Pseudo-Ekstrovert

The Night Café by Vincent van Gogh
@ Vincent van Gogh – The Night Café

Sederhananya, pseudo-extrovert adalah seorang introvert yang memanipulasi diri jadi extrovert.

Soal extraversi-introversi sendiri adalah teori kepribadian yang dipopulerkan Carl Jung, meski kemudian penggunaan istilah psikologi ini di masyarakat seringnya banyak disalahartikan. Dan sebenarnya nggak ada definisi serbaguna dari introversi dan extraversi ini; keduanya bukanlah kategori-kategori tunggal.

Banyak yang perlu dibahas, namun sebagai orang yang diberi anugerah introversi yang berlebih, saya akan lebih menekankan soal introvert saja. Nah, hal-hal berikut ini bukan introvert: kata introvert bukan persamaan dari petapa atau misantrop (pembenci orang lain). Introvert dapat saja kedua hal itu, tetapi hampir semua introver bersifat sangat ramah – jika kenal kita lebih dekat.

Introver nggak harus pribadi yang pemalu. Rasa malu adalah rasa takut akan penolakan atau hinaan sosial, sedangkan introversi adalah kecenderungan untuk lingkungan yang nggak memberikan rangsangan berlebihan. Rasa malu secara bawaan terasa menyakitkan; introversi nggak. Satu alasan yang membuat orang bingung akan kedua konsep ini adalah karena keduanya sering saling tumpang-tindih. Sastrawan T.S. Eliot merupakan seorang pemalu yang introver, namun ada juga introver yang bukan pemalu, seperti Bill Gates, yang seperti dikatakan banyak orang, suka menyendiri tapi nggak khawatir dengan opini orang lain.

Betapa malangnya nasib introvert di abad modern ini. Kita didorong untuk mengembangkan kepribadian ekstrover untuk alasan-alasan yang sebenarnya egois – sebagai jalan untuk berpendar lebih di antara sekumpulan orang di tengah masyarakat yang nggak saling mengenal dan kompetitif. Bahkan kita cenderung berpikir bahwa menjadi lebih ekstrover nggak hanya membuat kita lebih sukses, tetapi juga menjadikan kita manusia yang lebih baik. Untuk jadi sukses, populer, dan atraktif, jadilah ekstrovert!

Jangan terlalu percaya para motivator, jalan sukses mereka ya tentunya nggak bisa kita lalui secara sama. Soal definisi sukses dan jalan untuk meraihnya bagi tiap orang pasti berbeda. Menjadi pseudo-ekstrovert memang membantu kita buat dapat pekerjaan, teman, dan jaringan. Manfaat yang nggak terbantahkan. Tapi seperti kisah ‘makeover’ yang sering ada di film-film, yang bakal kita dapat dari hasil manipulasi ini adalah sesuatu yang sementara dan superfisial. Memang kita dapat yang diinginkan, namun bukan yang kita butuh.

“Jangan berpikir kalau introversi sebagai sesuatu penyakit yang harus disembuhkan,“ ungkap Susan Cain, “gunakan waktu bebasmu untuk sesuatu yang kau suka, bukan sesuatu yang kau pikir harus.”

Jadi, tetaplah menjadi diri sendiri. Jika suka mengerjakan sesuatu dengan cara yang lambat dan tetap, jangan biarkan orang lain membuat kita merasa harus berlomba. Jika kita menikmati kedalaman, jangan paksa diri untuk mencari kelebaran. Jika lebih suka tugas tunggal dibanding multitugas, tetap pertahankan ini. Menjadi orang yang relatif nggak tergoda dengan penghargaan memberi kita kekuatan yang nggak terhitung untuk mengejar tujuan kita. Terserah pada kita untuk menggunakan kemerdekaan ini untuk hal-hal yang menguntungkan.

“In a gentle way, you can shake the world.” – Mahatma Gandhi

Seperti pepatah kuno dari Yunani, yang sampai sekarang tetap kekinian: GNOTHI SEAUTON!,  Know thyself! Kenali dirimu!

+

Post-scriptum:

Inspirasi tulisan dari buku ‘Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking’-nya Susan Cain dan pos The Pseudo-Extrovert dari Michaela Chung.


13 thoughts on “Pseudo-Ekstrovert

  1. Setuju. Klo diri kita aja ngga bs mengenali diri sendiri, nanti bagaimana mengharap org lain bs memperlakukan kita sesuai dgn baik. Eh…. Bener ga sih? Aku jd bingung dgn kalimatku. Yah intinya begitu.

      1. Tul tul tul….. (kata Ipin) Kalo kita bs menyadari siapa kita sebenarnya & menerima diri sendiri (ya klo ada yg perlu diubah jika dilihat dr sisi agama, ya dirubah lah), nanti akan terseleksi sendiri kok…. Siapa2 saja yg jg bs menerima kita apa adanya….

    1. Sebenernya soal ekstrovert dan introvert itu nggak ada yg lebih baik atau lebih buruk. Tapi emang sih, jadi ambivert itu suatu keuntungan.

  2. Inrovert dan extrovert tidak lagi jadi ekstrem kiri dan ekstrem kanan, tapi di tengah-tengahnya ada banyak sebutan lagi ya sekarang, ambivert, pseudoextrovert, apa pseudointrovert juga ada?
    Setuju dong, menjadi diri sendiri tanpa beban kata “harus” adalah yang paling nyaman, menurut saya. Tidak ada harus begini atau harus begitu, jalani saya semua yang menurut kita benar. Pendapat orang lain hanya informasi, bukan dasar mutlak untuk mengambil keputusan :)).

    1. Kalau seorang ekstrovert mau memanipulasi diri jadi introvert, ya mereka disebut pseudo-introvert. Tapi kayaknya nggak ada yg mau deh.
      Iya bener, jangan terlalu telan mentah-mentah pendapat orang, seperti postingan ini, cukup jadikan informasi. Selanjutnya terserah masing-masing.

  3. Ini nih mungkin, dulu sd-smp aku sangat sangat pemalu, tapi semenjak sma-kuliah sekarang entah ekanapa aku kaya lebih membuka diri. Gak dipungkirin kalo tujuanku gini ya biar dapat menggenggam definisi sukses yg org bilang itu, karena ada skill2 yg org extro punya to ga dipunya intro, kek public speaking, networking dll.

  4. Sialnya para introvert sering dianggap punya kelainan karena memilih berada di dalam kamar untuk membaca daripada pergi ke pesta. Orang-orang menganggap introvert adalah sebuah kelainan, sulit bagi para introvert untuk menjelaskan keadaannya. 😩

  5. jika setiap individu sudah memilih untuk memegang kendali diri masing-masing, apa dengan begitu mereka dianggap memilih untuk berada dalam zona nyaman? –> seperti kata para juri kompetisi. sebenarnya zona nyaman itu sesuatu yang buruk apa bukan ya?

    1. Apa dulu definisi keluar dari zona nyaman. Bukankah upaya dalam mengenali dan menerima diri sendiri adalah sesuatu yg nggak nyaman?

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s