Ngabuburit ala Kapitalis

“Duh stasiun London berapa nih?”

“Oh itu properti milik Arip Podomoro Group, hmm… bayar 2000 weh”

“Jis geuleuh ke cewek mah pake diskon”

ngabuburit main monopoly

Meski cashflow sedang hancur, saya tetap istiqomah jadi pebisnis yang murah hati. Apalagi sedang dalam bulan baik bernama Ramadan. Tapi nampaknya permainan Monopoly nggak mengenal yang namanya matematika sedekah. Meski berhasil memonopoli jaringan bisnis transportasi internasional, krisis finansial pun melanda saya. Ini diperparah dengan munculnya faktor godaan wanita. Ah klise banget.

Enrichissez-vous! Francois Guizot, cendikiawan dan ahli sejarah yang jadi menteri utama Prancis di abad ke-19 menyeru agar setiap orang harus menjadi kaya, dan ini adalah inti dari permainan monopoly. Ya, jadilah kaya! Jadilah kapitalis yang bisa mengeruk kekayaan sampai pebisnis lain jatuh pailit. Nggak ada kamusnya untuk jadi filantropi dalam permainan ini.

Sungguh benar yang diutarakan bebeb Frieska yang katanya penyuka kurupuk banjur ini. Sudah sejak kecil permainan ini mewarnai khazanah Ramadhan. Bahkan kalau boleh dibilang, sudah jadi “kaulinan” yang hukumnya wajib dimasukan dalam agenda ngabuburit. Permainan papan ini memang bikin kita lupa sama waktu, saking serunya, kadang yang tadi buat menunggu waktu berbuka, eh malah masih anteng main meski adzan maghrib sudah berkoar-koar. Karena memang permainan monopoly ini menyangkut sisi insting manusia paling alami: berkompetisi.

monopoly landlord's game
Prototipe awal Monopoly, Landlord’s Game. Permainan kekirian yang jadi kekinian. Sumber: The Guardian

Tapi tahukah kalau niat awal dibuatnya game ini justru buat mengkritisi sistem ekonomi kapital, khususnya praktek monopoli? Nah, adalah Lizzie Maggie, seorang aktivis feminis kekirian yang mempatenkan permainan ini pada 1903 sebagai medium penyebaran paham politiknya. Permainan papan saat awal abad 20 memang sedang ngehits, terutama di kalangan kelas menengah. Ide awal dari permainan ini terinspirasi dari tokoh idola Lizzie, Henry George, seorang ekonomis berpengaruh yang terkenal dengan argumen bahwa kemiskinan disebabkan kepemilikan pribadi dan monopoli individu atas tanah, sehingga harus diterapkan yang namanya pajak nilai lahan. Maka Lizzie pun menamakan permainan papan ini Landlord’s Game, dan selama tiga dekade makin meroket popularitas game ini di kalangan kiri, khususnya kaum intelektual kampus.

Namun, sejarah soal penciptaan permainan papan ini disembunyikan. Setelah Parker Brothers membeli paten dari Lizzie pada 1930an, kemudian memodifikasi beberapa aturan permainan, dan ini tanpa koordinasi dengan sang pemilik ide. Parahnya Lizzie Maggie nggak dicantumin sebagai pencipta game ini, sehingga selama beberapa dekade, sejarah soal awal mula permainan ini dikaburkan. Dasar kapitalis!

| Lihat: The Guardian – The Secret History of Monopoly: The Capitalist Board Game’s Leftwing Origins

[LINE: Get Rich] Ada karakter baru dan peta Indonesia baru loh! Kirim Gold Clover ke temanmu yang tidak aktif dan dapatkan Diamond GRATIS!

Permainan ini pun telah berumur lebih dari seabad, dan tetap digemari. Bahkan eksistensinya akan tetap terpelihara apalagi telah terdigitalisasi. Namun tetap, bermain monopoly secara konvensional nggak akan tergantikan, karena yang penting adalah soal interaksi soalnya. Apalagi kalau ditemani mojang secantik Frieska JKT48 yang tadi kebingungan mencari teman main monopoly.

Enrichissez-vous! Let’s Get Rich! Mari habiskan hidup untuk mencari harta.

+

Mohamad, Goenawan. 1989. Catatan Pinggir 2. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. lihat hal. 38 “Enrichisz-vous!”


18 thoughts on “Ngabuburit ala Kapitalis

  1. Di Monopoly itu memang kapitalis banget :haha. Yang sudah kaya banyak punya tanah, pajak makin tinggi, setiap pergerakan lawan pasti menguntungkannya karena menghasilkan duit, sedangkan yang miskin kena pajak terus, jadinya makin miskin sampai jadi bangkrut. Otoritas bank pun cuma jadi kasir, tidak punya kekuatan apa-apa untuk mengatur ekonomi :hehe.

    Tapi bagaimanapun, Monopoly mengasyikkan… cuma memang agak repot buat membereskan semuanya setelah permainan :haha.

    1. Dan nggak ada KPK, soalnya saya kadang kalau lagi khilaf suka bertindak koruptif. Kalau nukerin uang gede suka sambil ngambil banyak.
      Karena malas beresin ini, suka banyak instrumen yg hilang entah kemana.:lol:

      1. Haha rupanya penyakit kita sama :haha. Paling suka main tapi kalau sudah diminta membereskan males banget :hihi.

  2. tapi Freska benar sekarang emang susah nyari teman buat main monopoly,… jadinya monopoly sekarang jadi kayak getrich, feelnya beda bengat sama yang real, kumpul rame kayak zaman dahulu kala

  3. Oh ternyata ada sejarahnya juga ya permainan ini. Gua pikir cuma orang iseng yg gak ngapa-ngapain, terus daripada gak ngapa-ngapain ya mending dia ngapa-ngapain.

  4. Selama ini saya gakbisa main monopoli, minggu lalu ngabuburit sambil main monopoli dan diajarin temen2 hahahahaha alhamdulillah setelah 23 taun bisa juga😛

  5. Saya lihat waktu kemarin Minggu di warnet ada remaja cewek yang main monopoli di PC. Kayaknya online deh. Dari yang konvensional sampai ke digital, monopoli tetap digemari karena memang menawarkan sisi humanis dari manusia yaitu berkompetisi. Jangan-jangan itu Get Rich masuk PC. Oh tidak!

    Haha dasar kapitalis😀

  6. huahahaha jadi kangen maen monopoli

    terakhir itu maen pas jaman smk kalo gak salah
    eh apa jaman smp ya..lupa

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s