Camera Porn

leica sketch arip blog

Pagani Zonda. Bugatti Veyron. McLaren F1. Lamborghini Aventador. Audi R8. Porsche Carrera. Kendaraan roda empat berkasta super car ini masuk jajaran mobil yang mustahil saya punyai – untuk nyetir mobil saja belum bisa. Tapi anehnya saya masih saja menonton saluran Youtube Top Gear BBC yang pamer mobil-mobil kalangan super-elitis tadi.

Begitu juga dengan kamera. Meski sekarang cuma punya dslr kelas entry, itu pun buat dapetinnya kudu bersabar nungguin waktu bertahun-tahun, tapi saya suka yang namanya nonton review kamera-kamera pro yang harganya udah pasti nggak terjangkau buat kantong saya saat ini.

Yang sekarang dipunya cuma Nikon D3100, tapi sering banget nonton review Fujifilm X100, Canon 5D Mark III, Sony A7s, bahkan si ‘red dot’ Leica M9. Bukan hanya digital, kamera analog pun saya ikutin reviewnya, khususnya kalau berhubungan sama kamera medium format.

In your bag No: 987 – Andy Eclov
JapanCameraHunter: In your bag No: 987 – Andy Eclov

Masturbasi. Seperti artis hollywood yang bening-bening, kita hanya bisa memandang dari jarak yang sangat jauh, yang mustahil tuk merasai langsung. Paling cuma menikmati dengan khayalan. Ah ini kenapa ngomongin camera porn jatuhnya ke masturbasi. Tapi emang nyambung juga sebenernya.😆

Oke, akhir-akhir ini saya suka lihat koleksi-koleksi kamera beserta gear yang ditelanjangi si fotografernya. Ya, inilah yang dimaksud camera porn. Seringnya liat di Instagram dan di blognya Bellamy Hunt, JapanCameraHunter.

In your bag No: 1015 – Ryan Lau
JapanCameraHunter: In your bag No: 1015 – Ryan Lau

Otomotif dan fotografi bisa jadi hobi yang serupa. Hobi mahal.

  • Honda Civic: Kamera saku
  • BMW 3-Series: Entry-Level DSLR
  • Porsche: Full-frame DSLR
  • Helikopter: Medium format digital (Hasselblad, PhaseOne)
  • Kapal pesiar: Leica digital

Begitu pun dengan kamera film, analoginya hampir sama, dan si Leica tetap jadi kapal pesiar.

JapanCameraHunter: Marc Holstein

Memang benar, harga selalu bicara jujur. Semakin mahal semakin terjamin kualitasnya. Namun kebanyakan yang dicari dari barang mahal adalah agar dapat prestisenya. Watak manusia selalu ingin merasa lebih daripada orang lain.

Tapi semuanya sah-sah saja. Apapun motif membeli barang-barang mahal, asalkan itu uang sendiri ya silahkan aja.

In your bag No: 1038 – Barry Reid
JapanCameraHunter: In your bag No: 1038 – Barry Reid

Kembali lagi soal camera porn, kalau keseringan ngeliat kayak ginian hati-hatilah dapat penyakit Gear Acquisition Syndrome. Antara butuh dan ingin bias melebur. Kita bakalan merasa butuh buat beli gear-gear tertentu yang kita anggap dapat meningkatkan kemampuan fotografi. Yang pada akhirnya, kita terlalu berfokus pada gear, bukan pada karya yang dihasilkan.

JapanCameraHunter: In your bag No: 1042 – Dean Faught

Kamera terbagus, mobil terbagus dan semua yang terbagus sesungguhnya nggak pernah ada. Semua tergantung selera, kebutuhan, harga dan waktu.

Yang pasti meski nggak bisa memiliki beragam gear yang ditampilkan, saya selalu suka ngeliat-liat camera porn dan itu selalu sukses bikin saya ngiler. Oh dan saya nampaknya kena GAS juga, dry box makin hari makin bertambah penghuninya.


35 thoughts on “Camera Porn

  1. Betul sekali jang Arip,, kemauan tidak pernah ada habisnya. Saya juga pernah kena GAS, sampe akhirnya dapat nasihat teman. Katanya, bukan kamera mahal yg bikin kualitas foto bagus, tapi kemampuan kita memaksimalkan fitur kamera kita yg minimalis. Klo udah benar2 mentok fiturnya sampai gak bisa diapa-apain lagi, barulah boleh mikir ganti gear yang lebih bagus. Itu sih, tapi rada susah ngejalaninnya hehehe

    1. Watak manusia nih, selalu merasa tidak puas. Siasat syaitan dan jeratan marketing bikin rezeki yg didapat harusnya disalurkan ke hal lebih baik, minimal disedekahkan. Tapi gara-gara kena GAS ini malah jadi lapar mata. Emang bahagia, tapi kerasanya pas awal-awal aja.😦

  2. Saya hanya punya kamera hp Rip,
    kamera mahal, yang motret jago, hasilnya sungguh luar biasa.
    kamera ala kadar, yang motret lagi belajar, hasil fotonya hancur lebur *saya ini*😀

    1. Kata mendiang Steve Job juga “Stay hungry”. Selalu lah merasa jadi amatir, agar terus belajar. Kalau udah merasa jago justru ini yg bahaya.

  3. saya sudah tobat dan puas hanya dengan 1 body DSLR, 3 lensa (kit, fix 50, dan tele), serta beberapa aksesoris standar (tripod, filter, flashlight, wide converter, dan beberapa macro tube)… dan sekarang udah lama ga motret, trus ada yang bikin ulasan ginian lagi… bikin grrrr….

    1. Sama juga nih, bingung mau upgrade dslr atau pindah haluan ke mirrorless. Padahal duit ga punya. Dan akhirnya malah kabita sama kamera film analog.

    1. Iya saik banget, tapi kalau buat travelling mah kebanyakan. Nantinya malah lebih mengabadikan momen ketimbang menikmati momen saat itu.

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s