Belajar Selfie dari Vivian Maier

vivian maier belajar selfie

Sebelum tahun 2009, nggak ada yang tahu siapa dia. Vivian Maier memang hanya seorang pengasuh anak. Masalahnya nanny satu ini punya kamera dan punya koleksi seratus ribuan jepretan tentang keseharian di Amerika sejak 1950. Dan jangan bayangkan foto-fotonya cuma asal jepret.

Ketika selfie jadi kosakata resmi pada 2010 lalu, sang pengasuh anak ini ternyata sudah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu mempraktekan seni berfoto ini. Sebelumnya, kita simak dulu kisah unik sang nanny ini. Vivian Maier nggak bisa mencicipi popularitasnya. Ketenarannya justru melejit setelah beliau meninggal dunia. Adalah John Maloof yang beruntung bisa menemukan 100.000 film negatif di pelelangan barang-barang antik. Setelah dicuci dan scan, Maloof terkagum-kagum dengan jepretan-jepretan yang dihasilkan, lalu kemudian mengupload ke grup Flickr Hardcore Street Photography. Dan nama Vivian Maier pun kian melambung.

Vivian Maier / 1955

Teknologi kamera berlayar tilty-flippy dan autofocus face detection tentunya belum tercipta waktu itu. Selfie belum semudah sekarang, kameranya saja masih pake klise film yang ribet itu. Nah, kamera pertama Vivian Maier adalah kamera kotak Kodak Brownie. Pada 1952, Maier beli kamera Rolleiflex pertamanya, koleksinya antara lain ada Rolleiflex 3.5T, Rolleiflex 3.5F, Rolleiflex 2.8C, dan Rolleiflex Automat. Kemudian punya juga Leica IIIc, Ihagee Exakta, Zeiss Contarex dan beragam kamera SLR lainnya.

Film yang digunakan kebanyakannya antara Kodak Tri-X sama Ektachrome. Ingat, ini roll film yang dibahas bukan filter VSCO.😆

Vivian Maier Camera Porn
Vivian Maier Camera Porn. Teknologi face detection belum ditemukan, selfie ga semudah hari ini.

Vivian Maier memakai trik zone-focusing, yakni mengeset jarak fokus tertentu (prefocus) terlebih dahulu, kemudian langsung menjepret subyeknya. Fotonya sendiri kebanyakan tentang keseharian masyarakat yang ada di New York dan Chicago, dan juga beberapa foto-foto saat Vivian traveling di Mesir dan India.

Pokoknya mendokumentasi jalanan. Wajah orang-orang, arsitektur menarik, dan berbagai hal random yang ada di jalan. Foto sarapan sayangnya nggak ada.

vivian maier selfie
Vivian Maier / 1950an
vivian maier selfie
Vivian Maier / 1956
vivian maier selfie
Vivian Maier / New York, 3 Februari 1955

Selfie dengan memamerkan kamera. Ya, karena selfie-selfie yang dibuat Vivian Maier biasanya dengan memanfaatkan refleksi dirinya lewat cermin, otomatis kameranya ikutan kefoto. Kalau sekarang banyaknya yang selfie dengan pamer DSLR-nya, kalau Vivian ya pamer TLR. Termasuk alay gak sih?😀

vivian maier selfie
Vivian Maier / 1977
vivian maier selfie kreatif
Vivian Maier / 1970

Eh foto yang atas ini mana selfie-nya? Kok malah paha? Eits, coba perhatikan dengan seksama. Jadi selain lewat media cermin, Vivian Maier juga sering melakukan selfie dengan bayangannya.

vivian maier selfie
Vivian Maier / 1956

Dan ketika nggak ada teman yang bisa disuruh bantu ngefotoin kita, timer jadi teman terbaik kita.😎

Jadi buat yang ngerasa bosen sama selfie yang gitu-gitu aja dan terkesan klise dan cheesy. Bisa coba gaya-gaya dari Vivian Maier tadi. Buat inspirasi lainnya bisa langsung liat galeri foto self-portrait di sini.

| Lihat juga: Eric Kim – 5 Lessons Vivian Maier Has Taught Me About Street Photography

vivian maier selfie
Vivian Maier / 1955

Terakhir, saya ingatkan kalau Vivian Maier bukan seorang fotografer jurnalis, apalagi komersil. Hanya seorang nanny yang punya hobi fotografi. Yang memotret untuk kepuasan diri sendiri, bukan untuk meraih apresiasi berupa like, favorit, atau sanjungan dari orang lain.

Beberapa foto di atas bahkan sama Vivian Maier yang oleh beberapa media diberi titel “Selfie Queen” ini sendiri belum pernah dilihat hasil jadinya loh.

Oh ya ngasih tau aja, ukuran foto-fotonya emang rada kotak. Ini bukan karena hasil uploadan Instagram, tapi emang dari kameranya yang pakai medium format. Dan sekali lagi, tanpa filter-filteran VSCO.😆

— All photographs copyrighted by Vivian Maier / Maloof Collection —


36 thoughts on “Belajar Selfie dari Vivian Maier

    1. Pastinya, dia bisa ngadain eksibisi pameran di beberapa negara dan tentunya dapat royalti dari buku-buku tentang Vivian Maier yg terbit.

        1. Rekomendasi kalau mau beli kamera analog atau mungkin pengen beli lensa manual buat dslr sih ke jalan ABC aja, lensa Canon banyak tuh. Coba ke jongko yg ada banyak tempelan stiker dari hipercatlab, socca_id, sama #indo35mm.
          Lumayan kemarin dapat kamera mirrorles cuma 300rb. Kameranya keluaran tahun 70an tapi.😆
          Dapat Canon Canonet ql17 sama bonus 1 roll film. Kalau nyari di internet kisaran kamera ini 500-800rb.
          Sekarang lagi was-was nungguin scan filmnya, sambil si kameranya lagi diservis buat ngebersihan viewfinder sama ngebenerin timernya.

          1. ADA LENSA MANUAL BUAT DLSR?! SERIUS?! Harus cepet kesana ini mah! Maaf gak nyante. Ngeservisnya lebih mahal daripada kameranya ga? Kisaran berapa sampe berapa harga lensanya? Ada yang jual fixed lens 50mm ga? Yang 35mm juga gapapa sih, tetep bagus :’-) duh maaf kebanyak nanya.
            Canonet suka ada di film-film, lucuuu! SERIUS 300rb?! Itu hasil nawar ato bukan?! Maaf gak nyante (2)
            Disana ada yang jual skenernya juga? Ato beli di tempat lain?

          2. Maaf ga terlalu ngelirik Canon, saya pake dslr Nikon soalnya.😀
            Semua lensa jadul bisa dipake di dslr atau mirrorless, asal beli dulu mount adapter, apalagi Canon mah kompabilitasnya tinggi. Adapter beli di toko kamera biasa paling 70rb.
            Emang kebanyakan lensa fix, untuk Canon dari seri FD sampai yg bisa autofocus ada. Bisa juga pake lensa pihak ketiga, kaya lensa ngehits Carl Zeiss Jena Tessar 50mm 2.8 atau Helios 58mm yg bisa bikin swirly bokeh, bokeh muter.
            Harga buat fix 35 atau 50 antara 400rb-1juta. Harga berbanding lurus sama kondisi fisik juga merknya pasti. Diafragma makin kecil ya makin mahal.
            Rada ngiri sama Canon, soalnya Nikon mah bagusnya ya sama lensa Nikon lagi.😦

            Buat Canonet sama kamera analog mah nanti bakal dibahas lah, kalau scanan foto sama kameranya udah diambil. Deg-degan takut kebakar euy yg kemarin, soalnya roll film belum kelar digulung semuanya, udah saya buka.

          3. <– gak punya adapter. Eh, kirain adapter harganya sampe ratusan ribu😮 nah, itu dia alesan pengen punya flens biar bisa foto bokeh bagus huhu. Apalagi buat foto malem-malem gt kan lebih dramatis /apasih.
            Butuh yang lebih gede dari 3.5 diafragmanya haha.
            Sebentar sebentar, diafragma makin besar maksudnya? .-. semakin kecil angkanya semakin besar bukan diafragmanya? ._.
            Mari pindah ke Canon :d
            SADIS=)) Semoga gak kebakar, wkwk.

          4. Yg mahal itu biasanya ada kaca tambahan, biar bisa infinity focus dan bikin koreksi-koreksi lainnya. Tapi masalahnya, yg dicari dari lensa vintage itu soalnya tiap lensa punya keunikan yg beda-beda, nah kalau ada koreksi-koreksinya sama aja bohong.
            Dan kalau pake adapter yg ada kaca, pake lensa beroptik sekelas Carl Zeiss tetep aja kena si kaca yg murahan tadi. Kualitasnya nurun.
            Kalau buat portrait bokeh dan biar lowlight mah emang cocok sama lensa ‘nifty-fifty’. Saya sih pakenya yg 35mm.

            Iya makin kecil angkanya, makin gede bukaannya, dan makin mahal harganya.

            Maunya ke Sony, mau hijrah dari DSLR. Tapi buat sekarang mah cintai dulu yg ada.

          5. Wah, ternyata agan satu ini seorang kamera expert *tepuk tangan* Yak, setuju, nanti sisi manualnya ilang. Walaupun aku belum pernah liat hasil jadi kalo pake adapter yang ada tambahannya sih.-.
            Iyaa itu bukaannya gede sampe 1.4/1.8 ya lupa.
            Sony keren! Tapi sayangnya Sony di Indo gak selengkap di luar, Gatau sih, takut salah info juga.
            Bener, harus cintai dulu yang ada, upgrade later.

  1. Buset… ternyata selfie udah ada sejak tahun 1950an… Ini dia selfie yang bermuti dan patut di tiru, nggak ada tuh bibir di monyong2in:mrgreen:

  2. Foto Vivian Maier yg tahun 1955 itu kan kalo skrg semacam toilet selfie gitu ya.. yg tahun 1970 juga bukannya skrg lg ngehits fotoin kaki sendiri. Keren deh, pelopor!

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s