Ngaleut Institut Teknologi Bandung

Masuk ke kampus almamaternya Ir Soekarno, Ridwan Kamil, dan Pidi Baiq ini hanya pernah saya lakukan kalau ada event Pasar Seni. Kalau masuk lewat SNMPTN emang enggak, soalnya kalau ga salah pilihannya dulu ya cuma Unpad tercinta. Ga kepikiran sih kenapa ga milih FSRD dulu.

Ah Sujiwo Tejo yang kuliah di Matematika dan Teknik Sipil malah jadi seniman. Eh tapi beliau juga alumni ITB sih. Oke lah, biar ga kepanjangan langsung saja bakal saya laporkan kegiatan ngaleut di kampus pencipta orang-orang hebat ini.

canonet ql17 itb

ITB didirikan pada 3 Juli 1920 dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng, sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, atau THS. Tujuan awal pendiriannya adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama.

Dan untuk mengenal lebih dekat salah satu kampus tertua di Bandung ini, Komunitas Aleut mengadakan ngaleut pada Minggu, 18 Januari 2015 dengan meeting point di Taman Ganesha dekat monumen kubus.

itb canonet ql17

itb canonet ql17

Satu bentuk arsitektur yang unik dan mungkin bakal menimbulkan pertanyaan adalah soal bentuk atapnya yang bergaya Minangkabau. Ya, inilah hasil rancangan dari arsitek Belanda asal Jatinegara, Maclaine Pont. Mahakarya Pont ini mendapat serangan dari sejawatnya, Prof. Wolff Schoemaker.

Lihat: Komunitas Aleut – Maclaine Pont dan Kisah ITB

Arsitek Schoemaker dan Bosscha yang mewarnai Bandung dengan beragam bangunan hasil rancangan mereka pun turut andil dalam pembangunan ITB ini. Dan pastinya pujian pun harus kita sematkan kepada para kuli bangunan, karena tanpa mereka ga mungkin ada kampus ITB.

itb canonet ql17

itb canonet ql17

ngaleut canonet ql17

Dari gaya tradisional dan kolonial menuju apartemen Podomoro. Ya, jika menelusuri bangunan kampus ini dari gerbang depan ke belakang, bakal terasa seperti dalam lorong waktu. Semakin ke area belakang ITB, bangunan yang terlihat semakin menjadi gaya kekinian dan futuristik. Bahkan, di area belakang masih berjalan beragam pembangunan gedung baru.

Kondisi cuaca mendung, tapi emang berjalan-jalan di kampus ITB sungguh menyegarkan karena dihiasi beragam pohon rindang. Bayangkan kalau harus ngaleut di Unpad Jatinangor dengan kondisi terik, wih serasa kardio. Tapi tetap bangga sama Unpad lah, ITB mana punya odong-odongnya?😎

ngaleut itb canonet ql17

ngaleut itb canonet ql17

Salah satu topik yang saya suka, selain urban legend-nya, adalah soal sejarah pergerakan mahasiswanya. Ya, kampus ini yang meluluskan banyak tokoh nasional, yang paling diingat tentu saja sang proklamator dan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Namun oleh para mahasiswa ITB pula kemudian kekuasaan Orde Lama digugat.

Baik di Orde Lama dan Orde Baru para mahasiswa ITB berperan aktif dalam aktivitas pergerakan nasional. Meski pada Orde Baru terjadi sedikit kemerosotan. Dan mungkin di era Reformasi ini, sangat menurun drastis. Salah satu faktornya adalah akibat beratnya beban SKS, sehingga mahasiswa menjadi study-oriented.

Yang pasti, semoga kampus ini tetap bisa mencipta orang-orang hebat yang bisa memberikan manfaat bagi sekitar. Minimal buat kota Bandung lah.

urban landscape tamansari canonet ql17

Oke, semua foto-foto di atas hasil jepretan dari kamera film Canon Canonet QL17 dengan amunisi Fujifilm Superia 200 yang expired-nya entah kapan. Setalah ngaleut langsung dicuci scan di Lab Seni Abadi. Dan untuk ke roll ketiga ini hasilnya ya ada peningkatan lah, khususnya intuisi soal setting exposure yang pas.

Saatnya bikin hashtag #indo35mm #bdg35mm #ishootfilm #beforepixel #believeinfilm #filmphotography #sunny16 #superiajenaka #canonql17.


43 thoughts on “Ngaleut Institut Teknologi Bandung

  1. Wuihhh, salah satu kampus idaman di Indonesia ya…

    P.S.
    Bagus-bagus amat hasil fotonya
    Bikin postingan jadi tambah keren
    Jadi pengen punya deh kamera itu juga
    #NggakmauKalah

    1. Ya lumayan unik juga. Soalnya agak susah buat bokeh-bokehan, bukaannya sih sampe 1.7 tapi shutter speed maksimumnya cuma sampe 500. Kebetulan aja ini cuacanya lagi mendung.
      Susah buat fokus juga, soalnya ini pake kamera tipe rangefinder bukan slr.

  2. Aih, ITB…
    Andi teu aya nasib kuliah didinya Kang. Teu lulus seleksi kapungkur teh…
    Btw, eta saha Kang gadis berambut lumayan panjang dan berbaju putih? Panasaran…
    Ah Akang mingkin jago motret nih…

    Salam,

    1. Iya sih pasti, kalau ga ada kamera emang ga bakal ada fotonya.
      Dan kamera ketinggalan zaman seharga 300 ribu yang ga bisa mikir ini bikin yg motretnya jadi lebih mikir. Orangnya yg harus lebih pinter ketimbang gear-nya.

  3. keren ya, dan gak nyangka kalau kampusnya udah dibangun sejak jaman belanda. soalnya yang saya tahu kampus pas jaman penjajahan, ya STOVIA itu😀

  4. Ngakak baca yang kuli2 itu… Bruakakakakaa… Asli, gue makin demen sama karakter lu, Rip. Humble banget kayaknya. Down to earth. Kelihatan dari postingan2 yang lu udah bikin selama ini. (y)

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s