Friedrich dan Inspirasi Fotografi Lanskap

Caspar_David_Friedrich_-_Wanderer_above_the_sea_of_fog
Wanderer Above the Sea of Fog, 1817-18

Pasti sering melihat foto orang yang berpose membelakangi, sedang menerawang sampai jauh ke gugusan awan di langit dan lanskap di bawahnya. Kalau di Bandung, biasanya ketika main ke Tebing Keraton, ya gaya fotonya bakal gini buat dipamerin di Instagram, plus dengan embel-embel caption #explorebandung dan #livefolk. Tapi tahukah kalau sebenarnya pose pasaran ini adalah imitasi dari lukisan di awal abad ke-19.

Ya, sesungguhnya fotografi adalah perpanjangan dari seni lukis, bahkan boleh dibilang idenya fotografi ya hasil curian dari seni lukis.

Apakah ada ideal estetika yang menjadi formula untuk diaplikasikan? Tak hanya Salgado, para juru foto dunia kerap bekerja dengan kerangka estetika tertentu – dalam hal ini yang dibangun oleh seni lukis.

Erik Prasetya, Ayu Utami – Estetika Banal & Spiritualisme Kritis hal. 10

Adalah Caspar David Friedrich yang melukis ‘Wander Above the Sea of Fog’, lukisan di atas yang sangat menginspirasi.

Salah satu fungsi seni yang penting dan sering dilupakan adalah mengajarkan kita cara untuk menderita. Hal ini bisa tercipta lewat karya yang menggambarkan adegan yang gelap, melankolis, dan menyakitkan, yang kemudian melahirkan kondisi kesepian dan kebingungan. Ini sebagai terapi, katarsis dengan menikmati sebuah karya menggalaukan, seperti kalau lagi galau lebih memilih mendengar lagu sendu. Dan Friedrich ini merupakan pelukis besar yang sukses menghasilkan karya menggalaukan ini.

Caspar_David_Friedrich woman at a window
Woman at a Window, 1822

Friedrich melukis selama abad ke-19 dan dikenal lewat lukisan lanskap yang bermakna alegoris, seringnya memasukan sosok manusia di dalam karyanya. Mempunyai kemampuan untuk menggambarkan lanskap secara subjektif dan baru, yang belum pernah ada sebelumnya pada saat itu. Begitu juga dalam fotografi, ada ungkapan bahwa untuk meningkatkan keindahan foto kita agar lebih menarik harus disertakan unsur manusia.

friedrich caspar david rocky reef on the sea shore
Rocky Reef on the Sea Shore, 1824

Friedrich menyadari bahwa alam bisa mengungkapkan banyak suasana hati. Ia menemukan bahwa pohon-pohon tinggi, pegunungan, kabut, terumbu bergerigi, bulan yang tengah naik, air hening di malam hari, tanah lapang terbuka dan selimut kabut bisa membawa banyak pesan yang sama tentang rasa sakit, cinta, penderitaan dan pembebasan.

Lihat: The Philosopher’s Mail – The Great Artist: Caspar David Friedrich

Caspar_David_Friedrich_016
The Giant Mountains, 1830-35

Sebagian besar karya Friedrich tercipta dari pemandangan sekitar tempat tinggalnya di Dresden, Jerman. Sementara banyak dari kita yang mencari lokasi baru untuk dapat inspirasi, maka pelukis abad Romantik ini menunjukkan pada kita bahwa interpretasi dan re-interpretasi lanskap di sekitar kita justru dapat membuat karya kita bakal lebih mendalam, orisinal, dan penuh makna.

Lihat: Beyond The Lens Blog – Learning From the Masters Caspar David Friedrich

Caspar_David_Friedrich_-_The_Grosse_Gehege_near_Dresden_-_Google_Art_Project-775x600
The Grosse near Dresden, 1832

Close your bodily eye, that you may see your picture first with the eye of the spirit. Then bring to light what you have seen in the darkness, that its effect may work back, from without to within. A picture must not be invented but felt. Observe the form exactly, both the smallest and the large and do not separate the small from the large, but rather the trivial from the important.

Caspar David Friedrich

caspar-david-friedrich-the-sea-of-ice-1824-web-gallery-of-art-775x600
The Sea of Ice, 1824

Seperti seniman lainnya, Friedrich sebenarnya nggak sukses-sukses amat semasa hidupnya, hanya dikagumi dan karyanya dibeli oleh segelintir orang saja. Dia meninggal di pertengahan usia 60an, pada tahun 1840, bahkan hampir dilupakan. Namun siapa sangka, di kemudian hari karya-karyanya ini sangat dikagumi sampai sekarang. Karena karyanya ini membingkai dan mengekspresikan bagian paling menyedihkan dari kita semua. Menyoal eksistensialisme.

Nampaknya lukisan-lukisan Friedrich yang sinematik ini akan terus menginspirasi siapa pun, dalam media apa pun. Untuk saat ini, “Wanderer above the Sea of Fog” masih jadi inspirasi pose paling ngehits sejagat Instagram.

Wanderer Above Tebing Keraton

9 thoughts on “Friedrich dan Inspirasi Fotografi Lanskap

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s