Proyek Foto Gang Sempit

linggawastu ulin sasab

Oh. Di bawah pengelolaan pribumi rupanya Bandung berubah jadi tidak sefotografis era kolonial. Tentu saja, saya ogah kembali jadi bangsa terjajah. Masalahnya timbul rasa bosan untuk mengeksploitasi kesemrawutan, kekumuhan, ketidakdisiplinan, serta kepayahan sebagai obyek foto. Marginalitas memang sudah menjadi keseharian, tapi ada problem etis ketika harus mengabadikannya.

Siapa coba yang tak ingin mencicipi Bandung baheula yang seromantis Paris? Mungkin kita bakal banyak menemukan momen estetiknya Henri Cartier-Bresson saat kota asri ini masih dilabeli Parijs van Java.

Kemudian saya tersadar. Pada akhirnya mengeluh hanya menguras energi. Daido Moriyama saja tak pernah bosan memotret Tokyo selama lebih dari 50 tahun.

Nah, dalam rangka pra-acara menuju HelarFest2015: Ulin Sasab, Bandung Creative City Forum menyelenggarakan “Workshop Fotografi Kampung – Kampung Kami, Kampung Kita”.
Sebuah kegiatan workshop fotografi citizen journalism dan photo story tentang cerita kampung kota Bandung. Dan lewat Bandung Photostreet Shooter, meski saya baru aktif secara online, saya bisa mengikuti workshop ini secara gratis.

Kampung Linggawastu menjadi arena ulin sasab. Kalau pernah merasakan masa kecil yang indah tanpa gadget, ulin sasab ini berarti bermain jauh ke tempat yang belum kita kenal karena terlalu keasyikan. Nah, Linggawastu sendiri masuk dalam program Kampung Kreatif-nya BCCF yang fokus dalam bank sampah. Jika melintas Jalan Layang Pasupati dari arah Balubur dan melihat jembatan merah Sungai Cikapundung, di sana lah Kampung Linggawastu terletak.

Meski sama-sama masuk gang sempit, tapi berbeda dengan Moriyama-sensei yang hasil jepretannya terkesan kelam. Ternyata dari gang sempit, bisa tercipta hasil jepretan ajaib yang bercerita unik, lugu, indah, bahkan tak jarang lucu yang mengundang gelak tawa.

Sebagian besar peserta Workshop Fotografi Kampung memang muda-mudi asal Kampung Linggawastu. Kalau dilihat dari segi estetika memang hasil jepretannya kurang fotografis. Tapi sesungguhnya estetika bukanlah tujuan akhir fotografi. Satu hal yang pelajari dari pupuhunya Air Foto Network, Kang Galih Sedayu.

Saya yang baru punya sedikit ilmu teknis fotografi, sering merasa pongah. Bukannya membuat karya malah terlalu merisaukan kamera dan gear. Terjebak Gear Acquisition Syndrome.

ulin sasab workshop
Foto: @UlinSasab_bdg

Selanjutnya hasil jepretan yang terpilih ini akan dibuatkan pameran foto dan jurnal fotografinya. Jangan harap bisa melihat jepretan saya, dan memang nggak bakal ada. Soalnya pakai kamera analog film, prosesnya nanti kapan-kapan.

Yang pasti, berkat workshop ini muncul inspirasi untuk membuat proyek fotografi, sebuah proyek personal: memotret gang sempit.

“Photographs can succeed in telling stories when they are collectively put into a narrative sequence, like in a film, or grouped into “chapters”, like in a novel.”

Alec Soth

bps fotografi kampung
Foto: BPS

20 thoughts on “Proyek Foto Gang Sempit

  1. Kreatif sekali idenya. Menangkap denyut kota untuk mengabadikannya. Sukses selalu dengan proyeknya Mas. Saya mau ilmunya kalau sudah selesai :hehe.

  2. Yup, kadang motret slump area itu butuh kejelian banget sebagai seorang fotografi. Momen-momen yang layak dijepret itu ga selalu ada. Seringkali baru nongol saat kita ga megang kamera. Itu aku sering banget alami. -_-

  3. Jadi inget pas main ke Bandung, yang kelihatan kumuhnya, bukan kayak yang dibahas di blog2 tentang tempat wisata yang asyik. Kirain cuma aku yang kesasar😀 Ternyata memang topografinya berantakan ya.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s