Eka Kurniawan Juga Fans SNSD!

“Saya sebenarnya tak tahu apakah layak disebut seorang Sone atau tidak. Saya tak memasang poster mereka, tak punya t-shirt bergambar mereka.” ungkap penulis yang dianggap sebagai suksesornya Pramoedya Ananta Toer ini di Catatan dari “SMTown World Tour 3 in Jakarta”. “Saya hanya mendengar lagu-lagu mereka, dan menonton video-video mereka di Youtube.”

Siapa sangka sastrawan Indonesia kontemporer lulusan Fakultas Filsafat UGM ini, yang karyanya diterjemahkan ke beragam bahasa dan dinobatkan sebagai 33 Must Read Books for Fall 2015 ini fasih mengabsen member SNSD alias Girls’ Generation – keahlian yang mungkin konyol namun pastinya sulit untuk dipelajari bagi sebagian besar umat manusia (lebih sulit daripada menghafal nama tokoh-tokoh di novel War and Peace-nya Tolstoy atau One Hundred Year of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez). 

  

Lihat: The New York Times – ‘Beauty Is a Wound’ and ‘Man Tiger’ by Eka Kurniawan

Selain Bernard Batubara, blog penulis yang sering saya kepoin adalah Eka Kurniawan ini, yang berdomisili di ekakurniawan.com, dan arsip dari tulisan-tulisan lamanya di ekakurniawan.net. Jika kebetulan ada yang punya cita-cita pengen jadi novelis, cobalah baca beberapa pos ini:

Yang paling dari blognya adalah kita bisa mendapat banyak rekomendasi penulis-penulis asyik yang kudu kita baca. Setelah membaca tulisannya, apalagi karya novel sama cerita pendeknya, bisa dibayangkan kan betapa serius dan canggih pemikirannya? Tapi nyatanya seorang Eka Kurniawan pun bisa terinfeksi demam K-Pop juga. Asyiknya sampai bisa membedakan yang mana Taeyeon, Seohyun, Tiffany, Yoona, Sooyoung, Sunny, Hyoyeon, Yuri, dan Jessica.

Tak terbayangkan pengagum Nietzsche ini ternyata ketahuan nonton video-video Youtube teteh-teteh cantik asal Korea Selatan itu. “Nietzsche nggak perlu dengerin Nirvana dan Girls’ Generation. Nanti dia malah bikin esai ‘Nietzsche Contra Taeyeon’ atau ‘Nietzsche Contra Kurt Cobain’, enggak seru,” kelakarnya. “Cukup dia dengerin Wagner saja lah.” Balasnya untuk komentar saya di blognya: Tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan. Sayang banget Nietzsche enggak sempat dengerin “The Man Who Sold the World” sama “Into The New World” ya.

“K-Pop tak menawarkan musik yang baru, tapi mereka hadir dengan secercah wajah (atau rasa) ‘Asia’.” Eka mengaku mengenal musik pop Korea awalnya karena mendengar lagu hits ‘Nobody’-nya Wonder Girls, selanjutnya karena rasa penasaran, berantai mulai mengenal lagu lain dari kelompok lain; SNSD, f(x), 2NE1, Super Junior, dan sebangsanya. “Jika saya bayangkan, barangkali seperti membaca novel-novel Haruki Murakami. Barat rasa Timur.”

Suami dari Ratih Kumala ini mengaku nggak gengsi untuk mendengar K-Pop, utamanya SNSD. Meski kadang dicibir istrinya, Eka tetap berpegang teguh pada pendirian, bahkan anaknya, Kinan, dibilang mirip Seohyun. Bahkan ketika diwawancara BOMB Magazine, Eka enggak malu menjawab kalah salah satu musik yang mempengaruhi prosanya adalah SNSD. Menyontek istilah ‘pembaca hedonis’-nya Jorge Luis Borges, maka novelis kelahiran Tasikmalaya ini menggolongkan dirinya sebagai ‘penikmat musik hedonis’. Maksudnya membaca, menulis, dan mendengar apa-apa yang asal membuat senang. “Demi kesenangan telinga saya,” tulisnya.

Ya, sebenernya sederhana sih, bagi saya, menikmati musik sama kayak menikmati kopi. Saya nggak terlalu dibikin pusing mau minum kopi sachet ABC Susu atau Americano bikinan Starbucks. Saya penyuka segala, boleh dibilang “penyuka hedonis”. Mau yang kacangan atau yang disebut orang ‘bernilai tinggi’.

Sebab tak ada alasan menjadi orang lain, sebab tak ada alasan harus menerima standar orang lain meskipun atas nama mayoritas, sebab dunia adalah apa yang saya hadapi sendiri.

Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Ah setelah ketahuan kalau Devi Kinal Putri pun Sone, ternyata seorang Eka Kurniawan yang saya pilih sebagai penulis favorit ternyata juga doyan sama SNSD. Duh.

“Apa pun, mudah-mudahan suatu hari Taeyeon dan teman-temannya di So Nyeo Shi Dae akan membaca mereka.” harap Eka Kurniawan, tulisnya dalam ‘Cantik Itu Luka’ dan ‘Lelaki Harimau ke Korea’, setelah penerbit Maybooks (오월의봄) teken kontrak untuk menerjemahkan kedua novelnya. “Sebagai Sone, itu penting.”

Pembatas buku seorang Eka Kurniawan

20 thoughts on “Eka Kurniawan Juga Fans SNSD!

  1. Namanya kegemaran mah tidak memandang apa pun ya Mas, dan itu sah banget. Saya juga suka mendengarkan lagu-lgu SNSD :haha. Karya tidak membatas pada profesi, jadi baik kalau kita selalu percaya diri dengan apa yang kita sukai. Keren banget, bukunya diterjemahkan dalam bahasa asing! Wah saya jadi penasaran dengan bukunya, sekaligus kepengen memfamiliarkan diri dengan sastra realisme magis–kayak apa, sih?

    1. Realisme magis, gabungan realisme dan surealisme. Ini banyak dipakai di Amerika Latin, yg paling terkenal Gabriel Garcia Marquez. Ada juga Haruki Murakami sama Salman Rushdie.
      Coba Cantik Itu Luka, di sana segalanya ada: pelacur yg bangkit dari kubur setelah 21 tahun, para komunis yang dibantai lalu jadi hantu, putri cantik yg kawin dengan anjing.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s