerti? Jadi ketika aku masturbasi pun yang aku pikirkan ya gadis lain. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusuka. Bagaimana menurutmu?”

Aku terus memikirkan itu tapi tidak bisa mencapai kesimpulan apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain berada di luar pengetahuanku. Ada hal-hal tentang diriku sendiri yang aku tidak bisa membayangkannya.

“Pokoknya, mari kita bertemu bersama-sama sekali, kita bertiga,” kata Kitaru. “Kemudian kau dapat memikirkannya.”

***

Kami bertiga-aku, Kitaru, dan pacarnya, yang bernama lengkap Erika Kuritani itu-bertemu pada hari Minggu sore di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu. Dia setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, dan mengenakan blus putih lengan pendek yang rapi disetrika dan rok mini biru tua. Seperti seorang model yang tanpa cacat, yang berasal dari sebuah perguruan tinggi wanita elit. Dia semenarik dalam foto, tapi apa yang benar-benar membuatku tertarik secara pribadi bukanlah dari tampilan luarnya, tapi lebih kepada vitalitas hidup yang memancar dari dalam dirinya. Dia kebalikan dari Kitaru, yang sangat berbanding terbalik.

“Aku sangat senang bahwa Aki-kun memiliki teman,” kata Erika kepadaku. Nama pertama Kitaru adalah Akiyoshi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan membesar-besarkan. Aku punya banyak teman kok,” kata Kitaru.

“Tidak, tidak,” kata Erika. “Orang sepertimu tidak mungkin punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, namun kamu berbicara dengan dialek Kansai, dan setiap kali kamu membuka mulutmu itu salah satu hal yang mengganggu, kamu bicara tentang Hanshin Tigers atau pergerakan shogi. Tidak ada orang aneh sepertimu bisa berteman dengan orang normal.”

“Nah, jika kau berpikir begitu, maka orang ini juga cukup aneh.” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tetapi bicara dengan dialek Tokyo.”

“Itu jauh lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih umum daripada sebaliknya.”

“Hey, ini sudah masuk diskriminasi budaya,” kata Kitaru. “Semua suku sama, kau tahu. Dialek Tokyo tidak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin mereka sama,” kata Erika, “tapi karena Restorasi Meiji cara orang berbicara di Tokyo telah menjadi standar untuk diucapkan di Jepang. Maksudku, apakah ada yang pernah menerjemahkan ‘Franny dan Zooey’ ke dialek Kansai?”

“Jika ada, maka aku akan membelinya, pasti,” kata Kitaru.

Aku mungkin akan membelinya juga, aku pikir, tapi tetap diam.

Dengan bijak, bukannya menyeret lebih dalam di obrolan seperti itu, Erika Kuritani mengubah topik pembicaraan.

“Ada seorang gadis di klub tenisku yang dari Ashiya juga,” katanya, beralih kepadaku. “Eiko Sakurai. Apakah kamu kenal dia?”

“Aku kenal,” kataku. Eiko Sakurai adalah gadis tinggi kurus, yang orang tuanya merupakan pemilik lapangan golf besar. Terjebak-up, berdada rata, dengan hidung tampak lucu dan tidak ada kepribadian yang sangat ajaib. Tenis adalah salah satu hal yang paling ia kuasai. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, itu akan terlalu cepat bagiku.

“Dia pria yang baik, dan dia tidak punya pacar sekarang,” kata Kitaru kepada Erika. “Penampilannya oke, dia baik, dan dia tahu segala macam hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan tidak memiliki penyakit yang mengerikan. Seorang pemuda yang menjanjikan, kalau boleh kusebut.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa anggota baru yang manis di klub kami, aku akan senang untuk memperkenalkannya.”

“Nah, bukan itu yang kumaksud,” kata Kitaru. “Bisakah kamu pacaran saja dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Jadi tanpaku, kau bisa kencan saja dengannya. Dan aku pun tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu dengan kau tidak perlu khawatir?” Tanya Erika.

“Maksudku, aku kenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik jika kamu kencan dengan dia ketimbang dengan lelaki yang tidak kukenal.”

Erika menatap Kitaru seolah-olah dia tidak percaya yang dibicarakannya. Akhirnya, dia berkata. “Jadi kau mengatakan bahwa aku boleh pacaran dengan lelaki lain asalkan itu Tanimura-kun ini? Kamu serius menyarankan kami berpacaran, berkencan?”

“Hei, ini bukan ide yang buruk, kan? Atau apakah kamu sudah pacaran dengan pria lain?”

“Tidak, tidak ada orang lain,” kata Erika dengan suara tenang.

“Lalu kenapa tak pacaran saja dengannya? Ini bisa dibilang sebuah pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” ulang Erika. Dia menatapku.

Aku pikir apapun yang aku katakan tak akan membantu, jadi aku diam saja. Aku memegang sendok kopi di tanganku, mengamati desainnya, seperti seorang kurator museum yang sedang meneliti artefak dari makam Mesir.

“Pertukaran budaya? Apa artinya itu?” Tanyanya kepada Kitaru.

“Seperti, mencari sudut pandang baru tentunya bukan sesuatu yang buruk bagi kita. . . ”

“Itu maksudmu tentang pertukaran budaya?”

“Ya, yang kumaksud adalah. . . ”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani tegas. Jika ada pensil di dekatku, aku mungkin akan mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. “Jika kau pikir kita harus melakukannya, Aki-kun, maka baiklah. Mari kita melakukan pertukaran budaya.”

Dia meneguk teh, mengembalikan cangkir ke tatakannya lagi, menoleh padaku, dan tersenyum. “Karena Aki-kun sendiri yang bilang kita boleh melakukan ini, Tanimura-kun, mari kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu punya waktu lenggang?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak mampu menemukan kata yang tepat pada saat yang penting adalah salah satu dari banyak masalah yang kupunya.

Erika mengambil catatan dengan sampul merah dari tasnya, membukanya, dan memeriksa jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” Tanyanya.

“Aku belum punya agenda,” kataku.

“Sabtu ini kalau begitu. Kemana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” ucap Kitaru padanya. “Cita-citanya ingin menulis skenario suatu hari nanti.”

“Kalau begitu kita pergi nonton film. Apa film yang harus kita lihat? Aku akan membiarkanmu yang memutuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, jadi apapun selain itu, aku bakal setuju.”

“Dia benar-benar penakut,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami masih kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, dia memegang tanganku dan-”

“Setelah nonton mari kita makan bersama-sama,” kata Erika, memotong ucapannya. Dia kemudian menulis nomor teleponnya di selembar buku catatannya dan memberikannya padaku. “Jika kamu sudah memutuskan waktu dan tempatnya, bisakah kau meneleponku?”

Aku tidak memiliki telepon saat itu (ini sebelum ponsel banyak seperti sekarang), jadi aku memberinya nomor kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Aku minta maaf karena aku harus pergi,” kataku, mencoba beramah-tamah sebisaku. “Aku punya tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Apakah tidak bisa menunggu?” tanya Kitaru. “Kita baru saja sampai di sini. Mengapa kau tidak tinggal sehingga kita bisa bicara lagi? Ada toko mie yang enak di sana.”

Erika tidak menyatakan pendapat. Aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini tugas penting,” jelasku, “jadi aku benar-benar tidak bisa menundanya.” Sebenarnya, tugasnya tidak terlalu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kataku pada Erika.

“Aku akan menunggunya,” katanya, senyum yang indah terlihat di bibirnya. Senyum itu bagiku tampak agak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan kedai kopi dan saat berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa sih yang kulakukan. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang terus berubah, seperti terlalu memikirkan yang terjadi barusan, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksaku.

+

つづく / Bersambung

**********

haruki murakami

Haruki Murakami (村上 春樹, lahir di Kyoto, 12 Januari 1949) adalah penulis Jepang kontemporer yang menggenggam banyak penghargaan di dunia kepenulisan. Ia menulis belasan novel, puluhan cerpen, beberapa buku nonfiksi, dan rajin menerjemahkan karya asing ke Bahasa Jepang. Karya fiksi Murakami seringnya bertema surealistik dan nihilistik, yang ditandai dengan cara pembawaan Franz Kafka lewat tema kesendirian dan pengasingan. Karya-karya pentingnya seperti A Wild Sheep Chase (1982),Norwegian Wood (1987), The Wind-Up Bird Chronicle (1994-1995), Kafka on the Shore (2002), dan 1Q84 (2009–2010).

Berkat kiprahnya yang luar biasa di bidang kepenulisan, Murakami dianggap sebagai tokoh penting dalam sastra posmodern. The Guardian memujinya sebagai salah satu novelis terbesar di dunia yang masih hidup saat hidup.


4 thoughts on “Yesterday, Haruki Murakami [1/2]

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s