Dilan: Bandung, SMA, Cinta, Geng Motor, dan 1990

novel dilan pidi baiq

Pas baca bagian awal-awal, muncul pertanyaan, “Ini beneran yang bikin si ayah?”.

Pertengahan, “Teenlit ieu mah!”

Terakhir, “Keren euy si Dilan”

Setelah khatam, “Ah jadi mau SMA lagi”

xxxxxxxxxxxxxxx

Bandung tahun 1990, saat masih Orde Baru. Bandung yang masih ada tempat nongkrong bernama Palaguna, sementara Bandung Indah Plaza baru muncul. Bandung yang masih sejuk, yang lalu lintasnya masih jarang macet. Di Bandung inilah memori indah Lia tersimpan.

Milea Adnan Husain, biasa dipanggil Lia, mengenang kembali masa-masa SMA-nya yang penuh cinta karena seorang pemuda bernama Dilan.

Lia yang anak SMA kelas 2 Biologi 3 jatuh cinta pada Dilan yang anak kelas 2 Fisika 1, yang bahasa Indonesianya baku kayak bahasa Melayu lama, yang poster di kamarnya itu ada Ayatullah Khomeinei juga Mick Jaeger, dan yang seorang anggota geng motor, tapi yang jenisnya baik.

Dilan ini sosok yang engga sok keren, tapi emang keren beneran. Kalau orang lain mengasih hadiah pacar dengan boneka, mawar, atau barang mewah lainnya, Dilan ini malah memberi buku TTS sama tukang pijit, dengan cara yang istimewa dan khas. Makanya Lia sebagai si Aku jatuh hati pada Dilan ini.

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)

***

pidi baiq dilankuInilah penulis inspirasi saya! Saya temukan beliau pas masih SMP lewat cerita-ceritanya yang dimuat di suplemen Khazanah di Pikiran Rakyat, yang waktu itu rubrik ini terbitnya tiap Sabtu. Waktu itu juga Pidi Baiq memang memposting cerita-ceritanya lewat Multiply, tapi sayanya belum ngerti internet.

Setelah baca karya-karya sebelumnya, pas baca novel Dilan ini saya kaget. Hah, Pidi Baiq bikin novel romantis?!

Beberapa cerita novel Dilan ini udah dibagi secara gratis di blognya Pidi Baiq dari Oktober tahun kemarin. Tapi sekarang udah dihapus, udah berpindah ke bentuk buku fisik yang harus kita beli atau pinjam dulu. Kalau saya belinya kemarin tuh di Pameran Buku Islam Bandung yang di Landmark.

Iya, ga tau. Kayaknya postingan ini mah bukan review. Udah ah, ini kenapa bahasanya jadi gini lah.


52 thoughts on “Dilan: Bandung, SMA, Cinta, Geng Motor, dan 1990

    1. Novel romantis tapi tanpa bahasa puitis, tanpa bunga mawar, atau hal-hal sok romantis yg pasaran.
      Kalau udah jadi pengikut surayah Pidi Baiq, novel ini sangat menarik. Dan semoga menarik kamu yg belum jadi pengikutnya. Awal-awal mungkin rada aneh, tapi makin mengikuti ceritanya, makin tenggelamlah kamu.😀

    1. Gaya penceritaanya dalam sudut pandang si Aku yang seorang wanita. Indonesia-nya lebih bisa dimengerti.
      Absurditasnya ada dalam tokoh Dilan, yang notabene emang representasi dari Pidi Baiq pas masa SMA.

  1. udah baca dan langsung jatuh cinta sama sosok Dilan. Kayaknya susah cari yang antik begitu jaman sekarang. Tapi agak kecewa sama endingnya, kok, gitu aja, ih? Pengen baca lebih banyak soalnya, hehe. Kira-kira ada buku yang kedua nggak ya?

    1. Ga tau juga sih, coba tanya langsung Surayah.
      Tapi kalau spekulasi saya sih, Dilan itu cuma nama panggilan. Diambil dari Bob Dylan, musikus legendaris yg jadi idolanya Pidi Baiq.

  2. waktu baca blog Si Ayah ada pertemanan si Piyan sama Ayah dari SMP waktu pada kumpul di masjid waktu puasa, di novel Dilan, si Piyan cerita kali dari SD smpe SMA bareng Dilan, dan waktu SMP juga pada ke masjid, di twitter Piyan pertemanan cuma sama twitter Milea sama Ayah Pidi baiq, pertanyaannya adalah ?, apakah Dilan itu Ayah ?

Berkomentarlah sebelum komentar itu dilarang. (NB: Serélék=Email, Nami=Nama)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s